
"Om, sebaiknya percepat pernikahan kami !" celetuk Tuan Sean. Valen mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Tuan Sean.
"Nggak bisa gitu dong Sean !" pekik Valen. Wanita itu tidak terima dengan permintaan Sean.
"Kamu betul, sebaiknya kita percepat pernikahan kalian. Daddy akan mencari tanggal yang cocok bulan ini" jawab sang Daddy setuju.
"Daddy!" Valen menggeleng sebagai isyarat agar sang Daddy tidak menyetujui permintaan Sean.
"Keputusan Daddy sudah bulat. Ini juga demi kebaikan kamu" jawab sang Daddy tak terbantahkan lagi.
.
.
.
"Seperti itu ceritanya sayang" sambung Kai setelah menceritakan kejadian dimana dirinya diusir dan bisa berkenalan dengan Valen dan juga Raffa.
"Sekarang kamu sudah tidak salah paham lagi kan ?" tanya Kai penuh harap.
"Cepat tidur !" ucap Jennie melempar bantal ke wajah suaminya.
"Tidak, aku ingin mendengar kamu menerima maaf dariku !"
"Kamu ingin aku tambah marah ?" tanya Jennie.
"Tidak sayang. Ayo kita tidur !" jawab Kai dengan cepat.
Jennie membaringkan tubuhnya dengan posisi memunggungi sang suami. Sementara Kai tampak memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Ijin peluk ya sayang"
"Sudah dipeluk baru minta ijin sama saja bohong" jawab Jennie ketus. Meski begitu dalam hati wanita itu berubah menjadi hangat, ada rasa senang yang menyelimuti hatinya. Namun Jennie masih mencoba menepis perasaannya itu.
"Kapan ya baby kita bisa keluar ?" tanya Kai dengan suara pelan. Pria itu sudah tidak sabar melihat calon bayinya. Ia penasaran dengan jenis kelamin calon bayinya.
"Masih lama, janinnya baru jelang tiga bulan" jawab Jennie. Wanita itupun tak kalah penasarannya dengan jenis kelamin calon bayinya.
"Maafkan aku karena kebodohanku !" ucap Kai lirih. Namun Jennie yang mendengarnya tak menjawab.
Jika ditanya, apakah Jennie masih sakit hati dengan perlakuan Kai dulu ?... Tentu saja jawabnya Iya. Tapi wanita itu sudah mencoba berdamai meskipun masih sulit.
"Sayang, apa kamu sudah tidur ?" tanya Kai.
"Belum" jawab Jennie singkat.
__ADS_1
"Apa aku bisa minta sesuatu ?"
"Apa ?" tanya Jennie penasaran. Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Ia menatap mata Kai.
"Aku ingin kamu tidak menutup diri dengaku ! Aku ingin kamu tidak menghalangiku untuk berjuang dan membuatmu jatuh cinta !" ucap Kai menatap lembut sang istri.
"Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku ! Dan jangan menutup pintu hatimu untukku !" lanjutnya.
Jennie tampak berpikir panjang. Matanya mencoba menelisik kesungguhan suaminya melalu pancaran bola matanya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh ingin memperjuangkan aku ?" tanya Jennie.
"Iya sayang, aku akan berjuang hingga kamu bisa membalas perasaanku" jawab Kai tersenyum lembut.
"Jika begitu, silahkan saja kamu berjuang tapi jangan pernah coba memaksa atau mengekang diriku !"
Kai mengangguk dengan semangat. Pria itu terus tersenyum lebar sambil memandang wajah istrinya. Ketika tatapan mereka kembali beradu dengan perlahan Kai mendekatkan wajahnya. Jennie yang tahu sang suami hendak mengecupnya hanya terdiam. Tak ada penolakan karena sejujurnya Ia pun menginginkannya.
"Apa boleh aku mencium bibirmu ?" tanya Kai dengan suara berat.
Mendengar pertanyaan sang suami membuat wajah Jennie memerah karena malu. Wanita itu dengan cepat mendorong tubuh suaminya dan membalikkan tubuhnya kembali ke posisi memunggungi sang suami. Batin Jennie menggerutu kesal dengan kebodohan suaminya.
"Ck... Dasar suami bodoh. Harusnya dia langsung saja mengecup ku, tak perlu bertanya lagi dengan pertanyaan frontal seperti itu. Memalukan sekali" umpatnya dalam hati.
"Tidurlah ! Jika tidak aku akan kembali marah denganmu" ancam Jennie. Sungguh wanita itu merasa malu, terlebih lagi jantungnya yang berdetak kencang.
"Baiklah, tapi aku ijin memelukmu lagi ya ?"
"Sekali lagi kamu bertanya, aku benar-benar akan marah dan mendiami kamu" ancam Jennie sekali lagi.
Kai akhirnya terdiam. Pria itu berbaring dan mencoba memeluk tubuh istrinya pelan. Jennie yang dipeluk, jantung semakin tak terkendali. Bahkan Kai bisa merasakan debaran jantungnya namun pria itu sudah tak berani bertanya. Kedua pasangan itu mencoba menutup mata dan masuk ke alam mimpi.
Pagi harinya. Kai baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk. Jennie yang melihat perut kotak-kotak sang suami segera memalingkan wajahnya. Setiap kali melihat sang suami keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk serta rambut yang basah membuat wanita itu panas dingin. Ia merasa salah tingkah. Jennie sendiri tidak tau mengapa respon tubuhnya seperti itu, padahal mereka baru melakukannya sekali dan itupun saat malam tragedi itu. Ia tidak tau bagaimana nikmatnya bercinta namun tubuhnya seolah merindukan ritual suami istri itu.
"Sayang apa aku bisa minta tolong ?" tanya Kai mendekati Jennie.
"Mau minta tolong apa ?" tanya Jennie tanpa melihat ke arah sang suami.
"Bantu aku pakai baju !"
"Apa ?" pekik Jennie. Wanita itu melotot saat mendengar permintaan suaminya.
"Ka-kamu kan sudah besar jadi tak perlu minta bantuan jika ingin menggunakan pakaian" lanjut Jennie gugup ketika sadar suaminya sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Tapi aku ingi dilayani oleh istriku" rengek Kai. Pria itu belum sadar jika istri sedang tremor ketika tangannya menyentuh pundak sang istri.
__ADS_1
"A-aku tidak mau" tolak Jennie.
Kai menghela nafas panjang saat mendengar penolakan sang istri. Pria itu mengangguk mengerti, ah bukan, lebih tepatnya Ia pasrah dan tak ingin memaksa sang istri.
"Baiklah, tapi bantu aku pasang dasi nanti ya !" pintanya. Kai masih mencoba tawar-menawar dengan sang istri.
"Hm" jawaban singkat dari istrinya namun mampu membuatnya senang. Kai kemudian masuk ke ruang ganti dan meninggalkan Jennie sendirian.
"Huft... Akhirnya dia pergi..." ucap Jennie menghela nafas lega, "bagaimana bisa pria itu memintaku untuk memakaikan pakaian ? Sungguh aku bisa gila karenanya" lanjutnya.
Tak butuh waktu lama Kai keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju ranjang dimana istrinya sedang duduk. Pria itu menarik tubuh istrinya untuk berdiri.
"Sekarang bantu aku !"
Jennie menerima dasi yang diberikan oleh suaminya. Wanita itu kemudian berjinjit lalu mengalungkan dasi itu di kerah kemeja Kai. Tentu saja posisi seperti itu menguntungkan buat Kai, Ia bisa memandang wajah cantik Istrinya dengan puas.
"Ah, sungguh menggemaskan" batinnya.
Jennie yang fokus memasang dasi tak sadar jika suaminya sedang menatap lekat wajahnya. Wanita itu juga tidak sadar jika bahaya sedang mengintai.
"Sudah !" ucap Jennie setelah merapikan kerah kemeja suaminya.
Saat wanita itu hendak menjauh dengan cepat Kai menarik pinggang istrinya lalu memberikan kecupan singkat.
"Morning kiss baby" ucapnya tersenyum penuh kemenangan.
Jennie mematung saat dirinya kembali merasakan bibir kenyal milik suaminya menyapa bibirnya. Lagi-lagi suaminya mampu membuat jantungnya berdetak kencang.
"Ayo turun !" ajak Kai seolah merasa tak bersalah.
"Kenapa tidak bergerak ? Apa mau aku berikan kecupan sekali lagi ?" goda Kai. Pria itu semakin gemas ketika melihat wajah istrinya memerah.
"Kau beraninya... Mmphhh..."
Jennie yang hendak marah dengan kelancangan suaminya namun tak jadi karena sang suami dengan cepat mencium bibirnya. Bahkan pria itu menuntut lebih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Readers 👋 Sa kembali membawa novel rekomendasi terbaik nih 😁 yuk buruan mampir sambil nungguin novel Sa Up😚❤️
Judul : Cinta Cool And Barbar
Napen : Alviesha
__ADS_1