Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Terancam


__ADS_3

Diandra yang datang dari suatu tempat melangkah senang memasuki lobi kantor sore itu sambil bersenandung. Menyapa satpam di sana dengan senyum lebar. Ketika baru saja duduk di kursi kerjanya, sebuah pesan masuk di BB-nya. Ia membacanya dan berdiri kembali. Berjalan ke arah ruang kerja Aydan.


"Gimana pengusiran Kalina?" tanyanya begitu membuka pintu.


"Duduk!" sahut Aydan tanpa menoleh ke arahnya. Matanya terpaku pada layar monitor.


Andra menurut saja. Ia segera duduk dengan pikiran bertanya-tanya. Wajah Aydan terlihat begitu serius.


"Denah villa di Bali udah jadi?" tanya lelaki berkacamata itu. Matanya masih terpaku pada layar monitor.


"Belum siap, Mas."


"Kalau revisi desain punya Bu Cintya sudah dibenerin?"


"Eh? Bu Cintya? Memangnya itu jadi tanggung jawabku juga?"


"Siapa lagi? Si Dika lagi sakit jadi kerjaan ini kamu yang handle untuk sementara. Emangnya Dika gak ngabarin?" ungkapnya.


"Makin banyak dong kerjaanku. Belum punya Mas Erik juga. Apalagi permintaannya banyak," keluh Andra sedih. "Harusnya nambah karyawan baru lagi, nih."


"Kan udah dapat yaitu kamu. Udah jangan banyak ngeluh. Fokus saja! Makanya jangan banyak jalan-jalan!" omel Aydan masih tanpa menoleh sedikitpun.


"Siapa yang jalan-jalan?" protes Andra sebal. Aydan melirik sebentar ke arahnya dari sudut matanya dengan ekspresi kecewa. Teringat pertemuan Andra dengan Erik saat makan siang tanpa memberitahukannya.


Sementara bibir Andra melengkung ke bawah saat ia menyadari seniornya itu bersikap dingin dan tidak melihat ke arahnya. Ia merasa ada yang tak biasa. Awalnya ia pikir Aydan akan memberitahukan kabar gembira soal kepulangan Kalina. Ternyata hanya membahas urusan pekerjaan.


"Gimana soal Kalina, Mas?" selidiknya penasaran. Ia begitu antusias ingin  mengetahui apakah rencana Widia berjalan lancar atau tidak.


"Sekarang bukan saatnya membahas urusan pribadi. Cepat kembali ke mejamu. Aku tunggu denah villa di Bali punya Pak Aditya sore ini juga!" seru Aydan dingin.


"Apa?!" Andra terbelalak.


Akhirnya Aydan menoleh ke arah Andra yang duduk di depan mejanya. Tatapan matanya seperti sedang menahan amarah. Sangat serius dengan bibir terkatup rapat. Andra mengernyitkan dahi tanda tanya.


Merasa suasananya janggal, Andra beranjak pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Aydan, ia sempat melirik ke arah seniornya itu. Berharap dia memanggilnya kembali. Namun, tatapan Aydan masih sama. Dingin dan menyeramkan.


"Ada apa dengannya? Gak biasanya seperti itu," gumamnya heran sembari duduk. Meskipun tak mengerti dengan perubahan sikap atasannya itu, Andra berusaha tetap berpikir positif.


'Mungkin dia sedang stres mikirin kerjaan yang seabrek," pikirnya.


Hingga menjelang waktunya untuk pulang, ia masih sibuk berkutat di depan komputer. Kadang-kadang mencoret-coret di buku sketsanya. Beberapa rekannya pulang satu persatu. Denahnya masih belum juga menemukan kecocokan.


"Nanti kalau sudah selesai letakkan draft-nya di mejaku ya! Harus hari ini juga. Kalau besok makin numpuk kerjaan kamu," celetuk Aydan yang tiba-tiba muncul di depan meja. Membuat Andra terperanjat. Lelaki itu segera berlalu.


"Mas mau ke mana?" tanyanya setengah teriak.


"Pulang," jawabnya sambil berjalan menjauh.

__ADS_1


"Pulang ke mana? Bukannya tidur di mess kantor?"


"Sudah gak ada alasan lagi tidur di kantor," balasnya ketus. Aydan pun masuk lobi dan menghilang dari hadapan Andra yang merasa sedih ditinggalkan sendiri. Ia mendengkus kasar.


"Kenapa dia jadi aneh begitu, sih?" Andra gusar dengan sikap Aydan yang tidak ramah.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Andra harus lembur tanpa ada rekan kerja lain yang juga lembur. Hanya ditemani satpam kantor yang bertugas jaga malam.


Suasana kantor yang biasanya ramai kini berubah menyeramkan. Sunyi dan sepi. Akan tetapi telinganya masih mendengar suara aneh di suatu tempat. Ia memutar lagu-lagu dengan volume tinggi di komputer untuk mengusir perasaan takut. Meski begitu, tetap saja perasaannya was-was. Andra berusaha mempercepat pekerjaannya dengan jantung berdebar.


Pukul delapan malam, akhirnya ia mencetak draft denah villa. Lalu secepatnya diletakkan di meja Aydan. Setelah mematikan komputer, Andra berlari ke lobi karena bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.


"Udah selesai lemburnya, Mba?" tanya satpam kantor saat melihat satu-satunya karyawan perempuan itu pulang.


"Udah, Pak. Oh, iya. Sekali-kali dingajiin dong, Pak," usul Andra.


"Ngajiin apa, Mba?"


"Kantor ini. Seram banget. Hawanya beda kalau malam," ungkap Andra takut.


Satpam itu malah terkekeh. "Biar setannya kabur begitu?"


"Iyalah. Tadi saja aku dengar ada suara-suara aneh di belakang. Makanya setel musik keras-keras."


"Kalau setannya diusir, nanti aku gak ada temannya lagi buat jaga malam, Mba," canda si satpam seraya menyeringai.


Setelah menyalakan mesin motornya, Andra segera tancap gas. Ia ingin segera sampai kosannya tanpa mampir membeli makan malam. Padahal perutnya sudah keroncongan belum sempat makan. Setengah jam kemudian ia sudah sampai di depan gerbang kosan dengan tubuh letih.


"Coba saja tadi Mas Aydan gak maksa minta denah villa. Pasti aku gak akan lembur jurit malam begini," sungutnya sebal. Ia memarkirkan motornya di halaman kosan.


Baru beberapa menit merebahkan diri di kasur, penjaga kosannya sudah memanggil. Andra kembali bangkit dengan rasa malas.


"Ada apa, Pak?" tanyanya.


"Ada yang ngirim ini, Mba," jawabnya sambil menyodorkan satu kresek berisi sesuatu.


"Apa ini, Pak?" Ia mengintip isinya yang ternyata kotak nasi lengkap dengan minuman dan buah.


"Gak tahu, Mba. Tadi ada yang datang ngantar ini. Buat Mba Andra katanya."


"Siapa?" Andra terkejut.


"Laki-laki, Mba," ungkapnya. Penjaga kosan itu pergi.


Andra kembali masuk kamar kos. Ia segera membuka kotak nasi itu dan isinya nasi rendang kesukaannya. Seketika hatinya yang kesal dan raganya yang lelah menjadi hilang. Ia tersenyum senang.


"Pasti Mas Aydan yang kirim makanan ini," tebaknya girang.

__ADS_1


❀❀❀


"Jadi Mas Aydan gak ngasih tahu soal Kalina? Jangan-jangan gagal diusir," celoteh Widia saat ex Trio Jomblowati itu sarapan bersama di kosan.


"Gue gak tahu. Dia aneh banget kemarin. Galak dan ketus. Gak biasanya begitu," jawab Andra heran seraya mengaduk buburnya.


"Mungkin Kalina gagal diusir makanya dia jadi bete gitu," imbuh Ivane.


"Mungkin. Ah, beban kerjaanku jadi makin banyak. Mas Aydan terlalu banyak menuntut. Semuanya minta cepat. Aku jadi sebal," keluh Andra.


"Bukannya malah enak ya kalau pacaran sama atasan sendiri. Pekerjaan jadi digampangin, kan?" pikir Ivane.


"Apaan. Justru sebaliknya. Soal kerjaan dia gak ngasih keringanan walaupun gue pacarnya sendiri. Nyebelin, kan? Belum lagi calon kerjaan baru dari temannya kakak gue. Makin banyak saja. Hiks...." Andra merasa putus asa mengingat semua pekerjaannya yang semakin menumpuk.


"Sabar. Sabar. Orang sabar pantatnya lebar," ucap Widia sembari mengelus bahu Andra.


"Ogah banget pantatnya lebar. Kalau rezeki lebar gue mau," sanggah Andra geli. Ketiganya tertawa bersama.


"Dadah Andra. Kami berangkat duluan ya," ujar Ivane dan Widia saat kedua sahabatnya pergi kerja duluan dari kosan.


"Dadah... Hati-hati ya." Ia membalas lambaian tangan itu.


Ketika ia membuka pintu gerbang kosan untuk mengeluarkan motornya, di depan sana sudah ada Aydan yang sedang bersandar di samping mobilnya yang terparkir.


"Mas Aydan?!" serunya tak percaya pagi-pagi sudah melihat kekasihnya.


"Ayo kita berangkat bersama!" pintanya.


Andra malah bengong sesaat. Lalu tangannya ditarik cepat agar segera masuk ke mobil. Ia melirik dengan perasaan was-was ke arah Aydan yang sedang menyetir. Khawatir sikap dingin dan ketusnya masih kumat.


"Kok tumben jemput aku ke kosan? Kan jarak dari apartemen ke kosanku lumayan jauh, Mas." Andra memulai obrolan. Berharap suasana kaku itu mencair.


"Gak masalah, kok," jawab Aydan kalem.


"Ngomong-ngomong thanks ya semalam udah ngirim nasi rendang ke kosan. Enak banget," ungkapnya dengan senyum merekah.


"Ngirim nasi rendang? Siapa?" Aydan menoleh keheranan.


"Mas Aydan kan yang ngirim makanan semalam? Setelah aku pulang lembur jam 9 malam."


"Enggak, tuh." Dahinya mengernyit merasa ada yang janggal.


"Hah?! Terus siapa laki-laki yang sudah kirim makanan buatku?" Andra kebingungan. Mencoba menebak-nebak siapa lelaki yang tahu di mana kosannya dan tahu jika dia baru saja pulang.


Sementara perasaan Aydan kembali khawatir. Dalam pikirannya hanya ada satu nama yang mungkin melakukan itu. Lelaki itu sudah membuatnya merasa terancam.


❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2