
"Wah jadi maksudnya Jennie hanya anak pungut pak Direktur ?" teriak seorang pegawai.
Tentu saja ucapan orang itu menyakiti perasaan Jennie. Bunda Maryam kembali mengeratkan pelukannya untuk menguatkan sang putri. Ayah Aditya menatap ke arah pegawai tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dia bukan anak pungut, Dia anak angkat kami. Jadi cerdaslah dalam membedakan sesuatu !" ucap Ayah Aditya dengan nada dingin membuat karyawan tadi mendadak cemas.
"Bodoh ! Kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku" guman karyawan tersebut yang kini berkeringat dingin.
Sementara Kai memberikan kode kepada asisten Jhon agar memberikan hadiah kepada karyawan tersebut setelah acar konferensi pers selesai.
"Jennie adalah putri dari sahabat saya yang meninggal akibat kecelakaan bersama dengan istrinya. Beruntung saat itu Jennie bisa selamat dan kami memutuskan untuk merawatnya. Kehadiran Jennie sungguh membuat keluarga kami sangat bahagia dan merasa lengkap. Namun kebahagiaan kami tak bertahan lama setelah mengetahui putri kami mengidap gagal jantung. Kami merasa sedih dan ketakutan tapi syukurlah Jennie mendapatkan donor jantung sehingga Ia bisa hidup sehat kembali." jelas Ayah Aditya yang kini tak bisa menahan air matanya.
Penjelasan Ayah Aditya membuat semua orang yang berada dalam ruangan tersebut merasa iba dengan Jennie, terlebih lagi saat melihat Ayah Aditya menangis di depan umum untuk yang pertama kalinya. Mereka bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari wajah atasannya itu.
"Meskipun kami bukan orang tua kandungnya tapi Jennie adalah putri kami yang paling berharga, kami sangat menyayanginya. Jadi jika ada yang berani menyakiti putri kami maka Ia akan menerima akibatnya !" ucap Ayah Aditya dengan tegas.
"Satu lagi berita yang ingin saya sampaikan. Perusahan ini akan saya wariskan kepada putra saya Kaindra Akhdan Aditya secara resmi setelah pernikahannya Minggu depan. Mungkin itulah berita yang ingin saya sampaikan, sekian dan terima makasih !"
Ayah Aditya kembali menggenggam tangan putrinya yang masih dalam pelukan sang istri.
"Tenang Nak ! Semua akan baik-baik saja !" bisik Ayah Aditya.
Sepeninggalan keluarga Aditya dari ruangan tersebut, semua orang kembali heboh dengan berita Kai akan menikah. Berbagai pertanyaan keluar dari mulut para karyawan dan report. Mereka penasaran siapa gadis beruntung yang akan menjadi menantu keluarga Aditya.
🌹🌹🌹
Kabar tentang Jennie bukanlah putri kandung dari pasangan pengusaha terkenal Aditya dan Maryam kini tersebar luas. Tentu saja berita ini menggemparkan di dunia bisnis dan permodelan. Berbagai tanggapan orang-orang mengenai pemberitaan ini, ada yang merasa iba dengan Jennie karena Ia anak yatim piatu, ada yang mencemooh Jennie karena hanya anak pungut, ada yang merasa Jennie beruntung karena menjadi putri angkat dari keluarga Aditya.
Ketiga teman Kai tak kalah terkejutnya dengan fakta mengenai Jennie. Terlebih lagi berita tentang Kai yang akan menikah dalam waktu yang dekat. Memang semenjak kejadian Kai diusir dari rumah utama keluarga Aditya, mereka tidak pernah berkumpul lagi.
"Coba tebak ! Siapa wanita yang akan menikah dengan Kai ?" ucap Riko.
__ADS_1
Saat ini Riko sedang berada di perusahaan milik Joshua.
"Yang jelas tidak mungkin Arumi" jawab Joshua dengan yakin.
"Mengapa tidak mungkin ?" tanya Riko.
"Tentu saja wanita itu tidak mungkin menjadi menantu keluarga Aditya. Alasannya adalah... Yang pertama, kedua orang tua Kai tidak pernah merestui hubungan mereka. Yang kedua, Kai sudah tau jika selama ini wanita itu sudah bermain gila di belakangnya" jelas Joshua.
"Jadi pria bodoh itu akhirnya tau permainan licik dari ****** itu ?"
Joshua menganggap sebagai jawaban dari pertanyaan Riko. Keduanya kembali terdiam memikirkan siapa wanita yang akan bersanding dengan Kai.
"Apa jangan-jangan..." ucap mereka serempak.
Riko dan Jhosua saling melempar pandangan. Sepertinya mereka mempunyai pemikiran yang sama.
Sementara Dokter Ricard kini tak fokus bekerja karena kepikiran dengan Jennie dan Kai. Ia sangat yakin jika mereka akan dinikahkan. Apalagi mengingat perkataan salah satu Dokter kandungan di rumah sakit tempat Ia bekerja mengatakan jika Jennie sedang hamil.
Sakin asiknya melamun, Dokter Ricard sampai tidak sadar jika seorang Dokter wanita sedang berdiri di depannya.
"Maaf Dokter Ricard, apa Dokter bisa mendengar suaraku ?" ucap Dokter wanita itu melambaikan tangan namun Dokter Ricard belum sadar dengan kehadirannya.
"Ck... Mengapa aku jadi seperti berbicara dengan patung ?" guman Dokter Siska kesal karena tak mendapat respon oleh Dokter Ricard.
🌹🌹🌹
Tiga hari kemudian, undangan pernikahan Kai dan Jennie kini tersebar. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat undangan pernikahan dari keluarga Aditya.
Tuan Sean yang mendapat undangan dibuat terkejut saat membaca nama mempelai wanita yang akan bersanding dengan Kai.
"Apa ?" Pekik Tuan Sean tak percaya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin mereka menikah ? Mereka kan saudara, ya meskipun kenyataannya hanya saudara angkat tapi bagaimana mungkin status saudara berubah jadi status pasangan suami-istri ? Ini sungguh konyol"
Tuan Sean tak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Ia tidak terima wanita yang selama ini Ia incar justru jatuh ke tangan orang lain.
Di kediaman keluarga Aditya. Meli duduk berdiri di depan pintu kamar Jennie. Sudah tiga hari wanita itu mendatangi temannya untuk meminta penjelasan namun Jennie selalu mengurung diri di kamarnya. Wanita itu benar-benar menutup diri, tak ada yang bisa meluluhkan wanita itu selain Ayah Aditya. Hanya Ayah Aditya yang mampu membuat wanita itu menurut.
"Jennie... Keluarlah ! Mengapa kamu menghindari aku ?" teriak Meli dari luar. Wanita itu terus menggedor pintu namun tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka.
"Maaf Nak Meli ! Sepertinya Jennie belum siap menemui kamu. Bahkan Bunda saja tidak bisa meluluhkan Jennie" ucap Bunda Maryam sedih. Tiga hari ini Jennie menghindarinya, bahkan untuk soal makan Jennie pun harus Ayah Aditya yang menangani.
"Baiklah Tante" jawab Meli pasrah.
Sementara dalam kamar Jennie tampak menangis tanpa suara. Sungguh Ia sangat malu keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Meli. Ia belum siap berkata jujur dengan temannya itu jika dirinya sedang mengandung anak dari kakak angkatnya. Ia berpikir Meli akan menjauhinya karena merasa jijik dengan tubuhnya yang sudah kotor.
"Maafkan aku Mel ! Aku sungguh belum siap bertemu dengan siap-siap" ucapnya dengan suara bergetar, Ia menatap ke arah pintu berharap temannya dapat mengerti keadaannya saat ini.
.
.
.
Di sebuah pemakaman tampak dua pria tampan yang berbeda generasi sedang berjongkok di depan makam.
"Hai Bram... Hai Desi..." ucap Ayah Aditya kepada sepasang makam di depannya, Ia seolah sedang menyapa kedua sahabatnya.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu... Ku harap kalian mengerti dan menerima keputusanku..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1