
"Mas, bangunlah !" ucap Jennie menggoyangkan tubuh suaminya.
Jennie yang tadinya tertidur nyenyak harus terbangun karena mendengar suaminya terus mengigau.
"Sayang... Bertahanlah..." rancau Kai.
Jennie dapat melihat wajah pucat suaminya dan butiran keringat kecil di keningnya. Ia segera membangunkan suaminya dengan cara mengguncang tubuhnya dengan lembut.
Beberapa jam yang lalu...
"Sayang, jangan dengarkan perkataan wanita sialan itu !" ucapnya. Ia takut sang istri terpengaruh dengan omongan Arumi.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Jennie. Yang ada tubuh wanita itu bergetar hebat sehingga membuat Kai panik.
"Sayang mengapa kamu menangis ?" tanya Kai saat melihat istrinya menangis.
"Tanganku sakit" jawab Jennie. Wanita itu menunjukkan tangannya yang memerah karena terlalu keras menampar wajah Arumi.
"Yang mana sayang ?" tanya Kai panik. Kai menatap tangan istrinya yang memerah, tanpa menunggu lama, pria itu segera membawa istrinya masuk dalam kamar khusus. Kai mendudukkan istrinya di atas ranjang lalu berjalan mengambil kotak P3K. Pria itu dengan telaten mengoles salep ke telapak tangan istrinya agar tidak terlalu memar nantinya.
"Memangnya kamu menamparnya sekeras apa sih sampai tangan kamu bisa memerah seperti ini ?"
"Mas kok ngomel sih ? Mas marah kalau Jennie menampar wajah mantan kekasih mas ?"
"Bukan begitu sayang, mas hanya kasihan melihat tangan kamu seperti ini. Jadi sakit kan, harusnya kamu meminta aku untuk memukulnya"
"Seburuk apapun wanita, laki-laki tidak boleh menyakiti fisiknya karena itu bukan lawannya" balas Jennie.
"Ya sudah, kamu tidur disini ! Mas ingin melanjutkan pekerjaan mas" ucap Kai mengelus pucuk kepala istrinya.
"Mas, temani Jennie tidur ya ! Nanti kalau Jennie sudah tidur mas boleh keluar buat kerja" pinta Jennie manja.
"Baiklah"
Akhirnya Kai ikut berbaring di samping istrinya. Namun siapa sangka pria itu ikut masuk ke alam mimpi.
.
.
"Mas, bangun !" Jennie masih mencoba membangunkan suaminya.
Tak lama Kai terbangun dengan nafas memburu. Kai terdiam sejenak dan berusaha mengatur nafasnya.
"Kamu kenapa mas ? Kamu mimpi buruk ?" tanya Jennie.
Kai menatap kearah Jennie, tanpa menjawab pertanyaan sang istri Kai segera memeluk erat tubuh istrinya. Kai terisak membuat Jennie bingung.
"Mas mengapa menangis ?" tanya Jennie saat mereka melepaskan pelukan.
Kai mengusap air matanya dan menggeleng pelan, "Tadi mas mimpi buruk. Tapi lupakan saja !" jawab Kai mencoba tersenyum.
__ADS_1
"Ini sudah jam berapa ?" tanya Kai mengelihkan pembicaraan.
"Sudah jam 5 sore" jawab Jennie.
"Sebaiknya kita pulang sekarang ! Atau kamu ingin jalan dulu ?"
"Aku ingin ke taman kota" ucap Jennie.
"Baiklah, mas ganti pakaian dulu"
Jennie mengangguk. Wanita itu melamun, Ia memikirkan mimpi buruk apa yang dialami suaminya tadi sehingga menangis seperti itu.
"Ayo jalan sayang !" ajak Kai setelah mengganti pakaian.
Dalam mobil Kai dan Jennie saling terdiam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Jennie yang masih memikirkan mimpi buruk suaminya sementara Kai terus mengucap syukur dalam hati karena yang dialaminya hanyalah mimpi buruk.
"Kamu kenapa diam ?" tanya Kai memecahkan kesunyian, "jangan pikirkan mimpi buruk ku tadi ! Itu hanya bunga tidur sayang" lanjutnya. Ia menggapai tangan istrinya lalu mengecupnya dengan lembut. Jennie hanya bisa menjawab dengan anggukan.
"Sebenarnya apa maksud mimpiku tadi ? Rasanya mimpi itu seperti nyata"
.
.
.
"Kenapa harus jalan-jalan kesini sih ?" tanya Tuan Sean saat mereka sampai di taman kota. Pria itu tidak suka keramaian.
"Kamu ingin Daddy mu memarahi diriku karena meninggalkan kamu disini ?"
"Aku kan hanya memberikan saran. Jika memang tidak suka ya sudah silahkan pergi !"
"Aku tidak akan pergi. Lagian kamu bisa-bisa kabur dengan pacar bohongan mu itu."
Valen tak menggubris perkataan Tuan Sean lagi. Wanita itu berjalan mencari jajanan kaki lima. Tentu saja Tuan Sean hanya bisa mengekor di belakang Valen.
Valen berhenti di sebuah gerobak yang menjual telur gulung. Wanita itu memesan beberapa tusuk dengan bumbu bubuk balado.
"Kenapa pesan makanan seperti ini ? Ini tidak higienis" ucap Tuan Sean.
"Aku yang makan bukan kamu. Dan darimana kamu tau ini makanan tidak higienis, kamu bukan Dokter ahli gizi jadi tak perlu sok tahu !"
Tuan Sean hanya bisa terdiam. Pria itu sebenarnya sangat dongkol mendengar jawaban Valen namu Ia cukup tau karakter wanita yang sedang berjalan di depannya itu memang keras kepala.
Valen kembali singgah di sebuah gerobak yang menjual cilok. Tak hanya itu, Valen juga membeli jagung bakar dan kacang rebus. Tuan Sean hanya bisa menggeleng heran melihat Valen. Bisa-bisanya wanita itu membeli banyak makanan, padahal jika dilihat dari bodinya yang kecil pasti wanita itu irit makan.
"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Valen heran. Sedari tadi Tuan Sean menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa kamu sanggup memakan semua ini ?" tanya Tuan Sean.
Meli mengangguk dengan semangat. Bagi wanita itu, makanan yang Ia beli saat ini tidaklah seberapa. Bahkan Ia bisa makan lebih banyak lagi saat awal-awal Ia datang ke taman kota dan mencoba beberapa jajanan disini. Ternyata makanan kaki lima tidaklah buruk seperti yang Ia duga.
__ADS_1
"Kamu ingin mencobanya ?" tawar Valen kepada Tuan Sean.
"Tidak" jawab Tuan Sean dan menggeleng.
Valen mengangguk mengerti. Wanita itu kembali melahap dan menikmati jajanan yang Ia beli. Sesekali Tuan Sean menelan salivanya saat melihat Valen makan dengan begitu nikmat.
"Kenapa ?" tanya Valen yang menyadari Tuan Sean masih menatapnya lekat, "mau ?"
Tuan Sean tanpa sadar mengangguk lalu tak lama kemudian pria itu menggeleng. Valen terkekeh lalu dengan cepat wanita itu menempelkan telur gulung di bibir Tuan Sean.
"Kamu ini apa-apaan sih" ucap Tuan Sean menatap tajam kearah Valen.
"Sudahlah ! Tak perlu gengsi ! Kamu coba makan, aku jamin kamu ketagihan" ucap Valen tanpa rasa bersalah sama sekali.
Akhirnya Tuan Sean mengambil telur gulung itu dari tangan Valen dan mencoba mencicipi makan yang menurutnya tidak higienis itu.
"Enak" batinnya saat berhasil menelan makanan tersebut.
"Enak kan ?"
"Lumayan" jawabnya masih gengsi.
Akhirnya Tuan Sean ikut menikmati jajanan yang dibeli Valen tadi. Saat mereka sedang asik makan tiba-tiba seseorang memanggil Tuan Sean.
"Sean" teriak Jennie.
Sontak Tuan Sean dan Valen menengok ke arah suara tersebut. Jennie melempar senyum manis kepada Tuan Sean dan dibalas senyum manis oleh pria itu. Kai hanya bisa mengepal tangannya saat melihat senyuman Tuan Sean.
"Ck... Dasar sok manis" umpatnya begitu jelas.
Jennie memukul lengan suaminya dengan pelan, "ssttt... Tidak boleh ngomong seperti itu !" tegur Jennie.
"Hai Sean, kamu sedang apa disini ?" tanyanya.
"Hanya jalan-jalan biasa. Kamu sendiri mengapa bisa berada disini ?"
"Sama. Kami juga hanya ingin jalan-jalan" jawab Jennie.
Wanita itu mengalihkan pandangannya kearah Valen. Valen yang ditatap hanya bisa tersenyum canggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai 👋 Sa berikan lagi novel rekomendasi untuk kalian🤗 jangan lupa singgah ya😘
Judul : Tell Laura I Love Her
Napen : Yanktie Ino
Selamat kalian kena PRANK🤣❤️
__ADS_1