
"Baliiii, I'm comiiiiing," jerit Andra kegirangan. Ia baru saja mendaratkan kakinya di Bandar Udara Ngurah Rai. Hatinya senang bukan main. Bisa liburan ke Bali dengan gratis, walaupun dalam urusan pekerjaan. Siapa yang tak mau.
"Norak, kamu! Diliatin orang-orang, tuh," komentar Yuda sambil melirik aneh pada gadis itu. Dan, memang benar. Beberapa pengunjung di bandara langsung melirik aneh padanya.
"Biarin. Yang penting aku happy, friend," dalihnya tanpa peduli terlihat ndeso.
"Ya terserah, deh. Asal jangan dekat-dekat aku, ya. Malu. Baru juga ke Bali. Belum ke luar negeri, Neng," seloroh Yuda.
"Yang penting aku udah pernah naik pesawat," candanya lagi dengan wajah tanpa malu.
"Ya ampun. Ke mana saja, Neng?" tanya Yuda terkikik.
"Ya justru itu. Aku gak ke mana-mana. Habisnya gak ada yang ngajakin jalan-jalan jauh kayak gini," ungkap Andra sebal.
"Alhamdulillah kalau begitu. Sering-sering saja berdoa semoga nanti ada klien kaya yang ngajakin survey jauh lagi, ya," balas Yuda tak kalah tertawa. Ia pun senang sebenarnya.
"Eh, tapi kok kayak bau dupa gitu, ya?" Andra mengendus ke udara sekitarnya. Ia merasa aneh.
"Namanya juga di Bali. Kayak gak paham saja. Di sini banyak sesajen. Nanti di kotanya atau di tempat lain juga sama. Gak usah heran," ungkap Yuda lagi. Dia sebelumnya sudah pernah beberapa kali pergi ke Bali.
"Cieee yang sering ke sini. Jadi turis backpacker, ya," ledeknya.
"Iya, dong. Yang penting sudah pernah ke sini. Daripada kamu. Baru sekarang. Hahaha." Yuda balas mengejek.
"Ih, awas ya. Ntar gak aku bantu jomblangin sama Widia," ancam Andra sambil mendongakkan kepala.
"Lho kok gitu? Jangan dong. Bantuin ya!" rayu Yuda memohon sembari mengapitkan kedua tangannya. Memasang wajah memelas.
Andra terkekeh. "Canda, Bro. Iya, tenang saja. Nanti aku bantu, asal Mas Yuda jangan nyakitin sahabatku itu. Oke? Dan, jangan lupa juga nanti belikan dia oleh-oleh yang buanyak." Jempol Andra diangkat ke atas.
Pria jangkung itu langsung semangat mengangkat jempolnya juga. "Oke. Siap, Ndan. Kalau cuma oleh-oleh doang mah keciiiil."
"Hei, kalian berdua! Mau sampai kapan ngobrol saja di situ?" seru Imam yang sudah membuka pintu mobil jemputan. Ia kesal menunggu sejak tadi. Wajahnya kesal.
Kedua karyawannya malah terkekeh-kekeh. "Siap, Mas. Maaf."
Setelah memasukkan tas dan koper ke belakang mobil, mereka segera pergi menuju hotel di Denpasar. Sepanjang perjalanan itu, hati Andra senang. Ia lupa akan kesedihannya sejenak. Ia terus mengagumi dan mengamati setiap jengkal pemandangan indah di sana. Bahkan ia keheranan melihat pohon-pohon di sana dipakaikan sarung dengan motif kotak-kotak.
Beberapa jam kemudian ia sudah sampai di depan hotel bintang empat. Begitu keluar dari mobil, hawa panasnya seperti di Jakarta, tapi di Bali berangin dan tidak semacet Jakarta tentunya.
__ADS_1
Andra dan Yuda dibantu supir menurunkan barang bawaan mereka. Sementara atasan mereka, Imam, sedang check-in di meja resepsionis.
"Ini kunci kamarmu, Ndra," ujar Imam sambil menyerahkan sebuah kunci hotel.
"Kamu tidur sendirian enggak apa-apa, kan?" tanya Imam. "Soalnya aku dan Yuda tidur di kamar yang sama, tapi kita sebelahan kok."
"Ya enggak apa-apa lah, Mas. Masa aku mau minta ditemenin kalian berdua. No way!"balas Andra sembari terkikik merasa lucu jika mereka tidur bertiga dalam satu kamar. Sungguh tidak mungkin.
"Oke. Ayo kita segera ke kamar lalu siap-siap untuk pergi lagi ke Ubud," pinta Imam.
"Hah?! Ke Ubud?" tanya Andra dan Yuda kompak.
"Iya. Ke Ubud. Apa masih kurang jelas? Lokasi tanah yang akan dibangun Villa di sana. Nanti kita akan berangkat bareng klien sore ini," papar Imam.
Kedua karyawannya saling terbelalak tak percaya akan pergi ke salah satu tempat wisata yang indah di Bali. Mereka bersorak kegirangan.
Imam geleng-geleng kepala dan pergi duluan naik lift ke lantai atas. Keduanya langsung menyusul sambil cekikikan senang.
***
Sesampainya di kamar hotel, Andra langsung rebahan dan menikmati empuknya kasur hotel. Terbesit keinginan untuk menghubungi seseorang.
Andra : PING! Woi, Bang.
Andra : Gue udah sampai Bali, nih. 😁
Cheeky : Ciee terbang gratisan. Jangan norak ya di sana. 😅
Andra : Biarin. 😝😝
Cheeky : 🤣🤣 Have fun, ya.
Andra : Jadi gak mau nyusul gue ke sini?
Cheeky : Lihat nanti deh. Gue sibuk.
Andra : Sok sibuk Lo. Bilang aja gak punya duit buat ongkosnya.
Cheeky : Daripada elo dibayarin. Gue kan pake duit sendiri. Lebih terhormat. 😝
__ADS_1
Andra : Iih sentimen. Gak bisa ya lihat gue gue seneng di sini. Daripada di Jakarta. Bawaannya kesel sama orang itu.
Cheeky : Siapa? Senior Lo itu?
Andra : Ya siapa lagi coba? Bodohnya gue berharap terlalu jauh sama dia. Ternyata sama aja. Semua laki-laki sama aja.
Cheeky : Eits. Jangan bilang gitu. Gue beda ya. Gue kan agak melambai. 🤣
Andra : 🤣🤣 Idih. Parah juga ternyata.
Cheeky : BTW, kalau gue nyusul ke sana boleh gak nih? Katanya mau ketemu gue?
Andra : Ah ntar gak jadi lagi. Bosen.
Cheeky : Ya gue usahain.
Andra : Oke. Gue tantang elo buat nyusul gue ke Bali. Kalau elo gagal lagi, elo tukang bohong. Gue gak mau temenan lagi. 😝
Cheeky : Siap. Liat aja nanti.
Andra melempar ponsel BB-nya ke kasur. Ia tersenyum menyeringai. Membayangkan apakah teman online-nya akan menerima tantangannya untuk datang ke Bali secara mendadak.
"Pasti elo gak bisa datang lagi," gumam Andra yakin.
Pikirannya tiba-tiba teringat akan sosok Aydan dan Kalina di apartemen itu. Rasa perih terasa lagi. Begitu menyayat hati. Ia geram. Aydan sudah berbohong.
"Mulai hari ini, gue harus bisa ngelupain Mas Aydan. Setelah kontrak kerja gue habis, gue harus pindah kerja lagi," pikir Andra sedih.
Terdengar pintu kamar diketuk. Rupanya Imam mengajaknya pergi. Ia segera bangkit. "Tunggu sebentar, Mas. Aku mau salat dulu!" teriaknya.
"Oke. Kita tunggu di lobi ya!" jawab pria itu.
Andra segera ke kamar mandi. Ada cermin besar di wastafel kamar mandi. "Andra, elo harus move on!" ujarnya sambil menatap pantulan dirinya di sana.
Hatinya sudah mantap ingin segera mengakhiri ketidakpastian ini. Ia lelah menunggu. Lelah berharap. Ia ingin dicintai dan diperjuangkan sebagai wanita.
***
Selesai salat dan membawa peralatan untuk survey lokasi, Andra segera turun ke lobi hotel. Di sana sudah menunggu Imam, Yuda, dan juga klien baru perusahaan, yaitu Bapak Aditya Wiryawan berserta istrinya. Andra diperkenalkan pada klien itu, yang notabene teman akrab orang tua Imam. Mereka terlihat ramah dan baik.
__ADS_1
Setelah perkenalan sebentar, kelima orang itu langsung pergi menggunakan dua mobil menuju Ubud. Andra sudah tak sabar ingin segera sampai. Ia tahu keindahan pemandangan Ubud di sana dari internet sungguh indah. Ia ingin melihatnya langsung dan mengabadikannya melalui kamera DSLR yang ia bawa. Lalu memamerkannya pada Widia dan Ivane.
***