
Jennie membanting pintu mobil saat Ia berhasil turun dari mobil. Kai yang masih di dalam mobil hanya bisa mengelus dada.
"Ya Tuhan, kenapa dia harus marah dengan mobilku juga" ucapnya sebelum turun dan mengejar sang istri.
Jennie masuk rumah sambil terisak. Wanita itu tidak tau mengapa air matanya ingin keluar terus. Dan juga perasaan aneh di hatinya membuatnya semakin bingung. Hatinya terluka saat mengetahui suaminya memiliki kekasih dan bahkan mereka sempat tinggal bersama. Pikirannya jauh melayang ke arah negatif, bagaimana tidak berpikir negatif jika memang faktanya Kai pernah memperkosanya padahal jelas-jelas pria itu tahu jika mereka saudara meskipun hanya saudara angkat. Jika dirinya saja pernah ditiduri bagaimana dengan wanita tadi ?... Pikiran itulah yang membuatnya semakin merasa terluka.
"Untuk apa juga aku marah dengannya ?" gumannya.
"Sayang... Tunggu dulu ! Kamu belum mendengar penjelasaku !" teriak Kai berusaha mengejar istrinya.
Jennie yang melihat suaminya semakin dekat akhirnya memilih masuk ke kamarnya. Wanita itu segera mengunci pintu dan berjalan ke arah ranjang. Sementara Kai yang berada di luar terus-menerus mengetuk pintu dan memanggil sang istri.
"Sayang, aku mohon buka pintunya ! Kamu harus mendengar penjelasan ku agar tidak ada kesalahpahaman lagi !" teriak Kai namun tak digubris oleh Jennie. Wanita itu justru semakin terisak di dalam kamarnya.
"Ck... Mengapa aku merasa sakit hati? Bukankah aku tidak mencintainya ? Lalu mengapa harus cemburu ?" Jenne bermonolog dengan batinnya.
Kai yang masih berada di depan kamar sang istri hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Belum juga dapat lampu hijau sudah ada masalah seperti ini. Bagaimana bisa buat istrinya jatuh cinta jika sudah terjadi kesalahpahaman seperti ini. Cintanya benar-benar diuji.
Bunda Maryam yang sebelumnya sudah berbaring dalam kamarnya bersama sang suami terpaksa keluar karena mendengar teriakan putranya.
"Kai, kamu kok sudah pulang Nak ?" tanya Bunda Maryam kebingungan. Baru juga sejam lebih mereka pergi, kenapa sudah pulang.
Kai tidak menjawab. Pria itu justru duduk dan bersandar di pintu kamar istrinya. Ia memijit pangkal hidungnya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar.
Bunda Maryam yang bisa melihat kekacauan putranya segera mendekat dan bertanya,
"Ada apa ? Apa kamu punya masalah dengan istrimu ?"
Kai mengangguk pelan.
"Masalah apa ? Apa masalahnya serius ?"
"Hanya salah paham Bunda" jawab Kai.
"Jika terjadi salah paham mengapa tidak diluruskan ? Jangan buat kesalahpahaman itu berlarut-larut ! nanti masalah yang tadinya kecil bisa menjadi besar" ucap Bunda Maryam.
"Bagaimana bisa diluruskan jika Jennie saja tidak ingin mendengar penjelasan dari Kai" jawab Kai dengan nada lemah.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu berikan ruang untuknya ! Kamu istirahat saja, besok pagi kamu coba bicara baik-baik dengannya"
"Tapi Kai tidak bisa tidur secara berpisah dengan Jennie, Bund. Kai sudah terbiasa dan nyaman sekamar dengannya" jawab Kai.
"Coba peluk guling saja malam ini ! Maaf ya, Ayah ingin membawa istri Ayah kembali masuk kamar. Kamu istirahat sana !" celetuk Ayah Aditya yang tiba-tiba datang dan menarik tangan istrinya.
"Yah, Kai belum selesai curhat" teriak Kai kesal.
"Laki-laki kok curhat. Baru juga masalah segitu sudah koar-koar, bagaimana jika muncul masalah yang lebih besar ?" balas Ayah Aditya tak kalah kesalnya. Tentu saja Ia merasa kesal, suami mana yang tidak kesal jika tiba-tiba istrinya meninggalkan dalam kamar hanya karena sang putra dan istrinya sedang bermasalah.
Kai hanya bisa berdecak kesal melihat kedua orang tuanya menghilang di balik pintu kamar.
.
.
Pukul 3 dini hari, Jennie membuka pintu kamarnya dan berjalan menaiki anak tangga. Mata wanita itu masih sembab dan sisa-sisa air mata masih membasahi pipinya, bahkan wanita itu masih sesegukan. Jennie membuka pintu kamar milik suaminya, kamar yang telah resmi menjadi kamar mereka setelah menikah.
"Bukannya bujukin istri yang ngambek malah tidur nyenyak disini" gerutu Jennie saat mendapati suaminya sedang tidur nyenyak dengan dengkuran keras. Jennie yang kesal segera mengambil bantal lalu menutup wajah suaminya. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi memunggungi sang suami. Kai yang mulai kehabisan oksigen segera terbangun.
"Huft..." pria itu terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal. Kai tampak menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dadanya naik turun berusaha mengatur nafas.
"Sayang..."
Kai tersenyum sumringah saat melihat ternyata istrinya kembali ke kamar mereka. Tanpa aba-aba pria itu mendekat dan memeluk erat tubuh sang istri. Jennie yang dipeluk merasakan sebuah getaran dan kehangatan di hatinya, lagi-lagi Ia merasa bingung dengan perasaannya.
"Sayang, kamu sudah tidak marah lagi ?" tanya Kai penuh harap.
"Masih, bahkan lebih marah dari sebelumnya" jawab Jennie ketus. Wanita itu berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Apa ? Kamu masih marah denganku ? Bahkan lebih parah ?" tanya Kai dan dibalas anggukan kepala oleh Jennie.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Ini hanya salah paham saja dan kamu harus mendengar penjelasan ku !" lanjut Kai.
"Kenapa baru sekarang mau dijelaskan ? Tadi kan bisa" balas Jennie ketus.
Kai melepaskan pelukannya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Pria menghela nafas panjang, Ia menatap sang istri yang tampak menunggu penjelas darinya.
__ADS_1
"Maaf, tadi mas mau jelaskan tapi kamu sendiri yang menutup pintu kamar"
"Oh jadi maksudnya aku yang salah gitu ?" tanya Jennie mulai emosi.
"Enggak, bukan seperti itu sayang, maksudku..."
"Seharusnya kamu sadar, kamu yang buat masalah jadi kamu yang salah. Dan harusnya jadi suami itu wajib sewajib-wajibnya peka terhadap istri yang sedang marah. Jika Jennie marah harusnya tuh kamu sebagai suami cari cara untuk membujukku dan berusaha agar aku berhenti marah !" potong Jennie.
"Iya-iya, aku salah dan aku minta maaf" ucap Kai pasrah.
"Sekarang jelaskan mengapa bisa wanita itu datang memelukmu dan mengatakan kalian pacara !"
Kai tersenyum senang karena sang istri akhirnya ingin mendengar penjelasan darinya, Ia berharap Jennie bisa percaya dan mereka bisa berbaikan lagi.
.
.
.
"Kamu benar-benar tidak kapok ya Daddy usir dari rumah" ucap sang Daddy kepada Valen.
"Memangnya kenapa ? Daddy ingin mengusir Valen lagi ? Jika mau maka dengan senang hati Valen angkat kaki dari rumah Daddy" jawab Valen. Memang Ia sekarang lebih senang hidup bebas meskipun Ia harus banting tulang dan hidup sederhana.
"Kamu..." Sang Daddy tampak mengangkat tangannya hendak mendaratkan tamparan di wajah putrinya.
"Kenapa tidak dilanjutkan ? Silahkan tampar Valen ! Daddy pikir Valen takut diusir dari rumah ini ? Daddy salah besar, Valen justru lebih senang karena Daddy tidak bisa mengatur dan mengekang Valen" lanjut Valen menantang sang Daddy untuk menamparnya.
"Om, sebaiknya percepat pernikahan kami !" celetuk Tuan Sean. Valen mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Tuan Sean.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haloha👋 Sambil nungguin novel ini Up yuk mampir di novel karya terman Sa 🤗
Judul : Puisi Cinta Topeng Cinderella
__ADS_1
Napen : Ingflora