
"Sayang, bangun yuk ! Kita udah sampai" ucap Kai saat mereka sudah sampai di rumah baru mereka.
Jennie melenguh tapi matanya masih enggan untu terbuka. Kai tersenyum melihat sang istri masih tertidur pulas, Kai tak ada pilihan lain selain mengangkat tubuh Jennie. Pria itu membawa istrinya dalam kamar utama, Ia membaringkan tubuh Jennie dengan pelan.
"Tidur yang nyenyak istriku. Aku sangat mencintai kamu" ucapnya kemudian mengecup kening istrinya, pria itu kemudian beralih pada perut sang istri, "kamu juga tidur nyenyak ya Baby" Kai mengelus lembut perut sang istri.
Pria itu kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia hendak membersihkan tubuhnya karena merasa kulitnya begitu lengket. Pria itu merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bathtub. Pikiran pria itu melayang ke mimpi buruk yang dialaminya tadi siang. Bohong jika Kai tidak memikirkan mimpi buruk itu, pada kenyataannya pria itu merasakan adanya ketakutan jika mimpi itu benar-benar terjadi.
"Kenapa aku jadi parno seperti Ini sih ?" ucapnya mengacak-acak rambutnya, "semoga saja mimpi itu tidak menjadi kenyataan" lanjutnya penuh harap.
Sementara di luar Jennie baru saja membuka kelopak matanya. Wanita itu merenggangkan ototnya kemudian mengubah posisi menjadi duduk. Wanita itu menatap setiap inci kamar, kamar yang jauh berbeda dengan kamar mereka di rumah utama.
"Kemana dia ?" gumannya, akhirnya Jennie memutuskan untuk keluar kamar. Wanita itu sebenarnya terbangun karena merasa lapar.
"Tidak ada makanan sama sekali ?" tanyanya setelah mengecek isi kulkas. Karena tak mendapat apa-apa di dapur, Jennie memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun saat wanita itu melewati ruang tengah tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding.
"Cantik sekali" pujinya saat melihat foto lama seorang wanita.
"Wanita itu cantik bukan ?" tanya Kai membuat Jennie kaget.
"Mas ngagetin aja sih" gerutu Jennie, "Dia siapa mas ?" tanya Jennie penasaran.
Kai mendekat lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Pria yang hanya menggunakan bathrobe itu mengecup lembut pucuk kepala istrinya.
"Dia adalah wanita paling berjasa dalam hidupku setelah Bunda Maryam" ucap Kai.
Jennie mengerutkan keningnya karena masih bingung dengan ucapan sang suami. Memangnya apa yang telah wanita ini lakukan untuk Kai sehingga Kai menganggapnya sebagai wanita berjasa dan bahkan memajang fotonya di ruang tengah.
"Sebenarnya masih ada foto yang ingin aku pajang. Tapi kemarin belum sempat, nanti mas coba cari ART buat bantu beres-beres di rumah ini" jelas Kai.
"Sekarang ayo kita naik ke kamar ! Mas udah pesan makan malam untuk kita" ajak Kai. Ia menuntun sang istri menaiki tangga dengan pelan.
Sebenarnya Jennie penasaran siapa wanita dalam foto itu. Namun Ia memilih menyimpan pertanyaannya dulu.
.
.
__ADS_1
.
"Kenapa belum pergi ?"
"Karena aku menunggumu" jawab Meli santai.
"Sudah aku katakan bukan agar menjauh dariku !" balas Raffa. Pria itu sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar Meli tidak muncul lagi di hadapannya.
"Jika aku tidak mau memangnya kenapa ?"
Raffa mengacak rambutnya frustasi. Sungguh Meli sangat tidak tau malu untuk mendekatinya. Ia sedikit heran, biasanya pria yang akan mengejar-ngejar wanita namun sepertinya itu tidak berlaku bagi Meli.
"Apa rasa malu mu sudah hilang ? Mengejar seorang pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan denganmu ?" tanya Raffa mulai kesal.
"Mengapa harus malu ? Aku sedang memperjuangkan cintaku, dan orang yang ku perjuangkan juga belum memiliki istri. Jadi letak kesalahannya dimana ?" jawab Meli santai. Wanita itu sudah terbiasa dengan kalimat yang tidak mengenakkan dari Raffa.
"Kamu lupa jika aku sudah memiliki kekasih ?"
"Aku sangat ingat. Tapi kalian kan masih pacaran, lagipula pacar kamu sudah pergi bukan ? Ia meninggalkan kamu tanpa sepatah katapun. Lalu untuk apalagi kamu mempertahankannya ?"
"Pergi sebelum aku berbuat kasar !" usir Raffa dengan sebuah ancaman. Ia melempar tatapan tajam kepada Meli. Tatapan yang penuh kebencian.
"Baiklah. Tapi aku akan kembali besok" jawab Meli pasrah. ia berdiri dan meninggalkan Raffa namun baru beberapa langkah wanita itu kembali terhenti saat Raffa mengatakan sesuatu.
"Jangan pernah coba muncul di hadapan ku ! Aku sangat muak melihat wajahmu !" ucap Raffa tanpa perasaan.
Untuk yang kesekian kalinya Meli mendengar kalimat ini dan itu sudah menjadi hal biasa baginya. Namun entah mengapa kali ini Ia merasa sangat nyeri di bagian hatinya. Sesaat Ia berpikir untuk menyerah saja.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan melakukannya." jawabnya. Sekuat tenaga Meli menahan air matanya hingga berada dalam mobil wanita itu terisak.
"Ternyata begitu menyakitkan jika perasaan kita tidak terbalaskan. Mengapa pria itu selalu memintaku untuk berhenti berjuang ? Setidaknya jika Ia belum mencintaiku Ia bisa memberikan aku waktu untuk meluluhkan hatinya. Namun jangankan melihatku untuk berjuang, melihat wajahku saja Ia muak" ucapnya sambil terisak. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
Sementara Raffa masih berdiri memandang ke arah mobil Meli. Ia tau wanita itu pasti terluka karena perkataanya. Namun baginya ini lebih baik agar Meli memilih berhenti daripada wanita itu melangkah lebih jauh dan malah semakin tersakiti.
"Maafkan aku. Tapi memang perasaan ini tidak bisa dipaksa. Semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik" ucapnya sebelum memutuskan untuk masuk dalam kosnya.
.
__ADS_1
.
.
"Kamu tunggu di ruang tengah saja ! Biarkan mas yang membereskan semuanya !" ucap Kai dengan lembut. Ia tidak akan membiarkan sang istri melakukan pekerjaan yang melelahkan bahkan untuk menyimpan piring kotor sekalipun.
Jennie mengangguk dan meninggalkan meja makan. Wanita itu kembali menatap foto yang saat ini mengusik pikiran dan hatinya. Ia begitu penasaran dengan wanita tersebut, namun entah mengapa ada perasaan yang tidak bisa Ia jelaskan saat memandang wajah teduh dalam foto tersebut.
"Sebenarnya wanita dalam foto ini siapa dan sepenting apa wanita ini bagi Kai hingga fotonya dipajang disini ?" Jennie bermonolog dengan hatinya.
"Bahkan foto orang tuanya saja dan foto pernikahan kami tidak ada disini. Tapi mengapa foto itu bisa tergantung begitu rapih ?" lanjutnya bertanya dengan heran.
Tak lama Kai muncul dan langsung duduk di samping sang istri. Jennie segera mengalihkan pandangannya kearah TV. Ia tidak ingin suaminya tau jika dirinya sedang gelisah memikirkan seberapa penting wanita dalam foto tersebut.
"Sedang nonton apa ?" tanya Kai basa-basi. Pria itu sebenarnya sudah menyadari jika Istrinya sedang memperhatikan foto wanita tersebut. Namun Ia enggan menjelaskan sebelum sang istri bertanya.
"Mas kan bisa lihat sendiri, kenapa masih bertanya ?" ketus Jennie. Entah mengapa Ia tiba-tiba merasa marah dengan suaminya.
"Kamu kenapa sih sayang ? Dari tadi mas perhatikan kamu diam terus. Saat ditanya pun hanya menjawab seadanya bahkan terkadang menjawab dengan ketus" pancing Kai.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang badmood"
"Badmood karena apa ?"
"Ya nggak tau. Udah ih, jangan tanya-tanya dan mengajakku berbicara lagi !" ketus Jennie.
Kai terkekeh melihat tingkah istrinya, "Apa istriku ini sedang cemburu dengan foto itu ?" tanya Kai menggoda sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang suka berbau pelakor bisa mampir di karya teman Sa 🤗
Judul : Pembalasan Sang Pelakor
Napen : Senja_90
__ADS_1