Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Teman Ibnu


__ADS_3

Acara lamaran Ibnu kepada Yunita berlangsung lancar tanpa kendala. Meskipun pesta dibuat sederhana di sebuah rumahnya, tapi penuh khidmat dan berkesan karena Alfian kerap bercanda memeriahkan suasana sebagai pembawa acara. Semua bingkisan dan seserahan pun sudah diberikan kepada pihak calon perempuan. Hingga tibalah saatnya menjamu para undangan dalam bentuk prasmanan dengan sajian masakan khas Sunda.


Saat menikmati makan siang, Ibnu datang menghampiri Andra yang sedang makan bersama saudaranya yang lain.


"Dek, makannya udah selesai belum?" sela Ibnu ketika Andra asyik makan sambil mengobrol. Ia menoleh.


"Bisa lihat sendiri kan masih makan?" jawabnya.


"Makannya stop dulu bisa gak? Ikut aku, yuk!" pinta Ibnu.


"Ikut ke mana?" Andra meletakkan piring yang masih tersisa di meja saat beranjak.


Ibnu tak menjawab, malah menarik tangan adiknya agar mengekor. Ia dibawa ke sebuah meja makan di mana di sana ada beberapa orang yang tak dikenalnya. Ada tiga orang pria yang salah satunya Alfian dan dua orang wanita. Salah satu wanita itu Yunita.


"Hai semuanya, minta perhatiannya sedikit," celetuk Ibnu mengalihkan pembicaraan mereka. Semuanya langsung menoleh dan berhenti mengobrol.


"Aku mau kenalin adik bungsuku. Namanya Diandra," ujarnya sambil mendorong tubuh Andra maju. Andra merasa canggung tiba-tiba dikenalkan pada teman-teman kakaknya. Ia mencoba tersenyum agar terkesan ramah.


"Baru tahu kamu punya adik cewek. Cakep lagi," komentar salah satu teman Ibnu yang sedikit berisi.


"Iya dong. Siapa dulu kakaknya," sahut Ibnu bangga sambil membusungkan dada. Lantas Andra diminta menjabat tangan mereka satu persatu. Pria pertama yang disalami bertubuh sedikit berisi, warna kulit kuning langsat, dengan rambut klimis rapih dan bergelombang. Ia bernama Faisal. Pria itu tersenyum ramah pada Andra.


Selanjutnya pria kedua yang justru kebalikan dari Faisal. Ia memiliki postur tubuh bak atlet pebasket. Tinggi semampai, ototnya tercetak jelas dibalik kemeja putihnya yang ketat, rambut lurus sedikit gondrong dan agak berantakan, kulit putih bersih seperti keturunan etnis, matanya pun sedikit sipit, ada janggut tipis di dagunya. Ia bernama Erik. Pria itu pun memberikan senyum cemerlangnya. Andra sempat terkesima.


Dan, terakhir adalah teman baik Yunita, yaitu Diana. Ia memiliki senyum yang manis dengan rambut panjang sebahu. Wajahnya oval dan kulitnya kuning langsat.


Setelah menyalami satu persatu. Andra ingin kembali ke mejanya, tapi Ibnu malah menyuruhnya bergabung. Andra keberatan karena makannya belum kelar.


"Tolong temani teman-temanku ngobrol, Dek!" pintanya sambil berbisik.


"Takut gak nyambung ngobrolnya, Kak. Ntar malah dikacangin," dalih Andra.


"Enggak bakalan. Temanku orangnya baik dan supel. Ayo!" Ibnu menarik baju Andra agar duduk di bangku yang kosong. Ia sendiri duduk di sebelah Yunita.


"Kerja di mana, Dian?" tanya Diana memulai.


"Aku kerja di konsultan arsitek di Jakarta, Mbak. Oh iya panggil aja aku Andra."


"Dia gak suka kalau dipanggil Dian. Katanya berasa jadi Dian Sastro. Gak mau disamain," ungkap Alfian sambil terkekeh geli. Andra menyikut pinggang Alfian sambil melirik sebal.

__ADS_1


"Wah, kebetulan banget. Aku lagi cari arsitek, nih," timpal Erik.


"Ohya? Mau renovasi rumah atau bangun rumah?" tanyanya jadi antusias. Ia merasa akan mendapatkan calon pekerjaan.


"Bukan rumah, sih. Lebih tepatnya tempat cabang usaha. Kebetulan mau perluasan usaha," papar Erik.


"Ya udah ditangani sama Andra aja. Desainnya keren-keren, lho," imbuh Alfian mencoba mempromosikan bakat adiknya. Andra mesem-mesem merasa malu.


"Baguslah kalau begitu. Mungkin kita bisa ngobrol lebih jauh di lain kesempatan. Bagaimana?"


"Boleh. Silakan, Mas. Mau ketemu di kantor atau di luar kantor juga gak masalah. Tinggal diatur aja," balas Andra merasa senang.


"Oke. Ini kartu namaku." Erik memberikan kartu nama dari dompetnya. Andra tercengang mengetahui bahwa dia seorang pemilik usaha factory outlet ternama yang sedang naik daun. Cabangnya sudah ada di beberapa kota besar. Melihat keterkejutan Andra, Erik pun memberikan senyum menawannya lagi. Andra tersenyum canggung. Setelah itu ia pamit pergi karena perutnya mulai berisik minta diisi kembali.


Di meja makan, mata Andra tak bisa berhenti memperhatikan Erik yang sedang mengobrol. Ia tak menyangka teman kakaknya adalah pengusaha kaya. Tak sengaja mata Erik pun melirik pada Andra. Keduanya beradu mata dan untuk sesaat. Erik tersenyum tipis sambil menyimak obrolan Faisal. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan karena dering telepon berbunyi. Ternyata Aydan meneleponnya. Cepat-cepat ia menjawab telepon itu. Sekali lagi Erik memperhatikan Andra yang sedang menerima telepon dari mejanya.


Dalam perjalanan pulang di dalam mobil, Ibnu bercerita jika selama ini Erik sudah banyak membantunya. Apalagi soal keuangan. Karenanya ia merasa punya banyak hutang budi. Tak lupa Ibnu berpesan pada adiknya agar bisa membantu Erik dalam urusan pembangunan kantor barunya.


"Aku sih siap aja, Kak. Dianya siap gak dana buat bangunnya?" ucap Andra.


"Duh, kamu meremehkan dia ya? Soal uang, gak usah ditanya, deh. Dia borju sejak lahir. Aku aja dipinjami uang buat biaya pernikahan ini," ungkap Ibnu akhirnya.


Ibnu menganggukkan kepala. "Kalau bukan dia siapa lagi, Ma? Yang lain harus pakai bunga. Kalau sama dia enggak. Beruntung banget aku ini punya teman seperti dia. Jarang-jarang, lho."


"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Ningsih senang.


"Lebih beruntung lagi yang jadi istrinya. Pasti dia akan royal. Sama temannya aja royal," sambung Ibnu yang terus mengungkapkan kebaikan Erik.


"Aku maulah jadi istrinya," timpal Alfian dengan senyum menyeringai.


Seketika Andra mencubit gemas paha kakak keduanya. "Mau jadi kaum laknatullah?" hardik Andra. Matanya melotot galak.


"Cuma bercanda. Gitu aja dianggap serius," dalihnya sambil meringis kesakitan.


"Bercandanya jelek!" protesnya.


Akhirnya rombongan mobil pengantar lamaran Ibnu sampai di rumah. Satu persatu anggota keluarga mereka pamit pulang ke rumah masing-masing. Ketika Andra hendak beristirahat di kamar, Ibnu ikut masuk juga.


"Eh, ada apa, Kak?" Andra keheranan melihat kakaknya ikut masuk.

__ADS_1


"Gini, Dek. Aku mau minta tolong lagi. Kalau kamu gak keberatan, lho."


"Boleh. Soal apa?"


Ibnu tampak ragu-ragu. Membuat Andra jadi penasaran. Selama ini kakak tertuanya tak pernah meminta sesuatu secara serius seperti ini.


"Nanti kalau Erik jadi pakai jasa kamu, tolong jaga sikap ya. Bikin dia nyaman dan jangan galak-galak," pintanya cemas.


Andra terkekeh-kekeh. "Masa sama klien galak."


"Ya mungkin aja. Kan kamu suka galak kalau sama laki-laki. Aku cuma gak mau kamu terkesan gak ramah dan judes. Aku jadi gak enak nantinya."


"Ya ampun, Kak Ibnu. Mana mungkin aku galak sama semua laki-laki. Itu karena aku malas didekati mereka. Pedekate gak mutu. Tapi itu kan dulu. Sekarang ya udah nggak, dong," paparnya.


"Baguslah kalau begitu. Good luck, ya!" serunya seraya menepuk bahu Andra. Lalu ia pergi dengan senyum ceria.


Malamnya Andra kembali pulang ke Jakarta menggunakan jasa transportasi yang sama. Sesampainya di kosan sudah dini hari pagi. Secepatnya ia istirahat agar bisa masuk kerja.


Di kantor, beban pekerjaannya jadi makin menumpuk cuma gara-gara cuti sehari saja. Aydan pun mengomel karena banyak pekerjaan yang tertunda. Andra merayunya dengan oleh-oleh batagor Bandung dan kue-kue dari toko roti terkenal. Mulanya Aydan acuh tak acuh. Apalagi dia kesal karena kekasihnya itu lupa memberitahu kepergiannya.


Namun, Andra tak gentar merayunya dengan pelukan manja di lengannya saat berduaan di ruang kerja Aydan. Akhirnya hati lelaki itu luluh juga.


"Lain kali kalau mau pulang kampung atau pergi ke mana aja bilang dulu!" gerutunya.


"Iya, maaf. Lagian aku pergi dadakan. Gitu aja marah."


"Aku gak akan marah lagi kau kamu cium aku," rayu Aydan mulai nakal. Tentu saja Andra keberatan karena mereka di ruang kerja yang semi terbuka. Meskipun tertutup, Andra tetap tidak mau nyosor duluan. Terlalu gengsi baginya.


"Mba Andra, ke mana ya? Ada tamu di depan," teriak satpam kantor di luar ruangan.


"Aku di sini!" teriaknya juga. Ia segera beranjak pergi ke luar ruangan.


Satpam kantor menjelaskan lagi bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Tanpa menanyakan lebih detail, Andra segera pergi ke lobi kantor. Ia terperanjat begitu mengetahui siapa tamu itu. Seorang lelaki berperawakan tinggi, tegap, dan gagah dengan setelan pakaian khas kantoran. Rambutnya yang acak-acakan saat pertama kali bertemu kini tertata rapih. Pria itu tersenyum senang melihat Andra datang.


"Mas Erik kok bisa ada di sini?" tanyanya dengan mata membulat.


"Mudah bagiku menemukanmu, Diandra. Apa kabar?" Ia menyodorkan tangan kanannya. Mengajaknya bersalaman. Perasaan Andra mendadak jadi tak menentu. Ia balas jabatan tangan itu dengan perasaan kikuk.


Dan, Aydan pun datang menyusulnya. Melihat keduanya berjabat tangan dengan sorot mata yang penuh arti pada tamu pria itu saat menatap Andra, membuatnya mengernyitkan dahi tanda tak suka.

__ADS_1


༺༻


__ADS_2