
Setelah pemotretan selesai Jennie dan Meli memutuskan untuk kembali ke Jakarta malam ini juga karena besok mereka memiliki mata kuliah pagi.
"Kalian yakin ingin pulang sekarang ?" tanya Tuan Sean sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ini baru jam sembilan malam jadi masih bisa kok tahan kantuk" jawab Jennie yang begitu yakin pulang, "lagian aku bisa gantian dengan Meli kok" lanjutnya lagi.
Tuan Sean mengangguk, "Baiklah, kalau begitu kalian hati-hati ! Jika ada masalah kalian bisa hubungi aku !" Sebenarnya Tuan Sean keberatan jika kedua wanita itu pulang selarut ini tapi, Ia tidak memiliki hak untuk melarang mereka.
"Siap Tuan Sean yang terhormat" jawab Jennie sambil memberikan hormat kepada Tuan Sean.
Sean yang merasa gemas dengan tingkah Jennie tanpa sadar mengacak-acak rambut wanita itu, "Kenapa kamu menggemaskan sekali" ucap Tuan Sean secara spontan.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat wajah Jennie memerah karena tersipu malu terlebih lagi saat mendengar ucapan Tuan Sean.
"Kenapa wajahmu memerah ?" tanya Meli menggodanya.
Seketika juga Jennie memegang kedua pipinya dan semakin salah tingkah, Jennie menatap tajam Meli yang terlihat menahan tawanya. Sementara Tuan Sean hanya tersenyum tipis melihat reaksi Jennie.
'Ah lucu sekali wanita ini, rasanya aku ingin memeluk tubuhnya untuk melepas rinduku dengan Caitlyn' tutur batin Tuan Sean.
"Pulanglah ! Waktu semakin larut, tak baik untuk wanita pulang terlalu larut malam apalagi perjalan kalian cukup panjang."
Jennie mengangguk dan segera masuk mobilnya diikuti oleh Meli. Wanita itu melambaikan tangannya dan segera tancap gas meninggalkan Tuan Sean.
"Semoga mereka selamat" Tuan Sean menatap mobil Jennie yang semakin menghilang dari pandangannya.
🌹🌹🌹
Berbeda dengan Jennie yang kembali memulai kesibukannya, Kai justru hanya berdiam diri di kos sempit milik Raffa. Lagi-lagi pria itu merasa bosan dan kesepian, jika biasa Ia sibuk dengan urusan kantor dan sering nongkrong dengan teman-temannya namun sekarang semua berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Apa yang harus aku lakukan ? ini sungguh membosankan" Kai bangkit dari tempat tidur lalu mengambil jaketnya dan meninggalkan kosan Raffa.
Ia berjalan menyusuri jalanan kota dengan berjalan kaki, saat ini tujuannya menemui Raffa di tempat kerjanya. Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit akhirnya Kai sampai di tempat tujuan.
"Kenapa kemari ?" tanya Raffa yang bingung tiba-tiba Kai datang ke tempat kerjanya.
"Boleh ku pinjam sepeda motormu ?" tanya Kai.
"Buat apa ?" Bukannya menjawab atau memberikan kunci sepeda motor Raffa justru bertanya untuk apa Kai meminjam sepeda motor.
__ADS_1
"Aku ingin ke suatu tempat" jawab Kai.
"Kamu ingin membawa lari sepeda motorku ya ?" tanya Raffa curiga.
"Ck... Aku bukanlah maling atau penipu, jika tidak percaya kamu bisa ikut denganku !" balas Kai dengan nada kesal.
"Kamu gila ya ? Apa kamu tidak lihat aku sedang bekerja ?" Raffa kembali fokus menyusun barang di rak.
"Ya sudah kalau begitu pinjamkan saja sepeda motormu sekarang !" pinta Kai membuat Raffa mendengus kesal.
"Tunggu aku selesai kerja dulu baru kita akan keluar bersama" tawar Raffa yang masih enggan meminjamkan sepeda motornya dengan Kai. Tentu saja Ia tidak mudah percaya dengan pria yang baru Ia kenal tiga hari.
"Kamu pulang jam berapa ?" tanya Kai lagi.
"Jam dua belas malam" jawab Raffa dengan santai.
"Kenapa bisa selarut itu ?" tanya Kai yang tidak bisa menunggu sampa tengah malam.
"Kalau kamu mau silahkan tunggu aku tapi kalau kamu tidak mau kamu bisa pergi ke tempat tujuanmu dengan berjalan kaki" balas Raffa dengan tangan yang masih sibuk menyusun barang di sebuah rak.
"Baiklah, aku tunggu kamu di luar" jawab Kai meninggalkan Raffa.
Punggung Kai terasa pegal karena menunggu Raffa hampir tiga jam tapi pria itu belum keluar juga. Ia harus saja ingin melihat Raffa, pria itu sudah keluar dengan membawa dua buah helm.
"Pakai ini !" titah Raffa memberikan helm kepada Kai, "kamu sebenarnya mau kemana ?" tanya Raffa bingung. Memangnya Kai ingin kemana ? Bukannya Ia hilang ingatan ?, seperti itulah pertanyaan yang muncul di benak Raffa.
"Ikut saja ! Nanti juga kamu tau" jawab Kai segera menaiki sepeda motor metik milik Raffa, "kuncinya ?" Kai mengadahkan tangannya meminta kunci.
Setelah mendapatkan kunci motor Kai melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
"pelan-pelan dong !" teriak Raffa, "kamu bisa membuat sepeda motorku hancur jika menabrak trotoar, bukannya hanya sepeda motor tapi nyawa kita jadi taruhan" lanjutnya lagi yang merasa takut Kai membawa sepeda motor sekencang itu.
"Kau tenang saja ! Aku sudah terbiasa membawa kendaraan dengan kecepatan seperti ini !" jawab Kai dengan santai.
Akhirnya Raffa tediam dan pasrah saja. Sesampainya mereka di depan mansion yang cukup besar Kai segera turun dari sepeda motor itu dan berjalan menuju gerban mansion.
"Mang Asep ini Kai, tolong bukain gerbang dong !" teriak Kai memanggil penjaga gerbang.
"Kai kamu ini sedang apa ?" tanya Raffa sambil menepuk lengan Kai.
__ADS_1
Kai tidak menggubris pertanyaan Raffa, Ia masih sibuk memanggil Mang Asep si penjaga mansion.
"Mang Asep tolong bukain !" teriak Kai lagi.
Mendengar Kai yang berteriak di depan rumah orang membuat Raffa jadi khawatir, bagaimana jika pemilik mansion itu mengamuk karena mereka sudah membuat keributan. "Berhentilah Kai, kamu bisa membuat pemilik rumah ini meras terganggu !"
"Ck... Mana mungkin mereka terganggu dengan teriakanku ini ? Mereka tidak bisa mendengar suara apa-apa dari luar, karena jarak gerbangnya saja dengan pintu rumah mereka hampir sama dengan jarak kosanmu ke jalan raya" balas Kai lalu kembali berteriak, "Mang bukain !"
Tak berselang lama akhirnya Mang Asep keluar dan membuka gerbang melihat siapa yang datang berteriak tengah malam seperti ini.
"Siapa sih ? Ganggu orang tidur aja" ucap Mang Asep dengan kesal mendorong pagar.
"Mang Jhosua ada nggak ?" tanya Kai dengan cepat.
"Loh Tuan Kai kenapa bisa kemarin tengah malam ?" tanya Mang Asep sambil meneliti penampilan Kai dari atas hingga bawah.
"Kenapa malah balik tanya sih Mang ?" Kai merasa kesal karena Mang Asep tidak menjawab pertanyaannya.
"Heheh maaf Tuan" Mang Asep menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tuan Jhosua nggak nginap disini Tuan" lanjut Mang Asep dengan jujur.
"Apa dia sedang berada di apartemennya ?" tanya Kai yang mendapat anggukan oleh Mang Asep.
Tanpa banyak bicara lagi, Kai segera meninggalkan mansion milik orang tua Jhosua dan menancap gas menuju apartemen milik Joshua.
.
.
.
*Doorrr*... Terdengar suara keras membuat dua wanita yang berada di dalam mobil panik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~
__ADS_1