Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

"Kamu..." "Kamu..." ucap Tuan Sean bersamaan dengan wanita yang hampir saja Ia tambak.


"Ck... Kamu sengaja ingin bunuh diri ?" Tuan Sean menatap tajam wanita yang masih berjongkok itu.


Mendengar ucapan Tuan Sean membuat wanita itu meradang, "bukannya minta maaf malah nyalahin aku, eh kamu sadar nggak sih kalau kamu tuh bawa mobil dengan kecepatan tinggi ?" balas wanita itu tak kalah marahnya. Ia berdiri dan membalas tatapan tajam dari Tuan Sean.


"Jelas-jelas kamu yang nggak bisa menggunakan matamu, udah tau ada mobil melaju cepat kenapa masih nekat menyebrang jalan ?" tak mau kalah dengan wanita itu, Tuan Sean juga menunjukkan taringnya.


"Ck... Kamu dari dulu nggak pernah berubah ya, selalu saja tidak ingin mengalah" ucap wanita itu yang tak lain adalah Valen.


Valen dan Tuan Sean sepupu dua kali, jadi ayah Valen dan ayah Tuan Sean saudara sepupu. Dan mereka pernah dijodohkan namun keduanya menolak karena mempunyai pasangan masing-masing, alasan mereka bersikeras menolak karena mereka tidak pernah akur. Seperti saat ini, mereka saling menyalahkan dan tidak ingin mengalah satu sama lain.


"Memangnya kenapa aku harus mengalah dengan wanita sepertimu ?" tanya Tuan Sean, tentu saja Ia tidak sudi mengalah dengan wanita seperti Valen ini.


"Ais... Susah memang kalau bicara dengan lelaki seperti dirimu" ucap Valen, "aku heran kenapa Caitlyn bisa bertahan dengan pria seperti dirimu" lanjutnya lagi.


Tuan Sean yang mendengar nama mendiang calon istrinya disebut mendadak diam, tiba-tiba saja Ia merindukan sosok Caitlyn, wanita yang mampu mencuri hatinya itu.


Valen yang melihat Tuan Sean terdiam merasa kesal, akhirnya Ia meninggalkan pria itu tanpa berpamitan lagi, Ia sangat malas berbicara dengan pria seperti Tuan Sean yang menurutnya menyebalkan.


.


.


.


Kai menelpon sang bunda agar kembali ke rumah sakit karena Jennie meninggalkannya sendiri. Tak lama akhirnya bunda Maryam datang bersama ayah Aditya.


"Ayah tidak ke kantor ?" tanya Kai saat melihat sang ayah juga datang.


"Tidak, lagipula masih ada asisten mu yang handle semua kerjaan di kantor" jawab ayah Aditya enteng.


"Lalu Jennie kemana ?" tanya bunda Maryam kepada putranya.

__ADS_1


"Nggak tau, Jennie tiba-tiba saja pergi saat Kai meminta maaf kepadanya" ucap Kai.


"Kenapa minta maaf sekarang ? Harusnya kamu nunggu waktu yang tepat dulu Kai !" ayah Aditya menatap putranya yang kini menunduk.


"Tapi Yah, Kai tidak bisa jika Jennie terus menghindari Kai..." ungkap Kai, "Kai nggak sanggup" lanjutnya menatap sang ayah.


"Kenapa kamu tidak sanggup ? Bukannya dulu kamu juga melakukan hal yang sama ? Harusnya ini hal yang mudah buat kamu mengingat jika kamu juga pernah menghindari Jennie" balasan menohok dari sang ayah mampu membuat Kai sadar.


"Itu beda Yah, dulu Kai belum bisa memenangkan perasaan Kai yang ternyata masih cinta dengan Jennie, dan hanya karena kecewa di tolak oleh Jennie Kai menganggap perasaan jika perasaan Kai adalah perasaan benci, padahal tanpa sadar Kai hanya ingin menghilangkan perasaan Kai namun tetap saja hasilnya nihil" jelas Kai.


"Iya beda di kamu tapi tidak dengan Jennie, wanita itu selalu mencari dimana letak kesalahannya sehingga kamu begitu membencinya" ucap ayah Aditya.


"Iya, Kai akui Kai memang salah. Tapi Kai benar-benar menyesal telah melakukan semuanya kepada Jennie" kini pria itu menitikkan air matanya.


Bunda Maryam segera menghampiri putranya dan memeluknya, Ia kasihan melihat putranya bersedih.


"Sudahlah Yah, berhenti menyalahkan putra kita ! Sebaiknya kita cari cara bagaimana mengatakan semua fakta tentang Jennie agar putri angkat kita itu tidak terluka !"


Ayah Aditya mengentikan kalimatnya saat melihat Jennie membuka pintu Dangan mata yang sudah memerah, ketiga orang itu tampak terkejut saat melihat Jennie berjalan ke arah mereka.


"Coba ulangi ucapan Ayah sekali lagi !" pinta Jennie dengan suara pelan.


Melihat putri angkatnya masuk dengan wajah sedih dan memberikan pertanyaan seperti itu membuat ayah Aditya yakin jika Jennie mendengar ucapannya tadi.


"Sayang... Kamu mendengar ucap-"


"Iya, memangnya kenapa jika Jennie mendengar pembicaraan kalian ?" tanya Jennie memotong kalimat sang Bunda.


Ia merasa sangat kecewa mengetahui kebenaran jika dirinya benar bukanlah anak kandung dari ayah Aditya dan bunda Maryam. Ia merasa dirinya sangat bodoh karena telah lama mengetahui ini namun Ia enggan bertanya kebenarannya.


"Kenapa nggak bilang dari dulu jika Jennie bukan anak kalian ? Kenapa tidak mencoba jujur dengan Jennie jika sebenarnya aku hanya anak pungut ? Kenapa ?" Jennie tidak bisa lagi menahan tangisannya. Wanita itu benar-benar merasa kecewa dan sakit hati atas rahasia yang disembunyikan oleh kedua orang tua angkatnya.


"Tidak... Jennie bukanlah anak pungut" jawab sang bunda menggelengkan kepalanya, Ia merasa hatinya sangat pedih saat melihat Jennie menangis, Ia sungguh tidak mampu melihat putri angkatnya itu terluka.

__ADS_1


"Sayang... Maafkan Ayah dan Bunda ! Bukan maksud kami menyembunyikan kebenaran ini kepada kamu Nak.... Ayah hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya" jelas Ayah Aditya.


"Lalu sampai kapan kalian ingin menyembunyikan kebenaran ini dari Jennie ? Sampai kapan ?" Jennie kembali terisak, "mungkin semua ini tidak akan terbongkar jika Jennie tidak mendengarnya hari ini" lanjutnya, Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Ayah Aditya segera mendekati putri angkatnya itu lalu memeluk tubuhnya dengan erat, "maafkan Ayah ! Maafkan Ayah ! Ayah sadar jika perbuatan ayah salah karena menunda untuk berkata jujur denganmu Nak, Ayah terlalu takut jika kamu pergi meninggalkan Ayah dan Bunda saat mengetahui kenyataan ini... Ayah sungguh takut..."


Ayah Aditya dapat merasakan tubuh Jennie bergetar karena terisak. Akhirnya apa yang mereka takutkan terjadi juga, dimana Jennie mengetahui semuanya dan merasa kecewa dengan mereka.


"Sekarang Ayah jujur dengan Jennie ! Dimana orang tua kandung Jennie ?" tanya Jennie.


"Mereka... Sudah tiada" jawab ayah Aditya dengan suara lirih.


"Ayah bilang apa ? Bicaralah yang jelas !" Jennie menatap ayahnya atau lebih tepatnya ayah angkatnya.


"Mereka telah meninggal"


Jennie mematung saat mendengar jawaban sang ayah, lagi-lagi Ia seperti dihantam batu besar saat mengetahui kenyataan jika dirinya anak yatim piatu. Wanita itu benar-benar syok dengan semua kenyataan ini.


"Tidak... Tidak..." Jennie menggelengkan kepalanya menolak percaya dengan omongan sang ayah, "Jennie tidak percaya dengan ucapan Ayah... Jennie yakin mereka masih hidup, Ayah pasti berbohong dengan Jennie... Ayah menipuku ?" kini wanita itu berteriak frustasi.


"Ayah tidak berbohong sayang... Ayah berkata-"


*Bugh*


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ayah Aditya, bunda Maryam dan Kai dibuat panik saat melihat tubuh Jenni tergeletak di lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~

__ADS_1


__ADS_2