
"Sepertinya kamu memerlukan bantuan, apa ada yang bisa aku bantu ?" tanya Raffa. Pria itu enggan meninggalkan Meli sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi sepertinya Aku tidak membutuhkan bantuan darimu" jawab Meli ketus.
Lagi-lagi jawaban Meli membuat Raffa merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Sementara Meli sendiri sekuat tenaga menahan perasaannya agar bersikap baik pada Raffa. Jika Ia tidak bisa menahan perasaannya maka sia-sia saja perjuangannya untuk menahan rindu untuk bertemu dengan pria itu.
"Ck... Sudah ku katakan, aku tidak membutuhkan bantuan. Jadi pergilah !" usir Meli namun sialnya tubuh Raffa seolah ditahan oleh sebuah magnet untuk tetap berdiri di tempatnya.
Meli menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jika Raffa terus berada disini bisa-bisa Ia akan tumbang dengan pendiriannya. Benar-benar kesabaran Meli diuji oleh kehadiran Raffa.
Sudah sepuluh menit Meli dan Raffa berdiri tanpa pembicaraan. Hingga membuat Meli benar-benar tidak tahan lagi memarahi pria itu.
"Sebenarnya apa sih mau kamu Raffa ? Sudah aku katakan agar kamu pergi tapi mengapa masih bertahan disini ?" pekik Meli.
Bukannya menjawab pertanyaan Meli, Raffa justru mendekati wanita itu dan membersihkan keringat di kening Meli. Raffa melakukannya dengan begitu lembut. Lagi-lagi Meli mampu hanyut hanya dengan perhatian kecil yang dilakukan oleh Raffa untuknya.
Wanita itu mengumpat dirinya sendiri karena hatinya begitu mudah tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh Raffa.
"Jika butuh bantuan katakan saja ! Aku akan membantumu dengan senang hati" ucap pria itu melempar sebuah senyum tipis.
"Sudah aku katakan jika aku tidak-" ucapan Meli terputus saat mendengar handphone miliknya berbunyi. Meli segera menjawab panggilan telpon dari Jennie.
"Ban mobilku pecah, aku sudah menunggu taxi begitu lama namun tidak ada satupun yang muncul. Hari ini benar-benar menyebalkan" jawabnya kesal setelah mengangkat telpon dari Jennie.
(.........)
"Iya, tunggu aku sebentar lagi !"
Meli mematikan sambungan telponnya karena telinganya terasa panas mendengar omelan dari sahabatnya. Tak ada pilihan lain selain naik ojek. Saat wanita itu hendak menghentikan seorang pengojek tiba-tiba Raffa menarik tangan wanita itu dan membawa Meli dimana tempat sepeda motornya berada.
"Ck... Kamu ini apa-apaan sih main tarik-tarik aja" kesal Meli.
__ADS_1
"Pakai !" perintah Raffa memberi Meli sebuah helm. Untung pria itu selalu membawa dua helm.
"Untuk apa ?"
"Aku akan mengantarmu ke tempat tujuanmu" jawab Raffa.
"Tidak perlu ! Aku masih bisa naik ojek" tolak Meli. Sebenarnya wanita itu menolak bukan karena tidak ingin menerima bantuan Raffa. Hanya saja Ia tidak bisa membayangkan dirinya dibonceng oleh pria yang Ia sukai.
"Kamu mau temen kamu kecewa karena menunggu dirimu terlalu lama ?" tanya Raffa.
Meli terdiam dan berpikir sejenak. Ada benarnya juga dengan perkataan Raffa. Karena Meli terlalu lama berpikir sehingga Raffa berinisiatif menarik wanita itu naik ke atas sepeda motornya.
"Naik dan duduk dengan benar !"
Akhirnya Meli menurut, saat Ia sudah duduk dengan baik tiba-tiba Raffa turun dari sepeda motornya. Pria itu mengambil helm yang masih dipegang oleh Meli. Dengan santai pria itu memasang dengan baik dan benar helm itu di kepala Meli.
"Ya Tuhan, ada apa dengan pria ini ? Sungguh aku benar-benar merasa sebentar lagi akan gila karena sikapnya yang begitu perhatian dan lembut. Kenapa perginya Raffa yang selalu mengusirku dengan kasar ?" teriak batin Meli frustasi.
"Sudah. Sekarang katakan dimana tujuan kita ?" tanya Raffa.
Raffa melajukan sepeda motornya dengan kecepatan normal. Rasanya begitu canggung naik sepeda motor berdua dengan Meli. Wanita yang dulu hadir setiap hari mengganggunya. Wanita yang selalu Ia tolak karena hatinya telah terpatri dengan wanita lain. Raffa pikir dengan adanya Meli menjauh dari hidupnya maka pria itu akan kembali hidup normal. Namun dugaannya salah karena Ia merasa kosong dan hampa saat Meli benar-benar menghilang dari hidupnya. Setiap malam Raffa selalu dihantui perasaan bersalah karena telah bersikap kasar pada Meli.
"Berpeganglah !" pinta Raffa.
Meli menurut dan menaikkan tangannya di bahu Raffa untuk dijadikan pegangan. Raffa yang merasa aneh karena bahunya dipegang segera menarik tangan Meli turun dan melingkarkan di perutnya.
"Jangan pegang bahuku ! Rasanya begitu aneh. Sebaiknya kamu peluk pinggangku agar tak jatuh !"
Meli membuat matanya karena permintaan Raffa. Tidak mungkin Ia memeluk pria itu, pasti jantungnya akan meledak karena berdebar begitu hebat.
"Aku tidak mau !" tolaknya hendak melepaskan pelukannya namun dengan cepat Raffa menahan tangan wanita itu.
__ADS_1
"Jangan lepaskan pelukanmu ! aku takut kamu terjatuh"
Meli lagi-lagi menuruti perkataan pria itu. Ia sangat yakin jika Raffa bisa merasakan detak jantungnya saat ini karena posisinya yang menempel di punggung pria itu. Sama halnya dengan Meli, Raffa juga merasa berdebar. Bedanya jika Jennie tahu perasaan yang Ia alami sedangkan Raffa masih bingung dengan perasaannya.
Setelah menempuh perjalan selama 20 menit akhirnya mereka sampai di restoran yang disebutkan Jennie tadi.
"Sebaiknya kamu ikut masuk !" pinta Meli. Ia merasa tidak enak dengan Raffa karena pria itu telah mengantarnya.
"Tak perlu. Kamu masuklah !"
"Jangan menolak ! Kamu sudah memaksaku agar ikut naik sepeda motormu jadi aku akan memaksamu untuk ikut makan siang denganku dan Jennie. Ayo !"
Meli menarik tangan Raffa memasuki restoran. Saat mereka hampir sampai di meja yang ditempati Jennie, keduanya terpaku melihat kehadiran Tuan Sean dan Valen. Meli melihat raut wajah Raffa saat melihat kearah Valen. Wanita itu menatap dengan tatapan menyelidik, tak ada tatapan rindu ataupun tatapan special yang Ia tangkap dari mata Raffa. Yang ada hanyalah tatapan dingin dan wajah yang berekspresi datar.
"Apa kamu tidak cemburu melihat pujaan hatimu tertawa bahagia dengan pria lain ?" bisik Meli bertanya.
"Tidak ada. Mana mungkin aku cemburu dengan kebahagiaan Valen dan suaminya, aku justru bahagia melihat wanita itu bisa tersenyum dan tertawa di samping suaminya" jawab Raffa dengan mantap.
"Apa benar kamu tidak cemburu ? Mengapa aku kurang yakin ?" goda Meli.
"Rasa cintaku padanya sudah hilang tak tersisa" jawab Raffa dengan yakin.
"Masa sih ? Mana mungkin kamu bisa melupakan wanita itu begitu saja jika kamu tidak mempunyai incaran baru ? Itu sangat mustahil Raffa"
"Tak ada yang mustahil jika Tuhan yang menghendaki"
"Ck... Kamu kenapa serius sekali jawabnya ? Aku hanya menggoda dirimu saja" ejek Meli lalu meninggalkan Raffa yang masih berdiri.
"Kenapa berdiri disana ? Kemarilah !" teriak Meli sebelum duduk di samping Meli.
"Ternyata ada Raffa juga ?" ucap Valen antusias. Wanita itu sudah begitu lama tidak bertemu dengan Raffa, terakhir kali mereka bertemu saat acara pernikahan Valen dan Tuan Sean.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekarang aja Raffa mau dekat-dekat Meli, kemana saja kamu selama ini Raf ?🤨😒