Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Bertemu Sean


__ADS_3

Jennie kembali fokus dengan Handphonenya, wanita itu sedang asik chatting dengan Meli.


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Jen, gimana kabar Tuan Sean ?"


^^^πŸ’Œ Jennie^^^


^^^"Lah kenapa nanya ke aku sih ?"^^^


^^^"Emangnya aku emaknya 😏"^^^


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Kalian kan lagi PDKTπŸ˜†"


"Itu artinya kalian sering chattingan atau bahkan sering teleponan πŸ€”"


^^^πŸ’Œ Jennie^^^


^^^"Asal ngomong aja kamu 😏"^^^


^^^"Asal kamu tau ya, aku dan Sean nggak pernah saling menghubungi"^^^


^^^"Kita nggak pernah saling bertukar kabar"^^^


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Ah masa sih πŸ€”"


"Padahal jika aku lihat dengan mata batinku sepertinya si Tuan Sean itu ada hati sama kamu🀭"


^^^πŸ’Œ Jennie^^^


^^^"Ish... Ngaco banget sih kamuπŸ™„"^^^


^^^"Udah ah, aku lagi sibuk jagain kak Kai"^^^


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Kakak kamu kenapa pakai dijagain segala ?"


^^^πŸ’Œ Jennie^^^


^^^"Lagi sakit"^^^


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Oh gitu..."


"Semoga lekas sembuh yah kakak Kai yang ganteng πŸ˜‡πŸ€—β€οΈ"

__ADS_1


^^^πŸ’Œ Jennie^^^


^^^"Cih... Gatel banget sihπŸ˜’"^^^


^^^"Pengen digaruk nggak mbak 😏"^^^


πŸ’Œ From [Meli Bestie]


"Dih sewotπŸ™„"


Setelah membuka pesan dari Meli, Jennie memutuskan untuk tidak membalas lagi. Wanita itu menatap ke arah Kai yang tenyata sedari tadi memperhatikannya.


"Chatting dengan siapa ?" tanya Kai kepadanya.


Jennie segera membuang wajah saat tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, "bukan urusanmu" jawabnya dengan ketus.


Kai terdiam sebentar saat melihat respon Jennie yang masih bersikap dingin padanya. Ia mengerti perasaan wanita itu pasti sangat sulit menerima kenyataan jika kesuciannya direnggut oleh kakaknya sendiri meskipun sebenarnya mereka bukan saudara kandung tapi Jennie belum mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Apa kita bisa bicara sebentar ?" tanya Kai.


"Bukannya sudah bicara ya ? Kenapa harus bertanya lagi ?" balas Jennie yang masih enggan melihat ke arah Kai.


"Aku... Minta ma-af"


Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Kai meski suaranya terdengar lirih namun Jennie dapat menangkap ucapannya.


"Untuk apa ?" tanya Jennie. Wanita itu kini menatapnya dengan tajam, "apa kamu pikir dengan meminta maaf semuanya akan kembali seperti semula ? Apa kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan kepadaku dan meminta maaf akan membuat rasa takutku hilang ?... Jawabannya, TIDAK" mata wanita itu kini berembun.


"Selama ini Jennie hanya melawan rasa takut Jennie ketika bertamu dengan laki-laki, dan kakak harus tau jika itu tidak mudah untuk Jennie lalukan" lanjut wanita itu yang tidak bisa lagi menahan air matanya keluar.


"Maaf" hanya itu yang dapat keluar dari mulut Kai. Ia sangat-sangat sadar dengan apa yang Ia lakukan tapi menyesal pun tidak ada guna lagi. Kebodohannya yang tidak bisa mengenal perasaanya sendiri telah berakibat fatal.


"Tapi Jennie belum bisa memaafkan kakak" ucap wanita itu, Ia menghapus air matanya lalu meninggalkan Kai sendiri.


Kai menatap nanar kepergian Jennie, Ia ingin tak ingin menahan wanita itu karena Ia cukup tau diri.


.


.


.


Saat ini Jennie berada di sebuah taman yang ada danau kecilnya. Wanita itu duduk di atas rumput dan memandang kosong ke arah danau yang airnya tenang. Tanpa Jennie sadari ada seseorang yang tiba-tiba menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Khm... Asik banget ngelamun" tegur pria itu.


Jennie yang sedang melamun dibuat kaget sontak saja wanita itu mengelus dadanya, "Sean..." pekiknya saat melihat pria itu dengan santainya duduk di sampingnya, "kamu kok ngagetin gitu sih ?" Jennie mengatupkan bibirnya karena merasa kesal.


"Habisnya kamu sih yang nggak sadar jika ada pria tampan yang menghampiri mu" Tuan Sean terkekeh melihat wajah Jennie yang ditekuk, sungguh wanita itu tidak jelek sama sekali dengan wajah seperti itu, yang ada wanita itu semakin menggemaskan di matanya.


"Kenapa melamun ? Lagi ada masalah ?" tanya Tuan Sean, mata pria itu kini memandang air yang tenang.

__ADS_1


"Nggak ada..." jawab Jennie berbohong, "oh ya, kamu ngapain disini ?" tanya Jennie.


"Nggak tau juga kenapa tiba-tiba ingin kesini. Mungkin karena tau kamu ada disini makanya hati aku tergerak untuk membawa ku kemari"


Jennie terkekeh saat mendengar ucapan pria itu. Ia tidak menyangka jika Tuan Sean memiliki sifat humble seperti ini, padahal jika diperhatikan wajahnya cukup sangar.


"Kita cari tempat yuk ! Ini udah hampir jam sebelas siang, panasnya matahari sudah tidak bagus lagi di jam segini" ucap Tuan Sean.


"Memangnya mau pergi kemana ?" tanya Jennie.


"Kita bisa ke kafe atau jalan-jalan ke mall jika kamu mau ?" jawab pria itu.


"Boleh kita nonton ?" tanya Jennie yang mendapat anggukan oleh Tuan Sean


Akhirnya mereka berdua meninggalkan taman dan menuju ke mall, tujuan mereka untuk menonton bioskop. Setahun menempuh jalan dua puluh menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Mau nonton apa ?" tanya Tuan Sean.


"Nggak jadi nonton deh, Jennie pengen shopping aja" jawab Jennie.


"Beneran nggak jadi nonton ?" tanya Tuan Sean.


"Iya, tiba-tiba saja mood Jennie buat nonton hilang" jawab Jennie, wanita itu berlari ke suatu butik brand ternama.


Tuan Sean mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Jennie. Tapi seketika pria itu merubah ekspresinya saat melihat Jennie sangat semangat memilih pakaian. Ia segera menghampiri Jennie yang asik memilih dress.


"Sepertinya itu cantik" ucapnya memuji dress yang dipegang Jennie.


"Aku pun berpikir seperti itu" jawab Jennie mengiyakan ucapan Tuan Sean, "sepertinya aku ambil yang ini saja" lanjutnya memperlihatkan tiga potong dress pilihannya.


"Yakin hanya tiga saja ?" tanya Tuan Sean.


"Iya, nanti kita cari lagi" jawabnya terkekeh.


Mereka berjalan ke kasir, saat Jennie hendak membayarnya tiba-tiba saja Tuan Sean mengambil kartu kredit milik Jennie.


"Biar aku saja yang bayar !" tawar pria itu lalu memberikan kartu black card miliknya pada kasir.


Jennie tersenyum, tentu saja wanita itu dengan senang hati menerima tawaran Tuan Sean. Meskipun dia anak orang kaya tetap saja Ia termasuk pecinta gratisan.


"Padahal aku masih mampu membayarnya" ucap Jennie, "tapi kalau kamu memaksa aku akan mengalah" lanjut wanita itu.


Tuan Sean terkekeh mendengar ucapan Jennie. Untuk pertama kalinya pria itu merasa bahagia setelah kehilangan kekasihnya.


"Dia adalah wanita kedua yang mampu membuatku tertawa bahagia, dan dia adalah wanita kedua yang mampu membuat hatiku bergetar. Apa karena wajahnya mirip dengan Caitlyn ?... Apapun alasannya aku berharap dia wanita terkahir dalam hidupku" batin Tuan Sean menatap lekat wajah Jennie.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduakuπŸ€— Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat πŸ’ͺ❀️❀️❀️

__ADS_1


~Salam dari Merauke - Bugis❀️~


__ADS_2