Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Presentasi Mendebarkan


__ADS_3

Erik baru saja menutup panggilan telepon dari Diandra malam itu. Ia tengah berdiri di depan jendela kaca besar di apartemen mewahnya. Di sampingnya ada teleskop yang mengarah ke pintu balkon yang terbuka. Setelah memasukkan ponsel BB ke dalam sakunya, ia kembali menerawang melalui teleskop itu yang mengarah pada sebuah bangunan rumah dua lantai dengan banyak pintu kamar yang ada di seberang gedung apartemen.


Di ujung teleskop itu, ia bisa melihat Diandra yang baru saja masuk ke dalam kamar kosannya sambil menenteng kresek putih berisi makan malam darinya.


Erik tersenyum senang saat makanan itu akhirnya mau diterima lagi setelah sebelumnya gadis itu menolak. Ia tahu bahwa adik sahabatnya itu pasti tak akan bisa menolak pemberiannya.


Setelah puas memandangi pintu kosan Andra, Erik duduk di sofa empuk berwarna merah tua. Ia kembali mengambil ponselnya dari saku dan memulai sebuah panggilan telepon lagi.


"Halo!" sapa seseorang setelah menjawab teleponnya.


"Nu, elo yakin adik lo gak punya cowok?" tanya Erik.


"Yakin. Setahun gue dari sejak lulus SMA dia jomblo. Gak tahu juga kalau sekarang gimana statusnya karena dia gak pernah cerita soal cowok lagi. Mungkin dia masih trauma," ungkap Ibnu.


"Trauma kenapa?" selidik Erik penasaran.


"Cuma gara-gara pernah diselingkuhi sama mantannya aja. Jadi dia males pacaran lagi kayaknya."


"Oh gitu. Jadi sekarang masih males?"


"Soal itu gue gak paham. Mungkin dia belum ketemu cowok yang dia suka aja barangkali. Atau mungkin cowok-cowok pada takut sama dia. Andra kan orangnya suka jutek dan galak."


"Oh gitu ya." Erik manggut-manggut.


"Eh, emang kenapa, sih? Jangan-jangan elo naksir adik gue ya?" tebak Ibnu sembari menggodanya.


Erik malah terkekeh-kekeh.


"Eh, ditanya malah ketawa doang. Jujur aja napa!" desak Ibnu penasaran.


"Kalau gue kasih tau, elo mau apa?"


"Ya kalau elo seneng sama adik gue, nanti gue bantu jomblangin, deh. Gimana?"


"Gak apa-apa, nih?" tanya Erik tak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja. Gue malah senang kalau kita bisa jadi saudara ipar," jawab Ibnu semangat.


"Thanks, Bro."


Senyum merekah Erik makin lebar. Hatinya senang. Setidaknya ia sudah mendapatkan lampu hijau dari kakaknya Andra. Baru kali ini ia merasa tidak percaya diri saat akan mendekati wanita. Biasanya dengan mudah ia bisa mendekati siapa saja termasuk kaum hawa. Para wanita mengantri mendekatinya. Cukup beri senyuman, mengajak bicara saja, atau memberikan hal kecil mereka sudah senang bukan main.


Satu hal dalam hidupnya ia tak pernah mau menjalin hubungan serius dengan wanita manapun. Hal itu dilakukannya agar ia bisa memilih calon istrinya dengan mudah tanpa terikat komitmen. Dan, entah mengapa dia begitu tertarik dengan Diandra sejak pertama kali diperkenalkan oleh Ibnu. Gayanya yang santai, cuek, dan suka ceplas ceplos itu membuatnya terpikat.


Sementara di lain tempat, Aydan sedang resah. Ia yang baru beberapa hari menyewa kosan di sebelah kosan Andra tampak tak bisa duduk tenang di kasurnya. Sejak ia tahu Erik menaruh perhatian lebih pada kekasihnya dan Andra mulai menyadari itu, ia merasa harus segera melakukan sesuatu yang serius.


Saat sedang kebingungan itu, ibunya tiba-tiba mengirim pesan yang berisi informasi bahwa keluarga Kalina meminta sesegera mungkin tanggung jawab dari keluarganya. Aydan makin kebingungan. Lantas ia menelepon ibunya dan berjanji akan segera mencari Irvan. Meskipun sebenarnya ia bingung harus meminta bantuan siapa.


                             ❁❁❁


"Andra, sudah siap bahan untuk presentasi sama Pak Erik?" tanya Imam ditengah-tengah pekerjaannya di kantor.


"Su-sudah, Mas. Sudah aku print out dan desainnya sedang diperbaiki sedikit," jawabnya panik karena sebentar lagi dia harus bertemu Erik.


"Gak apa-apa, kan, kalau kamu presentasi sendiri. Aydan sedang ada meeting dengan klien di atas. Masih belum selesai," ungkap Imam.


"Baguslah. Good luck, ya! Kabari kalau kamu ada perlu sesuatu."


"Baik, Mas."


Setelah itu, Imam pun segera pergi ke lantai dua menyusul meeting bersama Aydan. Kini ia harus menyelesaikan sedikit revisi pada desain awalnya yang sudah dikerjakan dalam waktu dua minggu itu. Setelah itu ia akan pergi sendiri ke kantor Erik. Padahal ia masih ingat pesan Aydan untuk tidak pergi sendirian bertemu dengan klien laki-laki. Namun, dipikirnya tidak akan terjadi apapun. Toh, mereka bertemu di kantor. Bukan tempat pribadi.


Maka setengah jam berlalu, Andra akhirnya sampai di kantor Erik yang tampak elegan. Ia duduk menunggu di lobi sampai seorang wanita muda memakai blouse putih dan celana kulot hitam datang memintanya masuk.


"Mari ikut aku, Mba. Pak Erik sudah menunggu di dalam," ujarnya ramah.


"Baik."


Andra mengikuti wanita muda itu. Di dalam kantornya terbagi menjadi beberapa ruangan kecil bersekat yang diisi tiap orang. Namun, ada juga ruangan yang tertutup dengan dinding kaca berlapis sandblast. Semuanya terlihat sibuk.


"Silakan masuk!" seru wanita muda itu sembari membukakan pintu panel kayu. Andra mengangguk. Ia segera masuk dan di dalam ruangan itu sudah ada Erik dengan dua pria lain. Wanita muda itu lalu pergi setelah memastikan Andra masuk ke ruang rapat. Erik langsung tersenyum begitu melihatnya datang.

__ADS_1


"Selamat siang, Andra," sapanya ramah.


"Siang, Mas," jawabnya berusaha ramah juga. Walaupun sebenarnya degup jantungnya berdebar-debar.


"Silakan duduk!" Erik mempersilakan Andra duduk di kursi yang tersedia. Ada banyak pilihan kursi kosong di meja kotak besar itu, tapi Andra memilih di dekat pintu masuk tadi. Duduk di seberang Erik.


"Kok, datang sendiri? Aku pikir kamu akan datang bersama rekanmu yang waktu itu. Siapa namanya ya? Aku lupa," ucap Erik.


"Iya seharusnya begitu, tapi dia sedang ada meeting dengan klien lain di kantor," jawab Andra apa adanya. "Namanya Mas Aydan. Dia seniorku."


"Ooh, iya. Aydan. Maaf aku agak lupa," balasnya seraya terkekeh sedikit. Andra hanya tersenyum memaklumi karena selama pertemuan dengannya beberapa kali, Aydan hanya bicara seperlunya. Andra yang lebih banyak bicara. Mungkin gara-gara itulah, Erik tidak terlalu ingat namanya.


"Sebelum mulai, aku akan memperkenalkan dulu dengan beberapa karyawanku di bagian pengembangan. Ada Gustav," terang Erik menunjuk pria yang memakai kemeja hijau dan berambut ikal, "lalu di sebelahnya Joshua." Erik menunjuk pria satunya lagi yang berambut klimis dan memakai kemeja biru muda yang ternyata keturunan etnis.


Andra menyapa keduanya sambil menganggukkan kepala.


"Sebenarnya masih ada satu lagi yang seharusnya datang, tapi sepertinya dia akan datang terlambat," sambung Erik khawatir.


"Tidak apa-apa, Erik. Nanti kita bisa minta datanya untuk dijelaskan lagi pada dia," usul Gustav. Erik setuju kemudian presentasi pun dimulai.


Andra menarik napas dalam-dalam sebelum menyiapkan bahan presentasi mulai dari beberapa dokumen dan laptopnya. Erik sudah membantunya menyalakan layar proyektor di ruang rapat itu. Setelah segalanya siap, Andra memberikan print out rancangannya pada ketiga pria itu. Tak sengaja tangannya menyentuh tangan Erik saat memberikan salinan dokumen desain. Entah karena suhu ruangan yang dingin atau apa, tapi sentuhan itu membuatnya merinding dan jadi canggung. Tak mau memikirkan hal lain, ia pun segera menjelaskan segalanya dengan detail. .


Di tengah-tengah presentasi itu, tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang baru saja masuk sehingga mengalihkan perhatian semuanya.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap Erik senang. Ternyata satu orang lagi yang dimaksud tadi adalah pria tinggi berkulit putih dengan rambut agak gondrong dan diikat. Wajahnya cukup menawan.


"Sorry, tadi macet luar biasa," balasnya merasa tak enak karena datang telat.


"It's okay. Kami juga baru mulai," sahut Erik.


Pria itu duduk di sebelah Erik. Ia sempat tersenyum pada Andra yang sedang berdiri untuk presentasi. Untuk sesaat ia merasa wajahnya tak asing, tapi rasanya baru kali ini bertemu dengannya. Andra tertegun dan malah memperhatikan pria yang baru saja masuk itu. Rupanya Erik menyadari itu dan ia tidak senang.


"Ehemm. Andra! Apa kita bisa lanjut lagi?" tegur Erik keras.


Andra tersentak. "Eh, bi-bisa, Mas. Baik akan aku lanjutkan. Maaf, tadi sampai mana ya?" tanyanya bingung. Mendadak kehilangan konsentrasi gara-gara pria satu itu. Erik menghela napas lalu terkekeh. Untungnya dia tidak marah dan membantunya mengingatkan kembali. Presentasi pun dilanjutkan lag meski ada tanda tanya dalam dirinya.

__ADS_1


❁❁❁


__ADS_2