Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Cemburu


__ADS_3

Kai dan ayah Aditya ikut duduk di meja makan bergabung dengan bunda Maryam dan Jennie.


"Loh kok nggak dimakan mangganya ?" tanya ayah Aditya heran saat melihat mangga itu masih itu, bukannya tadi putri angkatnya ini merengek karena ingin makan buah itu ?...


"Nggak, Jennie mau makan nasi goreng aja" jawab Jennie dengan santai.


"Apa katanya ? Dia hanya ingin makan nasi goreng, lalu kenapa menyuruhku memanjat pohon mangga pagi-pagi jika hanya untuk dipetik tapi tidak dimakan ?" gerutu Kai dalam hati. Ia merasa perjuangannya sia-sia saja. Tapi, Kai tidak bisa marah karena Jennie adalah wanitanya.


"Ya sudah, makanlah apa yang kamu inginkan !" ucap ayah Aditya.


Setelah semua makanan sudah tersedia di atas meja makan tiba-tiba saja Kai kembali merasakan mual saat mencium aroma nasi putih yang berada tepat dihadapannya. Pria itu segera menutup hidungnya dan berlari ke wastafel.


Ayah Aditya dan bunda Maryam dibuat khawatir saat melihat Kai tiba-tiba mual, sementara Jennie tampak cuek dan kembali menikmati nasi goreng buatan bibi Narti.


"Kamu kenapa sayang ?" tanya bunda Maryam menghampiri putranya yang masih menunduk di atas wastafel.


"Kai tidak tau Bund, dari pagi tadi Kai-" *BRUK...* Kai belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah ambruk membuat bunda Maryam panik.


"Kai... Kamu kenapa sayang ? Bangun Nak !" teriak bunda Maryam berusaha membangunkan putranya, "Yah, cepat bantuin !" perintah bunda Maryam.


Ayah Aditya yang juga panik segera membopong tubuh putranya, "apa kita bawa saja ke rumah sakit ?" tanya ayah Aditya yang mendapat anggukan oleh sang istri.


"Kak Kai kenapa ?" tanya Jennie saat melihat sang ayah membopong tubuh Kai. Meskipun wanita itu kecewa dengan Kai namun di hati kecilnya merasa khawatir saat melihat wajah pria itu tampak pucat.


"Nggak tau sayang, tadi tiba-tiba saja Kai pingsan" ucap bunda Maryam yang kini terisak.


"Mau ke rumah sakit ?" tanya Jennie.


"Iya, kita bawa Kai ke rumah sakit saja ! Kamu mau ikut ?"


Jennie segera mengangguk saat ditanya oleh sang ayah. Wanita itu berjalan beriringan dengan sang bunda dan terus mengusap punggungnya agar bunda Maryam bisa merasa sedikit tenang.


"Biar Jennie saja yang bawa mobil Yah !"


Wanita itu segera duduk di kursi kemudi dan bunda Maryam duduk di sebelahnya, sementara ayah Aditya duduk di belakang sambil memangku kepala putranya. Setelah perjalan dua puluh menit akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sakit swasta di kota ini, tak menunggu lama ayah Aditya segera membopong tubuh putranya dan membawa masuk ke UGD.


"Tolong putra saya Dok !" perintah ayah Aditya. Ia membaringkan tubuh Kai di atas brankar pasien.

__ADS_1


"Sebaiknya Tuan tunggu di luar saja !" perintah sang Dokter.


Ayah Aditya keluar dan duduk di depan UGD bersama sang istri yang kini terisak. Ia memeluk tubuh istrinya, wanita yang sangat Ia cintai, Ia merasa hatinya sakit jika melihat istrinya tercintanya mengeluarkan air mata kesedihan.


"Tenang sayang ! Putra kita pasti baik-baik saja" ujarnya berusaha menenangkan sang istri, sesekali Ia mengecup pucuk kepala bunda Maryam.


Sementara Jennie hanya diam membisu, Ia tidak tau kenapa dirinya mendadak cemas melihat keadaan kakaknya, kakak yang tega merenggut kesuciannya. Entah kemana perginya rasa benci itu saat melihat Kai tak berdaya, yang ada hanyalah rasa khawatir yang begitu besar.


"Jennie..." tegur seseorang membuat wanita yang dipanggil namanya itu melirik ke arah suara.


"Dokter Ricard" ucap Jennie.


"Kenapa kamu dan orang tuamu bisa berada disini ?" tanya Dokter Ricard penasaran siapa yang masuk rumah sakit sehingga mereka bisa berada di depan UGD, terlebih lagi saat melihat bunda Maryam menangis pikiran pria itu tiba-tiba tertuju dengan Kai.


"Kak Kai tiba-tiba pingsan saat kami sarapan" jawab Jennie yang menatap lurus ke arah pintu. Ia sangat berharap pintu itu segera terbuka dan bisa mengetahui keadaan sang kakak.


"Kai masuk rumah sakit ?" tanya Dokter Ricard kaget, "kenapa bisa ?"


"Jennie juga tidak tau, tiba-tiba saja Kak Kai mual dan pingsan" jelas Jennie.


"Tidak biasanya pria itu sakit" guman Dokter Ricard, Ia cukup heran mengapa Kai bisa masuk rumah sakit, biasanya juga jika sakit hanya diperiksa di rumah tapi kali ini kenapa bisa masuk RS ? apa penyakitnya terlalu parah ?...


Beberapa menit kemudian akhirnya pintu UGD terbuka, keempat orang yang sedang menunggu di luar itu serentak berdiri.


"Dok, bagaimana keadaan putra saya ?" tanya bunda Maryam mendekati sang dokter.


"Putra Nyonya hanya kelelahan saja..." ucap sang Dokter, "tapi apa boleh saya tanya ?" lanjut Dokter itu.


"Silahkan Dok !" ucap ayah Aditya.


"Sebelum pingsan apa gejala yang dialami putra Tuan ?" tanya sang Dokter.


"Tadi sebelum pingsan Ia sempat merasa mual saat berada di meja makan" jawab ayah Aditya.


"Apa setiap hari Ia mengalami hal tersebut ?" tanya sang Dokter sekali lagi.


"Tidak, ini pertama kalinya Dok" jawab ayah Aditya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, hanya itu yang ingin saya tanyakan... Silahkan jenguk putra Tuan dan Nyonya setelah dipindahkan di kamar rawat inap ! Kalau begitu saya permisi"


Sepeninggalan sang Dokter, Kai keluar dari UGD duduk di kursi roda dengan bantuan dorongan dari suster, tangan pria itu dipasangkan selang infus.


"Mari ikut saya Tuan, Nyonya !" ucap sang suster lalu berjalan sambil mendorong kursi roda menuju kamar inap tempat Kai.


Setelah sampai sang suster segera membantu Kai berdiri dan berbaring di atas brankar, melihat hal itu membuat hati Jennie terasa panas.


"Ck... Kenapa wanita itu memengang Kak Kai, padahal kan bisa aja itu pindah sendiri... Pasti wanita itu sedang caper... Kegatelan banget sih jadi cewek" umpat Jennie dalam hati.


"Kalau begitu saya permisi dulu !" pamit sang suster.


"Pergilah !" ucap Jennie ketus setelah suster itu berada di ambang pintu.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan ?" tanya bunda Maryam kepada Kai, "apa kamu merasa ada yang sakit di bagian tubuhmu ?"


"Nggak ada Bund, Kai sudah baik-baik saja" jelas Kai.


Pria itu menatap ke arah Jennie yang saat ini duduk di sofa bersama temannya. Tentu saja hatinya terbakar api cemburu melihat wanita yang Ia cinta duduk berdekatan dengan pria lain.


"Ck... Kenapa bajingan itu duduk di samping wanitaku ? ingin rasanya aku memukuli wajahnya yang terlihat songong itu" umpat Kai dalam hati. Ia tidak sudi melihat Jennie dan Dokter Ricard tampak akrab dan saling melempar senyum.


.


.


.


"Mengapa rivalku terlalu banyak ?" tanya Kai dalam hati


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~

__ADS_1


__ADS_2