Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Hari Penentuan


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berhasil dilewati Diandra dengan peluh dan air mata untuk menyelesaikan TA-nya. Waktu, pikiran, tenaga, dan uang sudah ia korbankan demi sebuah hasil terbaik.


Hari ini hari penentuannya. Hari Sidang TA akan digelar. Ada 3 kelompok yang melaksanakan sidang hari itu. Sisanya beda hari. Andra sudah siap dengan kemeja putih, dan rok sepan warna hitam. Rambut panjangnya diikat rapih. Maket, bahan presentasi, dan draft skripsi siap menemaninya dalam sidang. Jantungnya berdebar-debar saat namanya dipanggil masuk ke ruangan sidang di gedung A lantai 4. Widia dan Ivane yang menemaninya memberikan semangat sebelum ia masuk.


"Jangan lupa baca doa dulu ya! Ganbatte!" seru Ivane sambil mengepalkan tangan.


"Chayo! Semoga lancar dan berhasil!" tambah Widia juga.


Andra tersenyum bahagia melihat kedua sahabatnya itu. Ia segera masuk dengan perasaan tak menentu. Begitu pintu dibuka, lima orang dosen sudah siap menunggu presentasinya. Ia tegang.


Maket diletakkan di meja. Semua dosen penguji memperhatikannya. Andra jadi makin gugup. Sebelum mulai presentasi ia memberi salam terlebih dahulu, lalu mulai menyiapkan presentasi desain di laptop yang sudah disediakan kampus.


"Baiklah. Terima kasih atas perhatiannya untuk seluruh dosen penguji yang hadis di sini. Dalam TA ini aku membuat sebuah desain bangunan dengan judul 'Pusat Mode dan Modelling di Bandung' yang terinspirasi dari ibuku yang seorang penjahit. Karya ini aku persembahkan untuk beliau sebagai single parent yang sudah berjuang untuk ketiga anaknya."


Andra menarik napas mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat. Kemudian ia mulai menjelaskan lebih rinci tentang konsep desain dan penjabarannya. Maketnya yang berbentuk seorang model jika dilihat dari atas tampak sama dengan desain pada gambar teknik. Beberapa dosen terlihat manggut-manggut. Hingga sesi tanya jawab pun dimulai. Andra makin gelisah dan berdebar.


Satu jam yang menegangkan pun berlalu. Andra keluar ruang sidang dengan ekspresi tegang masih terlihat. Widia dan Ivane terhenyak melihatnya sudah selesai sidang. Tergolong paling cepat di antara teman-temannya.


Tidak jauh darinya ada Sekar yang sedang duduk bersama Nindita. Ia terus menatap Andra yang sibuk bercerita. Sekar sendiri sudah lebih dulu melakukan sidang.


Kini masih tersisa satu orang mahasiswa lagi. Setelah itu para dosen akan langsung mengumumkan siapa saja yang lulus sidang. Kelima mahasiswa TA yang satu grup dengannya menunggu tidak sabar.


Tiga puluh menit kemudian seluruh mahasiswa TA sudah berkumpul di ruang sidang itu. Wajah-wajah tegang menanti pengumuman. Pak Ridwan membeberkan siapa saja yang lulus berikut dengan nilainya disebut. Untungnya ternyata seluruh mahasiswa TA kelompok itu lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Termasuk Andra juga dengan nilai A sempurna. Mereka semua melonjak kegirangan.


Selesai sidang, mereka masih berkumpul di lantai dasar untuk bercerita dengan teman-teman. Wajah kebahagiaan terlihat jelas. Tiba-tiba Sekar datang menghampiri dengan wajah bersalah.


"Andra, selamat ya. Kamu hebat bisa dapat A," ucapnya. Sekar sendiri mendapat nilai B.


"Makasih. Selamat juga untuk elo, Kar." Andra tersenyum kecil.


Kemudian ia kembali ngobrol dengan temannya lagi.


"Emmm ... Andra. Aku mau minta maaf nih," sambung Sekar. Andra menoleh.


"Soal apa?"

__ADS_1


"Soal Mas Aydan dan foto-foto itu," ungkapnya.


Andra terperanjat. "Maksudnya?"


"Iya. Jadi ... yang ngirim foto kamu dan Mas Aydan itu aku sama Mas Yoga waktu itu. Tapi bukan aku yang foto kalian. Itu kerjaannya Mas Yoga. Aku cuma disuruh nyari alamat rumah kamu aja." Sekar tampak makin bersalah.


"Ooh jadi itu kerjaan kalian!" Andra menatap sinis sesaat. Sekar menggigit bibirnya ketakutan.


"Ya udahlah. Toh gue emang gak ada hubungan apa-apa dengan dia kok," jawab Andra dingin. Ia pasrah mengingat tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya.


"Iya, tapi kalian kan jadi musuhan?"


"Kami gak musuhan kok. Gue cuma gak bisa dekat dia lagi. Seharusnya sejak awal begitu," balas Andra sedih. Perbedaan ekspresi wajahnya tampak jelas.


"Sekali lagi maafkan aku ya, Ndra. Aku cuma iri aja sama kalian. Aku gak punya keberanian buat deketin Mas Aydan." Sekar menunduk malu.


"Santai aja, Kar. Marah gue udah ilang. Semoga elo bisa dapetin Mas Duta elo sendiri ya."


Bahu Sekar ditepuk-tepuk. Gadis itu tersenyum lega. Lalu pergi bersama Nindita. Tak lama Tari datang. Ia memberi selamat juga.


"Sama-sama, Mba. Jangan lupa traktirannya ya," jawab Tari senang.


Sorenya keempat mahasiswi itu diajak makan-makan oleh Andra di warung nasi dekat kos-kosan.


"Yah kenapa traktirannya di warteg sih? Nasi Padang kek. Di cafe kek," protes Ivane.


"Duit gue habis buat biaya TA. Tuh bayar bikin maket ke Tari aja belum lunas," kilah Andra. Tari dan Widia terkikik.


***


Dua tahun kemudian setelah wisuda.


"Sebentar lagi kontrak kerja gue mau habis nih. Gue harus cari pekerjaan baru lagi," ungkap Andra yang sedang makan siang bersama dengan Widia di sebuah Mall.


"Kenapa gak lanjut aja sih? Gak betah ya?"

__ADS_1


"Iya. Gue gak nyaman kerja di sana. Banyak yang sinis sama gue. Selain itu berharap bisa dapat gaji lebih baik di tempat baru kan." Andra terkekeh.


Widia yang sudah bekerja di sebuah perusahaan interior itu tidak terpikirkan untuk pindah kerja. Ia betah di sana. Berbeda dengan Andra yang selalu menjadi 'kutu loncat'.


Sejak Andra mulai bekerja, sudah 2 perusahaan yang dimasukinya. Pertama diterima kerja di developer lalu kontraktor BUMN. Ia masih mencari tempat kerja yang sesuai dengan minatnya.


Sudah berbagai macam lamaran kerja ia kirim dan berbagai wawancara dilakukan setelah berhenti kerja. Ada yang diterima, tapi Andra menolak karena gajinya kecil. Ada yang gajinya besar, tapi ia harus pindah ke luar pulau Jawa. Sementara dia sendiri tidak tega meninggalkan ibunya yang diboyong juga ke Jakarta.


"Ndra, gue dapat info nih dari Ivane. Katanya ada konsultan arsitek lagi buka loker. Yang punya senior kita dulu. Mas Imam. Elo kenal kan? Kali aja elo diterima secara elo kan satu almamater," beber Widia di telepon.


"Boleh deh dicoba. Kirimin alamatnya!"


Sejurus kemudian Widia memberikan info loker itu melalui BBM. Berhubung ada batas waktu, Andra secepatnya mengirimkan CV via email terlebih dahulu.


Seminggu kemudian, lamarannya direspon. Ia begitu senang. Beberapa hari lagi ia diminta untuk datang dan melakukan wawancara kerja.


Kini ia sudah menginjakkan kaki di depan sebuah rumah besar tiga lantai bergaya minimalis yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Andra dipersilakan menunggu di sebuah ruangan. Tak lama kemudian, pemilik konsultan datang. Ialah Imam, senior angkatan 2001 yang tidak begitu akrab dengannya.


"Aku sudah baca CV dan portofolio kamu, Mba Dian," ucap Imam sambil membaca selembar kertas.


"Desain-desain kamu oke. Aku sih suka. Bahkan beberapa karyawan di sini bilang kalau kamu itu bakalan cocok kerja bareng tim kami," sambung Imam.


"Siap, Mas." Andra merasa ini pertanda baik.


"Ya udah karena kebetulan aku sudah tahu siapa kamu, kinerja kamu, jadi bagaimana kalau kita langsung aja lihat-lihat isi kantor ini. Aku kenalkan dengan timku," ajak Imam.


Andra terperangah.


"Tunggu, Mas. Maksudnya aku diterima kerja di sini atau gimana ya?"


Imam yang tampak bersahaja itu tersenyum. "Iya. Kamu diterima kerja di sini. Selamat ya."


Sontak saja Andra terperanjat dan kegirangan. Imam terkekeh melihat tingkahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2