
Kedatangan Kai membuat kedua manusia yang sedang asik berbincang itu tiba-tiba terdiam.
"Kamu kedatangan tamu ?" tanya Kai yang bersikap santai saat mendudukkan bokongnya di sofa tepat di samping Jennie.
"Kenapa duduk disini ?" tanya Jennie dengan ketus, wanita itu berusaha melawan rasa cemasnya saat Kai berhasil duduk di sampingnya.
"Memangnya salah ?" Kai tersenyum lebar membuat Jennie bergidik ngeri.
"Senyumanmu sangat menyeramkan jadi berhentilah tersenyum seperti itu !" Jennie menatap Kai dengan mata melotot.
Bukannya takut Kai justru terkekeh, "kenapa kamu menggemaskan sekali" ucap yang spontan mencubit gemas kedua pipi Jennie.
"Kenapa mencubitku ?" Jennie menepis tangan Kai lantaran merasa kesal.
Sementara Tuan Sean yang melihat interaksi Jennie dan Kai hanya tersenyum, Ia ikut senang melihat interaksi kedua kakak beradik itu yang menurutnya sangat mengasyikkan dengan perdebatan kecil.
"Apa kalian setiap ketemu selalu bertengkar seperti ini ?"
Pertanyaan yang dilontarkan Tuan Sean mendapatkan gelengan kepala oleh Jennie dan diangguki oleh Kai.
"Tidak" "Iya" jawab keduanya secara bersamaan.
Tuan Sean mengerutkan keningnya namun seketika terkekeh, "kalian berdua sangat lucu" ucapnya.
'Lucu dari mananya ?' guman Jennie dalam hati.
"Bukan lucu tapi romantis..."
Kai meralat kata-kata Tuan Sean dan berdiri, "sebaiknya Anda pulang saja karena sebentar lagi jam makan siang !" ucap Kai mengusir Tuan Sean.
Pria itu merasa tidak senang dengan keberadaan Tuan Sean yang menurutnya memiliki niat terselubung, terlebih lagi saat melihat interaksinya dengan Jennie yang tampak akrab sehingga membuat hatinya terbakar api cemburu.
"Kenapa kamu mengusirnya ? Dia itu temanku, kamu tidak ada hak untuk menyuruhnya pergi"
Jennie menatap Kai dengan tatapan penuh amarah, sudah cukup menurutnya Kai berbuat seenaknya.
"Ah tidak apa-apa, kebetulan aku juga memiliki janji" ucap Tuan Sean mencoba tersenyum paksa.
Kai tersenyum puas mendengar ucapan Tuan Sean sementara Jennie merasa tidak enak hati dengan pria itu karena kelakuan Kai.
"Kalau begitu aku pamit ya"
Tuan Sean berdiri lalu berpamitan dengan Jennie, Ia melemparkan senyum manis saat tatapannya bertemu dengan Jennie.
"Oh kalau begitu mari aku antar sampai di luar"
Tuan Sean mengangguk dan berjalan beriringan dengan Jennie sesekali mereka terlibat obrolan yang membuat keduanya tertawa.
Melihat hal itu membuat Kai semakin terbakar api cemburu, 'Cih... Seperti pria itu ingin menjadi rivalku'.
"Kamu bawa mobilnya hati-hati ya !" pesan Jennie saat mereka telah sampai di teras rumah.
__ADS_1
"Baik Nyonya" balas Tuan Sean mengedipkan sebelah matanya membuat Jennie terkekeh dengan tingkahnya.
Setelah pria itu pergi Jennie segera masuk dengan wajah ditekuk, Ia sangat kesal dengan kelakuan Kai yang menurutnya sangat keterlaluan.
"Loh temanmu sudah pulang ?" tanya bunda Maryam saat melihat Jennie masuk.
Jennie tidak menjawab pertanyaan sang bunda, "kenapa kamu pulang cepat sih ?" tanya Jennie dengan ketus.
"Memangnya kenapa ?" bukannya menjawab Kai justru dengan santainya bertanya balik.
"Ck... Besok-besok kakak tak perlu pulang siang !"
Jennie meninggalkan Kai dan bunda Maryam sambil menghentakkan kakinya.
"Kenapa adikmu marah ?" tanya bunda Maryam bingung.
"Bunda, Jennie bukan adikku jadi berhenti memanggilnya dengan sebutan-"
"Stth... Jangan keras-keras ngomongnya !" pinta bunda Maryam.
Wanita paruh baya itu sangat takut jika tiba-tiba Jennie mendengar ucapan Kai, Ia tidak ingin melihat wajah sedih putri angkatnya.
"Tapi kan memang benar..." balas Kai, "apa Bunda sudah tau jika Kai menyukainya ?" lanjut Kai bertanya.
"Iya"
Hanya jawaban singkat itu yang bisa bunda Maryam ucapkan, Ia tidak tau harus berbuat apa setelah tau jika Kai menyukai adik angkatnya sendiri. Di satu sisi Ia tidak ingin Jennie mengetahui jika kedua orang tua kandungnya telah meninggal, di sisi yang lain Ia juga merasa kasihan dengan putranya yang telah lama menyimpan perasaan dengan Jennie.
Bunda Maryam menatap putranya setelah mendengar pertanyaan itu keluar, "Bunda akan merestui kalian jika memang kalian berjodoh".
"Kai percaya jika kami memang berjodoh, Kai akan berusaha membuktikan itu" ucap pria itu dengan yakin.
"Tapi Bunda takut jika Jennie tahu semua kebenaran ini" suara bunda Maryam terdengar lirih.
"Bunda doakan saja semuanya dipermudahkan jika memang benar Kai dan Jennie berjodoh !"
Kai memeluk sang bunda dengan erat. Pria itu sangat berharap dengan adanya restu dari kedua orang tuanya serta doa mereka dapat membuat usahanya berjalan dengan sempurna.
"Bunda akan mendokan yang terbaik untuk kalian" bunda Maryam membalas pelukan putranya
.
.
.
Saat waktu makan malam tiba Jennie ikut bergabung setelah beberapa hari selalu menghindar jika melihat kehadiran Kai.
"Mau makan apa sayang ?" tanya bunda Maryam saat Jennie duduk di sampingnya.
"Jennie mau makan udang goreng sama telur balado aja Bun"
__ADS_1
Bunda Maryam mengangguk lalu memberikan makanan yang dipinta putri angkatnya itu.
"Ada lagi ?" Jennie menggeleng saat mendengar pertanyaan bunda Maryam.
"Ya sudah selamat makan" ucap bunda Maryam.
Mereka berempat akhirnya makan tanpa adanya percakapan lagi. Sesekali Kai tampak mencuri pandang dengan Jennie, pria itu tak bosan melihat kecantikan yang dimiliki adik angkatnya itu.
'Aku berharap kamu adalah masa depanku yang akan menjadi ibu dari anak-anakku serta menua bersama hingga akhir hayat' harapan Kai dalam hati.
.
.
.
Sebulan setelah kejadian dimana Kai mengusir Tuan Sean hubungannya dengan Jennie semakin berjarak. Wanita itu benar-benar telah berubah menjadi dingin dengannya, tidak ada lagi Jennie yang selalu merengek agar dirinya bersikap baik padanya.
Kai pun tidak ingin terlalu memaksa wanita itu agar tidak menghindarinya dan memberikan maaf untuknya. Ia cukup sadar diri dengan apa yang telah Ia lakukan dengan wanita itu.
Pagi itu Kai merasakan perutnya seperti diaduk-aduk, rasanya Ia ingin memuntahkan isi perutnya. Pria itu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, hanya cairan yang terasa pahit keluar dari mulutnya. Ia terus memuntahkan isi perutnya hingga membuat tubuhnya terasa lemah.
"Ck... Kenapa aku seperti ini ? Apa asam lambungku kumat lagi ? Tapi perasaan aku tidak pernah telat makan lalu kenapa bisa seperti ini ?" Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan pria itu karena merasa bingung dengan kondisi tubuhnya.
Ia segera berkumur-kumur dan membasuh wajahnya lalu kembali berbaring di atas ranjangnya, entah mengapa matanya terasa berat setelah memuntahkan isi perutnya.
Sementara di bawah bunda Maryam dan Ayah Aditya dibuat sibuk saat Jennie meminta sebuah mangga sambil menangis.
"Jennie ingin mangga sekarang !" ucap wanita itu sambil terisak.
"Iya tunggu sebentar ya ! Ayah akan suruh pak Mamat buat beli buah mangga"
Baru saja ayah Aditya ingin berteriak memanggil supirnya tiba-tiba saja wanita itu semakin menangis.
"Jennie tidak mau mangga yang dibeli tapi Jennie ingin buah mangga tetangga kita yang di depan rumah" rengek Jennie.
Ayah Aditya dan bunda Maryam selain menatap, mereka dibuat bingung dengan permintaan putri angkatnya, itu terlebih lagi saat Jennie meminta mangga sambil terisak.
.
.
.
'Ya Tuhan jangan sampai apa yang aku pikirkan benar terjadi' bunda Maryam merasa cemas dengan tingkah Jennie yang tiba-tiba saja aneh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
__ADS_1
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~