Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Orang Keempat


__ADS_3

Tiga hari kemudian setelah pertemuan antara Andra dengan Erik, pengusaha muda itu mengajaknya bertemu di Bogor untuk melihat langsung lokasi calon FO barunya. Awalnya Andra mengajak rekan kerjanya yaitu Anton yang tidak terlalu sibuk, tapi Aydan malah mengajukan diri untuk menemaninya.


"Bukannya hari ini kamu ada pertemuan dengan Pak Aditya, Mas?" tanya Andra heran karena mendadak seniornya itu mau menemani.


"Pertemuannya diundur jadi besok," jawab Aydan sambil tetap menyetir mobil.


"Beneran diundur?" tanya Andra ragu. Sepengetahuannya pekerjaan Aydan sedang menumpuk. Sama dengan dirinya.


"Beneran. Masa aku yang minta diundur, sih. Beliau kan orang sibuk. Aku yang harus mengikuti jadwalnya," ungkap Aydan lagi.


Meski alasannya masuk akal, tapi tetap terasa aneh. Karena biasanya untuk urusan survey begini diserahkan pada junior arsitek dan staf lainnya. Para seniornya hanya akan mendapatkan data matangnya saja untuk diolah. Kalaupun ikut serta, itu pun untuk situasi tertentu saja. Karenanya Andra merasa ada yang aneh. Walaupun begitu, ia berusaha abai. Perjalanan ke Bogor ini ibarat jalan-jalan berduaan dengan pacarnya. Jadi, Andra masa bodoh dan senang-senang saja.


Sesampainya di tujuan, ternyata Erik sudah datang lebih dulu. Penampilan dia kali ini jauh lebih santai. Hanya memakai celana jeans, kaos dan jaket. Tidak seformal saat di kantor, tapi tetap terlihat necis. Ia datang bersama seorang lelaki yang diduga adalah rekan bisnisnya.


"Apa kabar, Andra?" sapanya ramah. Ia menjabat tangan wanita muda itu dan juga atasannya, Aydan.


"Baik, Mas. Maaf terlambat. Tadi agak macet," balasnya.


"It's okay. Udah biasa. Kita langsung saja ya. Jadi ini lahan yang akan dibangun FO terbarunya. Bagaimana menurut kalian? Cocok gak lokasinya?" Erik meminta pendapat mereka berdua sebagai tenaga ahli. Lokasinya sendiri berada di dekat pusat kota.


"Cocok, Mas. Ini berada di jalan utama. Akses transportasinya juga banyak," papar Andra.


"Syukurlah. Nggak sia-sia aku membeli lahan ini dengan harga yang lumayan," ungkapnya sambil tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya.


Andra dan Aydan mengerti bahwa arti dari lumayan itu maksudnya sedikit mahal dari harga di sekitarnya karena berasal di posisi bagus dan menguntungkan. Walaupun begitu, Erik mampu membelinya.


Sambil berdiskusi dengan Aydan, Andra sibuk membidik kamera ke area sekeliling lahan. Dan, selama berbicara dengan Aydan, mata Erik tetap memperhatikan Andra bekerja di sekitar lahan. Tentu saja Aydan menyadari itu. Ia hanya bisa menahan diri, tetap melayani klien seperti biasa, dan berpikir positif. Saat urusan selesai, Erik mengajak keduanya makan siang.


Di restoran pun, Erik begitu antusias berbicara pada Andra. Kali ini bukan membahas tentang rancangan FO-nya, tapi lebih ke personal. Seperti membahas makanan untuk mengetahui selera Andra. Membahas gaya fashion terkini untuk mengetahui selera berpakaiannya juga yang ternyata lebih suka casual. Bahkan membahas tipe-tipe lelaki untuk mengetahui tipe lelaki yang disukai wanita itu. Aydan makin merasakan sesuatu terhadap klien satu ini. Seumur hidupnya belum pernah ada klien yang mengobrol basa basi sampai sejauh ini kecuali ada maksud lain.

__ADS_1


Saat Andra pamit ke toilet, Aydan segera mengikutinya untuk mengajukan protes agar tidak terlalu meladeni pria tajir itu.


"Apa salahnya, Mas? Kita kan cuma ngobrol. Bukan obrolan tabu dan rahasia, kan?" dalihnya.


"Kamu benar-benar gak sadar ya kalau dia sedang mencari tahu tentangmu."


"Mencari tahu tentangku? Untuk apa?" tanya Andra polos.


"Dia itu sepertinya tertarik sama kamu, Andra," ungkap Aydan khawatir.


"Masa, sih? Mana mungkin?" Andra terkekeh-kekeh. Ia merasa itu sangat tidak mungkin. Mengingat dirinya hanyalah wanita yang sangat biasa. Orang seperti Erik pasti akan menyukai wanita selevel dengannya. Begitulah pikir Andra, tapi tidak dengan pikiran Aydan.


Karena kedua arsitek itu tidak segera kembali ke meja, Erik jadi cemas. Ia menyusul mereka ke toilet juga dan melihat keduanya tengah berbicara akrab. Apalagi Aydan yang cemburu sedang menggenggam erat tangan Andra agar mau mendengarkan keluhannya.


"Pokoknya kamu jangan terlalu dekat dengannya, Yang. Aku bisa gila," kelih Aydan.


"Mas, aku gak tinggal serumah dengannya seperti kamu dan Kalina. Kenapa harus khawatir begitu? Lagian aku harus profesional dan totalitas melayaninya. Bukankah seharusnya begitu? Apa salahnya beramah-tamah dengannya? Toh, sejauh ini dia masih sopan," protes Andra keberatan.


"Tenang saja. Percaya deh sama aku, Mas," pintanya.


Aydan terdiam meragukan kesetiaan Andra. Jauh di dalam hatinya ia sangat khawatir kekasihnya itu akan terpikat pria lain yang lebih mapan dan rupawan darinya. Ia lupa bahwa selama bertahun-tahun Andra masih setia menyukainya sejak kuliah. Padahal bisa saja saat mereka berpisah, Andra tergoda pria lain. Nyatanya tidak sama sekali.


Sadar kedua arsitek itu akan kembali ke meja makan, Erik segera kembali lebih cepat. Ia berpura-pura tidak tahu. Hingga mereka semua berpisah dan kembali ke rutinitas masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, pikiran Erik terganggu dengan keakraban Andra dan atasannya. Pria berkacamata itu tampak begitu perhatian pada bawahannya. Membuatnya bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang spesial di antara rekan sejawat itu.


     


                             ❀❀❀

__ADS_1


"Kok tiap hari pulangnya malam banget sih, Bang?" keluh Kalina karena belakangan ini Aydan selalu pulang terlambat ke apartemen.


"Sibuk banyak kerjaan," jawab Aydan dingin.


"Kalau makin banyak kerjaannya, nambah karyawan saja," usulnya.


"Gak semudah itu, Kal." Aydan duduk rebahan di sofa. Ia menghela napas lelah.


"Kenapa gak mudah? Kan tinggal buka loker saja di koran," usulnya lagi.


"Beberapa bulan lalu kantorku baru saja buka loker. Masa buka loker lagi. Makin banyak karyawan makin besar pengeluarannya."


"Ya tapi kan jadi makin terbantu kerjaannya. Bang Aydan gak bakal pulang malam-malam banget setiap Ayda. Pokoknya kantormu harus nambah karyawan lagi!" protes Kalina kecewa sambil menyuguhkan teh manis hangat di meja.


"Kenapa kamu ngotot banget? Bukan aku yang ngasih kebijakan itu. Bagaimanapun aku cuma karyawan."


"Habisnya aku kesal. Hampir tiap hari Bang Aydan pulang malam terus. Aku kan kesepian di sini." Bibir Kalina merengut.


"Kalau kamu gak suka kesepian di sini, ya udah pulang saja ke Palembang. Di sana ada orang tua dan keluargamu yang lain. Aku kan gak minta ditemani kamu," hardik Aydan kesal. Tingkah manja Kalina membuatnya makin jengkel setelah tadi siang dibuat kesal oleh Erik.


"Bang Aydan kok jadi galak begini?" tanyanya sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Aydan jadi merasa bersalah.


"Habisnya kamu membuatku makin sulit, Kal. Kumohon pulanglah! Aku berjanji akan mencari Bang Irvan untukmu," balas Aydan.


"Sudah berapa kali harus bilang kalau aku udah gak mau lagi sama dia. Aku maunya sama kamu, Bang," protes Kalina marah.


"Ya Tuhan. Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu kalau aku juga gak bisa menikahimu. Aku sudah mencintai perempuan lain," papar Aydan tegas.


"Bodoh amat. Aku tahunya kamu sudah berjanji mau menggantikan peran kakakmu yang pengecut itu. Titik!" bentak Kalina sambil beranjak masuk kamar. Ia membanting pintu kamar dan menangis kecewa.

__ADS_1


Tinggallah Aydan yang makin pusing kepala akan situasinya. Belum selesai masalah dengan Kalina sebagai orang ketiga, kini calon pengganggu hubungannya dengan Diandra malah bertambah lagi. Kehadiran Erik membuatnya tidak tenang. Insting lelakinya mengatakan bahwa klien baru itu sedang mendekati Andra tanpa disadari betul oleh yang bersangkutan.


༺༻


__ADS_2