Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Perhatian Kecil Raffa


__ADS_3

Raffa kembali ke meja kasir menghampiri Valen. Wanita itupun menatapnya dengan tatapan kebingungan, Raffa tentu tau wanita itu pasti penasaran mengapa Ia bisa kenal dengan Meli.


"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Raffa kepada Valen.


"Kamu mengenal wanita itu ?" bukannya menjawab Valen justru balik bertanya pada Raffa, Ia sungguh penasaran mengapa Raffa bisa memiliki kenalan wanita selain dirinya. Tentu juga Ia merasa heran kerena wanita tadi tampaknya bukan dari kalangan kelas menengah kebawah namun dapat mengenal seorang Raffa yang notabenenya hanya seorang karyawan di sebuah market.


"Dia teman dari adiknya Kai" jawab Raffa, Ia mencoba meneliti wajah wanita dihadapannya itu, mencoba mencari apakah ada rasa cemburu yang dirasakan oleh wanita itu.


"Oh..." Valen hanya membulatkan bibirnya lalu beberapa detik kemudian mata wanita itu membulat sempurna, "tadi apa kamu bilang, kamu bilang teman dari adiknya Kai ?" tanya Valen terkejut.


"Hm... Aku kan udah pernah jelasin kejadian sebulan yanga lalu" kali ini Raffa membuang wajah saat tatapannya bertemu dengan tatapan Valen. Pria itu selalu dibuat bergetar saat menatap netra wanita itu.


"Oh iya, sorry aku lupa ! Heheh" Valen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Beberapa menit kemudian Meli keluar sambil menutupi wajahnya dengan tasnya. Ia begitu malu keluar dan bertemu dengan Raffa, bagaimana tidak malu jika pria itu melihat kejadian memalukan yang Ia alami. Wanita itu terus berjalan dan melewati Raffa dan Valen, Ia sadar dengan keberadaan pria itu namun Ia akan berpura-pura tidak menyadarinya.


"Tunggu !" Raffa kembali menahan Meli dengan memengang tangannya.


Mau tidak mau Meli harus membalikkan badannya, "ada apa lagi ?" tanya wanita itu yang tidak berani menatap Raffa.


"Tunggu sebentar !" pinta pria itu yang kemudian berjalan mengambil jaketnya. Raffa lalu berdiri di depan Meli dan mengikat jaket itu di pinggangnya. Meli terkejut dengan tindakan Raffa namun seketika wajahnya berubah merah setelah menyadari jika pria itu sedang memberikan perhatian kecil kepadanya.


"Pakai jaket ini buat nutupin pakaian kamu yang kotor !" ucapnya setelah berhasil mengikat jaket itu.


"Tapi-"


"Jangan banyak bicara ! Kamu tidak malu berjalan dengan pakaian kotor seperti itu ?" Raffa menatap mata Meli dengan jarak yang cukup dekat membuat jantung wanita itu ingin meledak.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa pria ini sangat tampan ? Rasanya aku ingin segera membawanya ke kantor KUA" guman Meli yang masih setia menatap wajah Raffa.


"Pulanglah !" usir Raffa, Meli tersentak lalu mengangguk.


"Ee... Jaket milikmu akan aku laundry dulu baru aku kembalikan" ucap Meli yang mendapat anggukan oleh Raffa.


"Kalau begitu aku pamit" lanjut Meli yang menunggu jawaban Raffa.


"Hm... Silahkan !" ucapnya dingin, kini pandangan pria itu tertuju kepada Valen yang dengan sibuk.


"Sial... Kenapa wanita itu tidak melihat aku memasangkan jaket kepada wanita bar-bar itu sih ? Padahal aku sangat ingin melihat Valen cemburu" guman Raffa. Niat hati ingin membuat Valen cemburu justru wanita itu malah mengabaikannya. Raffa memutuskan kembali menyelesaikan pekerjaannya, daripada berdiri disini menunggu sesuatu yang tidak pasti.


🌹🌹🌹


Malam tiba, Jennie masih dirawat di ruangan yang sama, sementara Kai sudah pulang ke rumah. Pria itu pulang bukan atas izin sang dokter tapi itu adalah keinginannya sendiri dan terus memaksa agar Ia bisa keluar rumah sakit.


Jennie kemudian teringat kejadian beberapa tahun lalu saat Kai sang kakak angkat yang selama ini membencinya tiba-tiba mengatakan perasaannya dan berkata jika dirinya bukanlah anak dari Bunda Maryam dan Ayah Aditya. Wanita itu tersenyum miris, Ia baru sadar jika dirinya terlalu bodoh tidak percaya dengan ucapan pria itu.


Bunda Maryam mencoba mendekatinya dan menawarkan bubur. Ya, Jennie memang belum makan setelah pingsan tadi, dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun tak ada tanda-tanda wanita itu akan meminta makanan.


"Sayang, makan ya !" pinta Bunda Maryam dengan suara lembut.


Jennie tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat jika dirinya tidak berselera makan.


"Nak, ini udah jam sepuluh malam dan kamu belum pernah makan malam. Bunda tidak mau jika kamu lama berada disini, Bunda ingin kamu segera sehat dan pulih agar bisa kembali ke rumah" ucap Bunda Maryam, wanita paru baya itu tampak menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Jennie menatap ke arah sang Bunda, Ia menangkap kesedihan yang jelas tergambar di wajah wanita yang menjadi ibu angkatnya itu. Ada perasaan bersalah karena telah membuat sang bunda bersedih seperti itu, Ia sudah tak tega lagi membuat bunda Maryam bersedih meskipun masih ada rasa kecewa dalam hatinya.

__ADS_1


Akhirnya Jennie mengangguk membuat bunda Maryam tersenyum lebar. Bunda Maryam menyuapi Jennie layaknya anak kecil, Ia terus menatap putri angkatnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Jennie memakan bubur itu meskipun Ia merasa makanan itu terasa hambar namun karena tidak ingin melihat sang Bunda kembali bersedih mau tidak mau Ia harus memaksa makanan itu masuk dalam tenggorokannya.


"Sekarang kamu minum obat dulu !" pinta Bunda Maryam setelah bubur dalam mangkok itu habis tak tersisa.


Jennie menerima beberapa butir obat dari tangan Bunda Maryam dan meminumnya. Setelah itu Jennie kembali berbaring karena merasa matanya kembali diserang ras kantuk. Setelah Jennie tertidur, Bunda Maryam memperbaiki selimut dan menutupi tubuh Jennie.


"Selamat tidur putri cantik Bunda" setelah mengucapkan kalimat itu Bunda Maryam mengecup kening Jennie. Ia kembali menghampiri suaminya yang sedang menatap ke arahnya.


"Yah, putri kita sudah tertidur" ucapnya pada Ayah Aditya.


Pria paru baya itu menarik tangan istrinya dan memangku wanita yang telah menemaninya hampir hampir tiga puluh tahun itu. Meskipun pernikahan mereka hanya sebuah perjodohan namun mereka bisa dengan mudah mencinta satu sama lain. Hubungan mereka tidak pernah mengalami masalah rumit, rumah tangga mereka selalu adem.


"Terima kasih sudah menyayanginya seperti putrimu sendiri" ucap Ayah Aditya dengan tulus.


"Ayah ngomong apa sih ? Tentu saja Bunda menyayangi Jennie seperti anak sendiri. Jika Bunda tidak menyayanginya dengan sepenuh hati mana mungkin Bunda ingin merawatnya. Ayah ini ada-ada saja" balas Bunda Maryam.


"Kita doakan putri kita cepat sembuh agar bisa menjelaskan keadaannya sekarang !" ucap Ayah Aditya yang masih setia memangku Bunda Maryam.


"Tentu bunda akan mendoakannya, dan Bunda berdoa agar Jennie bisa menerima kenyataan ini" balas Bunda Maryam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*


Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️


~Salam dari Merauke - Bugis❤️~

__ADS_1


__ADS_2