
"Mbak Andra, ada tamu," seru salah satu penghuni kostan di ruang bersama.
Andra yang baru saja selesai makan malam itu selepas pulang dari warnet segera mencuci tangan.
"Siapa, Dek?"
"Yang biasa ke sini itu lho."
"Si duo tengil itu?"
"Bukan. Ini cowok, Mbak. Pake kacamata."
"Pake kacamata?"
Deg! Jantungnya mendadak berdesir. Pikirannya menduga-duga jangan-jangan tamunya itu ... tapi darimana dia tahu kostan Andra dan ada urusan apa.
Daripada ia bertanya sendiri, Andra bergegas ke teras. Di bangku tamu sudah duduk seorang laki-laki yang betul memakai kacamata dengan tubuh tingginya. Ia sedang menunduk memainkan ponsel. Sayangnya, senyum Andra yang semula merekah kini memudar.
"Eh, elo Rik? Ada apaan?" tanyanya dingin.
Lelaki itu mendongak dan tersenyum. "Gue ganggu elo gak nih?"
"Tergantung. Kalau lama ya ganggu. Kalau sebentar ya enggak."
"Iya deh. Ngerti. Gue cuma mau pinjam buku catatan elo aja. Materi Mekanika Teknik. Waktu itu gue bolos," ungkap Riko, teman kuliah Andra yang berasal dari kota yang sama.
"Bentar ya. Gue ambil dulu di dalam."
Buru-buru diambilnya buku kuliahnya di rak. Berharap Riko segera pergi setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Andra malas berlama-lama dengan laki-laki itu. Khawatir akan memberikan sinyal-sinyal asmara lagi seperti sebelumnya.
"Kenapa gak pinjam ke Mia aja sih? Kan kostannya lebih dekat sama elo, Rik?"
"Soalnya tulisan elo lebih bagus, Ndra." Riko terkekeh sendiri.
"Ah elo basi banget deh. Kalau urusan elo udah selesai, gue mau masuk nih," bebernya tak sabar lagi ingin Riko segera pergi.
"Hehehe. Kayaknya gak seneng banget gue ke sini ya? Maaf deh." Air muak Riko tampak kecewa.
"Bukan gitu. Gue mau ngerjain tugas lagi nih. Sorry ya."
Tak mendapatkan tanggapan yang menyenangkan, akhirnya Riko pulang, tapi sebelum dia benar-benar pergi, rupanya ada ganjalan yang masih menahannya.
"Ndra, waktu itu gue lihat elo dapat kiriman bunga mawar. Boleh tahu gak dari siapa?"
"Gue juga gak tahu. Emangnya kenapa?" jawabnya masih dengan sikap dingin.
"Ya gak apa-apa sih. Cuma mau tahu aja. Siapa cowok yang berhasil dapetin hati elo," papar Riko. Ia berusaha senang meskipun matanya berkata sebaliknya.
"Ya ampun. Gue gak mau bahas soal itu ah. Elo tahu kan kalau gue gak mau pacaran sampai gue lulus. Minimal itu aja dulu," jawabnya.
Alasan itulah yang diberikan Andra jika ada lelaki yang menembaknya atau mendekatinya. Termasuk Riko yang dulu sempat memberikan sinyal rasa suka.
Riko mendesah pasrah sebelum akhirnya ia pergi. Beberapa hari lalu ia diminta untuk mendekati Andra lagi oleh Widia dan Ivane. Sayangnya, belum juga apa-apa sinyal penolakan sudah jelas ditunjukkan untuk kesekian kalinya.
"Makin aneh aja nih. Kenapa jadi banyak yang deketin gue sih?" gerutunya merasa tak masuk akal.
***
Tenda untuk acara inagurasi jurusan sudah dipasang sejak kemarin. Beberapa panitia tengah sibuk menyiapkan segala sesuatunya seperti peralatan musik, kursi penonton untuk para dosen, karya seni dari para mahasiswa mulai dari angkatan paling muda hingga paling atas yang dijejer sepanjang koridor kampus dari lantai dasar hingga atas. Bahkan maket-maket karya para senior yang sudah lulus pun ikut dipamerkan sebagai sumber inspirasi yang membanggakan.
Andra sendiri hanya memperhatikan para panitia bekerja. Ada beberapa teman seangkatannya yang turut menjadi panitia mewakili angkatan 2002. Walaupun begitu, ia masih berusaha membantu semampunya agar cepat beres.
Karyanya yang ikut dipamerkan terpajang di depan ruang kuliah lantai dasar bersama karya seangkatannya. Ia membuat sebuah gambar anime di sterofoam menggunakan cat air. Gambar itu dikerjakannya hanya dalam waktu dua hari. Hasilnya cukup bagus. Terbukti setelah itu anak kostan banyak yang minta dibuatkan juga. Tak mau kehilangan kesempatan, ia memanfaatkan itu untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
"Nanti siang bakalan ada band yang mengisi acaranya," ungkap Widia pada Ivane
"Band apa?"
"Band yang lagi naik daun itu lho. Apa ya? Gue lupa. Lihat aja nanti deh."
"Ngemeng-ngemeng ke mana si Andra? Apa dia gak ke kampus?" Ivane celingukan mencari sosok sahabatnya yang lain di antara mahasiswa lain.
"Katanya sih masih di kostan."
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Ivane dengan suara agak melengking.
"Auk tuh. Gue SMS juga gak dijawab."
"Kalau gitu kita harus ajak dia datang ke sini. Kalau enggak rencana kita bisa gagal, Wid." Raut wajah Ivane tampak begitu serius.
"Beneran si dia mau datang ke acara ini? Kalau Andra marah gimana? Belum pernah ketemu, tapi tiba-tiba ...." Bahkan Widia pun ikut cemas.
"Udah deh. Biarin aja. Itu urusan dia. Yang penting kita udah bantuin dia buat deketin Andra. Yuk sekarang kita jemput dia di kostan!" ajak Ivane sambil menarik tangan Widia ke luar kampus.
Hanya butuh lima menit, keduanya sudah sampai di kostan temannya. Pintu kamar kost Andra tertutup rapat. Setelah dibuka ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam, tapi kamarnya agak berantakan. Kertas-kertas dan buku berserakan di lantai. Maketnya pun teronggok di atas kasur. Komputernya masih menyala.
Mata Widia melihat sesuatu yang membuatnya tercengang. Ia menepuk bahu Ivane cepat.
"Lihat tuh di meja. Ada bunga mawar," tuturnya sembari menunjuk meja.
"Bunga mawar?" sahut Ivane ikut melihat ke arah yang dimaksud.
Gadis berambut ikal itu pun sama terkejutnya.
"Ternyata bunga dari si AB disimpan juga. Wuah? Apa artinya ini? Katanya gak suka, tapi kok gini?" Widia menyentuh kelopak bunganya yang mulai layu.
Duk! Kaki Ivane menabrak sesuatu. Ia mendelik ke bawah. Ada kotak kecil yang nyaris tertutup kertas. Bisa ia duga isinya adalah cokelat. Ivane mengambilnya segera. Membukanya dan tampaklah sebuah surat. Cokelatnya sendiri masih utuh.
"Dari AB," kata Ivane. Widia segera mendekati. Mereka berdua membaca isinya tanpa permisi.
Dear Diandra
Bagaimana kabarmu hari ini? Terima kasih masih mau menerima cokelatku yang manisnya tak mampu menandingi senyummu.
Entah sudah yang keberapa kali cokelat spesial untuk orang spesial ini kuberikan. Kau tahu kenapa aku selalu memberikan cokelat padamu?
Biji cokelat ibarat hidupku sebelum bertemu denganmu. Awalnya pahit tak berasa. Namun, ketika melihatmu menjadi lebih manis dan menjadi bagian deru napasku.
Meski cokelat berwarna gelap seperti hidupku yang terkadang kelam, tapi dengan hadirnya dirimu semuanya berubah legit.
Cokelat bisa menjadi candu. Begitupun dirimu bagiku.
Ijinkan aku lebih mengenalmu. Kupastikan hidupmu pun akan lebih berwarna jika bertemu denganku. Mari kita merangkai pelangi bersama.
Dalam indahnya cinta.
Pemujamu, AB.
Selesai membaca surat itu, Widia dan Ivane tertawa terbahak-bahak.
"Apa Andra sudah baca surat ini?" tanya Widia.
"Gak tahu. Bisa jadi sudah. Sepertinya tiap kotak cokelat yang dikirim selalu ada surat cintanya. Mana mungkin dia gak baca?" tebak Ivane.
"Gak nyangka kalau AB begitu gigih dan tipe cowok romantis banget ya?"
"Tapi menurut gue dia agak lebay gak sih? Udah gitu dia bukan tipe Andra deh."
Surat itu dimasukkan kembali dalam kotak cokelat. Lalu kotak itu diposisikan seperti sediakala.
"Jangan-jangan sebenarnya ...." Telunjuk Widia mengetuk-ngetuk bibirnya.
"Jangan-jangan apa?" Ada suara lain selain mereka berdua. Keduanya menoleh ke belakang. Terkejut. Sudah ada Diandra di mulut pintu dengan handuk di kepala. Ternyata ia baru selesai mandi.
"Gue kira kalian berdua ada di kampus?" lanjutnya.
"Tadinya. Kita ke sini mau jemput elo," ungkap Widia.
"Ayo ke kampus! Masa kita nonton cuma berdua. Gak ada elo gak komplit gengs kita," tambah Ivane.
"Gimana ya? Gue lagi datang bulan nih. Perut gue agak sakit. Pengennya rebahan aja," dalih Andra malas.
Mata Widia mengedip memberi kode pada Ivane yang bingung. Akhirnya dengan segala bujuk rayu maha dahsyat, Diandra mau juga datang ke acara inagurasi kampus. Dijanjikan akan dibelikan sepatu baru setelah uang bulanan mereka dikirim nanti.
Dengan motor matik kesayangan Andra, ketiganya pergi berboncengan tanpa helm. Di jalan ada motor sport berwarna merah hitam yang melaju kencang ke arah yang sama. Andra mengenalnya. Sepatunya hilang diambil pengendara itu. Entah siapa dia. Andra jadi penasaran. Ia pun berusaha mengejarnya.
"Pegangan yang kencang. Gue mau ngebut!" serunya.
__ADS_1
"Ngapain sih ngebut segala? Emangnya kita telat kuliah?" protes Ivane yang duduk paling belakang. Ia mencemaskan posisinya yang mudah jatuh.
Tanpa mau menjelaskan, motor Andra makin kencang. Gas ditarik makin kuat. Rambut panjang Andra menyapu wajah Widia di belakangnya karena terhempas angin. Mata dan mulutnya sampai kemasukan rambut.
"Lain kali diikat napa rambutnya kalau naik motor!" keluh Widia kesal.
"Suruh siapa minta bonceng. Udah ah diam deh!"
Lima menit kemudian motornya sudah sampai di depan kampus. Motor sport itu pun sudah sampai dan sedang masuk ke parkiran. Andra menyusul di belakangnya. Sebelumnya ia menyuruh kedua sahabatnya untuk turun. Sayangnya tempat parkir motor kali ini agak ramai karena acara inagurasi nanti siang. Sehingga dengan sangat terpaksa ia harus memutari parkiran itu mencari tempat yang kosong.
Begitu mendapatkan lahan parkir kosong, dengan hati-hati Andra mengamati pemilik motor sport itu. Tubuhnya tinggi dengan jaket olahraga berwarna putih. Tas gendong merk Nike berwarna biru. Perlahan helm full face itu dibuka. Andra terbelalak.
"Mas Aydan?!"
Pemuda itu meletakkan helmnya di motor lalu pergi.
"Ternyata dia punya motor? Perasaan gue gak pernah lihat dia naik motor ke kampus sebelumnya," gumamnya keheranan.
Setelah mengetahui siapa yang telah mengambil sepatunya, Andra segera menyusul ke parkiran mobil. Di sanalah panggung inagurasi dibuat.
Sepanjang acara dimulai, sikap Andra tampak gelisah. Ia merasa bersalah sudah melempari seniornya dengan sepatu walaupun tanpa sengaja. Kini ia seperti tak punya nyali jika bertemu lagi. Meskipun Aydan sendiri tampak biasa saja dan tidak tahu siapa pemilik sepatu itu. Bahkan ia sempat melirik ke tempat Andra dan kedua sahabatnya berdiri.
Tiba-tiba riuh suara penonton yang menyaksikan acara. Band kampus yang berisikan beberapa mahasiswa lintas angkatan naik ke atas panggung membawakan sebuah lagu yang sedang populer saat itu. Vokalisnya adalah Imelda. Gadis cantik berkulit putih yang memiliki lesung pipi.
Banyak yang terpukau dengan suara merdu Imelda. Termasuk Aydan yang terlihat begitu menikmati alunan musiknya. Andra justru merasa sebal ketika Aydan bertepuk tangan dan Imelda melambaikan tangan padanya.
"Gue mau pulang ya? Perut gue gak enak nih," dalihnya tak tahan lagi.
Widia dan Ivane jadi resah dan merayunya untuk bertahan lebih lama lagi. Tapi Andra tetap bersikukuh ingin pulang. Baru beberapa langkah meninggalkan tempat. Suara para mahasiswa kembali gaduh.
'Ah, paling Mbak Imelda mau nyanyi lagi,' batinnya sambil melangkah.
"Teman-teman. Di acara inagurasi kali ini, kami kedatangan tamu dari jurusan lain yang memiliki tujuan khusus. Tujuannya apa? Mari kita dengarkan maksud dan kedatangannya. Silakan, Mas!" seru MC di atas panggung.
Hampir seluruh mahasiswa di sana penasaran saat seorang pria tiba-tiba naik ke atas panggung. Ia memakai celana jeans biru, kaos cokelat dan jaket hitam. Rambutnya pendek dan rapih. Tubuhnya cukup tinggi dan atletis.
"Itu si AB ya?" tebak Widia antusias. Kakinya sampai berjinjit karena terhalangi orang di depannya.
Ivane pun ikut berjinjit, tapi tak nampak jelas. Akhirnya ia mengambil sebuah kursi untuk dinaiki.
"Ya ampun. Elo benar, Wid. Dia AB. Nekad juga ya dia," balas Ivane kagum.
Mahasiswa itu mengambil mic dari MC lalu mulai bicara dengan suara beratnya.
"Hai semua. Maaf kalau aku mengganggu acara inagurasi kalian. Mudah-mudahan gak lama. Di kesempatan istimewa ini, aku mau mewujudkan keinginanku untuk menembak seseorang dari jurusan ini. Kenapa aku pilih acara ini bukan secara personal dan lebih privasi? Karena aku ingin membuktikan kalau aku orang yang gentleman dan serius dalam menjalin hubungan. Bagiku masalah hati bukan untuk main-main dan dipermainkan," ujarnya.
Para mahasiswa bahkan dosen yang masih ada di sana jadi makin antusias. Mereka menyorakinya dan memberikan semangat.
"Oh iya sebelumnya perkenalkan, aku Agung Bramantyo dari jurusan Ekonomi. Aku anak kampus bawah. Jauh-jauh datang ke kampus atas ingin menemui mahasiswi di sini."
Seruan dari mahasiswa makin gencar. Widia dan Ivane berdebar-debar menunggu reaksi Andra. Mereka berusaha mencari Andra sebelum dia benar-benar pergi.
"Woii siapa orangnya?" teriak salah satu dari mereka penasaran.
"Wuah kayak acara 'Katakan Cinta' aja nih," celetuk mereka sambil terkikik. Saat itu ada acara reality show populer di televisi swasta yang menayangkan acara pernyataan cinta dari seseorang untuk seseorang.
"Oke. Namanya Diandra Rahayu. Angkatan 2002," ungkap Agung percaya diri.
Andra yang masih bisa mendengar suara pria itu tersentak saat namanya disebut begitu keras.
Sontak saja beberapa mahasiswa yang mengenalinya langsung melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Andra mendadak membatu.
"Itu dia orangnya!" teriak seseorang.
Hanya dalam beberapa detik saja semua mata tertuju padanya yang sedang berjalan ke parkiran. Ia meringis malu. Wajahnya langsung merah seperti tomat. Ingin sekali bisa menghilang andaikan punya kekuatan sihir. Ini sangat memalukan baginya. Apalagi ternyata Aydan juga menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Diandra bisakah kamu naik ke panggung?" pinta MC.
Mata-mata itu terus memandanginya seolah-olah memintanya mengikuti permintaan itu.
"Agung sialan!" gumamnya geram.
***
__ADS_1