
"Ricard, kamu kan ada kenalan Dokter Psikiater ?" tanya Kai saat panggilan terhubung.
"Kenapa memangnya ?" bukannya menjawab Dokter Ricard justru balik bertanya karena merasa penasaran.
"Jennie sepertinya terkena gejala sindrom baby blues" jawab Kai terdengar sedih.
"Hah, Jennie terkena gejala sindrom baby blues ?" tanya Dokter Ricard kaget.
"Iya. Apa kamu punya kenalan yang bisa bantu Jennie sembuh ? Aku begitu cemas dengan keadaannya sekarang" ucap Kai.
"Aku ada kenalan, kebetulan Dia yang membantu Jennie saat histeris setelah kamu perkaos" ucap Dokter Ricard.
"Benarkah ? Kalau begitu bisakah kamu memintanya untuk membantu Jennie pulih ?" ucap Kai senang.
"Nanti aku coba hubungi agar bisa mengatur waktu untuk menemui Jennie" ucap Dokter Ricard.
"Kalau begitu terima kasih banyak ya" ucap Kai begitu tulus.
"Tak masalah, kamu kayak sama siapa aja. Oh iya, aku do'akan semoga Jennie lekas pulih dan semoga putri kalian bisa segera berkumpul dengan kalian" ucap Dokter Ricard.
"Kalau begitu aku matikan telponnya" ucap Kai memutus sambungan telponnya.
Setelah itu Kai masuk ruang khusus bayi untuk melihat putrinya.
"Mas kemarilah ! Lihat matanya terbuka" ucap Jennie tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Hai, putri cantik Daddy sudah bangun ?" Kai menatap putrinya yang sedang menggerak-gerakkan tangannya.
"Mas, putri kita sudah mulai aktif tidak seperti kemarin ya" ucap Jennie.
Memang keadaan putri mereka sudah ada peningkatan yang sangat baik. Dan Dokter mengatakan jika kemungkinan besar putri mereka bisa keluar besok siang.
"Iya sayang. Sepertinya Ia sudah tidak sabar untuk kembali ke rumah" ucap Kai.
"Kita juga tidak sabar ingin membawa kamu pulang sayang" ucap Jennie mulai sendu.
Melihat hal itu membuat Kai segera mencari cara agar istrinya tidak sedih.
"Mommy tenang saja ! Aku adalah seorang putri yang kuat" ucap Kai menirukan suara anak kecil sehingga mampu membuat Jennie terkekeh.
"Tidak mau, aku mau tunggu sampai besok saja" tolak Jennie membuat Kai menghela nafas dengan berat.
"Sayang, kamu itu masih dalam masa pemulihan jadi perlu banyak istirahat. Biarkan Bunda menjaganya ya" ucap Kai dengan lembut.
"Tapi aku kasihan sama Bunda kerena jagain putri kita sendirian" jawab Jennie.
Kai menarik istrinya masuk ke pelukannya, "dengarkan mas, Bunda sangat seneng menjaga cucunya jadi jangan pernah merasa Bunda terbebani akan hal ini. Kamu tahukan Bunda sudah begitu lama menantikan seorang cucu dariku ?"
"Lagi pula nanti malam Ayah akan menemani Bunda jagain putri kita. Jadi jangan khawatir, yang perlu kamu khawatirkan adalah kesehatan kamu agar cepat pulih" lanjut Kai.
Jennie mengangguk dan membalas pelukan suaminya. Jennie merasa sedikit tenang dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
Keduanya kembali mengajak putri kecil mereka berbicara meskipun bayi tersebut belum mengerti apa-apa.
Tiga puluh menit kemudian Bunda Maryam datang kembali, Kai dan Jennie akhirnya meninggalkan bayinya meski merasa berat hati.
Sebelum pulang Kai sengaja mengajak Jennie ke taman kota. Ia ingin membuat istrinya sedikit melupakan rasa bersalah dan rasa sedihnya.
"Kenapa kita kesini mas ?" tanya Jennie.
"Kita cari udara segar dulu baru pulang sayang" ucap Kai mengelus lembut istrinya.
"Tapi panas begini bikin aku malas mas" ucap Jennie.
Kai memang merasa cuaca begitu terik. Akhirnya Kai kembali memikirkan cara untuk mengajak istrinya refreshing.
"Kalau gitu mau ke mall ?" tanya Kai.
Mendengar pertanyaan suaminya membuat Jennie mengangguk dengan semangat.
"Boleh mas, aku mau cari baju-baju cantik untuk bayi kita" jawabnya bahagia.
Melihat Jennie yang begitu antusias membuat Kai tersenyum senang. Tanpa menunggu lama Kai segera menancap gas mobilnya menuju mall.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf karena jarang update 🙏
__ADS_1