Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Kai dan Jennie. Acara pernikahan yang digelar meriah itu diadakan di salah satu hotel milik Riko. Ballroom telah disulap menjadi ruangan yang tampak indah dan elegan. Tempat ini akan menjadi saksi bisu janji suci pernikahan Kai dan Jennie.


"Wah... Aku tidak menyangka ternyata kau menikahi adikmu sendiri" ejek Joshua.


"Bisa begitu ya, menikahi adik sendiri ?" tambah Riko membuat Kai kesal.


"Ck... Kalian itu sudah tau jika Dia bukan adikku bukan ? Jadi berhentilah memanggil Dia adikku karena sebentar lagi kita akan sah dalam ikatan pernikahan !" ucap Kai dengan raut wajah yang berubah menjadi bahagia.


Tak lama muncul Dokter Ricard dengan wajah datarnya. Sebenarnya pria itu sudah tidak ada masalah lagi dengan Kai, ya meskipun hubungan mereka tak sedekat dulu lagi.


"Selamat atas pernikahanmu !" ucap Dokter Ricard memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih sudah mau hadir" balsa Kai melempar senyum lebar.


"Apa Jennie sudah menerima dirimu ?"


Pertanyaan Dokter Ricard membuat Kai menggeleng pelan.


"Sabar saja ! Aku yakin Jennie akan menerima kamu sebagai suami" ucap Joshua memberikan dukungan kepada sahabatnya.


"Hm... Aku setuju dengan Jo. Meskipun mungkin agak lama tapi kamu harus terus berusaha agar wanita itu cepat menerima statusmu" lanjut Riko.


Kai tersenyum dan mengangguk. Ia juga membenarkan ucapan kedua temannya. Meskipun akan sulit meluluhkan hati Jennie namun Ia tidak akan menyerah hingga wanita itu membalas cintanya.


"Bukankah acaranya sebentar lagi mulai ? Jadi sebaiknya kita segera ke ballroom !" ucap Dokter Ricard.


Mereka meninggalkan kamar hotel tempat Kai bersiap-siap tadi. Mereka berjalan berempat sambil melempar candaan agar Kai tidak tegan sebelum menjalani proses ijab kabul.


Sementara di kamar hotel lain, tampak seorang wanita yang duduk di depan meja rias dengan wajah datar. Ia menatap lurus ke arah cermin dan menatap wajahnya. Tak lama kemudian Bunda Maryam masuk dan menghampirinya.


"Wah putri Bunda sangatlah cantik" puji Bunda Maryam membuat Jennie tersenyum tipis.

__ADS_1


"Maafkan atas keegoisan Bunda dan Ayah sayang ! Tapi percayalah semua kami lakukan karena begitu menyangi kamu Nak" ucap Bunda Maryam menitikkan air mata.


Jennie menatap ke arah Bunda Maryam lalu berdiri dan menghapus air mata sang Bunda.


"Tak ada lagi yang perlu dimaafkan, semua sudah terjadi dan Jennie akan mencoba ikhlas menerimanya. Asal Bunda tau, Jennie juga begitu menyayangi Bunda dan Ayah. Kalian adalah segalanya bagi Jennie dan Jennie percaya jika pilihan kalian adalah pilihan yang terbaik untuk Jennie"


Jennie memeluk Bunda Maryam dengan erat dan dibalas pelukan hangat dari sang Bunda.


"Bunda doakan semoga rumah tangga kalian selalu bahagia" ucap Bunda Maryam mendoakan dengan tulus putri angkatnya yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi menantunya.


"Sebentar lagi acaranya mulai, jadi kita ke ballroom sekarang !"


Mereka melerai pelukannya dan berjalan menuju ballroom. Entah kenapa Jennie merasa gugup dan merasakan jantungnya berdetak begitu cepat.


Jennie berdiri tepat di depan pintu yang begitu besar dengan Bunda Maryam di sampingnya dan beberapa Bridesmaid yang berjejer di belakangnya. Tentunya Meli sang sahabat tak mau ketinggalan.


Sementara di dalam ballroom suasana menjadi riuh saat Kai berhasil mengucapkan janji suci. Ayah Aditya menatap putranya dengan tatapan bahagia.


"Jaga putri Ayah baik-baik! buat Dia marasa jika dirinya adalah wanita paling beruntung memilikimu ! Jangan pernah kecewakan kami !"


Tak berselang lama pintu Ballroom terbuka. Ayah Aditya dan Kai melepas pelukannya dan fokus ke arah pintu. Dari kejauhan Kai dapat melihat calon istrinya begitu anggun dengan gaun berwarna putih.


Semua yang hadir dalam acara pernikahan Kai dan Jennie dibuat takjub saat melihat calon mempelai wanita tampil begitu cantik dengan make-up natural.


Saat lampu sorot tertuju kepada Jennie, membuat wanita itu semakin gugup. Rasanya begitu mendebarkan. Hari ini Ia resmi menyandang sebagi istri sah seorang Kaindra. Rasanya begitu menggelikan ketika mengingat dirinya dan suaminya itu pernah menjadi adik kakak.


"Sayang kamu kenapa ?" bisik Bunda Maryam di telinga Jennie. Bunda Maryam merasa khawatir jika Jennie mendadak berubah pikiran melihat bagaimana reaksi menantunya itu hanya terdiam.


"Jennie... Gugup Bunda"


Jawaban polos Jennie membuat Bunda Maryam tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tenang saja Nak ! Rileks ! Anggap saja kamu sedang melakukan pekerjaan kamu sebagai model !" ucap Bunda Maryam.


"Tapi ini beda Bunda... Rasanya Jantung Jennie ingin meledak" lanjut Jennie jujur membuat Bunda Maryam terkekeh.


"Sudah ya ! Kita mulai berjalan pelan sekarang !" ucap Bunda Maryam.


Mereka mulai melangkah di atas sebuah karpet merah dengan anggun. Bunda Maryam yang sadar jika Jennie semakin gugup terus menggenggam tangan putri angkatnya sekaligus menantunya itu.


Sampai dipertengahan jalan Jennie merasa kakinya tak sanggup untuk berjalan lagi. Ini pertama kalinya Ia merasakan gugup yang begitu parah. Kakinya bergetar membuat Jennie hampir saja terjatuh.


Ayah Aditya yang melihat Jennie hampir tersungkur segera mendorong putranya untuk menghampiri menantunya itu.


"Cobalah belajar menjadi suami yang peka !" ucap Ayah Aditya sebelum mendorong tubuh Kai dengan pelan.


Kai yang didorong oleh sang Ayah segera menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Jantung pria itu semakin berdetak kencang saat Ia semakin dekat dengan Jennie. Dalam hati Kai tak hentinya memuji kecantikan istrinya.


Saat dirinya berdiri tepat di hadapan Jennie, Ia dapat melihat dengan jelas kening wanita itu berkeringat kecil. Tatapan Kai turun ke mata istrinya. Ia menatap wanita itu dengan mata yang sudah mengembun. Rasanya Ia begitu terharu karena bisa memiliki wanita yang telah mengisi hatinya selama delapan tahun.


"Ck... Anak ini kenapa malah bengong sih" gerutu Bunda Maryam karena kesal melihat Kai hanya diam saja.


"Cepat gandeng istrimu Kai !" perintah Bunda Maryam menyadarkan Kai dalam lamunannya.


Kai tersenyum lebar saat mendapatkan teguran dari sang Bunda. Rasanya Ia begitu malu karena kedapatan memandang wajah istrinya cukup lama.


Kai sedikit ragu untuk menggandeng tangan Jennie. Melihat bagiamana wanita itu ketakutan dan belum membuka diri dengannya selama ini, membuat Ia cemas jika Jennie mendadak histeris karena masih trauma.


Kai meminta persetujuan dengan Jennie melalui tatapan mata namun wanita itu menggelengkan kepalanya. Kai merasa kecewa dengan respon Jennie. Tapi Ia tidak bisa memaksa istrinya itu, penolakan Jennie memang tak salah mengingat bagaimana perlakuannya selama ini dengan wanita itu.


"Maaf.... Aku... Aku... Tidak bisa lagi..." Jennie berucap dengan terbata saking gugupnya wanita itu.


"Sungguh... Bisakah kamu..."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*HAI👋 JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA MEMBERIKAN HADIAH, KOMEN DAN LIKE🙏❤️*


__ADS_2