
Raffa menatap lekat wajah wanita di depannya, "Kenapa tidak menitipkan saja dengan temanku ?" tanyanya pada Meli.
"Aku ingin mengembalikan secara langsung barang ini kepada pemiliknya" jawab Meli, "sekalian pengen berterima kasih" lanjutnya. Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya melainkan ingin melihat wajah Raffa, Ia merasa dirinya jatuh hati dengan pria dihadapannya, Raffa adalah laki² pertama yang mampu membuat hati ya bergetar. Meskipun Ia pernah memiliki kekasih tapi ini benar-benar baru pertama kali Ia rasakan.
"Ya sudah kalau begitu pulanglah !" ucap Raffa.
"Eh... Kenapa disuruh pulang ?"
"Ini sudah larut malam, tidak baik wanita pulang jam segini sendirian" ucapnya, sejujurnya Ia merasa risih karena Meli terus menatapnya dan selalu melempar senyum manisnya.
"Tapi kita belum selesai bicara" ucap Meli, wanita itu enggan pergi, rasanya Ia ingin terus berada di dekat Raffa.
"Ini sudah tengah malam. Lagipula apa lagi yang ingin kamu bicarakan ? Niat kamu kan hanya untuk mengembalikan jaket ini dan berterima kasih, jadi sekarang kembalilah !" saat Raffa hendak masuk Meli dengan cepat menarik lengannya.
"Tunggu dulu !" ucapnya, "aku ingin minta nomor handphone mu" lanjutnya menyodorkan handphone miliknya.
Raffa menaikkan alisnya sebelah lalu menatap Meli, "jadi maksud kamu ingin meminta nomor juga sampai-sampai kamu rela nunggu hingga tengah malam ?" tebak Raffa membuat wajah Meli memerah.
Wanita itu mengangguk pelan sambil menunduk, Ia begitu malu karena Raffa bisa menebak tujuan utamanya.
"Tidak bisa. Aku sudah memiliki kekasih dan aku tidak ingin kekasihku cemburu hanya karena memberimu nomor ponselku" ucap Raffa mendorong pelan tangan Meli yang menyodorkan handphone miliknya tadi.
Meli tertegun saat mendengar ucapan Raffa. Bagai tertusuk anak panah, hatinya dipatahkan oleh seseorang yang baru saja Ia kenal. Ia menatap Raffa yang sudah berhasil masuk dalam mini market tersebut. Untuk pertama kalinya Meli merasakan jatuh cinta yang menyakitkan, tanpa terasa air mata wanita itu berhasil keluar dari kelopak matanya.
Wanita itu segera menghapus air matanya dan meninggalkan mini market tersebut, Meli melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa dirinya gila karena mudah jatuh cinta dengan pria yang baru Ia temui beberapa kali, hanya karena perhatian kecil Ia bisa hanyut dalam pesona seorang Raffa. Ia merasa begitu bodoh karena menjatuhkan hatinya pada orang yang telah memilki kekasih.
🌹🌹🌹
Kediaman Aditya...
Setelah beberapa menit mereka saling terdiam, Ayah Aditya kembali membuka suara.
__ADS_1
"Sayang, satu lagi Ayah ingin sampaikan..." Ayah Aditya menjeda ucapannya, Ia mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan Jennie saat ini.
"Apa Yah ?" tanya Jennie penasaran, Ia sedari tadi menunggu sang Ayah melanjutkan kalimatnya namun tak kunjung membuka mulut.
"Tapi Ayah mohon kepada kamu jangan pernah berbuat aneh-aneh jika Ayah berkata jujur padamu Nak !" ucap Ayah memelas. Ia tidak ingin Jennie melakukan hal buruk kepada calon cucunya.
"Memangnya ada apa ? Mengapa Ayah berpikir jika Jennie akan melakukan tindakan konyol ?" Jennie terkekeh, Ayahnya ini ada-ada saja pikirannya.
"Kamu janji dulu sama Ayah agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak !" pinta Ayah Aditya sekali lagi.
"Iya, Jennie janji. Jadi sekarang Ayah coba katakan apa yang ingin Ayah sampaikan !" Jennie mengangguk setuju dengan permintaan sang Ayah.
"Sebenarnya... Saat ini kami sedang... Mengandung" akhirnya kalimat itu bisa keluar dari mulut Ayah Aditya meskipun begitu berat untuk terucap.
Sedetik, dua detik, tiga detik, Jennie masih terdiam namun tak lama kemudian Ia tertawa begitu keras membuat Ayah Aditya, bunda Maryam dan Kai terheran-heran.
"Ayah bercanda kan ?" tanya Jennie serius, wanita itu menghentikan tawanya lalu menatap kedua orang tua angkatnya secara bergantian.
"CUKUP ! CUKUP !" potong Jennie, Ia berdiri dari duduknya kemudian menjauh dari kedua orang tua angkatnya, "Jennie mohon jangan lanjutkan !" Ia kembali terisak, dada wanita itu tampak naik turun karena emosi. Ia menatap ke arah Kai dengan tatapan penuh dendam.
"Puas kamu ? PUAS HAH ?" pekiknya, "ini kan yang kamu inginkan ? kehancuran ku adalah sumber kebahagiaanmu ?" lanjutnya dengan suara serak.
Kai yang melihat wanita yang Ia cinta menangis pilu merasa terenyuh, Ia sangat ingin mendekat dan memeluk tubuh mungil Jennie namun tubuhnya seperti tertahan magnet sehingga tidak bisa bergerak. Pria itu hanya sanggup menggelengkan kepalanya, sungguh Ia tidak bahagia melihat penderitaan Jennie.
"KENAPA ? Kenapa kamu harus tumbuh disini ? Aku tidak menginginkannya..." Jennie kembali histeris bahkan Ia tidak segan-segan memukul perutnya.
Ayah Aditya segera memeluk putri angkatnya itu, "sayang berhenti ! Kamu bisa menyakiti bayimu Nak, kamu bisa menyakiti cucu Ayah" ucap Ayah Aditya mencoba menenangkan Jennie dan syukurnya wanita itu bisa menghentikan aksinya.
"Cucu... Ayah..." ucapnya dengan suara serak.
Ayah Aditya mengangguk, "Iya itu cucu Ayah Nak. Bukannya kamu pernah berjanji akan memberikan cucu yang banyak untuk Ayah dan Bunda ? Jadi Ayah mohon jangan sakiti cucu Ayah !"
__ADS_1
Ucapan Ayah Aditya berhasil membuat Jennie mengingat janjinya kepada Ayah Aditya beberapa tahun lalu dimana saat Ia kembali drop karena kelelahan setelah mengikuti kegiatan sekolah.
"Ayah kenapa menangis ?" tanya Jennie kepada sang Ayah.
"Ayah takut kamu ninggalin Ayah, Ayah tidak ingin kehilangan kamu Nak" ucap ayah Aditya sesegukan. Ia kembali dihantui rasa takut saat melihat Jennie terbaring lemah, kejadian beberapa tahun yang lalu terus berputar-putar di pikirannya saat Dokter mengatakan umur Jennie kecil tidak lama lagi kerena penyakit jantung yang Ia derita.
"Jennie tidak akan pernah ninggalin Ayah dan Bunda" ucap Jennie, "kecuali Jennie sudah nikah jadi harus ikut suami, hehehe..." wanita itu menggoda sang Ayah hingga pria paruh baya itu tersenyum.
"Meskipun kamu menikah, Ayah tidak akan membiarkan menantu Ayah membawa putri cantik Ayah pergi..." balas Ayah Aditya.
"Tidak bisa gitu dong Yah, masa anak udah nikah tapi dilarang ikut suami ?" Jennie mengatupkan bibirnya berpura-pura merajuk dengan sang Ayah.
"Tentu saja bisa, kecuali kamu bikin cucu banyak-banyak buat Ayah dan Bunda agar kami tidak merasa kesepian dimasa tua" balas Ayah Aditya.
"Kalau begitu Jennie janji akan bikin cucu banyak-banyak buat Ayah dan Bunda agar kalian tidak kesepian" janji Jennie.
Jennie terdiam setelah mengingat janjinya kepada Ayah Aditya beberapa tahun lalu.
"Sekarang kamu ingat dengan janji kamu beberapa tahun lalu kepada Ayah ? Jika kamu ingat dengan janji itu maka Ayah minta jangan sakiti cucu Ayah, biarkan cucu Ayah tumbuh dalam rahimmu Nak !" pinta Ayah Aditya.
"Tapi-"
"Ayah mohon Nak ! Ayah tidak minta banyak kepadamu, Ayah hanya ingin kamu mempertahankan cucu Ayah dan Bunda !" potong Ayah Aditya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~
__ADS_1