Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Hati Retak Lagi


__ADS_3

Aydan dan Andra saling beradu mata dan mematung. Keduanya sama-sama terkejut. Aydan tak menyangka jika juniornya ada di apartemennya siang itu. Sementara Andra pun tidak menyangka bahwa senior kalem yang ia sukai sejak lama itu ternyata sanggup melakukan perbuatan asusila. Hidup satu atap dengan perempuan lain tanpa pernikahan, bahkan sampai menghamilinya.


Dada Andra bergemuruh teringat pengakuan Aydan seminggu lalu, bahwa cincin yang dipakainya bukan cincin tunangan dan ia masih sendiri. Ia merasa dibohongi luar biasa.


"Eh, Aydan sudah balik. Ada tamu dari kantormu, nih," sela gadis itu yang ternyata bernama Kalina.


Sikap Aydan jadi canggung. Begitu juga Andra yang masih duduk di sofa. Ia tak sanggup melihat ke arah seniornya. Hatinya perih. Ia ingin pergi saja. Andai ia bisa. Tak sanggup berada di tempat yang sama dengan dua manusia itu. Ia ingin menangis tak sanggup berlama-lama menahan luka. Sayangnya, harus menahan diri atas nama profesionalitas kerja.


"Ka-kamu tahu dari mana apartemenku?" tanya Aydan gugup.


"Mas Imam. Dia menyuruhku ke sini buat nunjukin revisi desain rumah Bu Yunita. Besok dia akan datang ke kantor, jadi harus sudah fix perubahan yang dia mau," ungkap Andra dingin tanpa menoleh padanya. Hanya menatap meja dengan kaleng minuman bersoda di atasnya.


"Kalau gitu kita bahas di lobi aja, yuk!" pinta Aydan.


"Jangan ke lobi dong. Aku sendirian di sini. Udahlah, kalian bahas kerjaan di sini aja. Nanti aku masuk kamar," usul Kalina. Gadis cantik itu langsung melenggang ke kamar tidur.


Kini hanya ada mereka berdua. Andra masih tetap menunduk. Ia merasa menyesal sudah datang ke sini. Seharusnya ia kirimkan saja desainnya melalui surel. Ia tak mau berduaan lagi dengan Aydan. Jika dulu ia akan begitu senang, sekarang ia muak.


"Kalau aku ganggu kalian, bagaimana jika desainnya aku kirimkan via surel aja?" usulnya. Salah satu alasan masuk akal agar ia bisa segera pergi.


"Gak perlu. Kamu sudah jauh-jauh ke sini. Kita bahas sekarang aja. Aku ambil laptopku dulu," balas Aydan. Ia pun masuk ke kamar yang tadi dimasuki Kalina. Andra mengernyitkan dahi.


Tanpa basa-basi lagi, setelah menyalakan laptop, Andra langsung memberikan flasdisk-nya pada Aydan dan memberikan presentasi sedikit padanya. Aydan mengamatinya dengan saksama seolah semuanya baik-baik saja. Hanya sedikit arahan darinya.


"Oke. Semuanya sudah oke. Besok sudah bisa ditunjukkan pada Bu Yunita. Semoga sukses," ucapnya mengakhiri sesi diskusi itu. Ia memberikan flashdisk-nya kembali pada Andra.


"Kalau gitu sekarang aku pamit pergi dulu, Mas," balas Andra sambil bangun dari duduknya. Raut wajah Andra masih terkesan dingin dan jutek.


Akan tetapi, Aydan malah menggenggam tangan Andra. "Jangan pergi dulu! Aku mau bicara denganmu, tapi gak di sini."


"Aku harus segera kembali ke kantor, Mas. Sekarang udah sore," dalih Andra.


"Biar aku antar kamu ke kantor, ya."


"Aydaaan!" Tiba-tiba Kalina berteriak dari kamar. "Kamu mau pergi?"


"Tuh, tunanganmu sepertinya gak mau ditinggal lagi, Mas. Ibu hamil emang manja. Jadi sebaiknya aku pulang sendiri aja," sela Andra menyindirnya.


Aydan tersentak. Tak menyangka Andra tahu tentang kehamilan Kalina juga.


"Aydan! Jangan pergi, ya!" seru Kalina di ambang pintu kamar.


Ia menoleh ke pintu kamar, pria itu jadi bingung. Apalagi saat Andra sudah membuka pintu apartemen hendak keluar.


"Andra tungguuu!" teriaknya.


Terlambat. Gadis itu sudah menghilang dibalik pintu. Aydan ingin mengejarnya, tapi ditahan oleh Kalina.


"Mau ke mana? Jangan tinggalin aku, Ay! Aku takut sendirian di apartemen seperti ini," lirihnya.

__ADS_1


"Aku masih ada perlu dengan dia, Kal. Aku gak mau dia salah paham."


"Salah paham dengan dia? Memangnya apa hubungannya dengan kita, Ay?" tanyanya tak mengerti.


"Dia itu .... Ah, sudahlah. Nanti saja aku jelaskan. Aku pergi dulu sebentar. Sebentar lagi mamamu juga datang," jawab Aydan sembari menepis cengkeramannya.


Di lorong apartemen, sosok Andra sudah tidak ada. Aydan segera masuk ke lift. Jantungnya berdebar-debar dan gelisah bukan main. Ia takut hubungannya dengan Andra akan renggang lagi seperti dulu.


Sayangnya, di lantai dasar apartemen, batang hidung Andra pun tak terlihat. Ia sudah celingukan ke sana kemari. Sampai bertanya pada sekuriti di sana, apakah gadis dengan kunciran ekor kuda sudah lewat situ? Sekuriti itu bilang, ia sudah keluar gedung sambil berlari.


"Udah lewat, Pak. Nangis sambil lari," katanya. "Memangnya ada, Pak?"


"Eh, enggak apa-apa. Ya udah. Makasih, Pak."


"Siap."


Secepatnya Aydan menyusul ke halaman gedung apartemen, bahkan sampai ke jalanan. Matanya mengamati setiap ruas jalan. Hiruk pikuk kendaraan membuatnya sulit untuk mencari sosoknya. Sayangnya, Andra sudah raib. Ia jadi makin kesal sampai mengepalkan buku-buku jari tangannya kuat-kuat.


***


PING!


Ia hanya melirik sekilas pada ponsel BB-nya. Ada pesan baru masuk. Itu dari Cheeky lagi. Andra malas menanggapinya. Malah menutup kepalanya dengan bantal di kamar kosan malam itu.


PING!


PING!


PING!


Andra menangis sesenggukan merasakan perihnya hati. Rasa kecewa dan sakit hati yang sama saat Nathan mengkhianatinya bertahun-tahun lalu kini ia rasakan lagi. Bahkan lebih dalam.


Ia bangkit dari tidurnya dan membaca pesan BBM Cheeky.


Andra : Apaan sih?


Cheeky : Gue khawatir sama elo. Udah berhari-hari gue dicuekin.


Andra : Sorry. Gue lagi sibuk banget Minggu ini. Tenang aja. Elo udah gue maafin.


Cheeky : Thanks. Tapi gue masih khawatir sama elo. Elo seperti menjauhi gue.


Andra : Gue cuma gak mau terlalu nyaman sama elo.


Cheeky : Kenapa?


Andra : Gue takut terpelosok lagi.


Cheeky : What? Maksudnya? 🤔

__ADS_1


Andra : Elo tau kan. Awalnya gue merasa nyaman dekat dengan senior itu. Lama-lama gue jadi suka dengan dia. Padahal gue udah bertekad gak mau jatuh cinta dulu sampai lulus. Tapi apa mau dikata. Gue gak bisa mengontrol perasaan ini.


Cheeky : Gue paham. â˜šī¸


Andra : Nah, sekarang inilah yang gue takutkan. Gue sakit hati lagi dikhianati. Gue sedih banget.


Cheeky : I'm so sorry.


Andra : Kenapa elo yang minta maaf?


Cheeky : Kalau gue ketemu elo, boleh gak nanti gue peluk?


Andra : Gak sopan banget. Pertama ketemu minta pelukan. Maaf aja yeee. 😝


Cheeky : Elo pasti bakal suka dipeluk gue. Pelukan gue bisa mengobati hati yang terluka.


Andra : Masa? 😅


Cheeky : Enggak percaya kan? Makanya nanti gue buktiin ya. Siap-siap aja gak mau lepas. 😁


Andra : đŸ¤ŖđŸ¤ŖđŸ¤Ŗ Nanti gue kabur aja kalau gitu.


Cheeky : Jangan kabur. Anggap aku boneka beruang besar. Kamu suka boneka beruang kan? đŸģ


Andra : Yup. Tapi kalau kamu? Ogah. 🙈


Cheeky : Andra, jangan sedih ya. Gue jadi ikut sedih. Everything is gonna be okay.


Andra : I hope so.


Andra : Oh iya, Minggu gue mau terbang ke Bali.


Cheeky : Liburan?


Andra : Bukan. Survey lokasi untuk villa klien. Sekalian liburan kecil juga mungkin. Refreshing.


Cheeky : Wah jadi pengen ikut.


Andra : Ya udah susul gue kalau gitu.


Cheeky : Beneran gue boleh nyusul?


Andra : Silakan aja. Biaya transportasi tanggung sendiri ya. 😁


Cheeky : Siap. Ada kartu kredit. 😅


Andra : Awas nombok. đŸ¤Ŗ


Cheeky : Demi elo enggak apa deh. 😋

__ADS_1


Setelah obrolan online itu, perasaannya sedikit membaik. Ia terhibur dengan Cheeky. Setidaknya pria misterius itu berhasil membuatnya tersenyum lagi. Hingga ia bisa tertidur lelap. Melupakan sejenak rasa perih itu. Besok pagi ia harus menyelesaikan sisa pekerjaannya di kantor dan bersiap-siap untuk terbang ke Bali di hari Minggu.


***


__ADS_2