Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Ketakutan Jennie


__ADS_3

Jennie terdiam mendengar permintaan Ayah Aditya. Wanita itu tidak tau harus bagaimana, Ia dipenuhi kebimbangan. Saat otaknya menolak dengan keras permintaan sang Ayah namun hatinya justru bertolak belakang dengan pemikirannya.


"Tapi Jennie... Jennie takut... Jennie malu... Bagaimana tanggapan orang-orang jika tahu Jennie hamil ?" Jennie menatap Ayah Aditya, "Lalu bagaimana dengan anak ini ? Jennie takut saat anak ini lahir hanya akan menjadi bahan cemoohan orang² karena Ia hanya anak haram"


"CUKUP !" Kali ini Kai terlihat tidak terima dengan ucapan Jennie.


"Jangan pernah mengatai anakku haram !" ucapnya dengan tegas, "biar bagaimanapun anak itu adalah dara dagingmu, jadi jangan pernah menyalahkan kehadiran ! Silahkan jika kamu ingin membenciku ! Silahkan kamu menolak diriku ! Tapi tidak dengan calon bayi kita... Meskipun Ia hadir dengan cara yang salah bukan berarti kamu bisa mengatakan itu anak haram"


Jennie tertegun melihat kemarahan dan kekecewaan yang tergambar di wajah Kai, mata pria itu tampak memerah karena menahan air matanya.


"Jika kamu tidak menginginkan anakku maka berikan saja kepadaku saat dia lahir nanti !" lanjut Kai.


Tentu saja Jennie tidak terima dengan ucapan Kai, "yang benar saja ? Kamu pikir akan dengan mudah anak ini lahir ? Tidak... Butuh sembilan bulan dia berada dalam perut aku, apa kamu pikir itu waktu yang sebentar ? Dan lagi, apa kata orang jika melihatku keluar dengan perut besar tapi belum menikah ? Apa kamu pikir semu itu ?" tanya Jennie terisak. "Ini bukan tentang aku menerimanya atau tidak... Bukan itu yang jadi masalah... Tapi bagaimana aku bisa melewati hari-hariku dengan kondisi hamil di luar nikah ? Bagaimana jika nanti anak ini lahir tanpa orang ketahui siapa ayahnya ?" lanjutnya.


Kali ini tubuh Jennie bergetar karena tangisannya pecah. Bunda Maryam melihat Jennie menangis pilu segera mendekat dan membawa tubuh putri angkatnya itu kedalam pelukannya.


"Trus tak hanya itu, apa kamu memikirkan jika anak ini lahir tanpa status yang jelas tidak akan berpengaruh dengan mentalnya ? Bayangkan jika Ia lahir dan tumbuh besar tapi orang-orang tak menerima kehadirannya karena Ia hanya anak diluar nikah !" Jennie menatap Kai yang masih berdiri tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Ketiga orang itu membenarkan ucapan Jennie,


"Aku akan bertanggung jawab" ucap Kai dengan lantang.


Jennie tertawa sinis, "apa katamu ? Bertanggung jawab ? Dengan cara apa kamu bertanggung jawab ?" tanya Jennie dengan ketus.


"Aku akan menikahimu" jawab Kai.


"Apa kamu bodoh ? Kau lupa jika kita bersaudara ?"


"Tapi kita hanya saudara angkat, kita tidak sedarah, jadi tidak ada salahnya kita menikah" ucap Kai.

__ADS_1


"Memang tidak salah. Tapi kamu lupa dengan status kita di mata orang-orang ? Yang mereka tahu adalah kita adalah saudara kandung, apa tidak terlalu konyol jika kamu tiba-tiba menikahi adikmu sendiri ?" tanya Jennie mengejek, Ia merasa kakaknya ini sangat bodoh hingga tidak bisa memikirkan semua dampak dari perbuatan bejatnya beberapa bulan yang lalu.


"Bagaimanapun caranya aku akan tetap bertanggung jawab karena kamu telah mengandung benihku" ucap Kai dengan tegas kemudian melangkah keluar dari kediaman Aditya.


"Sudah sayang, sebaiknya kita istirahat !" Bunda Maryam mengelus lembut punggung Jennie yang masih terisak.


"Jennie mau tidur sama Bunda !" ucap Jennie dengan suara yang serak.


"Iya, Bunda temani kamu tidur Nak" jawab sang Bunda. Mereka berdua berjalan beriringan ke kamar milik Jennie.


Sementara Ayah Aditya masih duduk di ruang tengah. Pria paruh baya itu tampak berpikir keras bagaimana caranya agar masalah ini terselesaikan. Hanya ada dua pilihan saja, pilihan pertama mengungkap fakta tentang Jennie kepada semua orang jika Jennie hanyalah putri angkatnya. Pilihan kedua menutupinya dan membiarkan cucunya lahir tanpa status yang jelas dan yang pastinya akan berdampak buruk untuk calon cucunya di masa depan.


"Apa yang harus aku lakukan Bram ?" guman Ayah Aditya.


🌹🌹🌹


"Kenapa ? Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan mudahnya dengan pria itu ? Kenapa aku begitu bodoh ? Kenapa ?" Wanita itu menangis sambil berteriak-teriak.


"Kenapa harus Dia yang menjadi pria pertama yang bisa membuatku jatuh hati dari sekian banyaknya pria yang hadir dalam hidupku ? Belum juga apa-apa sudah parasaanku sudah ditolak, hahaha menyedihkan sekali... Huwaa..."


Meli kembali menangis meratapi nasib percintaannya. Raffa adalah pria pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan dalam waktu yang singkat. Tapi Raffa jugalah pria pertama yang berhasil membuat hatinya patah.


"Ck... Aku begitu bodoh bisa terpesona dengan pria sombong itu. Tadi apa katanya ?... Tidak bisa. Aku sudah memiliki kekasih dan aku tidak ingin kekasihku cemburu hanya karena memberimu nomor ponselku" Meli mengulang kata-kata Raffa dengan nada mengejek.


"Cih, yang benar saja ? Masa sih hanya karena membagi nomor pacarannya bisa marah ?... Ck...ck...ck... Itu artinya pacarnya begitu posesif dan pencemburu" ocehan Meli sambil menghapus air matanya.


"Aku begitu penasaran dengan wanita yang berhasil membuat pria itu bertekuk lutut, apa Ia secantik diriku ? Atau bahkan lebih cantik dariku sehingga bisa membuat Raffa begitu menjaga hatinya ?" ucap Meli.

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku mencari tahu siapa wanita itu ? Jika wanita itu tidak secantik diriku maka aku akan memperjuangkan Raffa, dan aku akan menyingkirkan wanita itu. Aku tidak terima jika diriku dikalahkan oleh wanita yang kecantikannya di bawah kecantikan ku."


Meli berdiri dari tempat tidurnya dan masuk dalam kamar mandi, wanita itu melakukan ritual rutinnya sebagai seorang wanita normal yaitu membersihkan wajah dan memakai skincare sebelum tidur. Ia tidak ingin jika dirinya kalah cantik dengan kekasih Raffa.


🌹🌹🌹


Setelah seminggu berlalu, Ayah Aditya kembali memanggil Kai ke rumah utama. Putranya itu tak pernah muncul lagi di rumah utama selama seminggu terakhir.


Setelah memikirkan dengan matang-matang, Ayah Aditya akhirnya memiki sebuah keputusan.


Saat Kai masuk rumah utama, Ia melihat kedua orang tuanya duduk di meja makan. Kai seger berjalan dan duduk tepat di samping sang Ayah.


"Selamat pagi sayang" sapa Bunda Maryam saat melihat anaknya telah kembali.


"Pagi Bunda..." jawab Kai.


"Apa kamu tidak mengalami morning sickness lagi ?" tanya Ayah Aditya. Ia tentu tahu selama kehamilan Jennie putranya selalu mengalami morning sickness yang cukup parah.


"Hari ini tidak sama sekali" jawab Kai yang sibuk mengoles selai di atas rotinya. Tadinya pria itu cukup bingung karena tidak mengalaminya gejala mual sama sekali, tapi Kai tidak terlalu memikirkan hal itu karena begitu senang tidak mengalami morning sickness yang begitu menyiksanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~

__ADS_1


__ADS_2