
"Mba Andra, ada kiriman makan lagi," ujar Pak Juned tak lama begitu dirinya pulang ke kosan seperti biasanya. Kali ini Andra tidak terlalu terkejut.
"Oh, makasih, Pak," sahutnya sembari mengambil kresek itu. Ia segera menghubungi Erik dan memastikan apakah dugaannya benar jika semua kiriman makan malam itu darinya.
"Halo, Mas Erik. Maaf ganggu, nih. Cuma mau tanya sesuatu," ujar Andra begitu sambungan teleponnya diangkat.
"Ada apa, Andra? Kebetulan aku lagi gak sibuk," jawabnya.
"Anu begini, Mas. Tadi siang kan Mas Erik sudah kirim makan siang ke kantor. Sekali lagi thanks banget. Nah, kebetulan udah tiga hari ini ada seseorang yang kirimin makan malam juga buatku ke kosan. Apa itu juga dari kamu, Mas?" cecar Andra penasaran.
"Benar. Itu dariku juga. Eh, maaf ya aku gak ngasih tahu dulu. Apa kamu keberatan?"
"Hmmm. Gak sama sekali. Justru aku malah mau berterimakasih lagi. Apalagi waktu pulang lembur sempat lupa beli makan, tiba-tiba ada yang kirim makanan. Jadi alhamdulillah banget," ungkap Andra merasa senang.
Terdengar suara Erik terkekeh di sana. "Syukurlah kalau gitu."
"Tapi...," lanjut Andra ragu-ragu.
"Tapi apa?" tanya Erik jadi penasaran.
"Tapi ... maaf. Sebaiknya Mas Erik gak perlu ngirimin makanan lagi. Aku bisa beli makan sendiri, kok. Di sini banyak yang jual makanan. Aku gak mau ngerepotin juga. Mas Erik kan orang sibuk," ungkap Andra pelan-pelan khawatir teman kakaknya itu tersinggung.
Sekali lagi terdengar tawa renyah di sana. Andra merasa yakin jika dirinya tidak sedang bercanda.
"Justru yang sedang super sibuk itu kamu. Aku hanya membantumu supaya gak telat makan. Lagipula aku tinggal pesan saja by online. Kata Ibnu, kakakmu, kalau kamu lagi banyak kerjaan suka telat makan. Kedua kakakmu itu sangat mengkhawatirkan kamu, lho," ungkap Erik juga.
"Jadi ini atas usul Kak Ibnu dan Kak Alfian?" Andra terkejut dan tak menyangka sama sekali. Ia merasa lega.
"Oh, gak juga. Mereka cuma cerita tentangmu. Soal ide membelikanmu makan itu sepenuhnya dariku karena aku juga khawatir jadinya," papar Erik dengan suara lembut.
"Mengkhawatirkan aku?"
"Iya. Aku khawatir padamu sebenarnya. Anak bungsu perempuan kerja di Jakarta sendirian jauh dari keluarga. Entah kenapa aku jadi kepikiran terus. Mungkin karena...."
Perasaan Andra langsung berdebar mendengar pengakuannya. Padahal tadi kecurigaannya jika Erik ada maksud tertentu padanya sudah sirna. Kini prasangka itu kembali lagi dan semakin membuatnya tak menentu.
__ADS_1
"Halo! Andra! Kamu masih di sana?" ujar Erik yang cemas karena tak ada tanggapan lagi setelah ia bicara. Sementara gadis itu malah melamun.
"Andraaaa!" seru Erik keras. Akhirnya berhasil membuatnya tersadar.
"Eh, i-iya. Maaf. Jadi, tadi gimana caranya Mas Erik bisa tahu kapan saja aku sudah pulang ke kosan?" selidiknya.
"Kalau soal itu rahasia," jawab Erik seraya tersenyum di seberang sana.
❁❁❁
Malam itu Andra jadi tak bisa tidur. Pikirannya berputar-putar antara perkataan Erik dan juga Aydan tadi siang. Ia sempat bertengkar dengan seniornya membahas kiriman makanan dari Erik. Andra merasa sikap Aydan berlebihan saat melarangnya memakan nasi kotak itu.
"Itu cuma nasi biasa, Mas. Apa yang harus ditakutkan, sih?" protes Andra kecewa.
"Aku cuma takut isinya ada sesuatu," jawab Aydan.
"Maksudmu takut ada racunnya begitu? Ada-ada saja, deh. Mana mungkin dia mau meracuni kami semua. Apa gunanya buat dia?" sanggah Andra kesal.
"Bukan racun, tapi sesuatu yang lain."
"Mu-mungkin saja ada peletnya," ungkap Aydan ragu-ragu mengutarakan kekhawatirannya.
Andra malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya di parkiran kantor siang itu. Aydan jadi salah tingkah saat beberapa karyawan yang baru datang setelah istirahat memandangi keduanya. Ia meminta Andra untuk segera masuk ke mobilnya. Di dalam mobil pun Andra masih saja terkekeh.
"Ada pelet di dalam enam nasi kotak itu? Sejak kapan kamu jadi ngaco begini, Mas? Pantas saja Kalina mau denganmu. Kamu gampang dibodohi rupanya," ejeknya.
"Sembarangan! Aku cuma khawatir, Sayang. Untuk apa seorang klien tiba-tiba menaruh perhatian lebih padamu?" cecar Aydan.
"Mana aku tahu," jawab Andra sembari mengangkat bahu. "Mungkin saja dia mau berbagi rezeki alias sedekah. Bisa saja, kan?"
"Kamu terlalu naif," ucap Aydan kecewa dengan sikap Andra yang terlalu menyepelekannya.
"Bilang saja kamu cemburu, Mas. Iya, kan?" godanya sambil menyenggol bahu Aydan.
Seketika wajah Aydan bersemu. Ia tak bisa mengelak lagi dan hanya bisa diam merasa malu. Ia merasa gengsi untuk berterus terang.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, Mas. Aku bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta. Kalaupun benar, pastilah satu diantara mahasiswa yang mendekati aku waktu kuliah dulu sudah aku terima dengan mudah dan berkali-kali gonta-ganti pacar," paparnya mencoba menenangkan hati Aydan sambil menatap kedua matanya yang tampak masih cemas.
Dan, malam ini kecurigaan Aydan tampaknya semakin jelas. Sepertinya dugaan kekasihnya ada benarnya. Erik menaruh perhatian lebih pada dirinya. Entah karena dia adalah adik sahabatnya ataukah ada hal lain. Akhirnya Andra tak berani memakan nasi itu. Ia memberikannya pada Ivane lagi. Gadis itu kegirangan bukan main.
"Tadi malam dia kirim makanan lagi, kan?" tanya Aydan saat menjemputnya di pagi hari.
Andra menganggukkan kepala dengan perasaan bersalah. "Dari mana kamu tahu, Mas?"
"Aku bisa lihat kosanmu dari rumah sebelah," jawabnya enteng.
"Hah?! Dari rumah sebelah?" Andra langsung melirik ke bangunan sebelah kanan kosannya yang terdiri dari empat lantai.
"Jadi rumah sebelah itu kos-kosan juga? Aku pikir kantor."
"Aku baru pindah ke sana sejak dua hari lalu. Makanya dengan mudah menjemputmu. Dari kamar kosanku di lantai tiga bisa terlihat jelas kamar kosanmu, lho," ungkap Aydan akhirnya.
Jantung Andra kembali berdetak cepat. Ia teringat saat Erik bisa tahu kapan saja dia pulang. Mungkinkah pria itu melakukan hal yang sama seperti Aydan? Mungkinkah Erik ada di salah satu kamar itu juga. Atau jangan-jangan di rumah sebelah kiri kosannya? Pantas saja Aydan begitu ketakutan. Bukan hanya sekedar cemburu, tapi lebih dari itu.
"Ah, mana mungkin dia menguntit elo," komentar Widia saat ia menceritakannya pada Widia melalui telepon.
"Iya, sih. Mudah-mudahan saja. Lagipula kurang kerjaan banget, kan. Dia kan orang sibuk. Masa sih cewek biasa kayak gue gini diincar?"
"Cewek biasa apanya? Dari sejak elo kuliah banyak banget mahasiswa yang mencoba pedekate sama elo. Dari angkatan bawah sampai senior. Dari sesama fakultas sampai beda fakultas. Gile bener. Punya pelet apa, sih elo?" sindir Widia.
"Fitnah banget pake pelet. Kalau bener gue pake pelet, si Nathan gak bakalan selingkuh," bantah Andra.
"Ya maaf," sahut Widia merasa geli dengan kebingungan sahabatnya.
"Terus gue harus gimana jadinya?"
"Bersikaplah seperti biasa. Makin jaga jarak malah jadi aneh. Takut mengganggu kerjaan elo nantinya. Bukannya kata elo harus tetap profesional?" usul Widia bijak.
Ia termenung memikirkan semuanya. Perkataan Widia ada benarnya juga. Kalau dulu jika ia tak suka didekati laki-laki cukup bersikap acuh tak acuh dan jutek, maka mereka akan menjauh dengan sendirinya. Sayangnya, hal itu kini tak bisa ia lakukan lagi. Demi balas budi ia harus berpura-pura tidak tahu dan tetap baik.
❁❁❁
__ADS_1