
Raffa kembali ke kosannya dengan membawa kresek yang berisi makanan.
"Bangunlah !" ucap Raffa saat melihat Kai terbaring di kasur.
Kai yang memang tidak tidur segera bangun saat mendengar suara Raffa, "Kau sudah pulang ?" tanya Kai kepada Raffa.
"Hm..." balas Raffa, "sebaiknya kamu ganti pakaian kamu dulu setelah itu kita makan malam" lanjutnya memberikan sepasang baju ganti kepada Kai.
Kai segera mengambil pakaian itu dan masuk ke dalam kamar mandi sekalian membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan gatal karena semenjak diusir dari rumah Ia belum pernah mandi. Setelah hampir tiga puluh menit, Kai keluar dengan pakaian yang lengkap.
"Ini" ucap Raffa memberikan seporsi mie ayam untuk Kai, "kamu makan duluan, aku ingin membersihkan tubuhku."
Kai menatap Raffa yang berjalan menuju kamar mandi setelah pria itu menghilang dari pandangannya, Kai segera melahap mie ayam tersebut. Tak lagi banyak protes Kai akan mencoba menikmati hidupnya yang sekarang ini bahkan Ia bertekad bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari orang tuanya.
🌹🌹🌹
Berbeda di kediaman keluarga Aditya, suasana makan tak sehangat dulu, Jennie lebih banyak terdiam karena masih merasa bersalah dengan kedua orang tuanya. Sementara Bunda Maryam sibuk memikirkan bagaimana keadaan putranya, Ayah Aditya yang memang tidak banyak bicara membuat suasana semakin tidak hidup.
"Bunda, Ayah, Jennie sudah selesai makan" ucap Jennie membuyarkan lamunan Bunda Maryam, "Jennie izin masuk kamar ya " lanjutnya lagi meminta Izin untuk istirahat.
Bunda Maryam menatap putrinya dan tersenyum, "istirahatlah sayang !" jawab Bunda Maryam mengelus lembut tangan Jennie.
"Bunda makanannya dihabiskan ya ! Jangan sampai gara-gara masalah Jennie Bunda jadi sakit karena kurang makan dan terlalu banyak pikiran." Jennie memeluk Bunda Maryam dan mencium kedua pipi wanita paru baya itu.
"Iya sayang" jawab Bunda Maryam menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Jennie masuk kamar ya" ucap Jennie sebelum meninggalkan meja makan.
Setelah Jennie menghilang Bunda Maryam menatap suaminya yang tampak tenang dan biasa-biasa saja.
"Yah, apa Ayah tidak merindukan Kai ?" tanya Bunda Maryam membuka percakapan dengan suaminya.
Mendengar pertanyaan sang istri, Ayah Aditya menghela nafasnya dengan berat. Ia tau pasti perasaan istrinya yang merasa kasihan dengan putra mereka tapi, perbuatan Kai kali ini benar-benar keterlaluan dan hukuman yang Ia berikan memang setimpal dengan apa yang putranya lakukan.
"Apa Ayah tidak kasihan memikirkan nasib putra kita yang saat ini entah kemana perginya ?" tanya Bunda Maryam yang kini terisak. Sebagai seorang Ibu tentu Bunda Maryam sangat kasihan dengan sang putra meskipun telah dibuat kecewa tapi, tetap saja Ia akan merasa sedih jika memikirkan nasib putranya saat ini.
"Baru dua hari Bun" jawab Ayah Aditya enteng, "biarkan Dia merasakan kerasnya kehidupan" lanjutnya lagi membuat Bunda Maryam semakin sedih.
"Ayah benar-benar tidak punya perasaan " Bunda Maryam kecewa dengan suaminya yang tidak merasa khawatir sama sekali dengan keadaan putranya.
"Apa anak itu juga punya perasaan dengan teganya Dia meniduri adiknya sendiri ?" Pertanyaan Ayah Aditya membuat Bunda Maryam bungkam.
"Ayah bukannya tidak berperasaan dengan putra kita, tapi ini adalah pilihan terbaik agar menyadarkan Kai dari kesalahannya" lanjut Ayah Aditya dengan suara pelan.
__ADS_1
Melihat sang istri sedih membuatnya ikut merasakan kesedihan sang istri, "Bunda tenang saja ! Kai bukan anak yang lemah, Ia sudah dewasa, tentu Ia tau caranya agar bisa bertahan hidup meskipun dalam kesusahan" Ayah Aditya memeluk sang istri lalu mengecup pucuk kepalanya.
"Sebaiknya Bunda habiskan makanan Bunda !" titah Ayah Aditya.
Sementara Jennie yang masih berdiri di dekat pintu mendengar percakapan kedua orangtuanya semakin merasa bersalah.
"Apa yang harus Jennie lakukan ?"
.
.
.
Pagi harinya Jennie berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk keluar kota.
"Bunda, Ayah, Jennie hari ini ingin keluar kota dengan Meli" ucap Jennie saat berada di meja makan.
"Ada urusan apa ?" tanya Ayah Aditya menatap putrinya.
"Jennie punya jadwal pemotretan Yah" jawab Jennie sambil menyuapi mulutnya.
"Bermalam ?" tanya Ayah lagi.
Jennie menggelengkan kepalanya, " Tidak Yah, Jennie akan pulang kok, soalnya Jennie besok ada mata kuliah"
"Baiklah" jawab Jennie lalu melanjutkan sarapannya.
Setelah Jennie selesai sarapan Ia langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya, "Yah, Bund, Jennie berangkat sekarang" ucapnya lalu mencium tanga kedua orang tuanya.
"Bawa mobilnya hati- ya sayang !" pesan Bunda Maryam memeluk tubuh putrinya.
"Ingat pesan Ayah, lebih baik tidak pulang jika sudah larut malam !" pesan Ayah Aditya.
Jennie mengangguk dan tersenyum menatap kedua orang tuanya, "Terima kasih sudah untuk dukungan yang Bunda dan Ayah berikan" ucap Jennie dengan tulus.
"Bunda dan Ayah akan selalu mendukung setiap apa yang kamu pilih dalam hidupmu sayang" balas Bunda Maryam.
.
.
.
__ADS_1
Jennie dan Meli berangkat ke tempat tujuannya dengan menempuh perjalan hampir tiga jam.
"Akhirnya sampai juga" ucapa Jennie yang merasa lega setelah mereka sampai di tempat pemotretan dengan selamat.
"Butiknya besar juga ya" ucap Meli menatap sebuah butik.
"Masuk yuk !" ajak Jennie segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke butik tersebut.
"Selamat datang Nona Jennie " sapa karyawan butik tersebut menyambut kedatangan Jennie, "mari saya antar ke ruangan Tuan Sean"
Jennie dan Meli mengikuti karyawan tersebut menuju ruangan pemilik butik ini.
"Silahkan masuk Nona !" ucap karyawan wanita itu membuka pintu.
Jennie tersenyum dan melangkah masuk ke ruangan Tuan Sean pemilik butik ini. Pikir Jennie Tuan Sean mungkin orang yang sudah berumur seperti Ayahnya ternyata Ia salah.
"Selamat datang Nyonya Jennie, silahkan duduk !" Pria itu mempersilahkan Jennie duduk di sebuah sofa tepat di depan meja kerjanya.
"Bagaimana perjalanannya ?" tanya Tuan Sean basa-basi.
"Cukup melelahkan" jawab Jennie dengan jujur.
Tuan Sean tertawa mendengar ucapan Jennie yang terlalu jujur, pria yang berumur dua puluh tujuh tahun itu berjalan mendekati Jennie, "Hahah ternyata Nona Jennie bisa bercanda juga"
"Sebaiknya kita segera melakukan pemotretan Tuan !" ucap Jennie yang tidak menggubris ucapan Tuan Sean. Jika Jennie boleh jujur, Ia masih merasa takut dan cemas jika berhadapan dengan makhluk yang namanya pria.
"Baiklah ! Mari kita tanda tangan kontrak dulu !" Tuan Sean memberikan sebuah kertas yang sudah terisi perjanjian kontrak.
Jennie mengambil dan membaca setiap point yang ada dalam surat kontrak tersebut dengan teliti, "Tuan ingin mengontrak saya selama satu tahun ?" tanya Jennie mengerutkan keningnya.
"Ya saya ingin Nona Jennie menjadi model di butik saya selam satu tahun" jawab Tuan Sean tersenyum ramah.
"Tapi-"
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~