
Sekar makin kesal dan iri melihat kedekatan Aydan dan Diandra. Begitupun dengan Yoga. Keduanya memendam rasa yang tak berbalas. Meskipun hubungan Andra dan Aydan tanpa status yang jelas. Andra menganggapnya hanya sekedar teman senior yang baik.
Malam itu, Andra diantar pulang oleh Aydan ke kos-kosan setelah sebelumnya mereka menyaksikan acara musik di kampus bawah bersama beberapa teman lainnya.
Waktu sudah menunjukkan nyaris pukul sepuluh malam. Ada jam malam di kos-kosan sebenarnya, tapi Andra sudah ijin pada penjaga indekos.
"Makasih ya Mas untuk jalan-jalannya," ujar Andra senang.
"Yup. Sama-sama." Aydan pun tersenyum bahagia. Ia segera pamit pulang.
Gadis itu melangkah senang menuju kamarnya. Anehnya kamar itu dalam keadaan menyala. Seingatnya tadi kamar dalam keadaan gelap. Ia segera membuka pintu dan nampaklah seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Mama?!" pekik Andra di mulut pintu.
"Kok baru pulang? Habis dari mana?" tanya Ningsih, ibunya. Aura wajahnya menyiratkan ketidaksukaan.
"Habis ... emm ... ngerjain tugas sama teman, Ma," jawabnya sedikit gugup.
"Oh ya? Yakin?" Ningsih menatap dalam-dalam kedua bola mata putrinya.
Andra terpaksa mengangguk.
"Ayo masuk!" titahnya. Gadis itu menuruti.
"Kamu sudah salat?"
"Belum."
"Bersih-bersih terus salat dulu sana!"
Dengan canggung Andra menurutinya lagi. Selesai salat ia duduk di kursi belajar. Wajah ibunya tampak serius. Perasaan Andra jadi berdebar.
"Mama mau datang kok gak bilang dulu sih? Mama datang sendirian atau sama Abang?"
Ningsih tidak menanggapi pertanyaan putrinya. Ia justru sibuk mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tas. Amplop itu langsung diserahkan pada Andra.
"Buka!" perintah Ningsih masih dengan wajah serius.
Perasaan Andra jadi makin berdebar-debar dan tidak enak. Ia raih amplop itu. Lalu mengeluarkan isinya. Ada beberapa foto di tangannya kini. Ia amati semuanya dan langsung terbelalak.
"Siapa dia?" tanya Ningsih menatapnya dingin.
"Di-dia temanku, Ma. Seniorku."
"Bukan pacarmu?"
"Bukan, Ma. Kami gak ada hubungan apa-apa," ungkap Andra dengan perasaan takut.
"Tapi semua foto itu menunjukkan sebaliknya. Kalian dekat banget tuh. Yakin kalian gak pacaran?" tuding Ningsih tak percaya.
Andra menelan salivanya. Ia bingung harus berkata apa.
"Mama dapat foto itu dari siapa?"
"Kalau udah tahu mau apa? Mau marah sama orangnya karena sudah bongkar hubungan kamu dengan senior itu?"
__ADS_1
"Ya bukan gitu. Andra hanya mau tahu aja. Soalnya kami memang dekat, tapi gak sampai pacaran. Sumpah. Andra gak bohong," akunya. Berharap ibunya percaya.
Sayangnya, Ningsih tidak mudah percaya begitu saja. Ia lebih percaya dengan semua bukti foto itu. Apalagi ada satu foto di mana putrinya tengah memeluk Aydan naik motor. Andra hanya bisa membisu. Apalagi buku sketsanya di dalam tas berhasil ditemukan. Ia makin terpojok ada begitu banyak sketsa Aydan di sana.
"Mama kecewa sama kamu, Dian," ungkap Ningsih dengan mata berkaca-kaca.
"Ma ... Andra berani sumpah gak pacaran sama siapapun selama di sini. Mas Aydan memang suka dengan Andra, tapi aku gak pernah menerimanya," dalihnya dengan rasa bersalah.
"Gak nerima, tapi begitu lengket. Apa kalian punya hubungan semacam itu? Apa tuh namanya? Hubungan anak muda yang gak jelas itu. HTS-an. TTM-an. Seperti itukah maksudmu?" cecar Ningsih masih tidak terima. Lagi-lagi Andra terdiam kebingungan.
"Ma ... maafkan Andra," lirihnya sambil menunduk.
"Jauh-jauh Mama ke sini karena khawatir dengan hubunganmu itu. Ingat janjimu, Dian. Ingat pengalaman Mama."
Kepalanya makin menunduk. Ia sedih karena ibunya meragukan komitmennya Padahal ia sudah berusaha menahan diri selama ini.
"Pokoknya kamu harus jaga jarak dengan dia. Kamu tahu kan harus berbuat apa setelah ini? Mama hanya minta janjimu ditepati. Setelah lulus, terserah kamu mau memutuskan apa karena kamu sudah dewasa nanti," ungkap Ningsih berusaha sabar. Meskipun ia sempat kaget menerima kiriman foto itu beberapa hari lalu.
Hati Andra berubah kecewa dan kesal. Ingin menjelaskan lagi rasanya percuma. Akhirnya ia hanya bisa menuruti kemauan ibunya lagi. Lalu pergi ke kamar mandi untuk menangis.
***
Nada dering di telepon terus berbunyi. Pemilik nomornya enggan menanggapi. Aydan merasa ada yang aneh. Tak biasanya Andra mengabaikan telepon dan SMS-nya seperti ini. Sudah berhari-hari ia merasa diabaikan.
Bertanya pada Widia dan Ivane pun mereka tidak tahu. Tanda tanyanya makin besar saat Andra bersikap acuh tak acuh ketika dia berpapasan dengannya di kampus. Di perpustakaan pun seolah tidak mengenalinya lagi. Aydan kecewa dan patah hati.
Sikap dingin Andra terhadap Aydan disadari pula oleh kedua sahabatnya. Ketika diinterogasi pun, Andra menolak menjelaskan. Ia kembali seperti Andra yang dulu. Galak, judes, ketus, dan selalu sibuk mengerjakan tugasnya. Tak ada lagi Diandra yang sempat berubah jadi lebih feminim dan penuh tawa bahagia. Kini ia menjadi gadis misterius.
Dibalik itu semua ada Yoga dan Sekar yang tertawa bahagia menyaksikan perubahan itu.
"Mas Aydan gak coba deketin Andra lagi?" tanya Widia di suatu kesempatan.
"Yah jangan mikir gitu dong."
"Terus apalagi? Memang dia kayaknya benci sama aku. Mungkin aku punya salah, tapi gak tahu apaan."
Widia dan Ivane saling pandang.
"Sudahlah. Aku gak apa-apa kok. Dari awal juga kita cuma berteman. Wajar kan?" sanggahnya. Dia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Aydaaaan ....!!" Imelda tiba-tiba memanggil. Pemuda itu segera menghampiri. Keduanya lalu pergi bersama sambil bercengkrama. Belakangan ini keduanya terlihat lebih akrab dari sebelumnya dan Andra menyaksikan itu dari jauh. Ada rasa sakit merangsek masuk di hatinya, tapi ia abaikan.
Perlahan-lahan hubungan Andra dan Aydan semakin jauh seolah tak pernah dekat sama sekali. Sementara Aydan sendiri mulai sibuk mengerjakan Tugas Akhir. Bertemu di perpustakaan, di jalan, bahkan di kantin pun tidak pernah saling menyapa lagi. Hingga akhirnya pemuda tinggi dengan kulit sawo matang itu pun lulus lebih dulu dan ikut wisuda.
Ingin sekali dalam hati kecil Andra memberinya selamat pada Aydan yang tengah berbahagia memakai baju toga. Sayangnya, ia takut jika perasaannya akan goyah. Andra hanya bisa menatapnya diam-diam selama ini.
Setahun kemudian.
"Eh pendaftaran periode TA berikutnya sudah dibuka lho. Kalian mau ikut?" tanyanya pada Widia dan Ivane.
"Gue periode berikutnya aja deh. Masih ada yang mau gue ulang nih. Matkul Struktur dan Konstruksi gue ada yang dapat C," jawab Ivane sedih.
"Gue juga sama. Mau ikut semester pendek dulu," balas Widia juga.
"Yah berarti gue sendiri dong?"
__ADS_1
"Ya enggak juga kan ada teman kita yang lain. Pokoknya elo harus segera lulus, Ndra. Semangat ya!" Widia mengangkat kepalan tangannya.
Andra menarik napas panjang. Besok ia mulai ikut TA bersama beberapa teman seangkatan yang sudah siap. Pada saat diumumkan pembagian anggota kelompok TA, ternyata ia satu kelompok dengan Sekar. Mendapatkan dosen pembimbing yang sama. Walaupun TA tetap dikerjakan masing-masing.
Hari-hari sibuk mulai dilalui Andra sama seperti saat Aydan dulu. Waktu untuk bermain dan bersenang-senang bersama kedua sahabatnya otomatis berkurang. Setiap hari ia harus mencari ide, mengumpulkan bahan referensi, menghitung kebutuhan ruang bangunan, dan menuangkannya dalam gubahan massa sebagai ide awal.
Setiap beberapa kali ia melakukan asistensi bersama Pak Ridwan yang kebetulan salah satu dosen pembimbingnya. Ivane terlihat iri.
"Semoga dosen pembimbing TA gue nanti Pak Ridwan juga. Biar gue bisa pedekate," celetuknya saat Andra selesai asistensi.
"Aamiin," jawab Andra dan Widia kompak. Ketiganya terkikik.
Selesai asistensi, Andra menyempatkan diri ke warnet langganan. Rasanya sudah sangat lama sekali dirinya tidak pernah chatting online lagi dengan 'cheeky_tarou' karena kesibukannya.
Akhirnya ia buka situs miRC seperti dulu. Sayangnya akun teman online-nya sedang tidak aktif. Andra mendesah kecewa. Ia ingin sekali curhat tentang betapa ia merasa kehilangan sosok seniornya itu. Betapa ia merindukannya. Hari-hari bersamanya membuatnya bahagia. Kini ia merasa hampa kembali.
Setiap Andra ke warnet untuk mencari bahan referensi, situs miRC selalu dibuka. Berharap 'cheeky_tarou' sedang aktif. Sayangnya lagi dan lagi ia tidak ada.
Hingga suatu malam, tiba-tiba akun tersebut aktif. Andra melonjak kegirangan. Langsung saja ia mengajaknya join di chat room.
hai cheeky. apa kabar?
hai juga. Wah ke mana aja?
elo yang ke mana aja? gue sedang sibuk bikin TA nih. elo lagi sibuk ya?
iya. gue udah dapat kerjaan makanya jarang aktif sekarang.
wah selamat. kerja di mana?
di Jakarta. gue merantau.
keren. nanti kalau gue lulus dan dapat kerjaan di sana juga kita ketemuan yuk?
yakin? nanti elo shock.
shock kenapa? gue penasaran sama elo.
soalnya gue jelek banget. elo kok tengah malam gini masih di warnet? sana pulang!
gak ah. gue lagi cari bahan TA dan kangen seseorang.
siapa? jangan-jangan sama gue ya?
iya sama elo dan senior gue. gue kangen banget sama dia.
Kesedihan itu terasa begitu dalam. Memori indah bersama Aydan berputar-putar di kepalanya. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa saat. Andra melamun, sementara lawan bicaranya entah sedang sibuk apa. Tiba-tiba lawan bicaranya memberikan sebuah email.
kalau elo ingin ketemu gue, hubungi gue lewat email dulu. soalnya gue jarang main miRC lagi setelah dapat pekerjaan ini.
oke. nanti kalau gue udah lulus dan dapat kerjaan di Jakarta juga gue akan hubungi elo ya.
sip. semoga TA-mu berjalan lancar dan mendapat nilai bagus. gue tunggu di sini.
Setelah itu tak ada percakapan online lagi. Andra makin sibuk memperbaiki desain bangunannya dan membuat buku skripsi juga yang disebut LP3A. Terkadang ia stres hingga menangis sendiri karena banyaknya kritikan dari dosen dengan tenggat waktu makin menipis.
__ADS_1
Namun, tekadnya untuk lulus cepat dengan nilai baik menjadi percikan semangat. Hampir setiap malam Andra lembur. Makan pun kadang tidak sempat dan selalu terlambat. Hingga ia jatuh sakit dan pingsan di kampus. Widia dan Ivane jadi khawatir.
***