Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Kai Yang Cerewet


__ADS_3

Setelah berhasil sampai dalam mobil Jennie segera mencari obat yang sempat diberikan oleh Bunda Maryam, dengan tangan gemetar Ia membongkar isi tasnya.


"Jen kamu cari apa ?" tanya Meli yang melihat Jennie menggeledah tasnya.


"O-obat" jawabnya singkat.


Setelah berhasil menemukan obat itu Jennie segera meminumnya sesuai yang dianjurkan oleh Dokter Siska jika Ia mengalami hal semacam ini.


"Kamu sakit ?" tanya Meli pelan sambil mengusap lengan temannya agar bisa merasa lebih tenang.


Jennie tidak menjawab, tentu saja Ia tidak ingin menceritakan hal yang telah menimpanya. Terlebih lagi pria yang telah menindurinya adalah sang kakak, pasti itu akan membuatnya merasa malu.


"Pulang yuk !" pinta Jennie.


Meli yang melihat Jennie enggan menjawab dan menghindari pertanyaannya hanya mengangguk patuh, Ia tidak ingin menekan Jennie hanya untuk menjawab pertanyaannya.


🌹🌹🌹


Setelah diperiksa oleh Dokter dan dinyatakan sudah membaik akhirnya Kai diijinkan pulang. Bukan diijinkan lebih tepatnya Kai yang memaksa karena merasa tidak nyaman tinggal di rumah sakit.


"Kita langsung ke kosan Raffa aja ya !" ucap Valen yang masih setia menjaga Kai.


"Hm... Kemana saja, yang penting bisa numpang" jawab Kai setuju.


"Sebaiknya kita naik angkot saja !" ucapan Valen sontak membuat mata Kai membulat.


"Yang benar saja ?" tanya Kai, "Kenapa tidak naik taksi saja ? Kalau naik angkot pasti bakalan sumpek dan-" Kai belum menyelesaikan kalimatnya Valen sudah memotongnya.


"Kamu mau jalan kaki ?" tanya Valen yang merasa kesal dengan Kai.


"Enggak" Jawab Kai menggelengkan kepalanya. Mana mau Dia berjalan kaki lagi, kemarin saja efeknya masih terasa.


"Ya sudah jangan banyak protes !" balas Valen segera menarik tangan Kai masuk dalam angkutan umum.


Mau tidak mau Kai hanya menurut dengan Valen daripada Ia harus jalan kaki, setidaknya ini cukup baik. Dalam angkutan umum Kai merasa tidak nyaman karena ini pertama kalinya Ia menaiki transportasi umum, berdempetan dengan banyak orang, belum lagi banyak bau yang tidak enak dicium.


"Kenapa bau sekali ?" tanya Kai berbisik di telinga Valen.


Valen melirik Kai lalu membalas ucapannya "Emang Begitu, nanti juga terbiasa." Valen mengedipkan matanya menggoda Kai.

__ADS_1


Mendengar ucapan Valen membuat Kai memutar bola matanya dengan malas, yang benar saja dirinya akan terbiasa naik transportasi umum seperti ini. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya Kai menaiki angkutan umum, ya itu janjinya.


Setelah empat puluh menit Kai tersiksa dalam angkutan umum akhirnya Ia bisa bernafas lega setelah turun mobil tersebut.


"Sekarang kita jalan masuk gang itu" Valen menunjuk ke sebuah gang sempit membuat Kai kembali melotot.


"Yang benar saja ?" ucapnya, "memangnya rumah seperti apa tempat temanmu itu ? Kenapa bisa masuk jalanan sempit seperti ini ?" lanjutnya bertanya.


"Kan aku sudah bilang, kamu akan tinggal di kosan Raffa" jawab Valen memukul lengan Kai, "berhentilah bertanya ! Syukur-syukur Raffa ingin menampung mu padahal kamu hanya orang asing" lanjutnya yang merasa kesal karena Kai tidak bisa bersyukur.


"Kau bilang Dia tidak mengenal aku ?" tanya Kai tidak percaya. Tapi Kai memang cukup heran sih mangapa Valen dan Raffa tidak mengenalnya sebagai penerus dari perusahaan milik keluarga Aditya.


"Memangnya kamu mengenal dirimu sendiri ?" tanya Valen memancing Kai agar bisa jujur dengannya.


"Tidak" jawab Kai dengan cepat, ' Aduh kenapa aku selalu lupa jika diriku sedang berpura-pura lupa ingatan' gerutu Kai dalam hati.


"Apa masih lama ?" tanya Kai mengalihkan pembicaraan.


"Kurang lebih tiga kilo lagi" jawab Valen menipu Kai.


"Kau benar-benar ingin mengerjai ku ?" tanya Kai melototi Valen.


"Nah sekarang kita sudah sampai" ucap Valen segera mengambil kunci pintu dalam tasnya.


"Ini tempatnya ?" tanya Kai lagi yang diangguki oleh Valen, "kenapa kecil sekali" protes Kai.


"Kau ini bisa tidak sekali saja tidak protes dan mencoba bersyukur saja ?" tanya Valen menatap tajam Kai.


Akhirnya Kai terdiam dan hanya mengikuti Valen masuk kos milik Raffa. Kai meneliti seluruh sudut kos yang akan menjadi tempatnya menumpang hidup.


'Ya ampun, apa aku bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini ? Kenap sih Ayah begitu tega mengusirku dan lebih membela wanita itu ?' tutur batin Kai.


Lagi-lagi Ia merasa kesal dengan Jennie yang selalu berhasil membuat orang tuanya menurut dan membelanya. Kai tidak habis pikir dengan orang tuanya yang lebih menyayangi Jennie daripada dirinya.


"Hei mengapa melamun ?" tanya Valen sambil menepuk pundak Kai.


"Ah,,, tidak apa-apa" jawab Kai menggeleng, "apa boleh aku istirahat ?" tanya Kai. Ia merasa tubuhnya sangat lelah dan betisnya kembali terasa ngilu.


"Ya sudah, kamu tidur di kasur itu" Valen menunjuk sebuah kasur kapuk yang hanya muat satu orang.

__ADS_1


Kai mengangguk lalu menghampiri kasur itu tanpa banyak tanya lagi, Valen yang melihat perubahan Kai menebak jika pria itu sedang memikirkan sesuatu.


"Istirahatlah ! Aku akan pulang sekarang" ucap Valen.


Mendengar ucapan Valen Kai membalikkan tubuhnya menatap wanita itu, "Kenapa kamu pulang sekarang ?" tanya Kai keberatan, "Kamu temani saja aku menunggu temanmu pulang !" pintanya.


"Tidak bisa seperti itu," tolak Valen, " yang ada kita akan dituduh yang tidak-tidak sama pemilik kos" lanjutnya menjelaskan jika Valen takut jika tiba-tiba pemilik kos datang sang mengira mereka telah berbuat sesuatu yang tidak-tidak.


"Lalu kamu bakalan tinggalin aku sendiri disini ?" tanya Kai yang masih tidak ingin ditinggalkan sendiri.


"Kamu itu laki-laki, jadi berani sedikit masa tidak bisa" balas Valen yang sudah merasa lelah menghadapi sikap Kai.


"Aku berani kok" Kai tentu tidak terima Valen mengatainya tidak pemberani, "jika mau pulang, pulanglah sekarang" ucap Kai lalu kembali berjalan menuju kasur.


"Baik, aku tinggal ya" ucap Valen meninggalkan Kai sendiri.


Kai menghela nafasnya saat dirinya sudah berbaring di atas kasur kapuk, "Apa tubuhku akan baik-baik saja jika tidur di kasur seperti ini ?" tanya Kai pada dirinya sendiri saat merasakan kasur itu begitu keras sangat jauh beda dengan tempat tidurnya yang luas dan empuk.


.


.


.


"Bagiamana, apa kamu berhasil mengikutinya ?" tanya Ayah Wijaya kepada asisten anaknya.


"Sudah Tuan Besar" jawab asisten Jhon sambil menganggukkan kepalanya.


"Sebaiknya kamu awasi terus anak itu agar tidak membuat ulah !" perintah Ayah Aditya, "Dan jangan lupa untuk melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak itu !" lanjutnya lagi.


"Baik Tuan, kalau begitu saya ijin keluar Tuan"


"Hm..." Ayah Aditya mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️

__ADS_1


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~


__ADS_2