Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Keputusan Ayah Aditya


__ADS_3

Kai kembali menikmati roti tawar yang Ia beri selai. Meski begitu, pria itu tampak melirik-lirik ke arah kamar Jennie, Ia sangat penasaran mengapa gadis itu belum keluar.


"Ah... Dia bukan gadis lagi... Eh... Bukan ! Dia gadis tapi bukan pera*wan" guman Kai.


Tak lama kemudian Jennie keluar menggunakan daster batik, Kai tercengang melihat wanita itu menggunakan pakaian seperti itu. Pasalnya Jennie tipe wanita yang sangat pemilih pakaian, mungkin karena pekerjaannya sebagai model membuat wanita itu selalu fashionable.


Jennie berjalan menuju meja makan, saat Ia mendudukkan bokongnya, tatapannya tidak sengaja bertabrakan dengan tatapan Kai. Tanpa sadar wanita itu larut dalam tatapannya sang pria, Ia memuji Ketampanan kakak angkatnya itu yang terlihat sempurna dengan bulu halus yang tumbuh di dagunya.


Sementara Kai kembali merasakan getaran dihatinya saat melihat Jennie menatapnya. Sungguh, jika tidak takut Jennie histeris karena dipeluk olehnya maka Kai akan membawa wanita itu dalam pelukannya sekarang juga. Namun Ia takut jika Jennie masih ketakutan jika dirinya tiba-tiba menyentuh atau memeluk wanita itu.


"Khem..." melihat kedua anaknya saling tatap-tatapan membuat Ayah Aditya berdehem gemas


Jennie segera tersadar dan memutuskan tatapannya, Ia segera membuang wajah ke samping karena merasa malu, "Ya Tuhan, ada apa denganku ?... Sadarlah Jennie ! Sadar ! Dia itu adalah kakakmu, jadi jangan bersikap bodoh !" guman Jennie.


Berbeda dengan Jennie, Kai justru tak berhenti menatap Jennie. Apalagi pria itu sadar jika wanita yang sedang mengandung anaknya tampak salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Sudah puas tatap-tatapan ?" goda Ayah Aditya.


Bunda Maryam yang melihat wajah Jennie semakin memerah karena godaan suaminya segera memberikan hadiah berupa cubitan untuk Ayah Aditya.


"Aww... Sakit Bunda..." pekik Ayah Aditya, tangannya mengusap bagian perut yang mendapat cubitan dari sang istri.


Bukannya minta maaf, Bunda Maryam justru melototi Ayah Aditya, "Bahkan Bunda bisa memberikan yang lebih sakit lagi" ancam wanita paru baya itu.


"Ayah hanya bercanda Bunda sayang..." ucapan Ayah Aditya malah menggoda Bunda Maryam. Mendengar ucapan suaminya membuat Bunda Maryam memutar bola matanya dengan malas.


"Kita sarapan dulu ! Setelah itu Ayah akan menyampaikan sesuatu" ucap Bunda Maryam.

__ADS_1


Akhirnya mereka menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Hampir semua menu adalah makanan kesukaan Jennie. Bunda Maryam sengaja meminta kepada Bi Narti agar selalu mengutamakan makanan kesukaan putri angkatnya, Ia tidak ingin Jennie dan calon cucunya kekurangan gizi hanya karena si ibu hamil tidak ingin makan.


Setelah selesai sarapan, mereka berkumpul di ruang tengah. Ayah menatap Jennie dan Kai secara bergantian. Ia tak pernah menyangka jika putranya akan jatuh cinta dengan putri angkatnya.


"Jadi maksud dan tujuan Ayah mengumpulkan kalian disini untuk menyampaikan keputusan yang telah Ayah ambil mengenai masalah yang kita hadapi saat ini" ucap Ayah membuka pembicaraan, "dan Ayah harap apapun keputusan yang Ayah ambil bisa kalian terima !" lanjut Ayah Aditya.


Ayah Aditya terdiam sejenak. Memang ini adalah keputusan yang sulit tapi untuk kebaikan bersama maka tidak ada pilihan lain selain melakukan hal ini.


"Besok Ayah akan mengadakan konferensi pers..." beberapa saat Ayah Aditya menjeda kalimatnya, pria paruh baya itu menatap ke arah putri angkatnya, "Ayah akan menyampaikan status Jennie yang sebenarnya"


"Yah..." Bunda Maryam menatap sendu sang suami.


"Ini adalah keputusan yang sangat tepat untuk kita semua terutama Jennie dan calon cucu kita" ucap Ayah Aditya.


Jennie menatap sendu Ayah angkatnya, Ia tidak menyangka jika Ayah yang selama ini mendukungnya akan memilih keputusan seperti itu.


"Tapi bagaimana jika orang-orang mencemooh Jennie jika tau Ia hanya putri angkat kita Yah ?" tanya Bunda Maryam yang khawatir Jennie akan tersakiti karena tanggapan miring orang-orang.


"Setelah konferensi pers itu, Ayah akan menikahkan kalian secepatnya..."


Sontak saja penyataan Ayah Aditya membuat ketiganya kaget. Jennie menggeleng pelan seolah tidak setuju. Bagiamana mungkin Ia menikah dengan laki-laki yang selama ini Ia anggap sebagai Kakak ?...


Ayah Aditya mendekati Jennie dan membawa wanita itu dalam pelukannya.


"Maafkan Ayah yang harus egois ! Tapi semua ini Ayah lakukan demi kebaikan kita semua. Kamu tetap putri Ayah dan selamanya akan menjadi putri Ayah. Ayah tidak ingin kamu meninggalkan keluarga ini saat menikah dengan pria lain, maka jalan satu-satunya hanya menjadikan kamu menantu Ayah..."


Ayah Aditya menitikkan air matanya. Sungguh Ia tidak ingin berpisah dengan Jennie, Ia tidak ingin Jennie pergi dari keluarga Aditya. Ia begitu menyayangi putri angkatnya itu, bahkan kasih sayang Ayah Aditya lebih daripada siapapun kepada Jennie.

__ADS_1


"Percaya dengan Ayah !" Ayah Aditya melepas pelukannya, "semua akan baik-baik saja Nak" lanjutnya menghapus air matanya.


Pria paruh baya itu meninggalkan tempatnya dan berjalan keluar. Hari ini Ia akan mempersiapkan acara konferensi pers untuk besok.


🌹🌹🌹


Hari ini Raffa mengajak Valen ke taman kota untuk berjalan-jalan. Tapi sebelumnya Raffa menunggu Valen pulang kerja dulu. Berhubung hari ini Raffa tidak memiliki shift hari ini dan Valen mendapat shift pagi sampai sore jadi Raffa memutuskan membawa wanita itu refresh otak.


Tepat pukul lima sore Valen keluar dari mini market. Wanita itu berjalan dengan gembira ke arah Raffa, pasalnya ini pertama kalinya pria itu mengajaknya jalan-jalan itu artinya hari ini Ia akan mendapat traktiran dari pria itu.


"Pakai helm dulu !" Raffa menyodorkan helm kepada Valen.


"Oh ya, kita mau jalan kemana ?" tanya Valen penasaran.


"Ke taman kota" ucap Raffa singkat.


"Disana kan banyak jajanan, jadi aku bisa makan sepuasnya kan ?" tanya Valen dengan mata berbinar.


Raffa tersenyum melihat ekspresi wajah wanita yang Ia sukai itu, "bisa dong... Tapi bayar sendiri" canda Raffa.


Tentu saja Valen kesal dengan ucapan Raffa dan menanggapinya dengan serius, "Kalau begitu tidak usah pergi !" balas Valen dengan kesal.


Lagi-lagi Raffa tersenyum melihat tingkah Valen yang sangat menggemaskan di matanya, "iya... iya... Aku hanya bercanda kok" ucap Raffa, kedua tangannya mencubit gemas pipi Valen membuat wanita itu semakin kesal.


"Ish... Jangan dong ! Sakit tau..." ucap Valen menepis tangan Raffa lalu mengelus lembut pipinya yang terasa sakit.


"Habis kamu lucu sih kalau ngambek, jadinya aku gemas dan ingin memakan mu" ucap Raffa berhasil membuat wanita itu melotot.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


__ADS_2