
"Aku ingin menyampaikan sesuatu... Ku harap kalian mengerti dan menerima keputusanku..." ucap Ayah Aditya, "sebelumnya, perkenalkan ini Kaindra putraku. Anak laki-laki yang selalu meminta agar bisa membawa putri kalian tinggal di rumah kami..." ucap Ayah Aditya terkekeh.
Pria paru baya itu tak pernah lupa dengan kejadian dimana putranya merengek tak ingin pulang karena ingin terus bersama dengan Jennie kecil.
"Sekarang putraku dan putrimu sudah dewasa dan rencananya, aku akan menikahkan mereka berdua. Alasannya karena aku begitu menyayangi putrimu sebagai putriku dan aku tak ingin jika suatu saat Ia menikah dengan pria lain maka Ia akan ikut suaminya dan meninggalkanku. Alasan kedua karena putraku mencintai terlebih lagi Jennie telah mengandung anak dari Kai yang artinya Ia sedang mengandung cucuku"
Ayah Aditya terdiam sejenak. Ia berusaha menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya agar tak terjatuh.
"Aku ingin kalian merestui pernikahan anak-anak kita !" lanjutnya, Ayah Aditya Kemudian berdiri dan meninggalkan Kai sendiri.
Sepeninggalan sang Ayah, Kai ikut meminta restu kepada calon mertuanya.
Uncle... Aunty... Kai sebelumnya ingin meminta maaf karena telah membuat putri kalian menderita, Kai mengakui kesalahan Kai. Jadi Kai mohon agar kalian memberikan restu kepada kami. Aku sangat mencintai putri kalian" ucap Kai sebelum meninggalkan makam tersebut.
"Ayo pulang Yah !" ucap Kai sebelum memasuki mobilnya.
"Kamu tidak kembali ke kantor ?" tanya Ayah Aditya yang kini duduk di kursi samping pengemudi.
"Tidak" jawab Kai dengan singkat.
"Ck... Kau itu harusnya rajin ke kantor mulai dari sekarang ! Bukan malah jadi pemalas seperti ini" omel Ayah Aditya.
"Kan Kak baru resmi jadi CEO di perusahaan Ayah kalau Kai sudah menikah" jawab Kai.
"Ish... Anak ini selalu saja menjawab" balas Ayah Aditya kesal.
Kai tak menggubris perkataan sang Ayah lagi. Ia kini fokus menyetir menuju rumah utama.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai rumah. Mereka segera masuk dan saat mereka melewati ruang tengah, mereka melihat Meli duduk dengan seorang pria.
Kai mendengus kesal saat mengetahui siapa pria itu.
"Siapa pria itu ?" tanya Ayah Aditya kepada putranya.
"Calon pebinor" jawab Kai berusaha menahan kesal.
__ADS_1
Ayah Aditya mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan maksud putranya akhirnya Ia memilih berlalu.
"Sedang apa kau disini ?" tanya Kai dengan ketus saat Ia berhasil mendaratkan bokongnya di sofa tepat di depan Tuan Sean.
"Ingin bertemu Jennie" jawab Tuan Sean jujur.
"Calon istriku tidak ingin menemui siapapun" jawab Kai tersenyum meremehkan.
"Termasuk Kau bukan ?" balas Tuan Sean tersenyum mengejek.
Balasan Tuan Sean berhasil membuat wajah Kai menjadi masam. Ia mengarahkan tatapan permusuhan kepada Tuan Sean. Namun bukannya takut pria itu justru membalas tatapan Kai dengan tatapan yang sama.
Meli yang merasa suasana mendadak panas mencoba mencairkan suasana.
"Hehehe... Kak Kai selamat ya sebentar lagi Kakak bakalan nikah" ucap Meli.
Kai tidak memperdulikan ucapan Meli. Kedua pria itu masih saling menatap dan saling mengepal tangan. Hingga keduanya disadarkan oleh Bunda Maryam.
"Kalian sedang apa ?" tanya Bunda Maryam heran saat mendapati putranya dan Tuan Sean seperti saling melempar tatapan tajam.
Kai memutuskan tatapannya dan berdiri meninggalkan ruang tengah. Sementara Tuan Sean tersenyum kikuk saat ditatap oleh Bunda Maryam.
"Ah tidak perlu repot-repot Tante ! Kami akan-"
"Tentu saja Tante" jawab Meli dengan semangat, Ia memotong kalimat Tuan Sean dan menarik pri itu berdiri dari sofa.
"Ck... Kenapa kamu setuju ?" bisik Tuan Sean di telinga Meli.
"Mumpung gratis, masa rejeki harus ditolak" balas Meli dengan suara yang cukup keras membuat Tuan Sean melotot dan merasa malu.
"Ya Tuhan, mengapa wanita ini begitu tidak tahu malu ?" guman Tuan Sean kesal.
Akhirnya mereka sampai di meja makan. Tampak Kai memutar bola matanya dengan malas saat melihat Tuan Sean ikut duduk di tengah-tengah keluarganya.
"Ck... Sungguh tidak malu" sindir Kai.
__ADS_1
Tuan Sean yang mendengar ucapan Kai berusaha menahan kekesalannya. Sementara Bunda Maryam yang mendengar ucapan putranya segera menghadiahi Kai pukulan.
"Aw... Kenapa bunda memukuliku ?" pekik Kai mengelus pundaknya yang terasa sakit.
"Jangan ucapan ketika ada tamu !" tegur Bunda Maryam, "Maaf atas sikap Kai !" lanjut Bunda Maryam meminta maaf kepada Tuan Sean.
"Ah... Tidak masalah Tante" jawab Tuan Sean tersenyum paksa.
"Kita tunggu Ayah Aditya dulu ya !" ucap Bunda Maryam.
"Jennie ?"
Bunda Maryam mengerti pertanyaan Tuan Sean, "sepertinya tidak akan turun" ucap Bunda Maryam sedih.
"Jennie tidak keluar makan karena sedang dipingit. Dia nggak boleh ketemu denganku sebelum hari pernikahan kami" jawab Kai dengan asal. Ia ingin membuat Tuan Sean kepanasan karena cemburu karena Ia sangat yakin Jika pria itu memiliki perasaan dengan Jennie.
"Kai..." Bunda Maryam dibuat kesal dengan dengan sikap Kai yang kekanak-kanakan.
Tak lama kemudian Ayah Aditya datang bersama Jennie. Semua yang duduk di meja makan tersenyum saat melihat Jennie akhirnya keluar dari persembunyiannya.
Ayah Aditya menggeser kursi dan mempersilahkan Jennie duduk tepat di samping kursinya.
"Duduklah Nak !" pinta Ayah Aditya.
Jennie tak mengeluarkan suara, wanita itu masih menunduk. Berbagai perasaan kini berkecamuk dalam hatinya. Seandainya bukan Ayah Aditya yang membujuknya, Ia tidak akan pernah keluar dari kamarnya dan mau menampakkan wajah di depan kedua temannya.
"Kamu mau makan apa sayang ?" tanya Bunda Maryam kepada Jennie.
Jennie perlahan mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang berada di meja makan. Ia melihat senyum tulus terukir di wajah orang-orang yang berada di dekatnya.
Ia menatap ke arah Tuan Sean dan Meli. Ia merasa bersalah karena memilih menghindari kedua temannya itu hanya karena belum siap untuk terbuka. Lalu tatapannya beralih kepada Kai, entah mengapa setiap kali melihat mata pria itu secara langsung perasaan benci dan kemarahannya tiba-tiba hilang. Mungkin karena Ia mengandung anak dari pria itu, pikirnya.
Kai membalas tatapan wanita yang duduk tepat di depannya. Wanita yang berhasil membuatnya takut akan kehilangan. Wanita yang mampu membuat hidupnya kacau. Wanita yang mampu memporak-porandakan perasannya. Wanita yang berhasil membuatnya buta dan tuli dengan keberadaan wanita lain.
Sementara Tuan Sean yang melihat Kai dan Jennie saling tatap-tatapan merasa kepanasan. Sungguh pria itu sedang terbakar api cemburu. Rasanya Ia ingin meninggalkan tempat ini juga namun Ia merasa tidak enak dengan Ayah Aditya dan Bunda Maryam. Pria itu akhirnya membuang muka ke arah lain agar tidak melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*HAI👋 JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA MEMBERIKAN HADIAH, KOMEN DAN LIKE🙏❤️"