
Mulut Yuda menganga saat ia tahu jika atasannya diam-diam menjalin kasih dengan karyawan baru yaitu Diandra. Aydan tersenyum canggung di hadapannya saat pertemuan makan malam di hari minggu. Andra yang duduk di sebelahnya malah cuek. Padahal awalnya ia pun khawatir ketahuan karena malu. Hubungan cinta antar rekan kerja dalam dalam satu perusahaan itu biasanya terlarang. Karenanya Widia meminta Yuda untuk tetap merahasiakannya dari teman-teman kantor.
"Tahu gitu aku gak usah ajak Mas Yuda," ucap Widia menyesal pada kedua sahabatnya. Mereka bertiga sedang berbicara di depan wastafel toilet. Widia khawatir bila hubungan Andra dan Aydan ketahuan di kantor konsultan mereka akan berakibat pada pemecatan.
"Udahlah. Udah terlanjur. Nggak apa-apa, kok. Mas Yuda udah dikasih pengertian, kan?" tanya Andra yang justru tampak tenang-tenang saja. Widia mengangguk.
"Cepat atau lambat juga nanti akan ketahuan juga. Tinggal tunggu waktu saja," imbuh Ivane yang datang ke acara traktiran makan malam seorang diri.
"Bukan begitu. Tadi kata Mas Yuda, ia pikir Mas Aydan itu udah bertunangan dengan cewek bernama Kalina. Seluruh karyawan di sana juga tahunya begitu. Makanya dia kaget banget. Aku kan gak mau sahabatku dicap sebagai selingkuhan Mas Aydan," papar Widia membela Andra.
"Daripada bahas soal aku yang dianggap selingkuhan, lebih baik kita bahas kapan rencana pengusiran Kalina dimulai?" sela Andra dengan wajah kesal.
"Nah, betul itu. Ayo kita eksekusi dia secepatnya. Aku sudah dapat orang yang bisa membantu rencana kita," ungkap Widia semangat.
"Siapa?" tanya Andra dan Ivane bersamaan.
"Aku sudah minta mereka untuk datang ke restoran ini. Mari kita tunggu!"
Lantas ketiga sahabat baik itu kembali ke meja makan. Di sana Aydan dan Yuda juga sedang mengobrol.
"Cewek-cewek kalau ke toilet bareng pasti lama. Pada ngapain, sih? Arisan dulu?" protes Yuda.
"Biasanya sih ngerumpi dulu. Nah, yang dibahas itu soal cowok-cowok. Mungkin kali ini mereka ngerumpiin kita," imbuh Aydan menyindir mereka.
"Enak saja. Gak selalu bahas soal cowok, kok. Ge-er banget," bantah Andra begitu tiba di sana.
"Masa?" goda Aydan seraya tersenyum. Andra memutar ke atas bola matanya.
"Eh, tapi bener, kok. Sejak kuliah tiap kita ke toilet bareng emang selalu bahas cowok-cowok, kan? Mulai dari senior kita yang ganteng, mahasiswa jurusan sebelah yang cakep, junior yang unyu-unyu, sama tetangga kosan sebelah yang keren," ungkap Ivane polos. Andra terhenyak tak percaya saat Ivane malah membocorkan kebiasaan mereka. Widia menepuk bahunya gemas.
__ADS_1
"Apa, sih? Emang bener, kan?" dalih Ivane lempeng. Andra dan Widia menghela napas pasrah. Teman mereka satu ini memang paling kurang peka.
"Nggak usah malu. Kita juga kadang-kadang ngomongin cewek-cewek," komentar Aydan. Yuda dan Aydan malah terkikik bersama.
"Dasar! Pasti obrolan mesum ya?" tebak Widia curiga.
"Eh, kok tahu?" jawab Yuda ngasal.
"Hah?!" Ketiga wanita itu sama-sama terperanjat. Sedangkan Aydan dan Yuda malah tertawa terbahak-bahak.
"Permisi. Selamat malam." Terdengar seseorang menyapa dengan suara berat. Kelima orang itu menoleh bersamaan. Ada dua orang pria berbadan besar, tegap, dan berotot menghampiri meja makan mereka. Yang satu berambut gondrong penuh tato. Yang satu lagi berambut cepak dengan luka codet di wajahnya. Ivane dan Andra bergidik ngeri melihat kedua pria itu. Sedangkan Widia justru tersenyum semringah.
"Selamat malam, Om. Akhirnya datang juga," sahut Widia ramah.
"Elo kenal?" bisik Andra.
"Ooh jadi mereka orangnya. Serem," ujar Ivane sembari melirik takut.
"Wajar. Kerjaan mereka debt collector," bisik Widia sambil membungkukkan dada ke arah sahabatnya agar lebih dekat.
"Jadi gimana, Mba Wid? Jadi?" tanya pria berambut gondrong tegas.
"Jadi dong, Om. Silakan duduk dulu!" titahnya. Lantas keduanya duduk di kursi kosong yang sudah disiapkan untuk mereka. Di sebelah Aydan dan Yuda. Mereka berempat duduk berdesakan.
"Wid, siapa sih?" tanya Aydan penasaran.
Akhirnya Widia menjelaskan rencananya untuk mengusir Kalina dari apartemen seniornya. Yuda diminta untuk tutup mulut, kalau tidak, Widia tak segan memutuskan hubungan mereka yang baru beberapa hari itu. Yuda pasrah. Ia tak mau ikut campur.
Dua pria besar itu manggut-manggut paham setelah dijelaskan. "Itu sih gampang, Mba," kata mereka.
__ADS_1
Bahkan Aydan pun diminta ikut berperan sebagai korban. Andra dan Ivane terkekeh-kekeh sambil membayangkan bagaimana drama debt collector itu akan berlangsung nanti. Ia senang akhirnya Kalina akan segera hengkang dari apartemen Aydan.
❀❀❀
Bibir Kalina masih mengerucut kesal karena ditinggalkan sendiri oleh Aydan di kamar hotel. Ia tak menyangka sama sekali jika lelaki yang dipikirnya sudah mapan itu ternyata memiliki hutang kartu kredit yang begitu besar.
Masih terbayang betapa menakutkannya dua pria debt collector tadi. Begitu galak dan tanpa ampun. Memaksa Aydan untuk segera pergi dari apartemennya sendiri. Mulanya Aydan menolak dengan berbicara halus, tapi mereka tetap tak peduli. Sampai kerah bajunya ditarik ke atas dengan mata melotot sangar karena Aydan mencoba bertahan dari pengusiran. Ia tak bisa melawan. Hanya bisa pasrah. Batas toleransi mereka hanya sampai besok. Padahal masih banyak barang-barang milik pria itu yang belum diangkut. Kalina hanya membawa pergi barang pribadinya saja.
Besok dia terpaksa pulang ke Palembang. Meskipun sebenarnya enggan. Ia masih ingin menemani Aydan di Jakarta. Masih ingin bersama pria idaman barunya. Apalagi sekarang ada saingan baru. Betapa takutnya Kalina jika Aydan makin leluasa bersama Diandra tanpa kehadirannya. Hatinya gelisah memikirkan bagaimana bisa segera meresmikan hubungannya dengan Aydan. Walaupun dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Aku harus bilang sama ubak* nanti kalau Bang Aydan punya utang besar di bank. Siapa tahu ubak bisa bantu," gumam Kalina. Ia tak mau calon suaminya punya masalah hingga mengganggu pernikahannya nanti. Satu-satunya cara dengan meminta bantuan ayahnya yang tergolong orang berada.
Esok pagi Aydan sudah datang menjemput dan siap mengantarkan Kalina ke bandara. Dengan wajah kecewa, ia pun pergi karena terpaksa. Aydan membantunya menarik koper dan tas hingga tiba di bandara. Sebelum pergi, berkali-kali Kalina mencoba merayu untuk tetap tinggal di Jakarta. Sayangnya, Aydan pun tetap menolaknya tinggal lebih lama lagi dengan alasan yang sama. Wajah Kalina tampak begitu kecewa.
"Yes. Alhamdulillah. Akhirnya dia pulang juga," ucapnya merasa lega saat pesawat Kalina sudah lepas landas. Kini tak ada lagi pengganggu. Pikir Aydan senang. Masalah pernikahannya dengan gadis itu akan ia pikirkan lagi. Baginya yang penting Kalina tidak tinggal bersamanya. Dia takut amarah Andra akan makin berkepanjangan dan merusak hubungannya yang susah payah ia harapkan.
Sepulangnya dari bandara, Aydan segera kembali ke kantor dengan perasaan bahagia. Namun, ketika mobilnya baru sampai di dekat kantor, ia melihat motor kekasihnya itu baru saja pergi.
"Diandra ke mana ya?" tanya Aydan heran. Padahal saat itu belum waktunya jam istirahat.
Karena penasaran akhirnya dia mengikuti ke mana gadis itu pergi. Dua puluh menit kemudian, motor Andra masuk ke sebuah restoran. Setelah memarkirkan motornya, ia masuk terburu-buru. Aydan pun segera memarkirkan mobilnya juga lalu diam-diam membuntuti Andra.
Andra berjalan ke dalam restoran sambil melihat ke sana kemari seperti mencari tempat duduk kosong.
"Diandra! Aku di sini!" seru seorang pria yang melambaikan tangannya dari sebuah meja makan di sudut ruangan. Andra menoleh cepat ke arah pria itu dan segera menghampiri.
Aydan jadi penasaran dan ikut menoleh dan betapa terkejutnya dia saat tahu pria itu adalah Erik. Andra duduk di hadapan pria itu sambil tersenyum manis. Erik menjabat tangan juniornya itu. Rasa panas langsung menjalar ke hati Aydan saat sorot mata Erik terlihat berbinar-binar memandangi Diandra, kekasihnya.
༺༻
__ADS_1