Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Hadiah Istimewa Aydan 2


__ADS_3

"Bermalam di sini?" tanya Andra gugup. Pria di hadapannya duduk begitu dekat tanpa jarak. Lengan kanannya direntangkan pada sandaran sofa di belakang tubuhnya. Seolah Aydan hendak merangkulnya. Tentu saja membuat Andra berdebar hebat.


"Iya. Kamu menginap di sini aja. Mau, kan?" Aydan masih lekat memandanginya.


"Ta-tapi kita kan belum...." Jari Aydan langsung menutup mulut mungil Andra.


"Aku tahu apa pikiranmu. Aku janji gak akan macam-macam, kok. Aku cuma mau kita punya waktu untuk berduaan. Tanpa diganggu siapa pun. Tanpa membahas pekerjaan. Hanya ada aku dan kamu. Mau, kan?" tanya Aydan lembut. Sekali lagi aroma napas mint dan tubuhnya begitu terasa di indera penciuman Andra.


"A-aku sih mau, Mas, tapi masalahnya aku gak bawa baju ganti. Kan gak mungkin aku tidur pakai baju kerja begini," keluh Andra sembari mengibaskan blazer hitam di bajunya yang sudah tidak nyaman di badan karena sudah dipakai sejak pagi.


"Tenang aja. Aku ada baju ganti untukmu."


"Kalau baju punya Kalina aku gak mau." Andra mencebik manja.


"Bukan. Gak ada satu pun baju Kalina di sini. Ayo ikut aku!" Tangan kanan Andra ditarik oleh Aydan ke kamarnya.


Untuk pertama kalinya, Andra masuk ke kamar lelaki itu. Ternyata tertata cukup rapih dengan nuansa warna putih dan biru dongker. Aydan membuka lemari pakaiannya dan melemparkan kaos oblong ke atas kasur.


"Pakai itu aja!" serunya.


"Hah?! Terus bawahannya?" Andra merentangkan kaos oblong berukuran sangat besar itu.


"Gak usahlah. Anggap aja itu daster."


"Tapi...."


"Pakai aja! Mandi dulu, gih! Biar enak melukinnya." Aydan tersenyum menyeringai sambil berlalu. Andra hanya bisa menghela napas pasrah.


Beberapa menit kemudian, ia sudah mandi dan memakai kaos oblong super besar yang sanggup menutupi separuh pahanya yang mulus. Wajah Andra bersemu merah. Ia merasa malu dan salah tingkah saat Aydan terkesima melihatnya muncul.


"Sebaiknya aku pinjam celana pendekmu, Mas." Andra ingin kembali ke kamar, tapi Aydan lebih dulu menarik tangannya dan memeluknya dari belakang.


"Aku bilang cukup pakai ini aja! Jangan ngeyel!" bisiknya di telinga. Suara lembutnya membuat Andra merinding dan berdegup. Ia tak menyangka sama sekali jika Aydan bisa nakal.


"Kamu duduk di sini! Aku mau masak sesuatu buat kita." Aydan menyuruh Andra duduk di kursi makan dekat dapur kecilnya. Sementara lelaki itu mulai memasak sesuatu di dapur. Dari aromanya terasa enak. Perut Andra yang memang sudah lapar sejak tadi langsung meronta-ronta.


Sebuah steik daging sapi panggang dengan saos barbeque, mashed potato, sosis premium, salad sayur, dan mojitos, sudah tersaji di depan mata. Andra terpana. Semuanya tampak memggugah selera.


"Sorry. Aku belum terlalu pandai memasak, tapi kalau seperti ini aja aku sudah cukup jago, sih," ungkap Aydan malu.


"Gak apa-apa, Mas. Aku udah cukup senang, kok. Kayaknya ini enak."


"Pasti enak, dong. Coba aja!" tantang Aydan.


Maka tak mau berbasa-basi lagi pasangan muda itu segera menyantap makanan ala western itu. Andra terkejut mengetahui ternyata rasanya memang enak. Terutama dagingnya yang benar-benar sempurna kematangannya. Dimasak level medium. Tidak terlalu matang dan juicy.


Sambil bercengkrama, keduanya makan begitu nikmat. Momen kebersamaan seperti ini yang memang jarang keduanya rasakan sejak jadian di Bali. Hingga tanpa sadar, makanan sudah ludes semua tanpa bersisa.


Setelahnya, Aydan mengajak Andra menonton film di televisi. Ia memeluk mesra gadisnya di sofa. Terasa hangat dan masih membuat jantung Andra berdebar-debar. Namun, ia merasa bahagia.


"Sayang, aku mau kita segera nikah, tapi aku masih belum menemukan abangku," keluh Aydan.


"Hmmm. Nanti aku bantu, Mas," jawab Andra lesu. Ia menguap.


"Aku takut kalau abangku gak ketemu. Aku takut kalau kita gak bisa menikah. Aku takut kalau kamu terpikat laki-laki lain. Aku takut kehilanganmu," ungkapnya sedih dan bingung.

__ADS_1


"Tenang aja, Mas. Jodoh gak akan ke mana," sahut Andra yang makin lama makin terasa berat matanya.


Aydan termenung sejenak. Memikirkan segala kemungkinan di masa depannya yang masih abu-abu. Banyak hal yang ia khawatirkan.. Apalagi terhadap keberadaan Erik.


Ia ingat saat lelaki itu memberikan sebuah kado ulang tahun pada kekasihnya. Keduanya asyik mengobrol berdua di balkon. Begitu akrab dan tawa renyah di wajah Andra. Saat itu, ada perasaan tidak enak menelusup hatinya. Ia merasa cemburu dan jengkel. Rasa takut kehilangannya makin besar.


"Sayang, gimana kalau kita menikah aja minggu depan?" usulnya tiba-tiba.


Tak ada jawaban dari Andra.


"Sayang! Kita menikah siri aja. Kamu mau, kan?" tanya Aydan lagi.


Masih tak ada tanggapan dari Andra. Aydan terheran-heran. Ia melihat wajah Andra yang berada dalam pelukannya dan ternyata gadis itu sudah memejamkan mata.


"Ternyata kamu udah tidur."


Akhirnya Andra diangkat ke dalam kamar tidurnya dan diberi selimut. Sebelum pergi, Aydan mencium bibir mungilnya.


"Aku sangat mencintaimu, Diandra," gumam Aydan.


❁❁❁


"Lho, bajunya kok sama seperti kemarin, Mbak? Kehabisan baju, ya? " tanya satpam kantor saat Andra tiba esok paginya. Andra yang memang memakai baju yang sama dengan kemarin hanya bisa menyeringai.


Aydan yang sudah masuk lebih dulu dan mendengarkan obrolan hanya tersenyum geli.


"Gara-gara kamu, Mas. Mana bajuku bau apek lagi," gerutu Andra kesal sambil menyusul Aydan.


Tak berapa lama, Andra ditanyain oleh kedua sahabatnya karena tidak pulang ke kosan. Ia terpaksa berbohong dan berdalih tidur di mess kantor karena lembur.


Setelah itu, Ivane bercerita bahwa video prank dirinya yang diunggah kemarin mendapatkan banyak respon di Facebook. Karena penasaran, Andra segera membuat akun Facebook di komputer kantor. Ia terperangah mengetahui videonya jadi tontonan banyak orang di media sosial.


"Video apa itu?" celetuk Anton yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.


Andra terperanjat. "Jangan dilihat!" Ia berusaha menutupinya dengan kedua tangan, tapi gagal. Anton sudah tetap bisa melihatnya di akun Facebook-nya sendiri. Ia tertawa.


"Jadi kemarin kamu ulang tahun ya? Wah, selamat! Lucu banget prank-nya," ujar Anton. Ia antusias melihat video itu sampai memperlihatkannya pada rekan lain. Reaksi mereka pun sama. Tertawa geli. Andra hanya bisa pasrah.


Mendadak, ia teringat sesuatu. Lalu mengetik nama 'Irvan' di pencarian Facebook. Dalam sekejap ribuan akun nama Irvan dengan nama belakang yang berbeda-beda muncul. Andra malah jadi kebingungan sendiri.


"Kenapa gak nanya aja sama Mas Aydan," gumamnya. Lantas ia segera ke ruangan Aydan.


"Namanya Irvan Saskara. Kenapa?" tanya Aydan.


"Aku sedang cari di Facebook. Siapa tahu bisa ketemu," ujar Andra.


"Percuma. Aku udah coba pakai cara itu. Sepertinya dia gak punya akun Facebook atau gak pakai nama sebenarnya," ungkap Aydan.


"Yah... terus gimana, dong? Kapan ketemunya kalau gagal terus begini?" Andra sedih dan merasa makin buntu.


"Sabar. Nanti aku akan ke kantor polisi aja, deh." Aydan mengusap kepala Andra yang kini murung.


Tiba-tiba telepon dari Erik datang. Tak ingin Aydan mendengarkan percakapannya, gadis itu memilih pergi.


"Halo. Ada apa ya, Mas?" sahut Andra di telepon.

__ADS_1


"Motormu masih di kantorku. Nanti siang karyawanku akan mengantarkannya ke sana," balas Erik.


Andra menepuk dahinya. Ia baru ingat motornya masih terparkir di kantor Erik.


"Gak usah diantarkan, Mas. Biar aku yang ke sana buat ambil."


"Serius? Kalau kamu sibuk nanti bisa diantar, kok." Sekali lagi Erik menawarkan.


"Yakin. Gak apa-apa. Nanti saat istirahat aku ke sana. Makasih udah diingatkan."


"Sama-sama. Aku tunggu di sini," ucap Erik sebelum pembicaraan itu berakhir.


Dan, saat jam istirahat tiba, Andra bergegas pergi ke kantor Erik menggunakan taksi. Aydan terheran-heran melihatnya pergi begitu saja. Setengah jam kemudian, Andra sudah tiba di sana. Motornya masih terparkir di dekat pos satpam.


"Pak, aku mau ambil motorku," ujar Andra pada satpam.


"Oh, iya silakan, Mba. Pak Erik udah ngasih tahu tadi. Barangkali mau ketemu beliau dulu di dalam," balas si satpam.


"Gak usah, Pak. Aku harus kembali ke kantor secepatnya."


Baru juga akan mengambil motornya, Erik datang dan mengajaknya makan siang lagi. Andra berusaha menolak secara halus, tapi lelaki gagah itu bersikeras.


"Aku janji gak ada prank lagi. Kita makan di dekat sini aja. Mau ya!" desak Erik.


Entah karena sihir apa sehingga Andra tak bisa menolak ajakannya lagi. Pria itu mempersilakannya untuk masuk ke dalam mobil.


"Lho, baru mau makan siang?" celetuk seseorang yang baru datang. Rupanya dia manajer operasional yang pernah Andra lihat saat presentasi.


"Eh, iya, Van. Elo udah?" sahut Erik.


"Udah. Gue masuk dulu ya."


Terburu-buru pria itu masuk ke kantor. Sementara Andra dan Erik masuk mobil dan pergi. Dalam perjalanan, Andra termenung memikirkan manajer operasional itu yang tampak familiar. Setiap kali ia memikirkan mirip siapa, tetap tak menemukan jawabannya.


"Kalungnya kok gak dipake?" selidik Erik memecah kebisuan. Ia melirik pada Andra yang tengah melamun.


"Oh, iya. Maaf, aku belum sempat memakainya."


"Nanti dipakai ya. Sayang kalau gak dipake," pinta Erik sembari tersenyum. Andra hanya mengangguk.


"Ngomong-ngomong waktu aku tanya soal itu, belum kamu jawab, lho," sambung Erik.


"Eh? Soal apa ya?" Andra terkesiap.


"Soal pacar. Kamu udah punya apa belum?"


Kini Andra jadi kebingungan lagi setelah sebelumnya ia pikir bisa menghindari pertanyaan itu. Khawatir akan membuatnya kecewa jika dijawab apa adanya.


"Kok diam?" desak Erik.


"Anu, Mas. Kenapa ya kok penasaran banget?"


"Maaf kalau terlalu lancang. Cuma mau mastiin aja sebelum aku bertindak lebih jauh lagi," jawab Erik.


"Emangnya Mas Erik mau ngapain?" tanya Andra pura-pura tidak paham.

__ADS_1


Tersungging senyuman di sudut bibir pria tampan itu. "Cuma mau ngajakin kamu jadi pacarku. Mau gak?" Erik menatapnya saat mobil sudah sampai di sebuah restoran. Andra tetap terkejut walaupun sudah tahu jika teman kakaknya ini menyukainya.


❀❀❀


__ADS_2