Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Mencoba Bangkit


__ADS_3

Keesokan harinya Raffa sudah berangkat kerja sementara Valen masih berada di rumah sakit menjaga Kai. Tadi sebelum Raffa berangkat kerja Ia sempat bertanya mengapa Valen mau membantu Kai dengan mudahnya padahal Ia tidak mengenal Kai ?, Valen tersenyum dan menjawab jika hatinya hanya tergerak saja untuk membantu Kai yang begitu memprihatinkan. Sangat tidak masuk akal menurut Raffa namun Ia tidak mau ambil pusing jawaban Valen dan hanya berharap semoga saja Kai bukan orang jahat dan secepatnya ingatannya bisa pulih.


Tanpa Raffa tau jika Valen mengenali Kai, tentu saja Ia tau Kai karena pria itu pernah bekerja sama dengan perusahaan sang Ayah.


"Kenapa bisa putra dari keluarga Aditya menjadi nelangsa begini ?" ucapnya Valen pelan, Ia merasa bingung dan heran mengapa Kai bisa terlihat menyedihkan seperti ini, bukannya Ia adalah penerus dari perusahaan milik keluarga Aditya ?


Terlalu sibuk memikirkan nasib Kai hingga wanita itu tidak sadar jika Kai telah bangun, Kai menatap wajah Valen yang menurutnya tidak asing.


"Kenapa kau melamun ?" tanya Kai menyadarkan Valen dari lamunannya.


"Ah,,, eh,,, kamu sudah bangun ?" bukannya menjawab Valen justru bertanya balik.


Kai memutar bola matanya, "kapan aku bisa keluar ?" tanya Kai yang meras bosan di rumah sakit ini.


"Kita tunggu Dokter dulu ya !" jawab Valen lalu berdiri mengambil bubur di atas nakas, "sebaiknya kamu sarapan dulu !" titah Valen sambil menyendokkan makanan.


Kai menatap bubur itu dengan kening berkerut, "Apa ini ?" tanya Kai yang merasa makanan itu tidak pantas untuk dimakan.


"Ini bubur," jawab Valen singkat.


"Iya aku tau ini bubur tapi, Kenapa tidak komplit ? Biasanya bubu yang sering Bunda bikin itu pakai ayam suwir , bawang goreng, daun bawang, telur rebus dan kacang." protes Kai yang masih tidak mau makan bubur yang kurang meyakinkan tampilannya itu.


"Kamu ini tidak lupa ingatan ya ?" tanya Valen curiga, "kenapa bisa kamu ingat sedetail itu bubur buatan Bundamu ?" lanjut Valen menyipitkan kedua matanya.


Kai baru sadar jika dirinya pura-pura lupa ingatan menjadi salah tingkah, 'Aduh bodoh kamu Kai' umpatnya dalam hati.


"I-itu karena tadi,,,, aku memimpikannya,,, ya itu maksud aku," jawabnya gugup, "tadi aku mimpi" lanjutnya lagi melirik Valen dan berharap agar wanita itu percaya.


"Oh,,, benarkah ?" Balas Valen mengangguk seolah percaya.


"Hm... Benar" jawab Kai dan segera mengambil mangkok yang berisi bubur itu, "Kemarikan! aku sudah sangat lapar" lanjutnya dengan jujur, memang Kai sangat kelaparan.


"Habisin setelah itu minum obatmu !" perintah Valen mambuat Kai mengangguk.


Tanpa bicara lagi Valen segera masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri. Kai menatap pintu toilet itu tertutup, Ia mencoba mengingat siapa wanita itu.


"Rasanya aku pernah bertemu dengannya tapi, dimana ?" tanya Kai kebingungan.


🌹🌹🌹


Pagi ini Jennie mencoba menerima takdirnya, Ia akan bangkit kembali dan memulai kehidupannya seperti sediakala. Ia ingin kembali menjadi Jennie yang ceria dan selalu tertawa meskipun, jauh di lubuk hatinya masih terasa sakit namun Ia kan mencoba untuk menyembuhkan luka di hatinya.

__ADS_1


"Selamat pagi Bun" sapa Jennie saat berada di ruang makan.


"Selamat pagi sayang" balas Bunda Maryam tersenyum melihat putrinya tersenyum meski masih terlihat terpaksa.


"Bunda, Ayah kemana ?" tanya Jennie yang tidak melihat keberadaan sang Ayah.


"Ayah sudah berangkat pagi-pagi soalnya ada pertemuan dengan klien dari luar negri" jelas sang Bunda.


Semenjak Kai membantu sang Ayah untuk mengelola perusahan, Ayah Aditya tidak pernah sesibuk ini sampai-sampai berangkat sepagi ini. Jennie kembali merasa bersalah dengan sang Ayah.


' Seandainya Jennie melawan lebih keras malam itu semua tidak akan serumit ini ' tutur batinnya yang masih meras bersalah.


Bunda Maryam yang melihat wajah putrinya berubah langsung mengelus lembut tangannya, "Sudah sayang, berhenti menyalahkan diri !" pinta Bunda Maryam yang seolah tau perasaan Jennie.


Jennie tersenyum dan mengangguk, "Bunda Jennie mau makan udang krispi dong" ucapnya kembali ke mode manja.


Bunda Maryam segera mengambilkan lauk yang dipinta oleh sang putri, "makan yang banyak ya !" ucap Bunda Maryam mengelus pucuk kepala Jennie.


"Terima kasih Bunda" ucap Jennie berterima kasih kepada Bunda Maryam.


.


.


.


"Jen, hari ini kamu ada pemotretan ?" tanya Meli. Saat ini mereka berada di kantin kampus.


"Nggak ada" jawab Jennie singkat.


"Kita jalan ke Mall yuk !" ajak Meli segera berdiri dan menarik tangan Jennie.


"Aduh Mel, kita kan belum makan" protes Jennie yang masih ditarik oleh Meli.


"Udah, nanti kita makan di Mall aja !" balas Meli.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mereka sudah tiba di Mall tujuan mereka.


"Kita makan dulu atau shopping dulu ?" tanya Meli


"Makan dulu dong, aku udah lapar nih" jawab Jennie mengelus perutnya.

__ADS_1


*Deg*... ' semoga saja benihnya tidak tumbuh di rahimku ' doa Jennie dalam hati saat mengelus perutnya yang rata.


"Pengen makan apa ?" tanya Meli sambil mencari tempat makan yang bagus.


"Apa aja, yang penting makan" balsa Jennie.


"Makan junk food saja ya !" tawar Meli menaik turunkan alisnya.


"Hm..." entah mengapa Jenni tiba-tiba badmood saat mengingat kejadian itu lagi.


"Makan disana saja !" Tunjuk Meli lalu menarik tangan Jennie masuk ke salah satu restoran makan junk food yang dikenal sebagai KaEfCe.


"Kamu pesan apa ?" tanya Meli setelah mereka berhasil mendudukkan bokongnya.


"Burger Deluxe satu sama strawberry sundae satu" pesan Jennie.


"Ok kalau gitu aku pesan makanan yang sama aja".


Setelah menghabiskan makanannya akhirnya mereka memutuskan untuk berbelanja. Saat mereka sibuk memilih pakaian tiba-tiba saja seorang lelaki menyentuh lengan Jennie.


"Hai, boleh berkenalan Nona ?" tanya pria itu menarik tangan Jennie dan mengecupnya dengan lancang.


Tentu saja perlakuan pria itu membuat Jennie ketakutan, "jangan mendekat !" Teriak Jenni menatap pria itu dengan tatapan cemas.


Mendengar teriakan Jennie membuat Meli segera menghampiri temannya, "Jen, ada apa ?" tanya Meli melihat wajah temannya tampak pucat.


"Ku mohon jangan mendekat !" ucap Jennie menggelengkan kepalanya sambil menatap pria itu.


Meli mengikuti tatapan Jennie ke arah pria itu, "Apa yang kamu lakukan dengan teman saya ?" tanya Meli.


"Aku hanya mengajaknya berkenalan." Jawab pria itu santai. Memang Ia hanya mengajak Jennie berkenalan tapi entah mengapa rekasi wanita itu berlebihan.


"Jangan sentuh aku ! Jangan !" Teriak Jennie lagi membuat beberapa pengunjung menatap aneh ke arah Jennie.


Meli yang melihat situasi tidak baik segera merangkul temannya dan membawanya pergi. Meli merasa bingung dengan kelakuan Jennie yang menurutnya aneh.


'Ada apa dengannya ?' batin Meli bertanya-tanya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*

__ADS_1


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~


__ADS_2