Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Berteman


__ADS_3

"Apa kami bisa bergabung ?" tanya Jennie.


"Tentu saja" jawab Tuan Sean tam keberatan.


"Sayang, sebaiknya kita cari tempat lain saja !" rengek Kai. Tentu saja Ia menolak bergabung dengan Tuan Sean karena pasti pria itu akan mencuri pandang wajah istrinya. Dan lagi, Ia masih jengkel melihat wajah Valen.


"Jika ingin cari tempat lain, silahkan ! Aku akan tetap disini"


Mau tidak mau dengan penuh keterpaksaan Kai ikut duduk di samping istrinya. Pria itu mengambil posisi tepat di tengah Jennie dan Tuan Sean. Ia tidak ingin jika Istrinya berdekatan dengan pria lain.


"Kalian sedang makan apa ?" tanya Jennie penasaran. Wanita itu melirik ke arah kresek yang berisikan jajanan.


"Kamu mau ? Ini enak loh" tawar Tuan Sean.


Dengan cepat Kai menepis tangan Tuan Sean, "tidak perlu ! Istriku tidak boleh makan makanan seperti ini !"


"Mas kamu ini apa-apaan sih, aku kan ingin mencicipinya" ucap Jennie jengkel dengan sikap suaminya.


"Sayang ini makanannya tidak higenis. Kamu itu sedang hamil dan aku tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa" jawab Kai dengan nada khawatir.


Tuan Sean tertegun saat mendengar Jennie sedang hamil. Ada rasa nyeri dalam hatinya saat mengetahui pujaan hatinya sedang mengandung. Valen yang melihat perubahan wajah Tuan Sean mengerti jika pria itu pasti semakin patah hati.


"Aku hanya ingin mencicipinya sedikit saja"


"Tetap saja sayang. Mas nggak mau kamu makan makanan sembarangan !" kekeh Kai yang tetap melarang istrinya mencicipi jajanan kaki lima.


Jennie mengatupkan bibirnya. Wanita itu memasang wajah sedih, "Nak, maaf ya ! Mommy tidak bisa menuruti keinginan kamu" ucapnya sambil mengelus perutnya.


Kai yang mendengar ucapan istrinya mendadak tiga tega. Akhirnya pria itu mengizinkan karena tak ingin juga nanti anaknya ileran.


"Baiklah. Tapi jangan banyak-banyak ya !"


Jennie tersenyum senang mendengar ucapan suaminya, "terima kasih mas" ucapnya dengan tulus.


"Aku mau jagung bakar itu !" tunjuk Jennie.


Valen kemudian memberikan jagung bakar miliknya.


"Nanti aku ganti" ucap Tuan Sean.


"Tidak perlu" jawab Valen tersenyum.


"Oh iya, nama kamu Valen kan ?" tanya Jennie secara tiba-tiba kepada Valen.


Valen yang bingung mengapa wanita itu tiba-tiba bertanya dengan ramah hanya mengangguk pelan, Ia melempar senyum tipis kepada Jennie.


"Terima kasih ya sudah membantu suamiku saat kesulitan. Dan maaf karena kemarin aku mengatakan yang tidak-tidak kepadamu !" ucapnya dengan tulus.


Valen yang tadinya tersenyum tipis kini tersenyum lebar, "aku yang seharusnya minta maaf karena membuat kamu dan Kai salah paham"

__ADS_1


"Aku memaafkan kamu. Apakah kamu juga memaafkan ku ?" tanya Jennie.


"Iya" jawab Valen.


"Berarti kita bisa berteman ?"


"Kamu mau berteman denganku ?" tanya Valen mendapat anggukan dari Jennie, "tentu saja kita bisa berteman"


Jennie tersenyum senang mendengar jawaban Valen. Sementara Kai dan Tuan Sean hanya menjadi pendengar setia saja. Ada perasaan lega dalam hati kedua pria itu karena akhirnya kesalahpahaman itu terselesaikan dan kedua wanita itu berbaikan.


"Kapan-kapan aku akan mengenalkan kamu dengan temanku" ucap Jennie penuh semangat.


"Baiklah"


Jennie kembali menikmati jagung bakarnya. Setelah makanan itu habis, Jennie dan Kai memutuskan untuk pulang.


"Aku pamit dulu ya ! Kapan-kapan kita atur waktu untuk bertemu !" ucap Jennie.


"Bisa diatur" jawab Valen terkekeh.


Kedua wanita itu saling berpelukan sebelum berpisah. Lagi-lagi Kai dan Tuan Sean hanya bisa saling menatap.


"Emm... Tunggu dulu !" ucap Valen menahan Jennie dan Kai yang hendak pergi.


Wanita itu tampak tersenyum canggung kepada Kai, "aku ingin meminta maaf denganmu Kai. Aku sungguh menyesal waktu itu telah membuat Jennie salah paham dengan denganmu. Aku tidak bermaksud sama sekali untuk membuat kalian ribut" ucapnya sambil menunduk.


"Terima kasih" ucapnya begitu senang.


"Hm, kami pulang duluan" ucap Kai lalu merangkul pinggang istrinya dengan posesif.


Valen dan Tuan Sean memandang kepergian pasangan suami istri itu semakin jauh.


"Ayo pulang !" ajak Tuan Sean.


Keduanya kemudian berjalan beriringan. Sesekali Tuan Sean melirik ke arah Valen. Ada rasa penasaran mengapa Kai dan Valen bisa kenal.


"Berhentilah menatapku seperti itu ! Jika kamu jatuh cinta kepadaku maka aku tidak akan tanggung jawab"


"Jika aku jatuh cinta, aku tak membutuhkan pertanggungjawaban darimu. Mau bagaimanapun kamu akan tetap jadi istriku" jawab Tuan Sean santai.


Valen memutar bola matanya dengan malas. Keduanya kembali berjalan tanpa ada suara. Mereka fokus berjalan dengan pikiran masing-masing. Pada saat bersamaan seorang anak berlari-lari tak sengaja mendorong Valen hinga terjatuh. Alhasil bokong wanita itu mendarat di atas rumput.


"Aw... Sakit..." Pekiknya. Wanita itu kemudian berdiri dan mengelus bokongnya yang kesakitan.


Tuan Sean yang melihat Valen kesakitan malah tertawa. Ia sangat puas melihat wajah Valen yang merintih kesakitan seperti tadi.


"Kenapa malah tertawa ?" kesal wanita itu.


"Bukannya bantuin malah diketawain. Lagian kamu sebagai cowok bukannya nolongin kek ! Jadi calon suami tapi nggak siap siaga jagain calon istrinya" gerutu Valen.

__ADS_1


Tuan Sean semakin tertawa saat melihat wajah kesal Valen. Rasanya begitu lucu melihat wajah wanita itu ditekuk. Sementara Valen hanya bisa menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan Tuan Sean yang masih berdiri tertawa.


"Hai kamu mau kemana ? Tungguin aku !" teriak Tuan Sean yang masih diiringi tawa kecil.


.


.


.


"Kita mau kemana ?" tanya Jennie. Wanita itu bingung dengan suaminya. Bukannya tadi Ia bilang ingin pulang ?... Lalu mengapa jalanan yang mereka lewati bukan arah menuju rumah.


"Pulang sayang" jawab Kai. Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Tapi ini bukan arah menuju rumah utama"


"Memang kita tidak pulang kesana tapi kita akan ke rumah milik kita berdua" ucap Kai.


Jennie bingung dengan ucapan suaminya. Ia tidak mengerti, "sejak kapan kita punya rumah ?"


"Gini sayang, mas udah nyiapin rumah untuk kita berdua sebelum kita menikah" jawab Kai.


"Beneran ? Tapi kenapa nggak bilang-bilang ? Apa Ayah dan Bunda juga tahu ?"


"Mereka tahu. Bahkan Ayah yang menemani mas mencari rumah setelah pulang dari pemakaman orang tua kamu" jelas Kai.


"Mas udah pernah mengunjungi makam kedua orang tuaku ?" tanya Jennie dengan suara pelan. Wanita itu juga menginginkan hal tersebut.


"Iya. Waktu itu mas datang buat minta restu. Nanti kapan-kapan mas bawa kamu kesana"


Kai tentu tahu perasaan istrinya sekarang. Terlihat dari wajah sang istri yang tampak murung.


"Tidurlah ! Nanti mas bangunkan jika kita sudah sampai" ucap Kai.


"Memangnya masih jauh ?"


"Sekitar 20 menit lagi"


Akhirnya Jennie mengangguk. Tangan Kai selalu setia mengelus lembut pucuk kepala istrinya hingga tertidur. Kai tersenyum lebar melihat wajah teduh istrinya, Ia tak hentinya mengucap syukur karena bisa bersatu dengan pujaan hatinya. Meskipun diawali dengan hal yang menyakitinya namun Kai berjanji akan membuat wanita itu bahagia dan hanya akan membuat wanita itu mengeluarkan air mata karena haru suka cita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Hai 👋 ini Sa kasi rekomendasi novel terbaik lagi untuk kalian😘 jangan lupa mampir ya 🥰


Judul : Balas Dendam Istri Yang Terhina


Napen : Reni T

__ADS_1


__ADS_2