
Jennie yang merasa cemas dan ketakutan saat melihat Kai tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Meli yang melihat temannya pingsan dibuat khawatir.
"Jen... Bangun !" ucap Meli menepuk-nepuk wajah Jennie.
Sementara Kai segera mendekati sang adik dan segera mengangkat tubuh Jennie masuk ke mobil. Tentu saja Ia panik melihat Jennie tak sadarkan diri, tiba-tiba saja hatinya dipenuhi rasa bersalah sekaligus rasa cemas melihat wanita yang Ia benci tak sadarkan diri.
"Meli coba kamu hubungi asisten Jhon untuk menjemput kita dan membawa Jennie ke rumah sakit !" pinta Kai sambil menepuk halus wajah Jennie, "Jennie bangun ! Aku mohon kau bangun sekarang !" ucap Kai dengan suara pelan.
'Maafkan aku ! Aku menyesal dan Aku harap kamu tidak membenciku begitu dalam' tutur batin Kai yang kini merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti wanita yang menjadi adiknya itu.
Kai menatap wajah Jennie dengan tatapan yang begitu dalam, wanita yang berhasil bertahta di hatinya, wanita pertama yang mampu membuat hatinya bergetar, wanita pertama yang membuatnya bisa merasa cemburu dan marah jika ada pria yang mendekatinya. Dengan penuh kesadaran Kai mengecup tangan Jennie dengan lembut, Ia kembali merasakan sebuah getaran hebat dalam dadanya.
Sementara Meli yang melihat Kai yang tampak menyangi sang adik merasa heran, 'Bukannya Jennie mengatakan jika Kakaknya tidak menyukainya dan membenci keberadaannya ? Lalu apa ini Miska ? Ck... Jennie memang ada-ada saja, mana mungkin seorang kakak membenci adiknya?' Meli tak mau ambil pusing akhirnya berjalan menghampiri Raffa.
"Apa kamu teman kak Kai ?" tanya Meli kepada Raffa.
Raffa tak menggubris pertanyaan Meli Ia hanya melirik sekilas ke arah wanita itu.
"Apa kamu bisu ?" tanya Meli kesal karena tidak digubris oleh Raffa. Tapi lagi-lagi Raffa hanya diam.
'Ck... Sombong sekali sih, kalau dilihat-lihat pria ini bukan orang dari kelas atas. Lalu kenapa bisa berteman dengan Kakaknya Jennie ? Dan juga mengapa penampilan kak Kai tampak seperti orang biasa saja ?' kini batin Meli dipenuhi banyak pertanyaan tentang Jennie dan Kai, serta tentang Kai yang berteman dengan orang seperti Raffa yang menurutnya tidak sekelas dengan Kai.
Setelah menunggu dua puluh menit akhirnya asisten Jhon tiba di tempat. Kai yang melihat kedatangan asistennya segera mengangkat tubuh Jennie memindahkannya ke mobil asisten Jhon.
"Tuan... Anda-" asisten Jhon yang melihat keberadaan atasannya tampak terkejut, Ia ingin bertanya namun kalimatnya diputus oleh Kai.
"Jangan bertanya dulu ! Cepat buka pintunya dan antar kami ke rumah sakit terdekat !" titah Kai berteriak.
Asisten Jhon segera membuka pintu mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya. Meli segera naik dan duduk di kursi penumpang bagian depan tepat di samping asisten Jhon.
"Tunggu dulu !" perintah Kai, Ia menatap Raffa yang masih berdiri di pinggir jalan, "kenapa masih diam di situ ? Ayo cepat naik !" lanjutnya mengajak Raffa masuk kedalam mobil.
"Tapi motorku ?" tanya Raffa bingung.
"Tinggalkan saja !" Perintah Kai dengan enteng.
"Tidak bisa seperti itu, bagimana -" Raffa belum menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja asisten Jhon turun dan menariknya masuk ke mobil.
__ADS_1
"Apa-apaan ini ?" protes Raffa saat di paksa duduk di kursi depan dengan Meli.
"Asisten Jhon kenapa mambawa pria ini duduk berdempetan denganku ? Kan dia bisa duduk di belakang" protes Meli.
"Diamlah !" Tegur Kai membuat mulut Meli bungkam, "cepat jalankan mobilnya !" lanjutnya memerintah.
.
.
.
Sesampai di rumah sakit Jennie segera dibawa masuk ke UGD.
Sementara Kai dan yang lainnya menunggu di luar. Raffa yang masih bingung dengan jati diri Kai yang sebenarnya berusaha menahan diri agar tidak bertanya karena menurutnya ini bukanlah waktu yang tepat.
Tak berselang lama Ayah Aditya datang bersama dengan Bunda Maryam. Kai yang melihat kedatangan kedua orang tuanya tentu saja merasa terkejut, Ia lalu menatap asisten Jhon yang tampak menunduk.
"Dimana Jennie ?" tanya Ayah Aditya menghampiri asisten Jhon.
Kai dapat melihat wajah kedua orang tuanya yang khawatir dengan keadaan Jennie. Ini yang kadang membuat Kai merasa iri dengan Jennie wanita yang berhasil mengalihkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.
Wanita paruh baya itu berjalan ke arah putranya dan segera memeluk tubuhnya, Bunda Maryam menangis karena bahagia bisa bertemu dengan putranya dan juga menangis karena merasa sedih putrinya kembali drop.
"Bunda merindukanmu" ucap Bunda Maryam di sela tangisannya.
Kai yang juga merindukan sang Bunda ikut mebalas pelukan Bunda Maryam, pelukan yang sangat jarang Ia rasakan, pelukan hangat yang selalu Ia rindukan.
"Apa yang kamu lakukan pada adikmu ?" tanya Ayah Aditya menatap tajam putranya.
"Kai tidak melakukan apa-apa" jawab Kai jujur.
"Jangan mencoba membohongi Ayah !" ucap Ayah Aditya dengan tegas.
"Aku tidak berbohong Ayah, jika Ayah masih tidak percaya silahkan tanya kepada mereka !" balas Kai menunjuk ketiga orang yang sedang duduk di kursi rumah sakit.
"Tetap saja adikmu pasti drop karena merasa takut saat melihat mu" ucap Ayah Aditya masih terua menyalahkan Kai, "adikmu pasti merasa trauma saat melihat wajah bejatmu" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kenapa Ayah selalu menyalahkan Kai ?" tanya Kai kesal dan tidak terima jika sang Ayah terus menyalahkannya.
"Tentu saja Ayah menyalahkanmu karena semua berawal saat kamu melakukan hal bejat kepada adikmu sendiri".
Bunda Maryam yang merasa keadaan semakin tidak membaik segera membuka suara.
"Berhentilah! Ayah, Bunda mohon berhenti menyalahkan Kai ! Sebaiknya kita doakan putri kita agar bisa sadar secepatnya !" lanjut Bunda Maryam. Jika Bunda Maryam yang angkat bicara maka Ayah Aditya akan menurut dengannya.
"Sebaiknya kalian betiga pulang !" perintah Kai, "Jhon kau antar mereka pulang !" lanjutnya.
Setelah asisten Jhon, Meli dan Raffa pergi, Kai kembali membuka suara. Rasanya Ia sudah tidak bisa menahan semua yang Ia pendam selama ini.
"Mau sampai kapan Ayah dan Bunda menyembunyikan ini ?" tanya Kai dengan suara datar.
"Apa maksudmu Nak ?" tanya Bunda Maryam bingung dengan pertanyaan Kai.
"Berhentilah menyembunyikan identitas Jennie !" lanjut Kai menatap tajam Ayah Aditya dan Bunda Maryam bergantian.
Mendengar ucapan Kai membuat tubuh Bunda Maryam mendadak tegang. Sementara Ayah Aditya tampak biasa saja, lebih tepatnya berusah untuk bersikap biasa saja.
"Sekarang Kai tanya, apa salah jika Kai meniduri Jennie ?" ucap Kai bertanya.
"Tentu saja salah" jawab Ayah Aditya menahan amarahnya.
"Dimana letak kesalahannya ?" tanya Kai lagi.
Ia sangat berharap kedua orang tuanya berkata jujur sekarang.
"Dia adikmu Kai" jawab Ayah dengan tegas mengatakan jika Jennie adalah adiknya.
"Bohong, Ayah dan Bunda bohong" Kai menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan ucapan sang Ayah.
"Jennie bukan adik kandung Kai" lanjut Kai membuat Ayah Aditya menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~