
"Tapi apa ?" Potong Kai dengan cepat, tentu saja pria itu merasa takut dan cemas. Jika orang tuanya tahu berarti tamat sudah riwayatnya. Ia tahu hanya ada dua kemungkinan yang akan dilakukan ayahnya untuk memberikannya hukuman yaitu, pilihan pertama Ia akan di usir dari rumah atau yang kedua dirinya akan berurusan dengan hukum.
"Tapi mereka baru mengetahui keadaan Jennie saja dan belum tau siapa dalang pemerkosaan itu" Dokter Richard tersenyum miring menatap Kai yang juga menatapnya sinis.
"Kau mengadu ?" tanya Kai hanya mendapat senyuman mengejek dari Dokter Ricard "kenapa kau ikut campur urusanku, hah ?" kali ini berteriak karena merasa emosi.
"Karena perbuatan mu kali ini benar-benar keterlaluan, kau dengan teganya membuat adikmu menderita," balas Dokter Ricard berteriak "dan perbuatanmu harus mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Dia bukan adikku," balas Kai yang merasa geram karena semua orang menganggap Jennie adalah adiknya, "sekali lagi ku tekankan dia bukan adikku."
Dokter Ricard yang ingin membalas perkataan Kai mengurungkan niat karena mendapatkan sebuah panggilan masuk, Ia segera mengangkat panggilan masuk tersebut saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
"Halo,,, ok Ricard keluar sekarang Om" Dokter Ricard segera meninggalkan Kai dan berlari keluar menemui Ayah Aditya dan Bunda Maryam yang baru tiba di rumah sakit.
"Bagiamana keadaan Jennie ?" tanya Bunda Maryam khawatir.
"Jennie sudah agak mendingan setelah mendapatkan penanganan dari teman Ricard Tante" jawab Dokternya Ricard yang berusaha membuat Bunda Maryam tetap tenang dan tidak terlalu khawatir.
"Lalu dimana putri kami ?" tanya Ayah Aditya
"Mari ikut saya Om, Tante !"
Akhirnya Dokter Ricard berjalan menuju ruangan Dokter Siska yang saat ini ditempati Jennie diikuti oleh kedua orang tua Kai. Saat mereka masuk Jennie segera berlari memeluk kedua orang tuanya dan menumpahkan semua kesedihannya.
"Sayang tenanglah, Ayah dan Bunda sudah ada disini !" Ayah Aditya mencoba meredakan tangisan putrinya, sementara Bunda Maryam ikut menangis sambil mengelus punggung Jennie dengan lembut.
"Ma-maafkan Jennie Yah ! Maafkan Jennie Bund !" ucap Jennie masih menangis sesenggukan, "Jennie,,, Je-jennie sudah kotor" sambungnya dengan suara lirih.
"Jennie nggak salah kok Nak, Jennie nggak salah, ini bukan kesalahan Jennie jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri !" ucap Ayah Aditya yang merasa perih mendengar tangisan pilu putrinya.
"Tapi-"
__ADS_1
"Hustt!!! Sudah sayang ya ! Kamu coba tenang dulu !" potong Ayah Aditya dengan cepat, Ia tidak mau lagi mendengarkan putrinya menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang menimpanya.
Setelah Jennie mulai tenang, Ayah Aditya meminta ijin membawa Jennie pulang. Akhirnya, Dokter Siska memberikan obat penenang untuk Jennie agar bisa jaga-jaga jika tiba-tiba saja Jennie kembali histeris.
Akhirnya mereka berjalan menuju parkiran mobil, saat hendak masuk ke dalam mobil Ayah Aditya melihat putranya keluar dari UGD diikuti oleh kedua temannya. Yang membuat Ayah Aditya terkejut saat melihat wajah sang putra tampak babak belur.
'Ada apa dengan anak itu ?' guman Ayah Aditya merasa penasaran dengan apa yang menimpa putranya, 'kenapa kedua anakku mengalami musibah secara bersamaan ?'
"Yah, kenapa belum masuk ?" tanya Bunda Maryam saat melihat Ayah Aditya masih berdiri di dekat pintu mobil. Ayah Aditya tidak menjawab pertanyaan Bunda Maryam dan memilih segera masuk dalam mobil.
.
.
.
Sesampai di rumah utama Bunda Maryam segera membawa Jennie masuk dalam kamarnya namun wanita itu enggang masuk karna di tempat itulah kesuciannya direnggut. Bunda Maryam akhirnya membawa Jennie masuk ke kamarnya, Ia juga tidak mau jika putrinya kembali histeris seperti yang diceritakan Dokter Ricard tadi.
*Brak...
"Hubungi anak sialan itu !" pemerintah Ayah Aditya yang berusaha menahan emosi.
Dokter Ricard mengangguk dan menghubungi Riko, Ia sengaja menghubungi Riko karena Ia sangat yakin jika Kai tidak akan mengangkat panggilan darinya.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Riko dan Joshua berhasil membawa Kai kembali ke rumah utama. Belum juga sampai di ruang tengah, Ayah Aditya sudah berjalan maju memukuli putranya dengan pukulan membabi buta.
"Dasar anak sialan," teriak Ayah Aditya tanpa mengehentikan pukulannya, ketiga teman Kai tidak berani menghalangi Ayah Aditya karena takut terlibat masalah dengan Ayah Aditya, "berdiri kamu sialan !" perintah Ayah Aditya menarik kerah baju anaknya agar segera berdiri.
Dengan tubuh yang begitu lemah Kai berusaha menuruti sang Ayah agar tidak mendapatkan pukulan yang lebih parah lagi.
Bunda Maryam yang mendengar kegaduhan di ruang tengah segera berlari. Saat melihat suaminya tengah melayangkan pukulan ke wajah Putranya, Bunda Maryam segera berteriak dan menghentikan kegilaan suaminya.
__ADS_1
"Apa yang Ayah lakukan ?" teriak Bunda Maryam histeris, "kenapa Ayah memukul putra kita ?" tanya Bunda Maryam menatap tajam suaminya.
Ayah Aditya menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuang dengan kasar. Mau bagaimanapun emosi Ayah Aditya jika sudah berhadapan dengan pawangnya maka amarahnya bisa Ia redakan.
"Tanya kepada putramu yang tidak tau diri ini ?" ucap Ayah Aditya kemudian kembali duduk di sofa.
Bunda Maryam memapah Kai agar ikut duduk di sofa, Ia menatap putranya begitu memperihatinkan, wajahnya tampak lebam dan bengkak bahkan bagian ujung bibirnya tampak berdarah.
"Sekarang jelaskan kenapa kamu melakukan itu dengan adikmu ?" tanya Ayah Aditya dengan tatapan penuh intimidasi, "kenapa diam ? apa kamu sudah bisu ?" lanjut Ayah Aditya dengan kesal.
"Yah, bicara yang baik !" ucap Bunda Maryam menegur sang suami yang menurutnya begitu kasar. Tan henti-hentinya air mata Bunda Maryam terjatuh, baru saja mendapatkan kabar jika putrinya telah dilecehkan sekarang mendapati suaminya memukul putranya hingga wajahnya terlihat hancur seperti ini.
"Ayah tidak bisa pelan-pelan karena ini menyangkut masalah yang dialami putri kita." jawab Ayah Aditya dengan nada yang terdengar tegas namun suaranya cukup pelan. Ia tidak ingin jika sang istri merasa dibentak olehnya karena perasaan istrinya sangat sensitif.
"Memangnya apa hubungan Kai dengan masalah yang dialami Jennie ?" tanya Bunda Maryam penasaran dan merasa bingung mengapa Suaminya menyangkut pautkan Kai dengan kejadian yang dialami oleh putri mereka.
.
.
.
"Karena putramu telah merenggut kesucian adiknya sendiri"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~
__ADS_1