
Mendengar ucapan sang Dokter, Bunda Maryam dan Ayah Aditya segera masuk melihat keadaan putrinya, lebih tepatnya putri angkatnya.
Sementara Kai masih berada di luar, Ia ragu untuk masuk melihat keadaan adiknya, ah tidak itu bukan adiknya melainkan wanitanya. Kai merasa takut jika tiba-tiba Jennie kembali drop karena masih memiliki rasa trauma terhadapnya.
"Apa yang harus aku lakukan ?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sementara di dalam Bunda Maryam dan Ayah Aditya tampak duduk di samping Jennie yang masih berbaring.
"Sayang apa kamu merasa lebih baik sekarang ?" tanya Bunda Maryam mengelus lembut kepala putrinya.
Jennie mengangguk lalu tersenyum, wanita yang berusia dua puluh tahun itu berusaha menyembunyikan luka dan kesedihannya agar kedua orang tuanya tidak khawatir.
"Bunda ini sudah jam berapa ?" tanya Jennie, entah mengapa tiba-tiba Ia merasa matanya sangat berat.
"Sudah hampir jam empat pagi" jawab Bunda Maryam setelah melihat jam di handphonenya.
"Jennie pengen tidur" ucap Jennie, "sebaiknya Bunda dan Ayah istirahat juga" lanjutnya, Ia bisa mengerti jika kedua orang tuanya pasti merasakan kantuk.
"Bunda akan tidur jika kamu sudah tidur sayang" ucap Bunda Maryam dengan tangan yang terus mengelus lembut pucuk kepala putrinya.
"Tak perlu menunggu Jennie, sebaiknya Bunda dan Ayah istirahat sekarang" balas Jennie, "maafin Jennie ya sudah bikin Ayah dan Bunda khawatir" Jennie menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Rasa khawatir yang dirasakan orang tua terhadap keadaan anaknya itu adalah hal yang wajar sayang" Ayah Aditya yang sempat terdiam kini ikut membuka suara.
"Terima kasih sudah menyayangi Jennie, Ayah dan Bunda harus tau jika Jennie merasa beruntung memiliki orang tua seperti kalian, Jennie juga merasa bahagia karena lahir dari seorang wanita yang berhati lembut seperti Bunda" ungkap Jennie dengan mata yang mulai berembun. Entah kenapa tiba-tiba saja wanita itu merasa sedih dan ingin menangis.
Ayah Aditya dan Bunda Maryam terdiam saat mendengar ungkapan hati Jennie, seketika ada rasa cemas dan takut yang terselip di hati mereka. Mereka cemas jika Jennie tahu mereka bukanlah orang tua kandungnya, mereka merasa takut jika semuanya terbongkar dan Jennie akan merasa terluka.
"Kami juga sangat bahagia memiliki putri cantik yang berhati baik seperti kamu sayang" balas Ayah Aditya lalu mengecup kening putri angkatnya, "tidurlah ! Kamu harus banyak istirahat !" lanjut Ayah Aditya.
Jennie mengangguk dan mulai memperbaiki posisi tidurnya, "selamat malam Ayah, Bunda" ucapnya sebelum menutup mata, "eh ralat, bukan selamat malam tapi selamat subuh" ucap Jennie meralat kata-katanya dan terkekeh.
Bunda Maryam dan Ayah Aditya ikut terkekeh mendengar ucapan Jennie.
__ADS_1
Setelah Jennie dan istrinya tertidur, Ayah Aditya keluar untuk melihat putranya apakah masih ada disini atau sudah pergi. Dan ternyata Kai masih berada di depan kamar rawat inap Jennie, pria itu tampak duduk di lantai dengan kaki yang diluruskan.
"Kenapa belum pergi ?" tanya Ayah Aditya dengan nada dingin.
"Kai tidak ingin pergi" balas Kai tanpa menatap sang Ayah.
"Apa yang kamu harapkan tetap berada disini ? Apa kamu berharap semua keadaan kembali normal setelah kelakuanmu yang brengsek itu ?"
Ayah Aditya menatap tajam putranya. Pria yang memasuki kepala lima itu merasa kecewa dengan putranya, tapi tak bisa Ia pungkiri jika dirinya juga merasa kasihan dengan putranya.
"Kai memang tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula tapi Kai akan tetap berusaha agar semua kembali membaik" balas Kai yang kini menundukkan kepalanya. Rasa penyesalan dan rasa bersalah kini bercampur jadi satu.
"Sekarang Ayah tanya, sejak kapan kamu tahu jika Jennie bukanlah adikmu ?" tanya Ayah Aditya dengan suara pelan.
"Apa Ayah ingat ketiak Jennie masuk rumah sakit karena drop setelah mengikuti perkemahan ?" tanya Kai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sang Ayah, "saat itu Kai tidak sengaja mendengar ucapan Ayah dan Bunda yang membahas tentang kedua orang tua Jennie" sambungnya.
Ayah Aditya terdiam saat mendengar penjelasan Kai, Ia tentu ingat kejadian itu, dimana Jennie kembali drop dan membuatnya khawatir.
*Flashback On*
"Bunda jangan berpikir seperti itu ! Ayah yakin jika Jennie akan baik-baik saja" balas Ayah Aditya yang berusaha menenangkan sang istri.
"Yah jika terjadi sesuatu dengan Jennie pasti mas Bram dan mbak Desi' kecewa dengan kita karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik" bukannya berhenti menangis Bunda Maryam justru semakin terisak karena merasa gagal menjaga putri sahabatnya.
"Mereka tidak akan kecewa dengan kita, Ayah yakin akan hal itu" meskipun Ayah Aditya berkata seperti itu namun hatinya juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Jennie dengan baik, "sudah ya, Bunda jangan menangis lagi, sebaiknya kita doakan agar putri kita kembali sehat".
Tanpa mereka sadari seseorang telah mendengar percakapan mereka.
"Jadi Jennie bukanlah anak Ayah dan Bunda ?" ucap Kai dengan suara lirih. Tentu saja Ia merasa terkejut dengan fakta baru yang Ia dapatkan.
*Flashback Of*
Ayah Aditya kembali menatap putranya, "lalu sejak kapan kamu memiliki rasa dengan adikmu ?" tanya Ayah Aditya penasaran. Yang Ia tahu jika selama ini Kai begitu membenci adik angkatnya.
__ADS_1
"Yah, Jennie bukan adik Kai, jadi berhentilah mengatakan jika wanitaku adalah adikku !" ucap Kai kesal setelah mendengar sang Ayah menyebut Jennie adalah adiknya.
"Wanitamu ?" tanya Ayah Aditya dengan nada mengejek, "ck... Anak ini mengaku-ngaku saja, memangnya sejak kapan putriku menjadi wanitamu ?"
"Sebenarnya anak Ayah itu siapa ? Aku atau Jennie ?" tanya Kai yang semakin kesal.
"Kedua-duanya" jawab Ayah Aditya tampa rasa bersalah sama sekali.
"Sampai kapanpun Jennie bukanlah anak Ayah" balas Kai dengan tegas, "tapi Jennie akan menjadi menantu Ayah" lanjutnya dengan percaya diri.
"Memangnya Jennie akan menerima kamu setelah apa yang kamu perbuat ? Dan lagi, Jennie tidak boleh tau jika dirinya bukanlah anak Ayah dan Bunda, jadi jangan coba-coba untuk memberitahu kebenaran ini dengan adikmu !" ucap Ayah Aditya yang kini kembali serius.
"Lalu sampai kapan Ayah akan menyembunyikan ini dan membuat Kai tersiksa ?"
Kai menatap sang Ayah dengan tatapan sendu, Ia sangat berharap dirinya bisa bersatu dengan Jennie, Ia berharap jika status mereka sebagai adik kakak bisa berubah menjadi pasangan suami istri.
"Buang perasaanmu jauh-jauh ! Ayah tidak ingin Jennie terluka saat mengetahui fakta ini"
Kai tertawa miris mendengar jawaban sang Ayah, "lalu apa Ayah tidak memikirkan perasaan Kai ?" tanya Kai penuh kekecewaan.
.
.
.
'Delapan tahun Kai menyimpan perasaan ini, apa mereka pikir menghilangkannya begitu mudah ?' tutur batin Kai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
__ADS_1
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~