
Di malam hari, Ayah Aditya sengaja menelpon Kai untuk pulang ke rumah utama. Pria paruh baya itu memutuskan untuk mengatakan semuanya kepada Jennie malam ini, Ia tidak ingin menunda lagi.
"Ada apa Ayah memanggil Kai pulang ?" tanya Kai yang baru saja tiba.
"Duduklah dulu !" ucap Ayah Aditya, "hari ini Ayah putuskan untuk menceritakan semuanya kepada Jennie, tentang orang tua kandungnya, tentang keadaannya saat ini yang sedang hamil" lanjut Ayah Aditya.
"Apa Ayah sudah memikirkannya matang-matang ?"
Ayah Aditya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan putranya.
"Tapi Yah, kondisi Jennie belum membaik. Kai takut jika Ia kembali drop setelah mengetahui semuanya, Kai tidak ingin terjadi apa-apa dengan Jennie dan calon bayiku Yah"
Ayah Aditya dapat melihat wajah putranya yang tampak khawatir. Tapi ini adalah keputusan yang tepat untuk mengatakan kebenarannya, Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
"Keputusan Ayah sudah bulat" ucapnya.
"Tapi bagaimana jika-" ucapan Kai terputus saat melihat Bunda Maryam dan Jennie berjalan menuju ruang tengah. Hatinya kembali bergetar saat melihat wanita yang Ia cintai, ada rasa rindu dalam hatinya setelah tiga hari tidak bertemu.
Jennie dan bunda Maryam duduk di sofa, Bunda Maryam begitu senang melihat kehadiran putranya, sementara Jennie hanya tertunduk.
"Sayang, kamu sudah siap mendengar cerita tentang orang tua kamu ?" tanya Bunda Maryam dengan pelan.
Jennie yang ditanya masih terdiam. Tak lama kemudian Ia menegakkan kepalanya lalu mengangguk, "Jennie siap" jawabnya dengan yakin.
"Sebelumnya Ayah dan Bunda minta maaf karena telah menyembunyikan ini semua begitu lama" ucap Ayah Aditya dengan nada sendu. Pria paruh baya itu kemudian menjelaskan bagaimana kedekatannya dengan kedua orang tua kandung Jennie. Ayah Aditya menceritakan kedua orang tua kandungnya yang begitu bahagia ketika Jennie lahir. Ia juga menceritakan bagaimana orang tuanya bisa meninggal dalam kecelakaan secara mengenaskan.
"Beruntung waktu itu kamu selamat, Ayah dan Bunda sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan kamu untuk hidup. Saat itu Ayah memutuskan untuk mengadopsi kamu dan keputusan Ayah tidak salah. Kehadiran kamu membuat keluarga kita begitu bahagia, Kami merasa keluarga ini sudah sangat lengkap semenjak Ayah mengangkat kamu sebagai putri angkat. Tapi-" Ayah Aditya terdiam sejenak, kali ini Ia tidak dapat menahan air matanya.
"Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan setahun. Ayah dan Bunda kembali bersedih saat kamu divonis menderita penyakit jantung. Kebahagiaan kami seolah-olah runtuh. Kami tidak ingin kehilanganmu, kami sangat menyayangi kamu Nak. Ayah dan Bunda melakukan segalanya agar kamu bisa bertahan hidup, kami melimpahkan semua kasih sayang kami hingga melupakan Kai" jelas ayah Aditya membuat Jennie dan Bunda Maryam terisak.
Mendengar penjelasan Ayah Aditya membuat isakan Jennie terhenti. Ia menatap ke arah Kai yang ternyata juga menatap dirinya.
__ADS_1
"Jadi apa itu alasan Kai membenci Jennie ?" guman Jennie bertanya.
Ayah Aditya kembali menjelaskan jika Jennie bisa kembali sehat setelah mendapat pendonor jantung di usia empat tahun.
Jennie kembali terisak, wanita itu kini merasakan perasaan yang campur aduk. Ia merasa sedih karena ditinggal oleh kedua orangtuanya. Namun Ia juga merasa terharu dengan kasih sayang yang Ia dapatkan dari Ayah Aditya dan Bunda Maryam, meskipun Ia hanya anak angkat tapi Ia bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar dari mereka.
Ayah Aditya berdiri dan duduk di samping Jennie, Ia memeluk tubuh putri angkatnya itu dengan hangat. Tak tinggal diam Bunda Maryam ikut mendekap tubuh Jennie. Ketiga saling memeluk sambil terisak.
Sementara Kai membuang wajah. Pria itu enggan melihat pemandangan sedih itu agar tidak ikut larut dalam kesedihan bukan karena merasa iri dengan Jennie. Sungguh perasaan cemburu itu tidak ada lagi dalam hatinya, justru sekarang Ia sangat bersyukur karena kedua orang tuanya begitu menyayangi wanita yang Ia cintai.
"Bunda, Ayah, terima kasih sudah menyangi Jennie dengan setulus hati" ucap Jennie di sela Isak tangisnya.
"Tak perlu berterima kasih, Memang itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tuamu Nak" ucap Ayah Aditya melepas pelukannya dan mengusap pucuk kepala Jennie dengan lembut.
🌹🌹🌹
Meli kembali mendatangi mini market tempat Raffa bekerja. Ia ingin berterima kasih kepada pria itu karena telah meminjamkan jaket.
"Iya mbak, kebetulan mas Raffa lagi di gudang buat bongkar barang" ucap sang kasir tersebut, "maaf kalau boleh tau, mbak ada perlu apa ya ?" tanya wanita itu pada Meli.
"Saya punya keperluan dengan Raffa. Tapi kalau sibuk biar Saya tunggu di luar saja" ucap Meli. Ia merasa tidak enak hati untuk menganggu kesibukan Raffa. Akhirnya Ia memutuskan untuk menunggu di dalam mobilnya saja.
Sementara di dalam gudang Raffa begitu sibuk membongkar barang lama dan menyusun barang baru masuk. Hampir jam sebelas malam, akhirnya pekerjaannya selesai. Pria itu masuk dalam toilet untuk membersihkan bagian tubuhnya yang dirasa ditempeli banyak debu.
"Mas Raffa ada yang cariin tadi" ucap sang kasir kepada Raffa.
"Siapa ?" tanyanya bingung.
"Nggak tau, intinya perempuan itu bilang ada urusan dengan mas Raffa. Saat ku bilang mas Raffa lagi sibuk, Ia hanya bilang kalau Ia akan menunggu di luar" Jelas sang kasir.
"Kenapa tidak memanggilku saja ? Jika penting bagaimana ?"
__ADS_1
Raffa berjalan ke luar namun Ia tidak mendapati wanita yang duduk atau berdiri menunggunya.
"Tak ada siapa-siapa" Guman-nya, Ia masih mengedarkan pandangannya tapi yang Ia dapat hanya ada mobil parkir di depan. Akhirnya Ia memutuskan masuk karena tidak mendapati siapa-siapa. Saat hendak masuk, Raffa dikejutkan oleh teriakan seorang wanita yang begitu keras.
"Raffa... Tunggu sebentar !" teriak Meli berlari menghampiri Raffa.
Raffa dibuat kaget setelah melihat si pemilik suara. Ia heran mengapa Meli berada disini saat malam sudah begitu larut. Apa mungkin yang dikatakan temannya tadi adalah Meli ? Tapi mengapa wanita itu mencarinya ?.
"Kenapa kamu bisa berada disini ?" tanya Raffa dengan kening yang berkerut.
"Ini... Aku ingin mengembalikan jaket mu" jawab Meli. Wanita itu menyodok paper bag kepada Raffa.
Raffa mengambil paper bag tersebut dan membukanya, benar saja isinya adalah jaket yang sempat Ia pinjamkan beberapa hari yang lalu. Ia menatap Meli yang tersenyum manis kepadanya.
"Hanya ini yang ingin kamu kembalikan ?" tanya Raffa yang diangguki oleh Meli, "jika hanya untuk mengembalikan jaket ini, mengapa harus menunggu sampai jam segini ?" tanya Raffa lalu menunjukkan jam di pergelangan tangan.
"Sebenarnya tadi siang aku kemari untuk mengembalikan barang mu tapi kata temanmu kamu masuk malam jadi aku putuskan untuk kembali kesini malam saja."
"Kamu kemari tadi siang ?" tanya Raffa dan lagi-lagi Meli mengangguk sambil melempar senyum manisnya, "tapi kenapa kesini lagi pas tengah malam begini ?" Raffa tidak habis pikir dengan wanita di depannya yang berani keluar sendiri.
"Nggak kok, aku kesini dari jam delapan malam tapi-"
"Apa katamu ? Jam delapan malam ? Kamu menungguku selama itu hanya untuk mengembalikan jaket ?" potong Raffa.
Meli mengangguk membuat Raffa menghembuskan napasnya dengan pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
__ADS_1
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~