Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Masih Marah


__ADS_3

"Sudahlah. Elo pulang bareng Mas Aydan aja!" titah Widia saat acara makan malam berakhir. Ia tengah merayu Andra agar mau pulang bersama Aydan.


"Iya. Gue mau ada perlu lagi sama Wildan," dalih Ivane.


"Perlu apaan? Elo mau ke tempat lain? Gue ikutlah," balas Andra.


"Jangaaaan!!" teriak Widia dan Ivane kompak. Andra sampai terperanjat mendengarnya.


Bahkan Yuda, Aydan, dan teman lelaki Ivane yaitu Wildan sampai ikutan terkejut dan menoleh.


"Kok gitu? Gue gak boleh nebeng elo lagi?" tanya Andra kecewa.


"Eh, bukan begitu. Gue sama Wildan mau ada acara pribadi. Kan gak enak kalau elo nimbrung," ungkap Ivane sambil meringis.


"Acara pribadi apaan?" cecar Andra tak mengerti.


Widia segera menyikut pinggang Andra memberi kode. Sayangnya, gadis itu mendadak tulalit. Sampai akhirnya Widia berbisik-bisik. Akhirnya ia paham juga. Walaupun kecewa, akhirnya mau tak mau menerima keadaan. Dengan terpaksa pulang diantar Aydan. Sementara dalam hati Aydan senang bukan main dan berterima kasih pada kedua wanita itu.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Aydan mencoba lagi untuk mendamaikan hati kekasihnya. Meskipun Andra tetap cuek.


"Mau sampai kapan kamu marah terus sama aku?" desak Aydan.


Andra hanya angkat bahu.


"Kamu kan sudah tahu kalau hubungan aku dan Kalina itu bagaimana? Aku sudah berusaha jujur," lanjut Aydan.


Andra hanya bergeming. Aydan makin tertekan dan kesal juga.


"Ya udah. Kalau kamu begini terus, jangan salahin aku kalau aku lama-lama jadi ...."


"Jadi apa?!" hardik Andra hilang kontrol. Ia ketakutan sendiri. Matanya melotot tajam pada Aydan yang malah terkekeh-kekeh.


"Kok malah ketawa?!" protesnya sebal.


"Lucu aja liat kamu lagi cemburu gitu," balas Aydan dengan tawa lebar. Andra mendengkus kasar.


"Gini aja, deh. Daripada kamu kesel terus sama aku. Ya udahlah, aku kenalin kamu sama Kalina," usul Aydan akhirnya.


"Seharusnya sebelum Mas kenalin aku ke dia, Mas duluan yang sonding ke dia tentang hubungan kita ini. Dari dulu!" usul Andra juga. "Baru setelah itu aku memperkenalkan diri lagi sebagai pacarmu."


Aydan tampak ragu. Walaupun pada akhirnya setuju. Bagi Andra itu lebih baik daripada harus menunggu lebih lama lagi untuk waktu yang tak jelas.


Malam itu suasana panas di antara keduanya sedikit mendingin. Sikap Andra mulai berubah jadi lunak. Selama perjalanan pulang dihabiskan untuk berbincang-bincang. Sampai akhirnya tiba di kosan Andra. Setelah itu Aydan segera pulang ke apartemennya.


Namun, saat ia masuk, tidak ada Kalina di dalam apartemen. Aydan gelisah. Apalagi gadis itu tidak memberitahu akan pergi. Saat ia sibuk menelepon Kalina, pintu apartemen terbuka. Kalina baru saja masuk dengan wajah murung.


"Dari mana aja kamu, Kal?" tanya Aydan khawatir.


"Cuma jalan-jalan di sekitar sini aja," jawabnya lesu.


"Lain kali kalau mau pergi kasih tau aku!" hardik Aydan.


"Kenapa harus bilang dulu? Terserah aku dong mau pergi ke mana," bantahnya.


"Selama kamu di Jakarta itu kamu jadi tanggung jawabku, Kal."

__ADS_1


"Masa?" Kalina melenggang masuk ke kamarnya dengan raut wajah judes.


"Kal! Kamu kenapa, sih?"


Namun, gadis berambut sebahu itu mengabaikannya. Di dalam kamar tidur, ia mendengus kasar dan kesal. Hatinya geram dan cemburu baru mengetahui ternyata Aydan menyukai perempuan lain. Tadi diam-diam Kalina membuntuti ke mana Aydan pergi.


Selama ini teman masa kecilnya itu tak pernah bercerita apapun tentang perempuan lain yang disukainya. Kalina sempat menduga jika kebaikan dan perhatian Aydan terhadapnya karena menyayanginya. Kini ia merasakan perih di hati.


"Pantas aja aku dilarang datang ke kantor terus. Pantas aja aku disuruh pulang terus. Sialan! Kakak adik sama aja," gerutunya kecewa.


Saat hati masih kesal, Aydan mengetuk pintu.


"Kal, ada telepon dari rumah? Hapemu mati ya?" teriak Aydan dari luar pintu.


"Pasti Mama. Mau apa, sih?"


"Mamamu nyuruh kamu cepat pulang," balas Aydan.


"Gak mau!" ujarnya dengan suara lantang.


"Pokoknya aku gak mau! Masih ingin di sini."


"Jangan gitu, Kal. Kita gak boleh lama-lama berduaan satu atap seperti ini. Kita kan belum nikah," protes Aydan.


"Ya justru itu. Makanya aku sama mama ke sini kan buat minta Abang cepat mutusin tanggal pernikahan," ungkapnya.


Tak ada jawaban cepat seperti sebelumnya. Aydan kebingungan di balik pintu. Entah alasan apalagi yang bisa dia berikan untuk menundanya.


"Kok diam, Bang?" tanya Kalina. Akhirnya ia membukakan pintu kamar. Tampak Aydan sedang termenung.


"Kalina, aku mau bicara sama kamu," tukas pria berkacamata itu.


"Kal, kandunganmu sudah berapa Minggu?" tanya Aydan memulai.


"Mau 3 bulan," jawabnya lesu.


Bagian perutnya diperhatikan dengan saksama oleh Aydan. Membuatnya risih lalu kedua tangannya menutupi.


"Kamu masih mual-mual dan eneg gitu?"


"Masih kalau pagi. Kadang-kadang malam juga," balasnya sambil menatap Aydan. Ia merasa senang diperhatikan olehnya.


"Dua Minggu yang lalu, aku gak sengaja ngelihat Bang Irvan di Mall Artha Gading, Kal," ungkap Aydan ragu-ragu.


"Terus?" Ada bias ketidaksukaan di mata Kalina.


"Ya aku berusaha untuk bicara dengannya, tapi dia malah kabur lagi."


Senyum tipis tersinggung di bibirnya.


"Nanti aku akan cari Bang Irvan lagi. Aku udah minta bantuan teman-teman juga."


"Ngapain minta bantuan orang lain?" bentak Kalina keberatan. Aydan terkesiap.


"Kan biar makin cepat ketemu, Kal."

__ADS_1


"Jadi intinya apa, sih?" hardiknya tampak makin gusar. Ia sampai beranjak dari sofa.


"Bang Aydan gak mau nikahi aku ya?" cecarnya.


Aydan tergagap dengan perubahan sikap gadis itu.


"Bu-bukan begitu. Kalau Bang Irvan cepat ketemu kan dia bisa cepat nikahi kamu, Kal," ungkap Aydan hati-hati.


"Iya, jadi intinya kamu gak mau menikah sama aku, kan? Kakak adik sama aja!" tudingnya kesal.


"Kalina!" hardik Aydan keras. Gadis itu terperanjat.


"Kamu ini lupa atau gimana? Yang berkewajiban menikahi kamu itu Bang Irvan. Bukan aku. Aku cuma sementara aja. Aku gak bisa nikahi kamu," papar Aydan mulai emosi.


Matanya mulai berkaca-kaca menatap Aydan.


"Kenapa? Kenapa gak Bang Aydan aja yang nikahi aku, sih? Aku maunya sama Bang Aydan," isaknya sedih. Air mata yang menggenang makin banyak di pelupuk mata.


Perasaan Aydan jadi bimbang.


"Satu-satunya lelaki yang baik, gak suka nyakitin perasaanku, dan pengertian itu cuma Bang Aydan selama ini. Walaupun Bang Irvan itu pacarku, tapi aku gak merasa bahagia dengannya. Asal kamu tau ya, Bang. Dia selalu saja berselingkuh. Mungkin ini hanya obsesiku aja dengannya sampai aku lupa arti kebahagiaan yang sebenarnya," ungkap Kalina lirih. Ia kembali duduk di sofa dengan lunglai.


"Seandainya kamu sadar sejak awal, Kal."


"Sayangnya aku baru sadar saat udah sejauh ini. Terus aku harus gimana? Aku gak mau nikah dengan Bang Irvan. Nanti kalau kita berumah tangga, dia pasti berselingkuh lagi dan lagi," tukasnya khawatir sambil menyeka air mata. Teringat perselingkuhan yang kerap dilakukan Irvan padanya.


"Insyaallah aku akan bicara baik-baik dengannya. Aku janji akan buat dia berubah," sahut Aydan berusaha menenangkan sambil menggenggam tangannya. Ada rasa mendebar saat tangan kekar itu menyentuhnya.


Mata bulat Kalina kembali menatap Aydan dalam-dalam. Membuatnya canggung dan segera melepaskan tangan itu.


"Apa alasanmu gak mau nikahi aku, Bang? Padahal aku sudah senang saat kamu mau menggantikan kakakmu," lanjut Kalina pasrah. "Pasti ada cewek lain, kan?"


Mata Aydan mendelik cepat. Mungkinkah ini saatnya aku berterus terang tentang Diandra. Pikirnya.


"I-iya, Kal. Ada cewek lain yang aku suka. Hubungan kita memang sempat mandeg, tapi sekarang sudah jalan lagi," ungkap Aydan akhirnya.


"Pasti Diandra, kan?" tebaknya. Aydan terkejut.


"Gak usah kaget begitu. Aku tadi lihat kalian berdua begitu dekat saat acara makan malam itu," bebernya. "Padahal kalau di kantor kalian biasa aja."


"Kamu membuntuti aku?"


"Maaf. Aku jenuh ditinggal sendirian di sini."


Akhirnya Aydan menceritakan hubungannya dengan Diandra sejak kuliah. Hingga mereka terpisah dan bertemu kembali. Matanya yang berbinar saat menceritakan Andra membuat perasaan Kalina terbakar cemburu. Namun, ia pendam dan berusaha menahan air mata lagi.


"Jadi, aku sudah janji padanya untuk menikahi dia suatu hari nanti, Kal. Janjiku saat kami masih kuliah. Karenanya aku gak bisa nikah sama kamu," papar Aydan cemas.


Kalina tersenyum sinis.


"Tapi tenang aja. Aku dan Diandra akan berusaha mencari Bang Irvan, kok," bujuknya agar Kalina lebih tenang.


Gadis bermata bulat besar itu hanya mengangguk. Aydan menghela napas lega. Akhirnya ia bisa tidur tenang.


Sementara itu Kalina justru sebaliknya. Ia jadi resah gelisah memikirkan nasibnya sendiri. Ia tak mau Aydan pergi dari sisinya. Obsesinya sejak dulu untuk mendapatkan Irvan sudah semakin memudar. Kini ia malah semakin ingin bersama Aydan. Obsesinya yang baru.

__ADS_1


"Bang Aydan harus tetap menikahi aku. Apapun caranya," gumam Kalina di dalam kamar dengan dada bergemuruh. Ia menatap tajam foto Aydan yang tersenyum manis di ponselnya.


***


__ADS_2