
Siang harinya Kai menjemput sang istri sesuai dengan janjinya. Butik tujuan mereka adalah butik yang baru saja resmi buka bulan ini. Butik itu adalah rekomendasi dari beberapa karyawannya tadi pagi.
"JS Boutique ?" tanya Jennie saat sampai di tempat tujuan. Wanita itu baru tahu jika di kota ini ada butik besar dan Ia belum pernah kesini.
"Apa ini butik baru buka ?" tanyanya pada sang suami. Ia begitu yakin jika ini butik belum lama dibuka, buktinya Ia tidak tahu sama sekali. Padahal semua butik di kota ini yang cukup terkenal pernah menjadi langganannya.
"Iya, ini butik rekomendasi dari karyawan di kantor, katanya rancangan disini bagus-bagus loh" jawab Kai.
"Ya sudah tunggu apa lagi ? Yuk masuk !" Jennie menarik tangan suaminya masuk ke butik tersebut.
"Pantas saja ramai, ternyata rancangan mereka memang bagus-bagus" puji Jennie saat melihat beberapa rancangan yang terpasang di manekin.
Kai hanya tersenyum karena sang istri menyukai butik pilihannya. Kai lalu memanggil karyawan butik untuk melayani istrinya.
Jennie berjalan menuju sebuah manekin yang sedari tadi menarik perhatiannya. Ia memandangi gaun yang berwarna peach blossom dengan model sabrina, gaun yang tampak elegan dengan belahan paha kiri dan panjang menjuntai ke lantai.
"Apa kamu menyukainya ?" Tanya Kai menghampiri istrinya.
"Iya, ini gaun yang terlihat elegan namun tampak manis dengan warnanya" ucap Jennie yang terus memandang ke arah gaun tersebut dengan mata berbinar.
"Jika begitu langsung bungkus saja !"
"Mana bisa begitu ?" Jennie menatap suaminya sekilas lalu kembali menatap gaun tersebut, "Aku harus mencobanya, mbak tolong lepas gaun itu ! Aku ingin mencobanya" perintahnya kepada sang karyawan.
"Maaf sebelumnya Nona, gaun ini tidak dijual. Jika ingin model seperti ini, Nona bisa memesan terlebih dahulu !" jawab sang karyawan.
Jennie tampak kecewa dengan jawaban karyawan tersebut. Padahal Ia sudah jatuh hati dengan gaun tersebut.
"Jika tidak dijual kenapa harus dipajang disini ?" kesal Kai kepada sang karyawan. Ia tidak terima istrinya dibuat kecewa dengan pelayanan butik ini.
"Maaf Tuan, ini hanya sebagai contoh saja. Jika ingin menggunakan hari ini juga, kami ada beberapa rancangan gaun yang bisa dipilih oleh Nona" jelas sang karyawan.
"Tapi istri saya mau-nya yang ini !" tunjuk Kai ke arah manekin tadi.
Dari jarak tiga meter seseorang tampak memperhatikan kekacauan apa yang terjadi di butiknya.
"Ada apa ini ?" tanyanya kepada sang karyawan namun tatapan matanya masih tertuju pada seseorang.
🌹🌹🌹
Di sebuah kos sempit tampak seorang wanita yang ditarik paksa keluar dari kos tersebut.
__ADS_1
"Ck... Sudah ku bilang aku tidak ingin kembali" pekiknya terus memberontak agar bisa terlepas dari orang suruhan Daddy-nya.
"Nona harus pulang !" ucap salah satu pria yang diutus sang Daddy untuk menjemputnya.
"Jika ku bilang tidak ya tidak ! Bukankah dia sendiri yang mengusirku dan berkata tak ingin menganggap ku sebagai putrinya lagi ?" Valen terus memberontak agar bisa melarikan diri. Sungguh Ia sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang yang bebas tanpa harus mengikuti keinginan sang Daddy.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah Tuan besar saja. Jadi mohon untuk menurut saja !"
"Tidak, aku tidak akan menurut lagi ! Aku sudah sangat nyaman hidup seperti ini !" teriaknya.
Namun orang suruhan Daddy-nya tidak menggubris. Bahkan tubuhnya kini diangkat seperti karung beras.
"Tolong ! Tolong ! Aku diculik !" Teriaknya meminta tolong sambil memukul-mukul punggung pria yang mengangkatnya.
Mendengar teriakan Nona mudahnya membuat sang pria bergegas membuka pintu mobil dan memerintahkan temannya menancap gas.
Raffa yang baru saja sampai di tempat Valen menatap bingung karena kos tersebut tampak terbuka.
"Ck... Kenapa dia ceroboh sekali ?"
Raffa kemudian turun dari motornya dan melepas helmnya. Pria itu berjalan masuk namun lagi-lagi Ia kebingungan melihat kos milik Valen berantakan.
Ia memunguti barang-barang yang tergeletak di lantai. Setelah itu Ia memanggil nama si pemilik kos.
"Valen... Valen... Kamu dimana sih ? Kenapa rumahmu bisa sekacau ini sih ?" teriaknya namun tidak mendapat sautan.
Raffa semakin masuk ke dalam namun hasilnya nihil, tak ada Valen sama sekali. Ia tampak panik saat tak mendapati wanita yang telah membuatnya jatuh hati.
"Apa jangan-jangan..." ucapannya menggantung. Ia semakin panik ketiak pikiran negatif terlintas dalam kepalanya.
Dengan cepat Ia menghubungi nomor milik Valen namun tak ada jawaban. Pria itu terus menghubungi nomor wanita yang telah mencuri hatinya namun tetap saja tak ada jawaban.
"Ayolah Valen ! Jangan buat aku khawatir denganmu !" ucapnya dengan lirih.
🌹🌹🌹
"Sedang apa kamu disini ?" tanya Kai dengan ketus. Ia tidak menyukai kehadiran pria yang sempat mengincar istrinya... Ah, Kai rasa bukan hanya sempat tapi sampai sekarang pria di depannya masih ada hati dengan sang istri.
Kai menarik pinggang Jennie dan memeluknya dengan posesif. Ia tidak akan membiarkan pria manapun memiliki perasaan dengan istrinya. Ia ingin semua pria tau jika wanita di sampingnya sudah memiliki pawang.
"Hai Jennie, mengapa kamu bisa berada disini ?" tanya Tuan Sean tanpa menggubris pertanyaan dari Kai.
__ADS_1
"Sean, aku sedang mencari gaun disini, kamu sendiri ngapain ?"
"Ini butik milikku. Kamu ingat dengan ucapanku yang ingin membuka butik disini ?" ujarnya terus memandang Jennie sehingga membuat Kai tampak kesal.
"Ck... Menyesal sekali aku membawanya kesini" Guman Kai dalam hati.
"Ih jadi ini butik kamu ?" tanya Jennie histeris, "pantas saja begitu ramai padahal baru buka" lanjutnya.
Tuan Sean tampak tersenyum lebar melihat ekspresi dan respon dari wanita yang berdiri di hadapannya.
"Oh ya, tadi ada masalah apa ?" tanya Tuan Sean.
"Maaf Tuan, tadi Nona ini menginginkan gaun yang ada di manekin ini" jawab sang karyawan sambil menunjuk ke arah gaun pilihan Jennie tadi.
"Kamu menyukainya ?" tanya Tuan Sean semakin tersenyum lebar. Tidak sia-sia Ia merancang baju itu untuk wanita pujaan hatinya.
"Iya, aku begitu jatuh hati dengan gaun ini" jawab Jennie.
"Kalau begitu kamu bisa mengambilnya !" ucap Tuan Sean yang dengan mudahnya memberikan gaun tersebut kepada Jennie.
Karyawan tersebut tampak membulatkan mata. Selama ini atasannya tidak pernah berniat menjual gaun tersebut karena gaun itu Ia rancang khusus untuk wanita yang Ia ingin lamar namun batal.
"Serius ? Bukannya ini tidak dijual ?" tanya Jennie tidak percaya.
"Serius. Itu gaun memang aku rancang khusus untukmu" jawab Tuan Sean dengan jujur.
"U-untukku ?" tanya Jennie menunjuk dirinya.
"Iya, itu sebagai hadiah pernikahan yang belum sempat aku berikan untukmu" jawabnya berbohong.
"Ah... Terima kasih banyak Tuan Sean yang terhormat. Tapi kami tak butuh pemberian dari mu" celetuk Kai yang menolak pemberian dari Tuan Sean.
"Kai..." Jennie menatap kesal ke arah suaminya. Yang benar saja suaminya ini menolak sesuatu yang gratis.
"Tolong bungkus baju itu untuknya !" perintah Tuan Sean kepada karyawannya dan tidak peduli penolakan dari Kai. Toh yang Ia berikan adalah Jennie buka pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Readers 👋 sambil nungguin Novel ini Up, Yuk mampir di karya Liana Kiezia yang berjudul Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
__ADS_1