
Diandra tersenyum lebar saat ia berbaring di atas kasur hotel. Debaran jantungnya masih kencang. Seperti baru saja berlarian. Wajahnya begitu berseri-seri. Matanya berbinar. Bahkan rona pipinya bersemu merah saat ia teringat kejadian malam romantis di pantai tadi.
Dia tak menyangka senior idamannya selama ini berani mengecup bibirnya begitu lama. Hingga ia nyaris tak bisa bernapas, lemas, dan tubuhnya panas dingin. Andra bahagia bukan main.
Setelah itu, Aydan memeluknya lagi dari belakang. Keduanya menghabiskan waktu dengan berbicara dari hati ke hati. Terutama saat keduanya membahas jati diri Cheeky. Aydan rupanya cukup pandai menyembunyikan jati dirinya yang lain di depan Andra selama bertahun-tahun. Hal itu sempat membuatnya kesal.
"Mas, ayo kasih tau. Sejak kapan kamu tahu kalau akun itu adalah aku?" desak Andra penasaran.
Lelaki dengan senyum manis itu malah tertawa. Andra makin jengkel. Ia mencubit lengan Aydan.
"Auw. Sakit tau," ujarnya.
"Sakitan juga aku. Harus menahan diri terus," balas Andra tak mau kalah.
"Ya sakitan akulah. Aku dicuekin terus sama kamu. Nembak kamu, malah digantung. Terus aku diabaikan sejak ibu kamu tahu hubungan kita. Aku harus nahan cemburu karena banyaknya mahasiswa yang deketin kamu. Termasuk teman kamu itu. Siapa tuh namanya? Aku lupa. Yang pura-pura jadi pacar kamu," ungkap Aydan teringat masa lalu.
"Ooh. Si Riko?"
"Nah, itu dia. Bagaimana kabarnya?"
"Dia kerja di Bandung, Mas. Udah mau nikah kayaknya," papar Andra.
"Oh syukur, deh. Sebentar lagi kita juga begitu."
"Serius mau nikah sama aku?" tanya Andra tak yakin.
"Ya seriuslah. Masa enggak?"
"Kalau Bang Irvan gak ketemu atau dia gak mau nikahi Kalina, gimana?" tanyanya cemas sambil melirik ke Aydan di belakang.
"Kalau begitu kita harus bisa membujuk dia."
"Ah, aku jadi takut." Raut wajah Andra berubah sedih.
"Takut kenapa?"
"Takut kamu terpaksa menikahi Kalina, Mas, gara-gara kakakmu itu."
"Enggak akan. Nanti aku akan bicara dengan Kalina. Aku akan memperkenalkan kalian berdua," tekan Aydan berusaha menenangkan kekasihnya.
Dalam hati, Andra masih khawatir. Ia ingat pertemuannya dengan perempuan itu. Saat membicarakan hubungannya dengan Aydan, sorot matanya tampak berbeda. Berbinar-binar bahagia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Karenanya Andra jadi cemas.
***
Sebuah pesawat terbang dari Bali baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Tak berapa lama pasangan muda Diandra dan Aydan muncul di antara kerumunan pengunjung bandara sambil menarik koper dan menggendong tas.
"Kamu tunggu di sini, ya! Aku mau ambil mobil dulu. Aku titip mobil di bandara," ungkap Aydan. Ia menitipkan barang bawaannya kepada Andra.
"Oke. Aku tunggu di sini aja," balasnya.
Lalu beberapa menit kemudian, sebuah mobil SUV hitam datang tepat di depannya. Aydan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya. Setelah memasukkan barang bawaan mereka di belakang mobil, keduanya segera pergi.
Sepanjang perjalanan, senyum semringah keduanya tak pernah memudar. Saling bercerita dan tertawa. Seakan-akan sudah lama tak bertemu dan saling merindukan satu sama lain. Seolah-olah interaksi mereka selama beberapa bulan sebelumnya di kantor, tak berarti apa-apa.
"Kamu mau langsung pulang ke kosan atau mau mampir ke apartemenku dulu?" tawar Aydan.
"Ngapain ke apartemenmu?"
__ADS_1
"Ya mainlah. Kita kan baru mulai kerja besok."
"Enggak, ah. Aku capek. Widia dan Ivane udah nungguin oleh-oleh," kilah Andra.
"Hhmmm oke deh. Sepertinya kamu takut berduaan denganku lama-lama ya?"
"Bukan gitu, Mas. Mereka berdua udah ribut aja minta aku cepat pulang. Ivane tadi ngabarin kalau Widia ditembak sama Mas Yuda sepulang dari Bali. Jadi aku dan Ivane mau minta traktir," ungkapnya sambil terkekeh.
"Kudu ya minta traktiran kalau ada yang jadian?"
"Emang udah jadi kesepakatan kita sejak kuliah, Mas. Kalau di antara kita bertiga ada yang jadian duluan, harus dan wajib traktir temannya," terang Andra senang.
Aydan geleng-geleng kepala.
"Kita juga udah jadian, kan? Nanti kamu harus traktir mereka juga?"
"Ya begitulah. Oh, iya. Kalau di depan teman kantor kita biasa aja ya! Jangan sampai mereka tahu hubungan kita," pinta Andra merasa khawatir.
"Kenapa, sih? Takut ditodong traktiran juga sama teman sekantor? Biar nanti aku yang bayarin, deh. Tenang aja."
"Bukan begitu. Aku cuma gak enak aja. Malu."
"Ngapain malu punya pacar setampan aku?" Aydan terkikik memuji diri sendiri.
"Ayolah. Please," bujuk Andra cemas.
"Baiklah. Untungnya aku aktor yang cukup baik. Terbukti kamu bisa aku kerjai selama ini," timpal Aydan seraya tertawa.
Lagi-lagi Andra mencubit lengan pria itu. Sebal.
"Gak mau, ah. Lagi pula di sana ada Kalina. Kok kalian sudah tinggal berdua, sih? Kan gak boleh," protes Andra keberatan.
"Aku gak tinggal berdua dengannya. Kebetulan waktu itu Kalina dan ibunya datang berkunjung ke Jakarta. Sekarang mereka sudah pulang."
"Mau ngapain ke Jakarta? Cari kakakmu ya?"
Mulut Aydan malah membisu. Ia enggan memberitahukan jika kedatangan ibu dan anaknya itu sebenarnya ingin memajukan tanggal pernikahan. Namun, Aydan menolak. Ia tetap ingin mencari keberadaan Irvan lebih dulu.
"Mas, kok diam?" desak Andra merasa ada yang aneh saat raut wajah pria itu berubah.
"Enggak apa-apa," jawabnya dengan senyum dipaksakan.
"Marah ya karena aku gak mau ke apartemenmu?"
"Enggak, kok, Sayang. Masih ada lain waktu. Santai aja."
Meski bilang begitu, hati Andra jadi merasa tak enak. Sisa perjalanan jadi sedikit canggung. Keduanya jadi banyak diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai tibalah di kosan Andra.
Aydan menurunkan tas dan kopernya lalu pamit pergi. Sebelumnya, ia mencium kening Andra begitu lembut. Meninggalkan perasaan bahagia dan senyum semringah pada gadis itu.
Setibanya di apartemen, Aydan terkejut begitu masuk mendapatkan Kalina masih berada di apartemennya. Ia sedang menonton televisi. Padahal seharusnya gadis itu sudah pulang bersama ibunya sebelum ia pergi ke Bali.
"Bang Aydan, kamu sudah pulang?" tanyanya bahagia begitu melihat tunangannya datang. Sementara Aydan sendiri terperangah.
"Kenapa kamu masih di sini?"
"Aku gak ikut pulang. Mama aja yang pulang. Aku masih ingin di sini. Enggak apa-apa, kan?" ungkapnya sambil berjalan mendekati Aydan yang kini resah.
__ADS_1
"Enggak seharusnya kamu di sini. Kita gak bisa tinggal berduaan. Kita belum menikah," protes Andra keberatan.
"Maaf. Cuma untuk beberapa hari aja, kok. Apa kamu ingin aku tinggal di hotel aja?" Kalina tampak merasa bersalah.
Aydan terdiam kebingungan. Ia tak tega juga membiarkan Kalina yang sedang hamil sendirian di hotel. Apalagi dia anak yang jarang pergi jauh dari keluarganya. Kalina adalah anak bungsu yang sedikit manja. Ia kerap bergantung pada orang lain.
"Ya udah. Kalau gak suka aku numpang tinggal di sini, aku pindah ke hotel aja," lanjutnya sedih. Ia balik badan masuk ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya.
Aydan jadi makin bingung. Antara tak tega, tapi ia juga takut berduaan dengan Kalina di apartemen. Akhirnya Aydan menyusulnya ke kamar.
"Ya udah, deh. Kamu boleh tinggal di sini, tapi jangan lama-lama. Kamu kan takut sendirian di apartemen. Sementara nanti aku harus kerja. Kadang sampai lembur di kantor," ujar Aydan pasrah.
"Beneran?" Wajah Kalina kembali berseri. Aydan mengangguk separuh terpaksa. Tiba-tiba saja gadis itu memeluknya senang. Aydan terperanjat.
"Makasih ya. Aku tahu kamu laki-laki yang baik, Bang. Seandainya Bang Irvan seperti kamu."
"Dia juga baik, kok. Cuma memang agak seenak-enaknya aja," bela Aydan.
Pelukan itu dilepaskan Kalina. Ia menatap Aydan dengan mata sendu.
"Seandainya aku jatuh cinta padamu lebih dulu. Mungkin gak akan begini. Ah, sepertinya aku mencintai orang yang salah," aku Kalina menyesal.
"Tenang aja. Nanti aku pasti akan menemukan Bang Irvan dan meminta di menikahimu segera. Beberapa hari lalu aku pernah melihat dia di Mall Arga Gading," paparnya.
"Kalau aku berubah pikiran gimana?"
"Maksudnya?"
"Emm ... aku maunya kamu aja yang nikahi aku. Boleh, gak?"
"Kita sudah membahas ini sama ibumu. Posisiku kan hanya sementara aja sebagai tunanganmu," protes Aydan tak suka.
"Iya tau, tapi aku maunya nikah sama kamu aja. Lagian Bang Irvan udah gak bisa diharapkan. Kayaknya aku ingin Bang Aydan jadi ayah dari bayi ini," terang Kalina.
"Mana bisa, Kal. Seharusnya Bang Irvan yang bertanggung jawab atas bayi itu," protes Aydan lagi. Ia makin kesal dengan keinginan Kalina.
"Iya. Iya. Aku tau, tapi aku maunya kamu aja yang nikahi aku." Kalina menggenggam tangan Aydan. Menatapnya dengan tatapan memohon. Ia tersenyum manis mencoba merayunya. Aydan jadi serba salah.
"Gak bisa, Kal. Aku harus menikahi gadis lain," ungkap Aydan akhirnya. Senyum manis itu langsung menghilang.
"Siapa dia? Kamu sudah pacar?" bentaknya.
"Iya. Aku sudah punya pacar sekarang dan aku janji akan menikahi dia."
"Gak bisa. Kamu kan sudah bertunangan lebih dulu denganku," protes Kalina keras.
"Kal, tolong mengertilah posisiku. Aku hanya berpura-pura jadi tunanganmu untuk menutupi aibmu. Aku sudah mencintai gadis lain sejak dulu," papar Aydan berusaha tenang menjelaskan.
Air mata Kalina sudah menggenang. Ia kecewa mendengar pengakuan Aydan. Tiba-tiba ia memeluknya lagi sambil menangis.
"Tapi aku maunya nikah sama kamu, Bang Aydan. Aku sudah jatuh cinta padamu," ungkap Kalina sedih. Aydan sendiri terperanjat mendengarnya.
"Aku pikir, kamulah pahlawan yang akan menyelamatkan aku. Ternyata kalian berdua sama aja mencampakkan aku. Salahku apa, Bang?" rengeknya dengan air mata sudah berderai hebat di baju Aydan.
Perasaan Aydan jadi terenyuh, tapi ia juga teringat dengan Andra, belahan hatinya yang akhirnya berhasil ia dapatkan. Aydan kebingungan lagi. Dalam hati ia juga geram dengan tingkah kakaknya yang seperti bajingan. Gara-gara dia impiannya menikahi Andra jadi terancam.
***
__ADS_1