
Keesokan harinya, Jennie masih bersikap dingin dengan kedua orang tua angkatnya. Wanita itu bukan membenci mereka, Ia sangat menyangi Ayah Aditya dan Bunda Maryam. Tapi Ia memilih mendiamkan mereka karena belum siap mendengarkan penjelasan mereka, Ia belum siap mengetahui fakta tentang dirinya, Ia belum siap mengetahui tentang orang tua kandungnya.
"Sayang..." Bunda Maryam menghampiri Jennie,
"Masih marah dengan Bunda ?" tanya Bunda Maryam dengan wajah sedih.
Sungguh Jennie tidak sanggup melihat kesedihan yang tergambar jelas di wajah sang Bunda. Meskipun Ia merasa kecewa karena merasa telah dibohongi tapi Jennie akan mencoba untuk melupakan itu.
"Jennie tidak marah dengan Bunda dan Ayah kok" balas Jennie. Meskipun kenyataannya Ia masih kecewa dengan kedua orang tua angkatnya itu.
"Lalu mengapa masih mendiamkan Bunda ?" tanya bunda Maryam.
"Jennie diam bukan karena marah. Jennie hanya..." wanita itu terdiam sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya, "Jennie hanya belum siap mendengarkan semua kebenaran tentang Jennie yang Bunda sembunyikan selama ini" lanjutnya dengan suara lirih. Sebisa mungkin Ia menahan air matanya agar tidak keluar.
Bunda Maryam yang mendengar ucapan putri angkatnya mengangguk paham. Ia tahu jika semua ini pasti sangat sulit bagi Jennie untuk menerima kenyataan. Ia menyadari kesalahannya yang memilih menutupi dan melupakan jika Jennie hanya anak angkat yang tanpa Ia sadari akan menimbulkan masalah sebesar ini. Jika dulu Ia memilih untuk mengungkap kebenarannya mungkin Jennie akan lebih mudah menerima takdirnya sebagai anak yatim-piatu.
"Maafkan Bunda !" hanya itu kata-kata yang bisa Ia ucapkan kepada Jennie. Bunda Maryam kemudian mendekap erat tubuh Jennie, tanpa disangka Jennie membalasnya dengan pelukan hangat.
.
.
.
Pagi ini Jennie sudah diijinkan pulang oleh Dokter setelah menjalani perawatan selam dua hari. Saat kembali ke rumah utama wanita itu tampak mengedarkan pandangannya, Ia sedang mencari seseorang yang selama dua hari ini tidak pernah Ia temui. Entah mengapa Ia merasa ada rasa rindu dengan pria itu namun sebisa mungkin Jennie menepis perasaan itu.
"Kita sarapan dulu setelah itu kamu masuk kamar dan istirahat !" Bunda Maryam menuntun Jennie ke meja makan, disana tampak beberapa makanan favoritnya tertata rapih di atas meja.
"Mau makan apa sayang ?" tanya Bunda Maryam kepadanya.
Jennie menatap semua menu makanan tapi tidak ada yang menggugah seleranya. Padahal hampir semua makanan-makanan itu adalah makanan kesukaannya.
"Kenapa sayang ? Apa kamu tidak ingin makan makanan-makanan ini ?" tanya Bunda Maryam.
Jennie menjawab pertanyaan sang Bunda dengan anggukan kepala.
"Lalu ingin makan apa Nak ? Katakan saja ! Ayah akan memberikannya untukmu" ucap sang Ayah.
__ADS_1
Jennie tampak berpikir makanan apa yang Inginkan saat ini. Dan tiba-tiba saja terlintas dipikirannya makan empek-empek Palembang.
"Em... Jennie... Ingin makan empek-empek Palembang" jawab wanita itu dengan wajah penuh harap.
"Hah ? Empek-empek ?" tanya Bunda Maryam dan ayah Aditya bersamaan.
Jennie mengangguk pelan, "apa boleh ?" tanya Jennie dengan wajah memelas.
"Iya, kalau begitu Ayah suruh pak Mama buat cariin kamu" baru saja Ayah Aditya ingin memanggil nama pak Mamat sang supir pribadinya, tiba-tiba saja Jennie kembali membuka suara.
"Jennie mau makan empek-empek buatan Bunda"
Mendengar permintaan Jennie membuat Ayah Aditya dan Bunda Maryam membulatkan matanya dengan sempurna. Bagaimana bisa putri angkatnya ini ngidam makan empek-empek buatan Bunda Maryam sementara Bunda Maryam tidak bisa membuat makanan tersebut.
"Sayang, serius mau makan bikinan Bunda ?" tanya Ayah Aditya tak percaya.
Jennie mengangguk yakin membuat keduanya kembali menghela nafas dengan berat. Ayah Aditya dan Bunda Maryam saling melempar pandangan. Mau tidak mau bunda Maryam harus menuruti kemauan putri angkatnya itu, mengingat Jennie sedang mengandung cucunya.
"Baiklah" ucap Bunda Maryam pasrah.
Ia berjalan ke arah dapur dan meminta bi Narti agar menyiapkan bahan-bahan untuk membuat empek-empek.
"Lalu bagaimana ? Apa nggak bisa bikin empek-empek tanpa memakai daging ikan tenggiri ?" tanya Bunda Maryam bingung.
"Bisa sih, tapi akan beda rasanya karena empek-empek itu menggunakan daging ikan tenggiri" jawab bi Narti.
Bunda Maryam memijit kepalanya yang terasa pusing. Jika bukan karena putri angkatnya yang sedang ngidam, Ia tidak akan pernah mau merepotkan diri untuk memasak.
"Ya sudah, sebaiknya kamu beli dulu ikannya !" perintah Bunda Maryam. Ia meninggalkan dapur dan berjalan ke meja makan.
"Sayang, tunggu sebentar ya ! Bibi Narti batu beli daging ikan buat bikin empek-empek" jelas Bunda Maryam kepada Jennie.
"Kalau begitu nggak usah deh Bun !" jawab Jennie dengan enteng.
"Tapi bi Narti udah ke pasar buat beli ikannya" ucap Bunda Maryam.
"Kalau nungguin bi Narti pulang dari pasar yang ada Jennie kelaparan" ucap Jennie.
__ADS_1
"Jennie makan roti tawar saja" lanjutnya. Ia kemudian meraih roti tawar dan memakannya tanpa selai sama sekali.
Bunda Maryam dan Ayah Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat permintaan putri angkatnya yang mudah berubah-ubah. Mereka menikmati sarapan tanpa adanya pembicaraan lagi.
Sementara di tempat lain, seorang pria tampak terduduk lemas di atas ranjangnya. Sudah berapa kali pria itu mengalami mual-mual dan bolak-balik toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Ia merasa tidak sanggup lagi untuk bergerak, akhirnya Ia memutuskan untuk kembali berbaring.
Pria itu adalah Kai. Ya, Kai mengalami morning sickness yang cukup parah. Meskipun Ia sudah diberi obat oleh Dokter tapi tetap saja Ia mangalami mual-mual yang parah di pagi harinya.
Kai sengaja tinggal di apartemennya untuk beberapa saat. Ia memilih untuk mengasingkan diri sejenak. Ia tidak ingin menampakkan wajahnya di depan Jennie karena takut wanita itu kembali histeris. Ia tidak ingin wanita itu terlalu banyak pikiran apalagi jika mengingat Jennie sedang mengandung anaknya.
"Semoga secepatnya Jennie bisa menerima semua ini" Guman-nya sebelum kembali memejamkan matanya.
🌹🌹🌹
Seorang wanita cantik tampak berjalan dengan anggun memasuki salah satu mini market. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tapi seseorang yang Ia cari tidak ada. Akhirnya Ia memilih untuk bertanya kepada salah satu karyawan mini market tersebut.
"Mas mau tanya..." ucapnya pada karyawan tersebut.
"Iya silahkan mbak !" Jawab sang karyawan.
"Kenal sama Raffa nggak ?" tanya Meli.
"Tentu saja mbak kan mas Raffa temen kerja saya. Memangnya kenapa mbak menanyakan mas Raffa ?"
"Em... Begini, saya ingin mengembalikan berang miliknya. Apa bisa saya bertemu dengannya ?" tanya Meli. Ia sedang mencari Raffa kerena ingin mengembalikan jaket yang sempat Ia pinjam.
"Kebetulan sekali mas Raffa nggak masuk pagi. Kalau mbak mau ketemu, mbak bisa kembali malam saja ! Soalnya mas Raffa dapat shift malam hari ini" jelas karyawan tersebut.
Meli mengangguk mengerti, "baiklah, terima kasih untuk informasinya" ucapnya dengan ramah.
"Iya sama-sama mbak" balas karyawan itu.
Meli akhirnya meninggalkan mini market tersebut dan melajukan mobilnya menuju rumah Jennie. Ia penasaran mengapa tiga hari ini Jennie bolos kuliah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~