
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu membuat kedua anak manusia yang sedang larut dalam percu**mbuan mereka segera tersadar. Kai melepas pagu**tan bibir yang mereka lakukan. Pria itu mengusap lembut bibir istrinya menggunakan jempol jari menghapus sisa sali**vanya.
"Jennie... Kai... Apa kalian mendengar Bunda ?" teriak Bunda Maryam dari luar kamar.
"Iya Bunda. Bunda tunggu di meja saja ! Sebentar lagi kita turun" sahut Kai.
"Mau lanjut ?" ucap Kai menggoda istrinya.
"Ck... Dasar mes*um" umpat Jennie kesal.
Kai hanya terkekeh melihat tingkah sang istri yang terlihat menggemaskan dengan wajah merahnya. Jika tak ingat istrinya belum memberikan lampu hijau untuk berc*inta maka pria itu sudah memangsa sang istri saat ini juga.
"Sudah baikan ?" tanya Ayah Aditya saat Kai dan Jennie sampai di meja makan.
"Memang siap yang marahan ?" tanya Kai yang pura-pura tidak tahu.
"Padahal semalam ada yang hampir nangis loh sampai-sampai ingin memonopoli istri Ayah" ejek Ayah Aditya.
Kai tidak menggubris ejekan sang Ayah. Yang paling penting baginya sekarang adalah sang istri sudah tidak marah lagi dengannya.
"Sayang, mas ingin ayam goreng dong !" pinta Kai begitu manja dengan Jennie.
"M-mas ?"
"Sejak kapan Jennie memanggilmu mas ?" tanya Bunda Maryam, wanita paru baya itu tersenyum senang karena ada peningkatan dalam hubungan Kai dan Jennie.
"Sejak hari ini" jawab Kai singkat, pria itu tidak peduli dengan wajah mengejek sang Ayah.
"Sayang, mas mau ayam goreng !" pinta Kai sekali lagi karena sang istri belum juga melayaninya.
"I-iya" jawab Jennie gugup. Wanita itu segera mengambil piring suaminya dan mengisi ayam goreng sesuai pinta sang suami.
"Ada lagi ?"
"Nggak ada, makasih ya sayang" ucap Kai setelah mengambil kembali piringnya. Senyum manis terus menghiasi wajah pria itu. Kai tampak makan begitu lahap karena sang istri melayaninya.
"Hahaha memangnya Ayah saja yang ingin pamer kemesraan" batin Kai tertawa.
"Bunda senang kalian baik-baik saja. Bunda berharap semoga hubungan kalian selalu semanis ini, semoga kalian selalu bahagia dan sehidup semati"
"Ya, semoga saja Bund, terima kasih sudah mendoakan yang terbaik untuk kami" balas Kai dengan tulus.
Mereka kembali fokus sarapan. Sesekali Kai meminta makanan kepada sang istri dan ajaibnya Jennie pun menuruti permintaan sang suami.
"Sayang, mas berangkat ya" pamit Kai saat sudah berada di teras rumah.
"Kenapa manggilnya haru mas sih ?" tanya Jennie. Pertanyaan ini sebenarnya sudah sedari tadi Ia tahan.
"Supaya lebih manis dan romantis sayang"
__ADS_1
"Tapi aku manggilnya agak gimana gitu" jawab Jennie.
"Nanti juga terbiasa sayang..." balas Kai mengelus lembut pucuk kepala istrinya. Pria itu kemudian menunduk dan mengecup perut datar istrinya, "Hai Baby, Daddy pamit dulu ya, kamu baik-baik di dalam perut Mommy dan jagan buat Mommy kesulitan ya" ucap Kai lembut.
Jennie lagi-lagi merasakan perasaan berdesir dalam hatinya ketika mendengar ucapan suaminya. Ada rasa hangat saat sang suami mengecup dan mengelus lembut perutnya.
"Mas berangkat ya !" ucap Kai sekali lagi. Pria itu mengecup kening istrinya sebelum berangkat kerja.
Setelah mobil sang suami tak terlihat lagi, Jennie segera masuk rumah. Saat melewati ruang tengah sang Bunda memanggilnya untuk duduk sebentar.
"Sayang kemarilah !"
"Ada apa Bun ?" tanya Jennie ketika sudah duduk di samping Bunda Maryam.
"Semalam bagaimana acara pertunangan Joshua ?"
"Ramai Bun. Tapi Jennie nggak nunggu sampai acara inti"
"Loh kenapa ?"
"Nggak apa-apa Bun. Semalam Jennie tiba-tiba nggak enak badan" jawab Jennie bohong.
Bunda Maryam tersenyum lembut lalu mengelus pundak menantunya, "sejak kapan putri Bunda jadi tertutup seperti ini ?"
Jennie terdiam. Wanita itu bukannya tidak ingin terbuka tapi Ia merasa tidak enak membicarakan suaminya kepada Bunda Maryam.
"Ingat sayang, kamu tetap putri Bunda. Jika ada masalah coba cerita dengan Bunda agar tidak mengganjal di hati kamu Nak ! Bunda tidak akan membela Kai jika dirinya salah. Bukannya Bunda ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, Bunda hanya ingin kamu tetap menjadi Jennie yang seperti dulu."
"Maafkan Jennie Bunda"
Jennie pun membalas pelukan mertuanya dengan erat. Setelah pernikahannya dengan Kai, wanita itu sudah jarang merasakan pelukan hangat sang Bunda. Biasanya wanita itu akan selalu bergelayut manja dengan sang Bunda.
"Mau jalan-jalan berdua dengan Bunda ?"
"Mau" jawab Jennie dengan semangat.
"Ya sudah, kamu siap-siap dulu ! Bunda juga siap-siap"
Jennie mengangguk dan segera menaiki anak tangga. Wanita itu segera mandi lalu bersiap-siap. Setelah satu jam, Jennie sudah lengkap. Wanita itu kemudian turun menunggu sang Bunda.
"Loh mau kemana sayang ?" tanya Ayah Aditya saat melihat Jennie sudah rapih.
"Mau jalan-jalan bareng Bunda"
"Nggak ngajak Ayah ?" goda sang Ayah.
"Nggak. Ini hanya urusan wanita saja" celetuk Bunda Maryam saat tiba di ruang tengah.
"Kirain Ayah diajak" canda Ayah Aditya.
"Ayah dirumah aja ya !" ucap Jennie terkekeh.
__ADS_1
.
.
.
Saat Ini Kai sedang mengamati proposal pembangunan hotel yang diajukan oleh sebuah perusahaan properti yang cukup besar di kota Jakarta. Pria itu begitu fokus membaca setiap kata dan setiap point yang ada dalam proposal.
"Jhon, akhir pekan atur jadwal pertemuan dengan PT. Bum* Alam !"
"Baik Tuan !" jawab Jhon.
"Keluarlah !" perintah Kai.
Setelah Jhon keluar, pria itu mengambil handphone miliknya. Rasanya Ia begitu merindukan sang istri. Pria itu membuka kontak sang istri di aplikasi W-A. Ia menekan fitur video call.
"Kenapa tidak diangkat ?" guman Kai saat dirinya sudah menelpon sang istri tiga kali namun tak ada jawaban.
"Apa Ia sedang tidur ?" lanjutnya bertanya pada diri sendiri.
Kai kembali menghubungi istrinya hingga berkali-kali. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Kai yang merasa khawatir akhirnya mencoba menghubungi sang Bunda. Namun hasilnya sama saja, tak ada jawaban.
"Ada apa dengan mereka ? Kenapa begitu kompak tidak mengangkat telpon dariku ?"
Tak ada jalan lagi selain menghubungi sang Ayah.
"Ayah, apa Ayah di rumah ?" tanya Kai saat telpon tersambung.
"Hm, ada apa ? Apa ada masalah ?"
"Ada, masalahnya sangat besar" ucap Kai membuat Ayah Aditya cemas.
"Ada masalah apa Nak ?" tanya Ayah Aditya penasaran.
"Istriku dimana ? Kenapa teleponku tak diangkat ? Bunda juga nggak mau menjawab teleponku, apa mereka ada di rumah dan baik-baik saja ?" pertanyaan beruntun dari Kai.
"Ck... Dasar anak nakal. Kamu hampir saja membuat jantung Ayah copot"
"Ayah jawab pertanyaan Kai !"
"Mereka sedang keluar jalan-jalan. Sudah Ah, gangguin Ayah sedang bersantai saja"
Panggilan kemudian terputus. Kai mengusap wajahnya kasar. Tenyata istrinya sedang dimonopoli oleh sang Bunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers 👋 maaf ya telat Update 🙏
Ini Sa kembali rekomendasikan novel bagus buat kalian🤗
__ADS_1
Judul : Menjadi Madu Sahabatku
Napen : Ayu Andila