
"Tapi saya tidak bisa" tolak Jennie.
Tentu saja Ia tidak ingin terikat kontrak selama itu, setahun menurutnya terlalu lama, terlebih lagi jaraknya yang terlalu jauh semakin tidak memungkinkan dirinya menerima tawaran kontrak ini.
"Kenapa ?" Tuan Sean mengerutkan keningnya, "Apa Nona keberatan dengan jumlah honor yang saya berikan ?" tanya Tuan Sean lagi.
"Bukan masalah honornya tapi, saya tidak ingin terikat dengan kontrak kerja sama seperti ini. Terlebih lagi tempat tinggal saya terlalu jauh dari butik Tuan" jelas Jennie.
"Tantang saja, saya mengontrak Nona menjadi model butik saya yang di Jakarta, bukan butik ini" ucap Tuan Sean.
"Tuan punya butik di Jakarta ?" tanya Jennie yang mendapatkan anggukan dari Tuan Sean.
"Hm,,, jika kamu masih ingin menolak maka saya akan menawarkan honor dua kali lipat dari honor yang saat ini saya tawarkan" Tuan Sean masih berusaha membujuk Jennie agar mau jadi model di butiknya.
Mendengar tawaran dari Tuan Sean membuat Meli melotot tidak percaya, wanita itu berharap Jennie menerima tawaran itu.
"Tapi-"
"Apa Tuan bisa memberikan teman saya waktu untuk berpikir ?" celetuk Meli yang tidak ingin membiarkan Jennie menolak tawaran tersebut.
"Mel,,," Jennie tentu keberatan dengan ucapan Meli.
"Udah, kamu pikirkan baik-baik dulu !" bisik Meli di telinga Jennie.
"Baiklah, saya akan berikan waktu satu minggu, jika Nona Jennie bisa kita akan bertemu kembali di Jakarta." ucap Tuan Sean menyetujui permintaan Meli.
"Mari kita ke ruangan yang sudah siapkan untuk pemotretan !" ajak Tuan Sean.
Jennie dan Meli mengekor di belakan Tuan Sean menuju ruangan yang akan menjadi tempat untuk pemotretan. Disana tampak beberapa karyawan sibuk menyiapkan pakaian yang dirancang oleh butik milik Tuan Sean.
"Mungkin kita bisa memulainya ?" tanya Tuan Sean kepada salah satu karyawannya.
"Sudah bisa Tuan" ucap karyawan tersebut, "Kemarilah Nona !" lanjutnya memberikan araha untuk Jennie agar mengikutinya untuk mengganti pakaian dan dirias.
Setelah menunggu hampir dua jam, Tuan Sean dibuat terpana dengan penampilan Jennie yang tampak elegan dengan Maxi Dress model sabrina berwarna hitam dengan belahan paha samping. Tanpa sadar Tuan Sean memuji kecantikan Jennie sehingga membuat wanita itu salah tingkah.
"Cantik sekali" puji Tuan Sean menatap takjub pada wanita yang berada di depannya.
"Ah,,, anda terlalu berlebihan Tuan" balas Jennie yang berusaha bersikap biasa.
"Memang benar kamu itu cantik Jen" celetuk Meli yang merasa pangling juga saat melihat penampilan Jennie.
"Sebaiknya kita mulai sekarang !" ucap fotografer.
__ADS_1
Jennie yang memang sudah profesional dalam bidang permodelan membuat para staf merasa puas dengan hasil pemotretan yang mereka lakukan.
"Hasilnya sangat memuaskan" puji sang fotografer mengacungkan kedua jempol nya, "Kita istirahat dulu setelah itu kita lanjut pakaian yang kedua"
Jennie mengangguk paham dan segera menghampiri Meli dan Tuan Sean.
"Kerja Bagus Nona Jennie, sepertinya saya tidak salah memilih model" Tuan Sean tak henti-hentinya memuji Jennie, "Sebaiknya kita makan di dalam ruangan saya !" ajak Tuan Sean.
"Jennie seperti Tuan Sean tertarik denganmu" bisik Meli.
Memang saat pemotretan Tuan Sean tak pernah melepaskan pandangannya dari Jennie, bahkan laki-laki itu tak segan-segan menampakkan wajahnya yang tampak kagum dengan kecantikan Jennie. Dan semua itu tidak luput dari penglihatan Meli.
"Ck... Kau ini ada-ada saja" balas Jennie mencubit lengan temannya.
"Auu... Sakit bege" teriak Meli yang berhasil menarik perhatian Tuan Sean.
"Ada apa ?" tanya Tuan Sean bingung saat mendengar jeritan Meli.
"Ah,,, i-itu tadi Jennie tidak sengaja menginjak kakiku" ucap Jennie berbohong.
Sesampai di ruangan Tuan Sean mereka langsung menyantap makanan siang yang sudah disediakan oleh karyawannya.
"Oh ya apa saya boleh bertanya ?" ucap Jennie di sela-sela acara makan siang mereka.
"Apa ini butik milik anda ? Ah,,, maksud saya apakah butik ini Tuan yang mendirikan atau hanya meneruskan ?" tanya Jennie.
"Butik ini saya yang mendirikan" jawab Tuan Sean.
"Apa Tuan menyukai fashion ?" tanya Jennie penasaran. Karena menurutnya tidak biasanya laki-laki dengan wajah yang kelihatan sangar menyukai dunia fashion.
"Saya tidak begitu menyukai fashion, hanya saja butik ini saya dirikan untuk mengenang calon istri saya yang telah meninggal" jawab Tuan Sean yang wajahnya kini berubah menjadi sedih.
"Ah,,, maafkan saya Tuan telah lancang bertanya seperti itu" ucap Jennie meminta maaf karena tidak enak hati dengan Tuan Sean.
"Tak masalah," Sean tersenyum saat mendengar permintaan maaf Jennie, "mendiang calon istri saya dulu sangat menyukai dunia fashion bahkan Ia kuliah mengambil jurusan desainer dan modeling" lanjutnya menjelaskan jika yang membawanya terjun ke dunia fashion adalah kekasihnya yang sudah tiada.
"Wah,,, ternyata kekasih Tuan sangat hebat ya, bisa menjadi seorang desainer sekaligus seorang model" puji Jennie yang merasa salut dengan wanita yang menjadi calon istri Tuan Sean.
Sean yang mendengar pujian Jennie terhadap mendiang kekasihnya tersenyum tipis, ' Bahkan orang yang belum mengenalmu saja bisa memuji kehebatanmu sayang ' tutur batin Tuan Sean.
"Maaf, apa Tuan sudah menikah ?" pertanyaan Meli membuat Tuan Sean tersedak makanan.
"Uhuk...uhuk... Terima kasih..." ucap Tuan Sean saat menerima air dari Jennie.
__ADS_1
"Ck... Kamu ini bertanya apa sih ?" ucap Jennie kesal memukul lengan Meli.
"Kan cuman nanya doang, siapa tau belum ada kan aku bisa daftar jadi calon istrinya" jawab Meli ceplas-ceplos.
Jennie memutar bola matanya saat mendengarkan ucapan Meli, rasanya begitu malu punya teman seperti Meli ini. Sementara Tuan Sean hanya tersenyum melihat tingka Meli yang menurutnya sedikit bar-bar.
Pria itu kembali menatap Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan. Jennie yang sadar jika sedang ditatap oleh Taun Sean seketika dibuat salah tingkah.
"A-apa ada makanan yang menempel di wajahku ?" tanya Jennie meraba pinggir bibirny namun tak merasakan ada makanan yang menempel di wajahnya.
"Tidak ada kok" jawab Tuan Sean yang masih menatap Jennie.
"Lalu kenapa Tuan melihatku seperti itu ?" tanya Jennie dengan nada pelan.
Mendengar pertanyaan Jennie membuat Tuan Sean tersenyum, "Apa kita bisa berteman ?" tanya Tuan Sean membuat Jennie bingung.
"Berteman ?" tanya Jennie dengan wajah polosnya.
"Iya, apa kita bisa berteman ?" tanya Tuan Sean sekali lagi, Ia sangat berharap bisa mengenal Jennie lebih dekat.
"Tentu saja boleh Tuan" celetuk Meli.
"Ok, mulai sekarang kita berteman" Tuan Sean tersenyum lebar.
"Hahah, Iya kita berteman Tuan" jawab Jennie merasa canggung.
"Jangan memanggilku Tuan lagi, Kita sudah menjadi teman harusnya kamu memanggil namaku saja tanpa embel-embel Tuan !" pinta Tuan Sean yang merasa sangat formal jika Jennie masih memanggilnya Tuan.
"Baik Sean" jawab Jennie lalu tersenyum.
.
.
.
'Melihat wajahnya membuatku menemukan Caitlyn yang baru, wajahnya sangat mirip bahkan senyumannya juga persis'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
__ADS_1
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~