
"sekarang katakan padaku ! Apa kamu cemburu dengan wanita yang ada dalam foto itu ?" tanya Kai semakin menggoda istrinya.
"Tidak !" jawab Jennie dengan cepat. Wanita itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena merasa malu. Ia terus membuang wajah ke arah lain.
"Jika tidak cemburu, coba bilang sambil tatap mata mas !" ucap Kai mengarahkan tatapan istrinya ke wajahnya. Saat tatapan keduanya bertemu dengan cepat Jennie menundukkan kepala. Kai yang melihat istrinya tertunduk kembali menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Coba katakan dengan lantang jika kamu tidak cemburu !" bisik Kai di telinga Jennie.
Jennie yang merasakan hembusan nafas suaminya menyapa kulitnya semakin gugup. Jantung wanita itu berdetak semakin kencang.
"Ya Tuhan... Ada apa dengan jantungku ini ? Mengapa makin lama rasanya ingin meledak ?" teriak batinnya frustasi.
"Tatap mataku dan katakan kamu tidak cemburu !" pinta Kai sekali lagi.
Lagi-lagi Jennie hanya bisa terdiam. Mulut wanita itu seakan terkunci, Ia tidak berani mengatakan jika dirinya tidak cemburu karena memang pada kenyataannya wanita itu merasa kesal dan sedih mendengar jika wanita itu memiliki posisi yang penting bagi Kai.
"Kamu tidak bisa menjawab maka aku anggap kamu memang cemburu"
Kai membawa Jennie masuk dalam pelukannya. Ia menghirup dalam-dalam wangi dari rambut Jennie. Wanginya begitu manis sehingga membuatnya kecanduan.
"Apa sulitnya mengakui perasaanmu yang sedang terbakar api cemburu itu ? Kan tinggal bilang,,, iya mas aku cemburu dengannya. Mudah bukan ?" pancing Kai sekali lagi.
Jennie yang merasa muak terus-terusan digoda oleh suaminya segera menjauhkan tubuhnya dari pelukan sang suami.
"Iya-iya... Aku memang cemburu, sekarang mas sudah tau kan jika aku cemburu. Jadi tolong turunkan foto itu !" teriaknya kesal sambil menunjuk ke arah foto tersebut.
Kai semakin terkekeh mendengar jawaban istrinya. Ia begitu puas melihat kekesalan sang istri saat mengakui perasaannya. Pria itu menghentikan tawanya saat melihat tatapan tajam istrinya. Tanpa banyak bicara, Kai menarik tubuh istrinya dan membawa tubuh Jennie duduk di atas pangkuannya. Sementara Jennie kembali merasa jantungnya berdebar kencang karena perlakuan Kai.
"Sekarang tatap mataku !" perintah Kai. Tangannya merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah sang istri.
Jennie menurut meskipun jantungnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saat kedua matanya bertemu dengan mata milik Kai, wanita itu hendak menunduk namun dengan cepat Kai menahan dagu sang istri.
"Jika kamu cemburu itu artinya kamu sudah mencintaiku, apa tebakanku benar ?" tanya Kai dengan lembut.
__ADS_1
Refleks Jennie menganggukkan membuat Kai tersenyum lebar. Namun sedetik kemudian Jennie menggelengkan kepalanya, Ia sadar jika dirinya baru saja mengakui perasaannya.
"Berhentilah membohongi perasaanmu lagi ! Sampai kapan kamu terus berpura-pura dan mengabaikan perasanku ?" ucap Kai serius.
"Kamu harus tahu, aku begitu mencintaimu bahkan jauh sebelum kamu tahu perasanku. Delapan tahun aku menyimpan perasaan cinta ini untuk kamu. Apa kamu ingat ketika aku mengatakan aku mencintaimu enam tahun yang lalu ?" Jennie mengangguk pelan, "Itu bukan bualan semata, itu memang perasaan yang nyata. Aku begitu sakit hati saat kamu menolak ku dengan terang-terangan. Dan membencimu adalah cara agar aku bisa membuang perasaanku namun pada kenyataannya rasa itu semakin tumbuh dan bermekaran."
Jennie tertegun saat mendengar ungkapan perasaan suaminya. Ia tidak menyangka jika Kai sudah begitu lama menyimpan perasaan padanya. Ada rasa terharu dan perasaan beruntung karena Kai telah mencintainya begitu lama.
"Aku tidak akan memaksamu mengakui perasaanmu padaku. Tapi aku mohon jika kamu mencintaiku jangan pernah mencoba membohongi perasaanku !" lanjut pria itu kemudian memeluk erat tubuh istrinya.
Jennie membalas pelukan suaminya. Tidak ada alasan lagi wanita itu menyembunyikan perasaannya.
"Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku juga mencintaimu," ungkap Jennie dengan jujur, "aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Yang jelasnya aku tidak suka jika kamu melirik atau memuji wanita lain" lanjutnya.
Kai yang mendengar ungkapan perasaan istrinya tersenyum bahagia. Akhirnya perasannya terbalaskan. Setelah penantian delapan tahun lamanya Ia bisa mendengar jawaban cinta dari wanitanya.
Mereka melepaskan pelukannya. Jennie menatap suaminya yang tampak bahagia. Tiba-tiba saja wanita itu kembali kesal saat mengingat foto wanita itu.
"Sekarang jelaskan siapa wanita dalam foto itu !" Pinta Jennie dengan ketus.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu saat melihat foto itu ?"
"Aku merasa kesal karena dia memiliki posisi penting dalam hatimu"
Lagi-lagi jawaban Jennie membuat Kai terkekeh. Sungguh Ia baru tahu jika istrinya ternyata begitu bodoh. Karena begitu gemas dengan sang istri Kai memberi sebuah sentilan manja di kening istrinya.
"Bodoh ! Bukan itu maksudku" ucap Kai setelah menyentil kening Jennie. Tentu saja wanita itu mengadu kesakitan.
"Maksudku, apa kamu tidak merasakan suatu yang berbeda saat menatap wajah dalam foto itu ?"
Jennie mencoba turun dari pangkuan suami dan menatap lekat wajah dalam foto tersebut. Wajah cantik yang terlihat teduh itu nampak tidak asing baginya. Ada perasaan tenang dalam hati Jennie saat memandang foto itu. Dan Ia semakin bingung ketika merasakan ada perasaan sedih yang mengganjal dalam hatinya.
"Dia adalah ibumu"
__ADS_1
*Deg*
Jennie membeku saat mendengar ucapan suaminya. Jadi wanita itu adalah ibunya ? Mata Jennie terasa panas dan tanpa bisa Ia tahan air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya. Kai yang menyadari istrinya menangis segera menghapus air mata Jennie.
"Kita ke kamar ! Disana ada banyak foto Bunda Desi dan Ayah Bram" ajak Kai.
"Ja-jadi nama mereka Bunda Desi dan Ayah Bram ?" tanya Jennie terbata.
Jangankan wajah mereka, bahkan namanya saja Jennie tidak tahu. Jennie semakin terisak karena merasa sedih. Sementara Kai hanya bisa membiarkan sang istri menumpahkan kesedihannya. Pria itu mengangkat tubuh istrinya dan berjalan menuju kamar mereka. Kai mendudukkan istrinya di sofa lalu berjalan mengambil beberapa album foto.
Jennie mengambil satu album dengan tangan gemetar. Wanita itu membuka dengan pelan. Foto pertama yang Ia lihat dalam album itu adalah foto pernikahan kedua orang tuanya. Jennie dapat melihat wajah bahagia yang terpancar di wajah mereka. Dengan perlahan tangannya terulur dan meraba foto kedua orang tuanya seolah sedang meraba wajah mereka. Di sela tangisannya Jennie menunjukkan sebuah senyum. Wanita itu tidak menyangka jika Bunda Desi memiliki paras yang begitu cantik, dan Ayah Bram memiliki paras tampan.
"Cantik dan tampan bukan ?" tanya Kai dan Jennie menjawab dengan anggukan.
"Sama seperti kita. Cantik dan tampan" lanjut Kai berusaha menghibur istrinya.
Jennie kembali membuka lembaran album tersebut. Lembaran demi lembaran membuat Jennie semakin sedih melihat wajah kedua orang tuanya. Ada rasa rindu dan marah karena mereka meninggalkan Jennie sendirian.
"Sekarang buka yang ini !" ucap Kai menyodorkan satu album lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya setelah sekian lama kapal mereka bisa berlayar 🥰😂
.
.
Hai👋 Sambil nunggu novel ini Up, yuk mampir di novel karya kakak Sa🤗❤️
Judul : Keikhlasan Hati Seorang Istri
__ADS_1
Napen : Mphoon