
Setelah kepergian sang suster Jennie memutuskan duduk di sofa bersama Dokter Ricard, sesekali wanita itu mencuri pandang terhadap pria yang saat ini dimanja solh sang bunda.
"Apa keadaanmu sudah lebih baik ?" tanya Dokter Ricard kepada wanita yang tampak melirik ke arah Kai.
"Eh... Tadi dokter tanya apa ?" Jennie balik bertanya kepada Dokter Ricard.
Pria itu tersenyum melihat Jennie kebingungan, "ah, lupakanlah ! Ngomong-ngomong kenapa kamu makin cantik ?" lanjut Dokter Ricard yang memandang lekat wajah adik temannya itu. Kemana saja dia selama ini ? Mengapa baru menyadari jika adik dari temannya memiliki sejuta pesona ?...
"Dokter Ricard bisa aja sih"
Jennie terkekeh saat mendengar rayuan sang dokter. Tanpa mereka sadari interaksi mereka telah membuat seseorang terbakar api cemburu, pria itu mengepalkan kedua tangannya karena berusaha menahan amarah.
Saat tatapan mata Kai dan Dokter Ricard bertemu, keduanya tampak melempar tatapan permusuhan. Kai menatap tajam Dokter Ricard karena tidak senang melihat pria itu berdekatan dengan wanitanya. Sementara Dokter Ricard menatap Kai dengan tajam karena masih menyimpan amarah kepada pria yang dianggapnya biadab itu.
"Dokter nggak ada pemeriksaan ?" tanya Jennie kepada pria disampingnya.
"Jangan memanggilku Dokter ! Itu terlalu formal," pria itu menatap Jennie dengan tatapan lembut, "panggil Kakak saja !" lanjutnya meminta agar Jennie merubah panggilannya dengan sebutan kakak.
"Aaah... Baiklah Ka-kak" Jennie merasa canggung menyebut Dokter Ricard dengan sebutan kakak.
"Kalau begitu Kakak pamit ya"
Dokter Ricard seger berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua orang tua Kai, "Tante, Om, Ricard pamit dulu ya" ucap pria berjas putih itu berpamitan dengan ayah Aditya dan bunda Maryam.
"Oh iya, makasih ya sudah menjenguk Kai" ucap ayah Aditya menepuk pundak teman putranya itu.
"Sama-sama Om, Kai kan teman Ricard jadi wajar jika saya menjenguknya" ucap dokter Ricard, pria itu kembali menatap Kai dengan tatapan permusuhan.
"Ck... Benar-benar cari muka nih laki, awas aja kalau aku udah pulih ku berikan pelajaran untuknya jika berani mendekati wanitaku" guman Kai.
"Kenapa masih berdiri disitu ?" tanya Kai dengan ketus, "pergilah !" lanjutnya mengusir temannya itu.
__ADS_1
"Ini juga mau pergi" jawab Dokter Ricard tak kalah ketusnya.
Setelah Dokter Ricard pergi, Kai melihat ke arah Jennie yang saat ini fokus dengan Handphonenya. Sepertinya wanita itu sedang chatting dengan seseorang, terbukti ketika Jennie melihat layar handphonenya sambil tersenyum dengan jari yang sedang asik menari di tasa layar handphone miliknya.
"Aiiis, siapa lagi yang mengajaknya chatting ? Ya Tuhan, kapan aku bisa memilikinya ? Belum juga maju udah ada saingan aja" guman Kai. Ia begitu frustasi jika mengingat Jennie sedang dekat dengan Tuan Sean, belum lagi Dokter Ricard tampaknya memiliki ketertarikan dengan adik angkatnya itu.
"Kamu mau makan apa sayang ?" tanya bunda Maryam.
"Nggak ada," jawab Kai lalu terdiam sejenak, "Bunda, Kak boleh minta tolong tidak ?" lanjutnya bertanya.
"Kamu mau minta tolong apa sayang ?" tanya bunda Maryam penasaran.
"Sini biar Kai bisikin !"
Bunda Maryam mendekat dengan putranya lalu pria muda itu membisikkan sesuatu,
"Bunda dan Ayah pulang saja ! Biar Jennie yang jagain Kai"
Bunda Maryam menatap putranya, Ia tentu tau maksud dari permintaan putranya itu. Wanita paruh baya itu mengangguk, "tapi jangan macam-macam ya !" pesan bunda Maryam sebelum pergi.
"Ayah sebaiknya kita pulang dulu !" ucap bunda Maryam.
"Lalu Kai bagaimana ?" tanya ayah Aditya, Ia heran dengan istrinya yang tiba-tiba ingin pulang dan minggalkan putranya yang masih terbaring sakit.
"Kan ada Jennie" jawab bunda Maryam melihat ke arah putri angkatnya,
"Jennie sayang, kamu jagain Kakak kamu dulu ya ! Bunda dan Ayah soalnya mau balik dulu" lanjut bunda Maryam.
"Bunda dan Ayah ingin balik ?" tanya Jennie mendapat anggukan kepala dari kedua orang tuanya.
"Ayah ingin ke kantor dan Bunda ada arisan, nanti sore Bunda bakalan datang lagi kok" jelas bunda Maryam yang tentunya sedang berbohong.
__ADS_1
"Tapi-" Jennie tampak ragu mengatakan jika dirinya tidak ingin tinggal berduaan dengan Kai, jujur saja wanita itu masih memiliki rasa takut terhadap kakaknya itu meskipun akhir-akhir ini kadang Ia ingin sekali melihat wajah tampan sang kakak.
"Bunda janji, habis arisan Bunda meluncur kesini" ucap sang bunda yang mencoba meyakinkan Jennie.
Jennie menarik nafasnya dengan berat, mau tak mau Ia haru menemani sang kakak, "baiklah..." jawabnya dengan lesu.
Sementara Kai yang mendengar jawabannya bersorak gembira tapi dalam hati. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekatkan diri dengan wanita yang Ia cintai. Yang Kai pikirkan saat ini, bagaimana caranya agar bisa berbaikan dengan Jennie ?.
Ruangan itu terasa sunyi saat ayah Aditya dan bunda Maryam terlah pulang ke rumah. Kedua manusia yang berada di dalam kamar inap itu tampak sama-sama terdiam, lebih tepatnya sedang sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Uhuk... Uhuk..." Kai pura-pura terbatuk agar bisa menarik perhatian Jennie. Namun reaksi wanita itu tampak biasa saja, tak ada pergerakan untuk segera memberinya minum, wanita itu benar-benar tidak memperdulikannya.
"Uhuk... Uhuk... Khemm... Khemm..." Pria itu mencoba sekali lagi dengan suara yang cukup keras, Ia melirik Jennie yang ternyata menatapnya.
"Kalau batuk ya minum !" ucap Jennie ketus.
"Ck... Bukan ini yang aku inginkan. Aku ingin kamu peka jika aku ingin diperhatikan sama kamu ! Aku mau kamu mendekati aku dan bertanya apakah aku baik-baik saja !" tutur batin Kai yang berteriak frustasi karena wanitanya tidak peka sama sekali.
"Bisa ambilkan air minum ?" tanya Kai pelan. ia berharap wanita itu bersedia.
"Tidak bisa" tolak Jennie, "lagian air ada di atas nakas samping kamu, kenapa malah menyuruhku untuk mengambilnya untukmu ?" gerutu Jennie.
"Ya beda dong, kalau kamu yang mengambilkan untukku pasti rasa air putih itu akan manis" pria itu hanya bisa menjawab dalam hati.
Kai mengambil air di atas nakas dan meminumnya hingga tandas. Ia melirik ke arah Jennie lagi, pria itu benar-benar merasa telah terpenjara oleh pesona seorang Jennie, matanya benar-benar tidak ingin melepaskan pandangannya.
"Pantas saja Tuan Sean dan Dokter Ricard tampak tertarik denganmu, rupanya pesonamu begitu kuat. Bahkan Joshua terang-terangan mengataka jika Ia juga tertarik denganmu. Aku benar-benar merasa jika aku akan kesulitan mendapatkan cintamu yang kedua kalinya. Apalagi setelah aku merenggut kesucianmu membuat dirimu membenciku, seandainya waktu bisa ku ulang maka aku tidak akan melakukan hal bodoh ini untuk mendapatkanmu" batin Kai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~