
Dua gadis berumur 22 tahun berdiri mematung sambil menunduk takut. Yang satu berambut lurus panjang sebahu. Yang satu lagi berambut ikal dan dikuncir kuda. Keduanya tak berani buka suara. Sementara seorang gadis lagi yang memiliki rambut lebih panjang berkacak pinggang dengan wajah kesal sambil menatap sinis ke arah keduanya.
Sudah beberapa menit mereka seperti itu sejak kuliah berakhir di dalam kelas. Ada aura ketegangan di sana. Meski ketiganya bersahabat baik, tetap saja percikan kecil seperti itu kerap muncul.
Andra merubah posisi tangannya dari berkacak pinggang menjadi bersedekap dada. Matanya masih terus memantau gerakan kedua sahabatnya itu yang diam-diam saling melirik satu sama lain.
"Jadi ... masih gak mau ngaku kalau kalian sengaja ninggalin gue tadi?" desaknya.
Widia menyikut pinggang Ivane. Menyuruhnya bicara. Ivane geleng-geleng kepala. Dagunya malah menunjuk Widia.
"Oke. Sepertinya kalian punya rahasia kecil yang disembunyikan dari gue. Iya kan?" tuduh Andra.
Keduanya menggeleng kompak.
"Ayolah! Ngaku aja deh. Kalau kalian jujur gue gak akan marah kok?" rayunya.
Widia kembali menyikut Ivane. Memaksanya untuk bicara apa adanya. Mata Ivane membulat. Memohon agar Widia saja yang bicara. Akhirnya ia menyerah.
"Sorry, Ndra. Ini nih si Ivane maksa minta cepat balik ke kampus takut ketinggalan kuliahnya Pak Ridwan. Tahu sendirilah kalau dia ngefans banget sama tuh dosen," beber Widia.
"Masa cuma gara-gara itu?"
"Beneran kok." Keduanya mengangguk kompak.
"Bukan karena hal lain kan?"
Keduanya menggeleng kompak lagi. Andra mengamati kedua mata sahabatnya. Mata mereka tampak jujur. Setidaknya itulah yang terlihat.
"Awas ya kalau berani ninggalin gue lagi! Gue gak mau bonceng kalian lagi," ancam Andra serius. "Asal kalian tahu. Di sana gue ketemu sama siluman."
"Siluman?!" Widia dan Ivane tercengang.
"Iya. Siluman cowok modus. Ah males deh gue ceritainnya."
"Masa sih? Kantinnya kan rame. Gak seram. Gak horor kok. Ini siang bolong mana ada hantu," ujar Ivane heran.
"Ada. Hantu mana kenal siang apa malam. Nama silumannya Sugeng. Pokoknya besok gue gak mau makan di kantin Sipil lagi. Ogah!"
"Iya deh. Maaf. Besok kita pindah lagi." Ivane mengangkat kedua alisnya pada Widia. Widia tersenyum penuh arti.
Lalu Andra pergi meninggalkan kelas kuliah yang kosong sejak tadi. Kali ini jalannya tidak terpincang-pincang. Sepatu kirinya ia lepaskan juga.
Widia dan Ivane mengekor di belakang sembari terkikik.
"Sugeng payah ya. Keliatan banget modusnya sih dia," bisik Widia.
"Emang dia agak culun. Harusnya tadi kita jangan kasih dia ide itu," balas Ivane kecewa.
"Kayaknya dia belum pernah pedekate deh sama cewek?" tebak Widia.
"Ho oh. Ketemu model Andra malah langsung skakmat."
__ADS_1
"Jadi ... besok kita ke kantin mana lagi?" bisik Widia lagi.
"Kita ke kantin Plano dulu. Terus Geologi. Terus kantin Tekim. Terus kantin anak Mesin. Pokoknya ke semua kantin yang ada di semua jurusan deh," ungkap Ivane semangat.
"Gila lo. Banyak amat dong. Apa gak bisa pakai biro jodoh aja? Atau pakai pelet gitu jodohinnya?"
"Pakai pelet sama aja bohong. Udah deh pokoknya percaya aja sama gue. Pasti suatu saat nanti Andra bakal jatuh cinta lagi. Tugas kita cuma bantu menemukan cinta baru buat dia. Itu aja."
"Mudah-mudahan gue juga ketemu soulmate gue di sini. Aamiin," harap Widia dengan mata berbinar.
"Gue dukung!" Jempol Ivane terangkat. Widia senyum sumringah.
"Woooii! Lama banget jalannya. Lagi ngobrolin apa sih?" teriak Andra yang sudah sampai parkiran motor. "Gak cepat nyusul gue tinggal nih. Kalian naik angkot aja."
Diancam begitu, keduanya langsung lari tunggang langgang.
"Oh iya. Nanti kalian berdua patungan beliin gue sepatu baru!" pinta Andra dengan entengnya. Ia menaiki motor matik sambil tersenyum.
"Hah?! Pake uang jajan kita?" Ivane dan Widia terperanjat.
"Ya iyalah. Gara-gara kalian berdua sepatuku hilang sebelah," hardiknya kesal.
"Emang ke mana sepatu satunya? Gak ketemu?" selidik Widia.
"Auk deh. Diambil sama mahasiswa. Kesel gue."
"Sama senior kita, temen kita, atau angkatan bawah?"
Widia dan Ivane angkat bahu.
***
Malamnya Andra merasa terhibur setelah bicara dengan teman online dengan nama daring .
Selama hampir dua jam ia habiskan untuk curhat tentang sepatunya yang dibawa pergi seseorang dan keusilan kedua sahabatnya. Dia tertawa tanpa beban ketika teman onlinenya itu berkelakar. Ia merasa benar-benar cocok mengobrol dengan orang misterius itu. Tak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan. Baginya itu tak penting.
Lalu selama beberapa hari, Ivane rutin mengajak Andra makan di kantin kampus jurusan lain sesuai rencananya. Dengan alasan mencari suasana dan teman baru, merayu Andra untuk ikut serta. Dia yang sebenarnya mulai merasa aneh dan malas jika harus jauh-jauh ke kantin lain jadi terpaksa ikut demi mereka.
Makan seperti biasa lalu pulang. Anehnya ditengah-tengah acara makan itu Ivane dan Widia mendadak sering pergi ke toilet. Lalu kembali dengan senyum misterius.
Tak lama setelah itu ada saja kejadian yang tak terduga. Seperti motornya tiba-tiba tidak bisa nyala. Lalu datanglah seorang mahasiswa menawarkan bantuan untuk menyalakan mesin motor yang ternyata dia adalah anak Teknik Mesin. Lain waktu ban motornya ternyata kempes kena paku, lalu seorang mahasiswa datang menawarkan bantuan untuk menuntun motornya ke tukang tambal ban terdekat. Setelah berbasa-basi ternyata dia mahasiswa Teknik Geologi.
Pernah juga tiba-tiba dompetnya hilang setelah pulang dari kantin perpustakaan universitas. Tak lama setelah itu seorang mahasiswa datang mengembalikan dompetnya ke kostan. Dia mengaku mahasiswa jurusan Ekonomi. Jauh-jauh datang ke Semarang atas dari kampus bawah yang ada di pusat kota Semarang hanya untuk mengantarkan dompetnya.
Dari semua peristiwa itu, berujung pada perkenalan dan selalu ditanggapi dingin oleh Andra tanpa terkecuali. Ia akan berubah ketus dan galak jika mereka makin berani mendekatinya. Tentu saja satu persatu mundur teratur.
Hingga suatu malam, ada kiriman paket makanan untuk Andra. Sebuah kotak cokelat dari seseorang yang tak dikenal berinisial AB. Di dalamnya bukan hanya berisi cokelat, tapi juga kata-kata puitis. Karena merasa tidak kenal dan khawatir ada sesuatu di dalamnya, akhirnya cokelat itu dibagi-bagikan kepada teman kostan. Khawatir dibubuhkan sesuatu di dalamnya.
Malam berikutnya, kiriman cokelat itu datang lagi dan lagi-lagi Andra memberikan pada teman kostannya. Hingga cokelat kesekian ada sebuah surat kecil di dalamnya. Andra membacanya dengan perasaan geli. Si pengirim cokelat mengajaknya bertemu di suatu tempat.
"Cieee cieee yang punya pemuja rahasia," goda Widia di luar kelas.
__ADS_1
"Apaan sih?" balasnya ketus.
"Gak usah malu. Lain kali kalau gak mau cokelatnya gue gak nolak kok dikasih," ujar Widia sambil terkekeh.
"Gih ambil sana. Gak jelas juga dari siapa."
"Emang dari siapa sih? AB itu siapa ya?"
"Meneketehe. Lagian gue gak peduli dari siapa."
"Serius gak penasaran. Kalau kita sih pasti penasaran ya. Kali aja cowok cakep," tukas Ivane.
"Pastinya dia romantis deh. Suka kirim cokelat sih," tambah Widia semangat mengompori.
Andra malah mendelik keheranan. Entah kenapa kedua sahabatnya itu malah begitu aneh dan antusias banget kalau ada seseorang yang mendekatinya belakangan ini. Ia sendiri merasa ada yang janggal.
"Andra, ini ada kiriman bunga." Seorang teman kampus tiba-tiba datang membawa setangkai bunga mawar merah.
"Dari siapa?" Ia melirik jijik pada bunga mawar itu.
"Aduh gue gak kenal. Yang pasti sih cowok pakai topi. Nih ambil!" Disodorkannya lagi bunga itu. Dengan terpaksa ia mengambilnya meski enggan lalu memberikannya pada Widia.
"Buat elo aja. Gue lebih suka bunga bank dan deposito," candanya.
"Kok buat gue? Ini kan buat elo, Ndra. Bawa pulang sana! Taruh di kostan lo biar agak feminim dikit gitu kamarnya," usul Widia sambil menyodorkan bunga itu lagi.
"Ogah banget ah." Andra menolak dan malah melemparnya ke tong sampah. Sayangnya bunga itu malah ditangkap cepat oleh tangan seseorang.
Andra terkesiap dan jantungnya nyaris berhenti saat tahu yang menangkap bunga itu adalah seniornya, Aydan. Ia tersadar sudah lebih dari seminggu ini jarang melihatnya lagi. Baik di kampus maupun di jalanan.
Aydan menatap bunga mawar merah itu sesaat. Lalu ia celingukan ke sana kemari mencari siapa yang melemparnya. Sementara Andra pura-pura membaca buku. Widia dan Ivane terperangah melihat gelagat aneh Andra. Aydan bertanya pada teman di sebelahnya berasal dari mana bunga itu. Yoga menunjuk Andra yang bersembunyi dibalik sebuah buku yang terbalik.
Kakinya berubah haluan mengarah pada gadis berambut panjang itu. Dengan bunga mawar masih di tangan kanan. Widia dan Ivane sama sekali tak memberi tahu Andra jika Aydan datang menghampirinya.
"Ehemmm ...." Suara berat terdengar di telinga Andra yang masih menutup wajahnya dengan buku yang terbalik.
Deheman terdengar lagi. Andra merasa ada seorang lelaki di dekatnya. Ia berbisik pada Widia, "Siapa tuh?"
Widia angkat bahu. Begitu pula Ivane. Perasaan Andra jadi cemas.
Deheman terdengar lagi. Lalu ia berbicara dengan suara bariton yang khas. "Permisi, Mbak. Ini milikmu kan? Nyaris aja kena kepalaku."
Widia dan Ivane memberinya kode agar segera melihat siapa yang datang menghampirinya. Perlahan Andra menurunkan buku. Matanya terbelalak melihat sosok Aydan sudah di depan mata.
Pemuda itu langsung menyodorkan bunga mawar merah pada Andra yang mendadak kaku. Setelah memberikan bunga itu, Aydan pun pergi meninggalkan Andra yang terkesima.
"Sepertinya gue tahu siapa target kita berikutnya," ujar Ivane dengan senyum penuh arti pada Widia.
***
Hai pembaca, yang sudah baca silakan tinggalkan komentar dan love ya. Makasih ...
__ADS_1