
Motor matik baru saja terparkir di garasi kostan. Andra melangkah dengan badan terasa ringan memasuki rumah. Merasa ada energi baru, semangat dan rasa bahagia yang menjalar di urat nadinya. Bukan karena asistensi STUPA-nya dipuji oleh Pak Gilang tadi siang, tapi karena ada sesuatu yang lain yang ia sendiri tidak yakin.
Tas gendongnya ia letakkan di meja bersama maket. Lalu ia membuka isi tas untuk mengambil sebuah novel yang belum tuntas dibaca. Saat novel itu ditarik, sebuah bunga mawar merah ikut terbawa jatuh di lantai. Andra tertegun. Dadanya berdebar. Peristiwa tadi pagi sebelum kuliah dimulai masih sangat membekas dalam ingatan.
Aydan, senior angkatan 2001 yang entah kenapa ternyata mampu menarik perhatiannya belakangan ini, malah memberikan setangkai bunga mawar merah padanya. Meskipun Andra tahu itu bukan miliknya. Namun, kini bunga mawar itu justru terasa berarti. Apalagi saat ia tahu telapak tangan Aydan sempat terluka karena duri mawar itu.
Bunga mawar merah berduri itu ditatapnya dalam-dalam. Lalu Andra terkekeh sendiri. Ia merasa aneh. Awalnya begitu jijik melihat bunga itu. Andra memang tidak terlalu suka hal-hal yang berbau romantisme. Kini ia malah ingin menyimpan bunga yang awalnya akan dibuang itu.
Diambilnya toples kaca bekas selai stroberi. Diberi air secukupnya lalu bunga mawar itu ia disimpan di dalamnya. Diletakkan di meja belajar dekat komputer. Sekarang kamar kostnya sedikit lebih feminim. Andra tersenyum tanpa sadar.
***
"Dua hari lagi ada acara inagurasi lho. Kalian datang kan?" tanya Ivane di sela-sela waktu kuliah.
"Iya. Gue pasti datang. Mau lihat senior dan teman kita main band," balas Widia.
"Kalau elo, Ndra?" Dagu Ivane menunjuk Andra yang asyik membuat sketsa di buku tulis.
Rupanya ia sedang asyik dengan dunianya sendiri. Matanya fokus pada gambar sketsa yang sedang dibuatnya. Ivane yang duduk di sebelahnya mencoba mengintip lalu ia terperanjat.
"Coba tebak dia sedang menggambar apa?" bisik Ivane pada Widia yang duduk di sebelahnya.
"Emang apa?"
"Gambar sketsa seorang cowok memakai kacamata," balasnya pelan di telinga Widia.
Mata Widia membulat tak percaya. "Siapa tuh?"
"Siapa lagi?" jawab Ivane sambil mengangkat bahu.
Mata Widia makin melotot dan menutup mulutnya yang menganga. "Apa itu artinya dia?"
"Bisa jadi."
"Kalau gitu nanti siang kita cari dia," usul Widia.
"Buat apa?"
"Memastikan apa dia punya gejala yang sama dengan Andra?"
"Gejala? Emangnya dia juga punya masalah yang sama dengan Andra? " Kening Ivane mengernyit.
__ADS_1
"Bukan itu." Tangan Widia mengoyak udara. "Ah masa elo gak ngerti sih maksud gue? Ingat misi kita apa?"
Ivane mengerling ke atas. Lalu ia tersenyum. "Oh iya. Gue paham."
Ivane balik badan mengarah ke arah sahabat satunya.
"Ndra, ingat ya inagurasi nanti elo juga harus ikut. Jangan sibuk bikin tugas melulu!" titah Ivane.
"Hhhmmm," balas Andra sambil terus sibuk membuat sketsa di buku catatan kuliah.
"Siip!" Senyum sumringah Ivane terukir di wajahnya yang manis.
"Tapi Insya Allah ya," sambung Andra.
"Lho kok Insya Allah? Gak pasti dong?" Senyum Ivane memudar.
"Ya siapa tahu gue mendadak ada halangan. Makanya gue gak janji kan? Lagian tugas kita itu lagi banyak tahu. Kita itu sudah di dua tahun terakhir kuliah. Kalian berdua nih bukannya nyicil ngerjain tugas malah main mulu. Heran. Gak pengen cepat lulus apa?"
Mendapatkan omelan dari Andra, bibir keduanya malah bersungut-sungut.
"Oh iya. Habis kuliah ini gue mau ke perpustakaan. Kalian kalau mau pulang duluan aja gih!" ungkap Andra akhirnya mau bersuara.
"Ayo mau main ke kantin jurusan lain lagi ya? Gue gak mau ikut lagi ah. Tiap ke sana selalu aja ada kejadian aneh."
Mata Widia dan Ivane saling lirik dalam diam. Lalu tersenyum tipis.
"Kok elo jadi makin betah aja di perpustakaan ya? Jangan-jangan di sana ada pangeran tampan?" ledek Ivane.
"Pangeran dari Hongkong. Gue cuma mau cari bahan buat tugas aja seperti biasa. Emangnya gak boleh?" dalihnya.
"Ya boleh aja. Mau tiap hari juga silakan. Tapi dia kan gak tiap hari ke sana juga, Ndra."
"Dia?! Dia siapa maksud kalian?" Kali ini Andra menoleh ke arah temannya.
Bukannya menjawab, dua gadis itu malah terkikik.
***
Di depan gedung A, ketiga sahabat itu berpisah. Andra naik ke lantai 2 di mana perpustakaan berada. Sementara kedua sahabatnya memilih pergi entah ke mana.
Saat masuk ke perpustakaan ia terkesima sebab kali ini lebih sepi dari biasanya. Hanya ada tiga orang mahasiswa di sana. Yang semuanya setahu Andra senior yang sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir.
__ADS_1
Setelah menemukan beberapa buku yang dibutuhkan salah satunya karya arsitek terkenal luar negeri yaitu Frachis D.K Ching yang berjudul Ilustrasi Konstruksi Bangunan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Andra segera mojok di sudut meja dekat jendela. Di sana ia bisa mendapatkan penerangan yang lebih banyak dari sekedar lampu LED.
Suasana tenang membuatnya lebih berkonsentrasi selama beberapa menit ke depan. Tak ada Ivane dan Widia yang kerap mengobrol sambil berbisik-bisik. Bahkan senior yang mampu membuatnya berdebar pun tak ada. Ia menghela napas lega.
"Tumben sendirian?" celetuk seseorang di belakangnya. Suara milik perempuan.
Ia menengadah. Tak ada siapapun di dekatnya.
"Mana Yoga?" tanya suara itu lagi.
'Yoga? Yoga temannya Mas Aydan, kan?' batin Andra. Seperti baru tersihir, Andra baru sadar akan sesuatu.
"Yoga lagi sibuk nyiapin acara inagurasi. Dia kan panitia." Suara seorang laki-laki yang terdengar tak asing lagi.
Andra terkesiap. Ia mencoba mengintip ke belakangnya. Ternyata apa yang dipikirkannya memang benar. Ada Aydan di jejeran meja paling belakang. Satu barisan dengannya. Kini pemuda berkacamata itu sedang mengobrol dengan teman perempuannya.
"Acara inagurasi kamu datang kan?" tanya teman perempuannya itu, yang Andra kenal bernama Imelda.
"Tergantung nanti ada acara lain apa enggak."
"Kok gitu. Datang dong. Nanti aku nyanyi lho. Yah lumayanlah ikut menyumbangkan lagu dikit." Imelda tersenyum manis. Dia mahasiswi satu angkatan dengan Aydan. Wajahnya cukup cantik dan memiliki tubuh yang tinggi semampai. Rambutnya pendek sebahu dan kerap memakai bandana.
"Insya Allah ya. Soalnya aku ada janji sama teman sih."
"Ayo sama siapa? Pasti cewek ya?" goda Imelda.
Aydan hanya tersenyum simpul, tapi hati Andra justru jadi bertanya-tanya.
'Dengan siapa dia punya janji? Apa dia sudah punya pacar?' batin Andra jadi penasaran.
Sebab selama ini tak pernah sekalipun melihat seniornya itu berjalan dengan seorang perempuan. Selama ini Andra cukup sering melihatnya berjalan sendirian. Kadang-kadang dengan Yoga dan Ryan yang sama-sama teman satu kampus.
Tak lama kemudian Imelda pergi. Aydan duduk sendiri lagi. Ia sempat melirik ke arah di mana Andra duduk. Secepatnya gadis itu balik badan. Jantungnya sudah berdebar kencang.
"Ya ampun sejak kapan dia duduk di sana?" gumamnya.
Sialnya sejak ia tahu ternyata dia duduk di barisan yang sama dengan senior itu, konsentrasinya jadi buyar. Bahkan sampai lupa tadi membaca dan menulis sampai mana. Andra berusaha lebih fokus lagi. Namun, suara berat itu justru memporak-porandakan hatinya lagi.
"Kamu Diandra kan?" tanya Aydan. Pemuda itu tiba-tiba sudah duduk di depan Andra. Matanya yang teduh menatapnya. Andra tercekat. Ia menelan salivanya.
***
__ADS_1