
Valen dan Raffa kini berada di kamar rawat inap yang ditempati oleh Kai. Ya setelah dilakukan pemeriksaan tenyata Kai mengalami Dehidrasi dan Asam Lambung.
"Siapa yang akan bayar biaya rumah sakitnya ?" tanya Raffa menoleh ke arah Valen.
"Aku yang akan membayarnya," jawab Valen membuat Raffa bernafas lega, "tapi, pakai uang kamu dulu ya !" sambung Valen tersenyum sambil mengedipkan matanya.
"Yang benar saja ?" protes Raffa, "bulan ini aku tuh mau bayar uang sewa kos, kalau dipakai buat bayar biaya rumah sakit pria ini pasti bakalan nunggak dong" lanjutnya menjelaskan.
"Kan aku gantiin nanti" balas Valen yang masih berusaha membujuk Raffa agar mau membantunya.
"Tapi utang kamu aja yang bulan lalu belum kamu lunasi" cibir Raffa.
"Lah uang empat ratus ribu aja kamu perhitungan sama aku" jawab Valen memutar bola matanya.
"Jangankan empat ratus ribu, empat ribu aja aku bakalan hitung. Namanya juga utang ya harus dibayar !"
Valen merasa kesal lantaran Raffa masih saja mengungkit uang empat ratus ribu itu, 'yang benar saja ? cuman uang empat ratus ribu saja udah diungkit terus' batin Valen yang masih menganggap enteng yang empat ratus ribu.
Melihat Valen terdiam membuat Raffa menghembuskan nafas kasar, "ok, aku bantuin bayar biaya rumah sakit pria ini tapi-"
Mendengar ucapan Raffa membuat Valen kembali tersenyum lebar, "Makasih Raffa sayang" potong Valen lalu memeluk tubuh Raffa.
*Deg*... Pelukan Valen membuat Raffa membeku, jantung berdetak kencang, 'ya Tuhan,, apa-apaan wanita itu ? Oh tidak... Jantungku bisa meledak jika seperti ini terus' Raffa segera melepaskan pelukan Valen lalu berusaha mengontrol detak jantungnya.
"Eh... Maaf" ucap Valen yang baru sadar jika dirinya lancang telah memeluk Raffa.
"Hm" Raffa hanya bisa berdehem, rasanya mulutnya seperti terkunci karena merasa gugup dan salah tingkah.
Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing hingga tak menyadari jika Kai sudah sadar.
Kai menatap kedua orang yang sedang duduk di sofa kecil saling mendiamkan, "kalian siap ?" pertanyaan Kai sontak membuat kedua orang itu kaget.
"Ah... Kamu sudah sadar ?" tanya Valen berjalan kearah Kai.
"Kau buta ?" balas Kai membuat Raffa merasa kesal.
"Ck... Sudah ditolong tapi tidak tau diri" celetuk Raffa.
__ADS_1
Kai tidak menggubris ucapan Raffa, Ia hanya menatap tajam pria yang masih duduk di sofa.
"Sudahlah, jangan dengarkan ucapan temanku itu !" ucap Valen membuat Kai meliriknya, "kenalkan namaku Valen" lanjut Valen memperkenalkan diri dan mengulur tangannya.
Kai menatap tangan Valen dengan tatapan acuh, menurutnya tidak ada gunanya berkenalan dengan orang-orang seperti Valen dan Raffa yang dari penampilan saja terlihat tidak sepadan dengannya.
Merasa diacuhkan oleh Kai, Valen tersenyum sinis, 'ada apa dengan pria ini ? kelihatan sombong sekali' gerutunya dalam hati.
"Apa kau mendadak bisu ?" tanya Raffa yang merasa geram yang terlihat arogan, "saat diajak bicara itu dijawab".
"Memangnya siapa kalian sampai-sampai aku harus membalas ucapan kalian ?" tanya Kai dengan nada mengejek.
"Kau masih saja tidak tau terima kasih, ingat seandainya nggak ada kita mungkin kamu sudah tinggal nama saja" Raffa berdiri dan melipat kedua tangan di dada.
"Memangnya siapa yang meminta kalian untuk menolongku ?" Kai masih tetap bersikap arogan.
Raffa menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya ada manusia seperti Kai yang sangat arogan padahal sudah ditolong.
"Jawab saja siapa namamu ?" tanya Raffa yang berusaha menahan kesal.
"Kai" jawabnya singkat.
Kai terdiam, Ia baru ingat jika dirinya sudah diusir oleh kedua orangtuanya tanpa membawa apa-apa. Sekarang Ia sibuk memikirkan dimana Ia akan tidur malam ini.
"Apa kamu tidak ingat tempat tinggal mu ?" tanya Valen yang melihat Kai tampak bingung.
Kai yang mendengar pertanyaan Valen seketika mendapatkan ide, "Iya, aku lupa tempat tinggalnya. Yang aku ingat hanya namaku saja" ucap Kai berbohong.
"Aneh, padahal Dokter tidak mengatakan jika kamu mengalam amnesia" ucap Raffa merasa curiga.
"Kau tidak mempercayai aku ? Jika tidak mempercayai ku lalu kenapa masih bertanya denganku ?" tanya Kai dengan kesal.
"Bukan begitu-"
"Ah sudahlah ! Kalian pergi saja jika tidak ingin membantu ku !" potong Kai yang berpura-pura marah padahal dalam hatinya memohon agar mereka tidak pergi.
"Kami percaya kok sama kamu" balas Valen dengan cepat, "tenang saja ! Kami akan membantu kamu kok !" bujuk Valen agar Kai tidak merasa tersinggung dan marah dengan mereka.
__ADS_1
Kai menatap Valen dan tersenyum lebar, "nah bagus, kalau begitu bawa aku tinggal di rumahmu !" ucap Kai membuat Valen dan Raffa melotot.
"Jangan! Di rumah aku saja !" ucap Raffa memberikan penawaran, tentu saja Ia merasa keberatan jika Kai tinggal di kosan Valen.
"Ya dimana saja, asalkan aku bisa numpang di rumah kalian" balas Kai yang menerima tawaran Raffa, "Kalau begitu kita pulang sekarang !" lanjutnya ingin segera berdiri, Ia lupa jika tangannya masih terpasang infus.
"Kau lupa jika kamu masih dirawat ?" ucap Raffa mencegah Kai agar tidak turun dari brankar, "Kamu istirahat saja dulu ! Mungkin besok kamu sudah bisa pulang" lanjut Raffa.
"Aku bermalam disini ?" tanya Kai yang diangguki oleh Valen dan Raffa, "lalu kalian akan meninggalkan aku begitu ?" lanjutnya.
"Kami tidak akan meninggalkan kamu" jawab Valen.
Kai merasa tidak percaya dengan ucapan Valen menyipitkan matanya, "kau mau menipuku ?" tanya Kai penuh selidik.
"Oh ya ampun... Kau ini seorang pria atau wanita ? Mengapa lebih sulit membuatmu percaya dan menurut daripada seorang wanita yang sedang PMS ?" tanya Raffa yang merasa kesal karena Kai terus-terusan bertanya dan memancing emosinya.
*Plak*... "Kenapa membawa-bawa wanita segala ?" protes Valen yang merasa tersinggung sebagai seorang wanita.
"Heheheh, aku hanya bercanda" ucap Raffa menaikkan jarinya berbetuk huru V.
"Tapi kan memang benar wanita itu merepotkan dan selalu mau menang sendiri" sambung Kai yang diangguki oleh Raffa.
"Ck... Kenapa pembahasannya jadi un-faedah begini sih ?" kesal Valen yang merasa percakapan mereka semakin tidak ada gunanya, "sebaiknya kita istirahat saja !" ucap Valen lalu berjalan membaringkan tubuhnya di sofa kecil yang hanya muat dua orang.
"Hei kenapa kamu tidur seperti itu ?" protes Raffa "lalu aku harus tidur dimana ?" lanjutnya bertanya.
"Tidurlah bersama Kai !" Jawab Valen dengan enteng.
"Tidak ! Aku tidak mau berbagi tempat tidur denganmu !" tolak Kai dengan cepat.
"Ok baiklah, jika kamu tidak ingin berbagi tempat tidur denganku maka aku tidak akan menampung mu di tempat tinggalk ku." ancam Raffa.
Kai mau tidak mau akhirnya berbagi tempat tidur dengan Raffa. Mereka berbaring di atas brankar sempit membuat tubuh kedua pria itu saling berdempetan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~