Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
(Bukan) Orang Ketiga


__ADS_3

Pagi hari di kantor, Andra sedang menyiapkan pekerjaannya di meja kerja. Tak lama Aydan pun datang dan menghampiri. Dengan wajah semringah dan tersenyum ia berkata, "Sayang, tadi malam akhirnya aku udah cerita tentang kita sama Kalina."


"Yang bener, Mas?" tanyanya tak percaya.


"Iya," jawabnya sambil mengangguk mantap.


"Terus dia marah gak?"


"Ya ... begitulah. Kecewa dan sedih, tapi mau gimana lagi. Pokoknya nanti kamu harus bantu aku cari Bang Irvan secepatnya!"


"Oke siap, Mas. Udah coba sebar info belum ke media massa?"


"Belum. Baru seputar teman-teman aja, sih."


"Kalau gitu coba nanti sebar info orang hilang ke media massa, Mas," usul Andra.


"Oh iya, ntar siang kita makan bareng ya!" ajak Aydan senang karena Kalina pasti tidak akan datang lagi ke kantor.


"Ayo!" balas Andra semangat.


Keduanya lantas tersenyum bahagia dengan mata berbinar-binar. Merasa jika penghalang hubungan mereka akan segera menghilang. Kali ini Aydan memberanikan diri menggenggam tangan Andra saat keduanya berada di ruang kerjanya untuk diskusi.


"Sebentar lagi jam makan siang. Kamu mau makan di mana, Sayang?" tanyanya tak sabar lagi ingin segera berduaan di luar kantor.


"Terserah."


"Ya jangan terserah. Nanti kalau aku yang pilih gak cocok sama kamu."


"Enggak kok. Terserah Mas aja mau di mana."


"Beneran ya. Nanti jangan protes kayak waktu kita kuliah dulu. Katanya terserah aku, tapi pas datang ke tempatnya kamu malah ngeluh."


Andra terkikik. "Iya deh. Terserah Mas aja."


Aydan tersenyum lebar dan merasa bahagia melihat senyum ceria kekasihnya. Sejak mereka resmi jadian, Andra selalu tampak dingin terhadapnya gara-gara Kalina. Kali ini gadis itu sudah tidak marah lagi. Terbesit ide sesuatu. Tiba-tiba Aydan bangkit dan mengajaknya pergi.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Andra heran.


"Ke tempat sepi," sahutnya dengan senyum mencurigakan.


Meski tanda tanya, Andra mengekor di belakangnya. Rupanya Aydan membawanya ke lantai dua. Ke sebuah gudang penyimpanan arsip-arsip kantor yang tidak lagi digunakan. Keduanya mengamati suasana kantor di lantai dua yang karyawannya tampak sibuk masing-masing.


"Ayo cepat!" seru Aydan buru-buru.

__ADS_1


Keduanya mengendap-endap masuk ke gudang arsip tersebut dengan perasaan berdebar-debar. Setelah berhasil masuk, Aydan menutupnya segera.


"Mau ngapain kita ke sini, Mas? Pengap begini," protes Andra sambil mengibaskan udara.


Namun, telunjuk Aydan menutup bibirnya yang berwarna merah jambu. Kedua matanya pun menatap begitu dalam pada kedua bola mata Diandra yang kini membuat jantungnya jadi semakin berdetak kencang.


Lalu pria berkacamata itu melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di saku kemeja. Aydan tampak sedikit berbeda tanpa kacamata yang kerap menemaninya sehari-hari. Andra terpesona melihatnya karena pria itu jadi makin terlihat menarik di matanya.


Perlahan-lahan wajah Aydan mendekatinya. Debaran jantungnya pun makin berdetak lebih cepat lagi. Ia sampai sulit menelan salivanya. Lalu bibir Aydan menyentuh bibirnya dengan lembut. Mulanya tubuh Andra jadi kaku. Ia tak tahu harus bagaimana. Hanya getaran aneh yang dirasakannya kini selain jantungnya yang rasanya seperti ingin loncat.


Rupanya bukan hanya Diandra yang merasakan itu. Aydan pun sama. Jantungnya berdetak sangat cepat dan entah mengapa ia berani melakukan keisengan itu di kantor, tapi ia begitu senang. Sudah lama sekali ingin melakukannya.


Kecupan itu semakin lama semakin dalam dan kini Andra pun berperan juga. Ia terhanyut dengan permainan Aydan. Perasaan cinta keduanya semakin menggebu-gebu. Tak pernah menyangka jika lelaki kalem itu bisa nakal dan liar juga.


Setelah puas bermain-main dan menyalurkan rasa satu sama lain hanya dengan sentuhan bibir, keduanya saling menatap satu sama lain. Saling tersenyum malu dan bahagia yang tak terkira. Aydan pun kembali memakai kacamatanya.


"Seandainya gak ada Kalina, mungkin aku sudah melamarmu waktu di Bali," ungkap Aydan.


Andra terbelalak. "Serius, Mas?"


"Duarius malah."


Gadis itu tersenyum malu lagi. Aydan senang melihatnya malu-malu begitu. Lalu keduanya segera keluar dari gudang dan kembali ke lantai dasar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Ketika Andra hendak duduk kembali ke mejanya, ia lupa jika berkasnya masih tertinggal di ruangan Aydan, jadi ia kembali mengekor pria itu ke ruang kerjanya. Keduanya masih tampak semringah dan berbinar-binar kedua matanya.


Kalina beranjak dari sofa dan berjalan mendekati mereka. Matanya seperti harimau kelaparan. Ia kembali mengamati Andra dengan tatapan penuh kebencian. Andra jadi canggung.


"Kamu mau ngapain lagi di sini, Kal? Mamamu udah nyuruh kamu cepat pulang!" cecar Aydan keberatan.


Kalina tak menggubris seruan Aydan. Lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipi Andra dengan cepat. Andra terperanjat. Begitu juga Aydan.


"Kalina!" teriak Aydan geram. "Apa-apaan sih kamu?"


"Kalian yang berdua apa-apaan?" Kalina membentak balik.


"Maksud kamu apa?" Aydan mencengkeram bahu Kalina.


"Hei, pelakor! Jangan ganggu hubunganku dengan Bang Aydan, ya! Kita ini sudah tunangan," hardiknya sambil menunjukkan cincin tunangan di jari manisnya.


"Ih, gue bukan pelakor ya! Enak aja! Jadi suami elo aja belum. Elo kali yang orang ketiga," bantah Andra kesal.


"Ya jelas kamu orang ketiganya. Seenaknya aja kamu deketin tunanganku!" hardiknya lagi pada Andra yang sedang mengusap pipinya yang perih dan jengkel bukan main. Suara lantangnya menarik perhatian karyawan lain.

__ADS_1


"Kal, aku kan sudah bilang sama kamu tadi malam. Masa kamu gak paham, sih?" balas Aydan tak terima kekasihnya dikatai pelakor.


"Lebih dulu aku atau dia yang mengenalmu, Bang?" tanya Kalina kesal.


"Kita memang sudah kenal sejak kecil, tapi kan cuma teman main doang, Kal," dalih Aydan. "Berbeda dengan Andra."


"Ya tapi kalian gak pernah jadian, kan? Baru sekarang aja kan? Itu juga setelah kita tunangan. Lalu apa namanya kalau bukan pelakor atau orang ketiga?" cecar Kalina marah.


Satu persatu karyawan di lantai dasar itu mendekat ke ruangan Aydan. Mereka penasaran. Kini mereka bertiga jadi tontonan.


"Kamu jangan seenaknya aja nuduh Andra seperti itu! Dia bukan orang ketiga. Aku dan dia sudah saling suka sejak dulu. Sedangkan aku gak ada perasaan apa-apa sama kamu. Kamu hanya kuanggap sebagai adik," ungkap Aydan terpancing emosi.


Para karyawan saling berbisik satu sama lain. Termasuk Yuda dan Anton yang menyaksikan pertengkaran itu.


"Aku gak peduli! Pokoknya kamu gak boleh sama cewek ini, Bang!" teriak Kalina sambil menunjuk Andra yang kini merasa malu jadi tontonan.


"Kamu harus menikahi aku! Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau tanggung jawab sama kehamilanku?" jerit Kalina putus asa. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


Bisik-bisik makin kencang terdengar. Kali ini karyawan dari lantai dua pun ikut turun dan bergabung. Termasuk pemilik perusahaan yaitu Imam.


"Astaghfirullah. Ternyata dia udah hamil duluan," bisik salah satu karyawan.


Aydan jadi semakin malu menyadari sudah banyak orang yang menonton keributan itu. Tak lama Imam menyuruh para karyawan untuk kembali ke meja kerjanya masing-masing, tapi perintahnya malah diabaikan. Mereka masih penasaran dengan kelanjutannya.


"Kalau Bang Aydan gak mau nikahi aku, lebih aku mati aja daripada harus menanggung malu batal nikah dan hamil tanpa suami," ungkap Kalina dengan air mata sudah berderai. Dadanya terasa sesak dan sedih.


"Jangan berpikir bodoh kayak gitu, Kal. Aku akan mencari Bang Irvan untuk kamu. Kamu sabar sedikit dong!" titah Aydan kesal.


"Aku udah gak berharap banyak sama dia lagi. Dari dulu cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Dia gak pernah benar-benar sayang sama aku. Aku tahu itu. Dia cuma ingin senang-senang terus sama banyak cewek," sambung Kalina kecewa. Ia mengusap air matanya, tapi kembali menetes.


"Hei kalian! Bubar! Bubar!" seru Imam jengkel.


"Tanggung, Pak. Lagi seru," balas karyawannya.


"Iya kayak nonton sinetron remaja gitu," imbuh karyawan lainnya sambil terkekeh.


"Eh, kurang ajar kalian. Ini tuh drama rumah tangga bukan sinetron percintaan," bantah Imam konyol. Karyawannya malah terkekeh-kekeh.


"Udahlah, Kal. Tenangkan dirimu. Nanti kita bahas ini, tapi jangan di sini! Aku malu! Ayo kuantar kamu pulang!" Aydan merangkul Kalina yang masih sakit hati dan kesal. Mengajaknya pergi, tapi ditepisnya.


"Urusan kita belum selesai!" teriaknya pada Andra saat melewatinya.


"Terserah!" balas Andra galak. Ia melenggang pergi. Kembali ke mejanya dengan dada bergemuruh.

__ADS_1


Sementara Aydan merayu Kalina untuk pulang, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya ambruk. Kalina pingsan. Aydan panik. Begitu juga karyawan di sana. Andra ikutan cemas.


***


__ADS_2